
Bayi mungil tersebut tertidur dengan sangat pulasnya. Mata Nina berlinang melihat bayinya tersebut. Anak yang telah di lahirkannya tapi belum sedikitpun di sentuhnya.
"Cepat sehat sayang, mama menunggumu, mama merindukanmu. I love you my baby", batin Nina.
Nina menghapus air matanya yang menggenang di kelopak matanya. Rasa haru, pilu dan bahagia bercampur menjadi satu. Lama Nina berdiri disana tanpa dia sadari ada seseorang yang memperhatikannya tak jauh dari dia berdiri.
Orang tersebut mendekati Nina yang masih memandangi bayi mungilnya.
"Nin", sapa orang tersebut.
Nina menoleh ke samping ke arah sumber suara.
"Dedi", ucap Nina.
"Apa kabar? ngapain kamu disini? sendirian lagi", tanya orang tersebut yang ternyata adalah Dedi sahabat Nina yang pernah mempunyai rasa terhadap Nina.
Nina tersenyum getir dan matanya kembali mengarah ke bayi mungilnya.
"Aku disini karena dia. Aku melahirkan anakku, tapi belum cukup umurnya sehingga mesti di masukkan dalam kotak kaca itu", ujar Nina.
Dedi melihat sekelilingnya.
"Suami kamu mana?dari tadi aku tidak melihat siapa pun bersama kamu", kata Dedi.
"Dia masih ada urusan. Tadi ada Adel adikku di sini tapi sekarang dia ada jadwal kuliah sedangkan ibu bentar lagi juga datang", jawab Nina.
"Oohh gitu", sahut Dedi singkat.
"Kamu sendiri kenapa disini? bukannya kamu kerja di luar kota", tanya Nina penasaran.
"Iya sejak kamu menolakku, aku tidak pernah pulang ke kota ini, aku menghabiskan waktuku hanya kerja dan kerja", ucap Dedi.
"Ded gak baik mengungkit masa lalu, kamu berhak bahagia dengan siapapun. Kita tidak berjodoh. Kamu baik dan juga tampan, pasti banyak para wanita di luar sana yang menyukai kamu", ujar Nina.
"Tapi aku cintanya hanya sama kamu", ucap Dedi.
"Kamu ada disini ada apa?', tanya Nina mengalihkan pembicaraan.
"Ibu sakit, aku bawa kesini tapi kata dokter gak apa-apa yang penting istirahat aja", kata Dedi.
"Memangnya ibu kamu sakit apa?", tanya Nina.
"Ibu punya riwayat penyakit asma jadi tidak bisa capek. Ibu masih aja bisnis kuenya padahal sudah aku larang tapi masih aja. Sedangkan kakak semenjak berkeluarga jarang berkunjung ke rumah ibu. Cuma adikku Risma yang membantu dan menjaga ibu", ujar Dedi.
"Sayang ternyata kamu ada disini rupanya. Abang dan ibu sudah keliling cariin kamu tapi gak ada. Kami udah cemas", kata Jimmy yang tiba-tiba datang bersama ibunya Nina bu Ratmi.
"Iya bang bosan di kamar terus. Jalan-jalan sekalian lihat anak kita", kata Nina.
Jimmy menampakkan wajah tidak suka pada Dedi. Nina sudah menduga pasti Jimmy salah paham lagi.
__ADS_1
"Bang, kenalin ini Dedi teman kuliahku dulu. Ded kenalin ini suamiku", kata Nina pada Jimmy dan juga Dedi.
Mereka bersalaman. Nina lega Jimmy mau menjabat tangan Dedi.
"Ibu apa kabar?", tanya Dedi seraya mencium punggung tangan ibunya Nina.
"Alhamdulillah baik. Kamu kenapa ada disini?", tanya bu Ratmi.
"Membawa ibu berobat tapi udah selesai. Tadi ke toilet bentar, pas balik aku lihat Nina ada disini. Jadi nyapa Nina dulu", jawab Dedi sambil melirik Nina.
Jimmy menghela nafasnya. Rasa tidak suka pada Dedi masih di tahannya. Dia merapatkan giginya sehingga terdengar suara gesekan giginya. Nina melihat suasana sudah tidak kondusif. Ia mempunyai inisiatif. Nina memegangi perutnya sambil meringis.
"Kamu kenapa?", tanya Jimmy dan Dedi berbarengan. Jimmy memegang tangan kanan dan Dedi memegang tangan kiri Nina.
Nina tidak menyangka aksinya malah membuat kedua lelaki di depannya berebut ingin membantunya. Nina melongo. Jimmy menepis tangan Dedi yang memegang tangan kiri Nina. Bu Ratmi dan Nina saling pandang.
"Maaf hanya refleks", kata Dedi.
"Ayo kita kembali ke kamar, kamu sih kenapa juga harus jalan-jalan. Kamu kan belum sehat betul", ujar Jimmy.
"Nak Dedi kami ke ruangan dulu ya, salam buat ibumu. Semoga beliau cepat sembuh", kata bu Ratmi menengahi.
"Iya bu terima kasih", kata Dedi sambil tersenyum.
Jimmy menuntun Nina menuju ruang rawatnya. Bu Ratmi mengiringi langkah Jimmy dan Nina dari belakang. Dedi menghela nafasnya. Pandangannya masih tertuju pada Nina yang semakin jauh. Pupus sudah niatnya untuk hidup bersama Nina. Nina kini sudah bahagia bersama keluarga kecilnya.
"Semoga kamu bahagia. Melihatmu bahagia aku pun turut bahagia", batin Dedi.
Jimmy merebahkan Nina di tempat tidur. Nina tertawa dalam hati.
"Sebesar itukah rasa cintamu padaku bang!?", batin Nina sambil memandangi wajah suaminya.
"Abang panggilin dokter ya", kata Jimmy cemas.
"Gak perlu bang, mungkin efek terlalu lama tegak aja. Ini juga sudah agak mendingan koq", jawab Nina.
"Jangan membantah. Bu, aku panggil dokternya dulu ya", kata Jimmy.
Bu Ratmi hanya mengangguk. Jimmy keluar dari ruangan dan memanggil sang dokter.
Sang dokter masuk bersama Jimmy.
"Saya periksa dulu ya bu Nina", kata sang dokter sopan.
Dokter memeriksa keadaaan Nina. Setelah merasa cukup, sang dokter menghentikan pemeriksaannya.
"Memangnya tadi bu Nina ada keluhan apa?", tanya sang dokter karena setelah di periksanya tidak ada keluhan apapun yang di temukannya.
"Tadi nyeri tiba-tiba dok tapi setelah itu hilang.", ujar Nina sedikit berbohong.
__ADS_1
"Oh itu biasa untuk pasien pasca operasi. Tidak apa-apa, yang penting obatnya terus di konsumsi sampai sembuh", ucap sang dokter.
"Tadi dia jalan-jalan dok, sudah di bilangi jangan banyak gerak tapi masih aja", celetuk Jimmy.
Sang dokter tersebut tersenyum.
"Apa yang di lakukan ibu Nina sudah benar. Memang jangan banyak gerak tapi jika baru selesai operasi. Karena ini sudah tiga hari jadi ibu Nina harus bergerak jangan sampai kaku badannya. Dengan bergerak peredaran darah jadi lancar.Tadi sudah saya sampaikan pada bu Nina kalau hari ini bu Nina sudah boleh pulang", jelas sang dokter.
"Bayinya tetap tinggal disini dulu sampai paru dan jantungnya bekerja dengan baik baru boleh di ambil", lanjut sang dokter lagi.
"Jadi kami pulang tanpa bayinya dok?", tanya Jimmy sedih.
"Demi kesehatan bayi pak Jimmy. Tenang aja rumah sakit ini aman. Kalian boleh datang tiap hari untuk menjenguknya. Tapi itu tadi tidak bisa memegangnya cuma bisa melihat dari luar ruangan", jelas sang dokter.
"Iya dok terima kasih", kata Jimmy.
"Kalau begitu saya permisi dulu, mari", kata sang dokter.
Sang dokter keluar dari ruangan tersebut. Jimmy membelai rambut Nina.
"Koq abang bisa datang bareng ibu?", tanya Nina.
"Tadi selesai mengantar Prili, ibu gak ada kendaraan mau pulang. Taksi dan ojek gak ada yang lewat. Suami kamu ini akhirnya mengantar ibu kesini ", kata bu Ratmi
"Iya kan nggak enak sama om Bowo, kalau abang cepat pulangnya ", kata Nina.
"Jadi kamu gak suka abang datang?atau kamu merasa terganggu", ucap Jimmy.
Nina mengerti arah bicaranya Jimmy.
"Bukan begitu bang. Prili itu kan isteri kamu juga, abang kan tahu Prili anak satu-satunya om Bowo, tidak ada lagi yang mau di pandanginya. Hanya abang yang bisa menghibur mereka", kata Nina.
"Iya tapi mereka juga ngerti kalau kamu juga masih berada di rumah sakit", ujar Jimmy.
"Sudahlah gak usah di bahas. Nanti malam abang kesana lagi. Sekarang abang akan urus administrasi dulu. Setelah itu kita pulang", lanjut Jimmy.
Jimmy keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Nina dan ibu mertuanya.
.
.
.
.
Lanjut bacanya ya readersku.
Jangan lupa like, komen dan juga votenya ya.
__ADS_1
Salam sayang selalu buat para readersku....