Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Orang-orang pilihan


__ADS_3

Tiba di ruangan tersebut Jimmy sambut oleh para peserta rapat. Jimmy melihat masih ada satu kursi yang kosong.


Marsel dan Rinal yang sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangan mengerti maksud dari pandangan Jimmy pada kursi yang masih kosong tersebut.


"Apa rapatnya sudah bisa di mulai?", tanya Jimmy setelah menempati tempat duduknya.


"Tunggu bentar lagi pak, karena tadi beliau sudah memberi tahu kalau perwakilannya akan datang walau agak lambat", suara Rini terdengar nyaring di ruangan yang tidak terlalu besar tersebut. Jimmy mendengus kesal. Yang seharusnya rapat sudah di mulai, terpaksa menunggu kedatangan peserta rapat lainnya. Tinggal satu orang yang belum datang.


Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka.


"Maaf saya terlambat",


Semua mata tertuju pada sumber suara. Mereka terpana dengan apa yang mereka lihat. Seorang wanita cantik berkulit putih, tinggi semampai dan berwajah kemayu berdiri di depan pintu. Semua menatap kagum padanya kecuali Jimmy.


"Silakan masuk. Disini kita dari tadi menunggu anda. Disiplin lebih baik", ucap Jimmy enteng.


Wanita tersebut masuk dan duduk di kursi yang sudah di sediakan untuknya. Marsel yang di daulat memimpin rapat mulai membuka acara rapat tersebut.


Jimmy mulai menyampaikan informasi dan gagasan-gagasan yang sudah di siapkannya. Jimmy walau hati masih kesal namun dia terlihat profesional. Dia begitu menguasai materi yang di sampaikannya. Wanita yang tadi baru masuk sangat kagum dengan sosok Jimmy. Apalagi Jimmy terlihat gagah dan berwibawa saat menyampaikan materi dalam rapat tersebut. Beberapa pertanyaan dari peserta rapat di jawab Jimmy dengan jelas dan lugas.


Si wanita menatap Jimmy dengan pandangan kagumnya. Sekilas Jimmy melihat wanita itu yang sedang memperhatikannya.


"Kamu dari Citra Lestari kan?ada yang mau di tanyakan?dari tadi saya lihat anda hanya bengong", sapa Jimmy pada wanita cantik tersebut.


"Sepertinya tidak ada. Sudah cukup jelas. Semoga kerjasama ini bisa terjalin dengan baik dan sesuai dengan keinginan kita semua", jawab wanita tersebut sambil tersenyum.


"Baiklah kalau tidak ada pertanyaan lagi rapat hari ini kita tutup sampai disini. Kalau masih ada uneg-uneg yang belum tersampaikan, silakan berdiskusi setelah ini dengan pak Jimmy selaku direktur. Rapat di tutup. Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh", ujar Marsel seraya menutup map yang ada di hadapannya.


Rapat pun berakhir. Jimmy belum meninggalkan ruangan. Ada beberapa orang rekan bisnisnya mendekati Jimmy. Mereka berdiskusi lagi mengenai hasil rapat mereka. Ada yang langsung keluar dari ruangan tersebut. Tapi tidak dengan wanita cantik yang merupakan perwakilan dari perusahaan Citra Lestari. Ia masih betah duduk di tempatnya, masih asik dengan ponselnya. Rinal dan Marsel saling pandang. Rinal mengisyaratkan pada Marsel dengan menggerakkan kepalanya untuk mendekati wanita tersebut. Marsel mendekati wanita tersebut diikuti oleh Rinal.


"Hai", sapa Marsel.


Wanita itu mendongakkan wajahnya yang tadi masih menundukkan wajahnya karena masih asik dengan layar ponselnya. Wanita itu tersenyum.


"Ala mak senyum itu", batin Marsel.


"Kamu dari Citra Lestari kan?", tanya Marsel setelah duduk di samping wanita tersebut.


"Iya betul. Saya anak yang punya perusahaan. Kebetulan papa masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan jadi saya mewakili papa disini", ujarnya ringan.


"Ooh gitu. Tadi kamu tidak memperkenalkan diri kamu. Boleh tahu namanya siapa?", tanya Marsel lagi.


"Panggil saja Nova", jawab wanita itu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Oh iya, saya baru kali pertama ikut rapat dan saya suka dengan gagasan dan ide bos kalian. Semoga semuanya mendapat respon baik dari semua kalangan", ucap Nova lagi.


"Maaf saya harus segera pergi. Ada urusan sedikit. Bye", ucap Nova setelah membaca pesan yang masuk ke WhatsApp nya. Ia pergi dengan terburu-buru.


Nova sempat melirik ke pada Jimmy. Jimmy sempat melihatnya walau selintas.


Rinal menoleh ke Marsel. Marsel hanya mengangkat kedua bahunya. Mereka kemudian bergabung dengan Jimmy dan yang lainnya.


****


Sejak tampil dalam meeting saat itu, Nova jadi sering mewakili papa nya. Menurut pak Hadi Kusuma anak sulungnya itu bisa di andalkan. Dia cepat beradaptasi dengan suasana apapun. Dan dengan tak di rencanakan dia pun jadi sering bertemu dengan Jimmy. Mereka cepat menjadi akrab karena Nova orangnya memang pandai bergaul.


Pertemuan beberapa kali membuat keakraban terjalin dengan keduanya. Namun itu hanya sebatas teman saja. Nova yang sudah menginjak kepala tiga ini, belum berpikir untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Walau dia seorang wanita, Nova sangat dekat papanya. Mamanya Nova telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Papanya lah yang menjadi ibu sekaligus ayah untuk kedua anaknya. Adik Nova seorang lelaki. Kini masih duduk di bangku kuliah. Papanya terkadang merasa kesepian. Oleh karena itu papanya sangat berharap Nova akan melepaskan masa lajangnya karena pak Hadi ingin Nova menikah mengingat umurnya yang sudah dewasa. Pernah suatu hari pak Hadi Kusuma bertanya padanya.


"Apa kamu belum memikirkan untuk mengakhiri masa lajang kamu nak?",


"Pertanyaan itu lagi", jawab Nova jengah.


"Kamu kan sudah cukup dewasa. Pikirkan masa depan kamu", kata pak Hadi.


"Bukan gak mau pa, tapi belum ketemu jodoh", itulah jawaban yang selalu di berikan Nova untuk mengelak dari pertanyaan sang papa.


Nova orangnya sangat santai. Dia berprinsip kalau sudah saatnya, pasti ketemu juga. Jodoh tak usah di cari. Jodoh akan datang dengan sendirinya. Nikmati hidup tanpa beban, itu mottonya.


"Lagi apa?", tanya pak Hadi seraya menyembunyikan foto yang ada di tangannya ke belakang tubuhnya.


"Papa bikin kaget aja", kata Nova seraya membetulkan letak duduknya.


"Boleh papa duduk?",tanya pak Hadi.


"Duduk aja pa. Ada apa sih pa? serius banget sepertinya", tanya Nova.


"Begini, sekarang papa sudah tua. Perusahaan harus ada yang mengurusnya. Setidaknya yang lebih produktif. Mengingat usia papa tidak muda lagi, papa ingin semua berjalan baik-baik saja dan lancar", ujar papa Hadi.


"Apa sekarang perusahaan sedang tidak baik-baik saja, begitu maksudnya?", tanya Nova belum mengerti arah pembicaraan sang papa.


"Bukan begitu. Papa yakin dengan kemampuan kamu. Papa lihat sudah beberapa bulan ini kamu bisa menguasai arena. Tapi kamu punya keterbatasan gerak. Papa ingin ada seseorang yang mendampingi kamu dalam menjalankan perusahaan ini", jelas papa Hadi.


"Untuk dua tahun ke depan ini papa ada kan disini, aku akan menemani papa mengurus dan menjalankan usaha papa. Nova belum punya calon pa. Jadi belum bisa memenuhi keinginan papa", ucap Nova.


"Papa punya", ucap papa Hadi sambil tersenyum.


Nova mengeryitkan dahinya.

__ADS_1


"Ini", kata papa Hadi seraya menyerahkan beberapa foto kepada Nova.


Nova mengambil foto-foto tersebut dari tangan sang papa.


"Mereka semua dari keluarga terpandang, berkelas dan berpendidikan tinggi. Kamu tinggal pilih", kata sang papa bersemangat.


Nova melihat satu persatu foto dari sang papa.


"Ganteng-ganteng sih pa tapi sepertinya mereka bukan tipe Nova deh", kata Nova sembari meletakkan foto-foto itu di atas meja.


"Bukan tipe bagaimana?mereka bukan keturunan sembarang lho. Mereka orang-orang pilihan. Papa hanya ingin kamu cepat nikah karena papa sudah tua. Bagaimana kalau kamu nikah nanti papa sudah tidak ada lagi?", ucap papa Hadi kesal dengan sikap Nova yang keras kepala.


Jantung Nova seakan berhenti berdetak mendengar ucapan sang papa.


"Papa ngomong apa sih pa. Nova pingin nikah tapi sepertinya belum jodoh pa. Nova ingin pria yang mendampingi Nova pria yang nyangkut di hati Nova bukan sekedar nikah doang", ujar Nova sambil memegang tangan sang papa.


Sang papa mendengus.


"Atau begini saja, foto-foto ini Nova ambil dulu. Nanti Nova pikirkan lagi ", kata Nova sambil tersenyum.


"Itu lebih baik", kata pak Hadi seraya bangun dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Nova yang masih dalam kebingungan.


"Menikah?dengan pria yang belum pernah ketemu sama sekali?mimpi apa aku semalam ya?", gumam Nova.


.


.


.


.


.


Lanjut bacanya ya readersku terkasih...


Jangan lupa like, komen dan votenya ya.


Terima kasih yang sudah like dan komennya ya.


Mampir juga yuukk ke karyaku yang lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2