
Nina ingin mencubit perut suaminya tapi Jimmy cepat menangkap tangan Nina dan mendekap tubuh Nina. Bersamaan dengan itu pintu kamar mereka terbuka.
"Kalian ngapain?",
Mama Liana muncul tiba-tiba.
"Mama",ucap Nina dan Jimmy berbarengan.
Nina yang masih dalam dekapan suaminya cepat melerai pelukan Jimmy.
"Kamu itu gak kira-kira si Jim, Nina itu belum boleh di sentuh. Sana keluar!", usir sang mama.
"Hanya meluk doang ma, itu pun bukan sengaja, iya kan sayang?", Jimmy meminta dukungan pada Nina.
Nina baru mau membuka mulutnya tapi mama Liana cepat menjawab pernyataan Jimmy.
"Alasan. Sudah keluar sana, giliran mama main sama cucu mama", Liana tidak mau mendengar alasan dari Jimmy.
"Tapi dia masih tidur ma", Jimmy protes.
"Mama tahu tapi mama ingin menggendongnya", ujar mama Liana.
"Mama..", Jimmy berusaha mencegah sang mama tapi Nina memberi kode dengan menggelengkan kepalanya pada Jimmy agar Jimmy membiarkan sang mama untuk menggendong anak mereka.
Mama Liana dengan suka cita menggendong cucunya dan membawanya keluar dari kamar tersebut.
"Kita keluar ya sayang, jangan di kamar terus", ujar mama Liana pada cucunya.
Nina dan Jimmy mengikuti langkah sang mama. Mama Liana membawa sang cucu ke ruang tengah dimana disana ada bu Ratmi dan mbak Yuni yang sedang menonton televisi.
"Eehh cucu oma di bawa kesini, sini Li biar aku yang gendong, gantian", ujar bu Ratmi pada mama Liana.
"Kamu nonton aja, biar aku dulu yang gendong ", ucap mama Liana.
"Ma ini ada kasurnya, sebaiknya di letakkan di kasurnya saja. Kata orang bayi itu jangan sering di gendong, nanti bau tangan", sergah Jimmy seraya memberikan sebuah kasur kecil khusus bayi pada sang mama.
"Tahu apa kamu tentang bayi. Rupanya anak mama sudah pintar ya, pantas aja sudah pandai bikin bayi", seloroh mama Liana santai. Namun tak pelak lagi kalimat tersebut membuat Jimmy jadi salah tingkah.
"Ehmmm", jimmy berdehem.
"Sudah sana biar cucu mama yang imut ini di sini bersama kami berdua", kata mama Liana sambil melirik bu Ratmi.
Nina mengedipkan matanya pada Jimmy agar Jimmy membiarkan kedua nenek tersebut meladeni bayinya. Jimmy menghela nafasnya. Maksud hati sebenarnya Jimmy yang ingin bersama sang bayi tapi kedua neneknya lebih ingin bersama cucu mereka. Apa boleh buat, Jimmy mengalah demi kedua orang tersebut.
"Ayo sayang kita ke kamar aja, sepertinya persaingan sengit di menangkan oleh mereka ", bisik Jimmy di telinga Nina.
"Iya sebaiknya kita menjauh dulu, biarkan mereka bersama Iza dulu", ucap Nina.
Jimmy dan Nina baru saja akan melangkah tapi suara bu Ratmi menghentikan mereka.
"Kalian mau kemana?", tanya bu Ratmi.
__ADS_1
"Istirahat bu", jawab Nina.
"Kalian belum memberi nama anak kalian?", tanya bu Ratmi.
"Sudah bu, bang Jimmy sudah memberinya nama", jawab Nina.
"Siapa namanya?", tanya bu Ratmi seraya memegang pipi cucunya yang gembul.
"Iza bu, Oryza Eka Jini Saputri", jawab Jimmy.
"Panjang amat sih Jim, kami yang sudah tua begini mana ingat sepanjang itu", ucap bu Ratmi.
"Iza bu, panggil saja Iza", ucap Nina.
"Nah kalau itu kan enak, cuma tiga huruf gampang mengingat dan mengucapkannya", kata bu Ratmi.
Jimmy dan Nina tersenyum. Mereka menjauh dari kedua nenek tersebut. Mereka membiarkan kedua nenek tersebut ngemong cucu mereka.
Di saat bu Ratmi dan mama Liana lagi asik bermain dengan cucu mereka, Adel dan Wina datang secara bersamaan.
"Lucunya", kata Wina dan Adel bersamaan. Wina ingin mengambil dan menggendong Iza tapi cepat di halangi mama Liana.
"Eeiitt kamu dari luar harus cuci tangan terlebih dahulu, jangan sembarang pegang", ucap mama Liana pada si bungsunya.
"Kita kan selalu pakai hand sanitizer ma, iya kan Del?!", dalih Wina meminta persetujuan Adel. Adel mengangguk.
"Ponakan kalian ini baru tiba di rumah, keadaannya baru stabil, sebaiknya kalian berdua bersih-bersih dulu sana. Jangan sampai ada kuman dan bakteri menempel di tubuh kalian", jelas mama Liana.
"Mama sudah seperti dokter aja", ucap Wina.
"Iya iya. Ayo Del kita bersih-bersih dulu", kata Wina pada Adel.
Wina dan Adel akhirnya menuruti kata-kata mama Liana. Mereka pergi ke belakang untuk mencuci tangan, kaki dan muka mereka.
Setelah selesai mereka kembali ke dekat ponakan mereka yang imut.
"Nah kalau sudah bersih baru boleh megang si imut ini. Kalian kan tahu bersih pangkal sehat", kata mama Liana.
"Iya bu dokter", kata Wina pada sang mama.
Semua akhirnya tertawa. Adel dan Wina akhirnya mengganti posisi kedua nenek tersebut.
Mendengar ada suara ramai di ruang tengah mereka, Jimmy dan Nina keluar dari kamar mereka.
"Waahh ada saingan baru nih", kata Jimmy pada Wina dan Adel.
"Saingan?", kata Adel dan Wina kompak.
"Iya saingan. Tadi mama dan ibu yang menguasai Iza. Lah sekarang kalian berdua. Trus papanya kapan dong?", ucap Jimmy dengan mimik muka di buat lucu.
"Kakak malam aja deh, sekarang dengan kami dulu", jawab Wina.
__ADS_1
"Malam sudah sama mamanya", kata Jimmy lagi masih dengan muka lucunya.
"Derita elu deh kak", jawab Wina sambil terkekeh.
Semuanya kembali tertawa. Mbak Yuni muncul dengan membawa minum beserta cemilannya. Mbak Yuni sangat senang melihat keakuran dua keluaga tersebut.
"Silakan di minum non", kata mbak Yuni pada Adel dan Wina.
"Terima kasih mbak", kata Adel.
Adel yang memang perutnya terasa lapar, langsung aja mencomot pisang goreng tanduk yang di bawa oleh mbak Yuni barusan.
"Krispi mbak, mbak Yuni goreng sendiri kan bukan beli?", tanya Adel setelah merasakan pisang goreng tersebut.
"Goreng sendiri lah non, tuh masih anget kan?", kata mbak Yuni.
"Pinter mbak Yuni gorengnya bisa krispi gini", kata Adel.
"Non Adel bisa aja", kata mbak Yuni.
Melihat Adel asik memakan pisang krispi tersebut, Wina akhirnya ikut nimbrung. Wina manggut-manggut setelah mencicipi pisang tersebut. Ia membenarkan apa yang dikatakan oleh Adel.
"Benaran, enak banget mbak. Kapan-kapan ajari Wina ya mbak", ujar Wina.
"Paling juga gosong kalau kamu yang masak", celetuk Jimmy.
"Kakak belum mencoba masakan Wina, sekali mencoba pasti..", Wina ingin membela diri tapi kalimatnya cepat di potong oleh Jimmy.
"Lari", kata Jimmy sambil tertawa terbahak-bahak.
Wina cemberut. Mama Liana menengahi kakak dan adik tersebut.
"Sudah makan-makan aja kenapa sih, senang banget ributnya. Nanti kita kursus sama Yuni biar bisa buka usaha pisang goreng krispinya", sergah mama Liana.
Wina mengacungkan jempolnya pada sang mama.
"Itu baru solusi", kata Wina seraya kembali menikmati pisang gorengnya.
.
.
.
.
.
Yuukk lanjut bacanya readersku terkasih.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Like, komen dan votenya di tunggu ya.
__ADS_1
Mampir juga yuk ke karyaku lainnya :
Masih Ada Pelangi (tamat).