Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Ada yang salah


__ADS_3

Nina menunggu Jimmy pulang tapi yang di tunggu tak muncul-muncul juga. Malam semakin merangkak. Nina ingin mencoba menghubungi Jimmy tapi di belahan hatinya yang lain melarangnya untuk melakukannya.


Jimmy sudah terlelap dalam tidurnya. Prili tersenyum penuh arti.


"Terima kasih sayang malam ini kamu ada buat aku dan anak kita", kata Prili memandang wajah Jimmy sembari mengelus perutnya.


Prili merapatkan tubuhnya kepada Jimmy. Tanpa sadar tangan Jimmy melingkar di pinggang Prili. Prili menyunggingkan senyumnya.


"Aku sangat senang sayang, terima kasih", batin Prili.


Prili memejamkan matanya dan akhirnya ia pun ikut tertidur dalam pelukan Jimmy.


Jimmy menggeliat. Jimmy membuka matanya. Dia kaget saat melihat Prili tidur dalam dekapannya. Prili membuka matanya saat merasa ada pergerakan di sampingnya.


"Kenapa sayang?kamu udah bangun?", tanya Prili.


"Kenapa kamu membiarkan aku tertidur di sini?", kata Jimmy seraya bangkit dari tempat tidurnya.


"Salahnya dimana?kita kan suami isteri", kata Prili masih dalam keadaan mengantuk.


"Nina pasti menungguku, aku harus pulang sekarang", kata Jimmy sambil mengenakan pakaiannya.


"Kamu mau kemana?ini udah larut malam loh", kata Prili mencoba menghalangi.


"Prili, Nina juga butuh aku sekarang. Dia juga lagi hamil sekarang jadi aku harus pulang sekarang ", kata Jimmy dengan pakaian dan rambut kusut.


"Hamil lagi?", ucap Prili refleks, rasa kantuknya langsung hilang.


"Aku pulang dulu", kata Jimmy tanpa minta persetujuan dari Prili.


Prili dengan berat hati mengikuti langkah Jimmy. Prili mengunci pintu saat Jimmy keluar dari rumah.


"Kenapa dia hamil lagi? secepat itu dia bisa hamil, aku tidak terima. Ini pasti salah. Dia tidak boleh hamil. Hanya anakku penerus papanya", gumam Prili dengan langkah gontai menuju kamarnya.


****


Jimmy tiba di rumahnya. Sepi sunyi tak ada suara. Jimmy mencoba memencet bel. Nina yang memang baru saja tidur, langsung bangun saat mendengar suara bel. Tapi Nina tidak mau membukakan pintu untuk Jimmy. Dia sengaja tidak melakukannya. Jimmy beberapa kali memencet belnya tapi belum ada tanda ada yang membuka pintunya.


Jimmy menelpon mbak Yuni. Mbak Yuni terbangun saat mendengar suara ponselnya.


"Halo tuan", kata mbak Yuni saat melihat siapa yang menelponnya.


"Buka pintunya mbak", kata Jimmy.


Jimmy memutus obrolan mereka. Terlihat mbak Yuni membukakan pintu untuk tuannya.


Jimmy langsung menuju kamarnya. Di lihatnya Nina tidur membelakanginya. Jimmy meletakkan ponselnya di meja kecil samping tempat tidurnya. Jimmy melepaskan pakaiannya dan menggantinya dengan short pant nya. Jimmy langsung masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh Nina dari belakang. Nina yang hanya pura-pura tidur membuka matanya dan melihat tangan kekar Jimmy melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


Jimmy yang masih mengantuk langsung terpejam dan nafasnya sudah mulai teratur.


Nina menghela nafasnya. Nina mencoba memejamkan matanya kembali. Dengan susah payah akhirnya Nina juga dapat memejamkan matanya.


Hari sudah siang. Nina belum bangun dari tidurnya. Ini akibat semalam ia susah memejamkan matanya, dan akibatnya kini dia harus bangun kesiangan. Mata Nina sangat rapat. Nafasnya masih sangat teratur menandakan ia tidur begitu pulasnya.


Jimmy bangun dari tidurnya. Dia melihat matahari sudah mulai menampakkan dirinya. Jimmy membuka gorden kamar mereka. Jimmy melihat ke arah Nina. Nina tak merasa terusik dengan suara gorden yang di geser oleh Jimmy. Jimmy menuju kamar mandi. Jimmy mulai dengan ritual mandinya.


Jimmy selesai dengan ritual mandinya. Dia mengenakan pakaian kantornya. Jimmy bermaksud membangunkan Nina tapi Nina terlihat sangat letih.


"Kelihatannya dia sangat letih sehingga tidur begitu pulasnya", gumam Jimmy memandang wajah Nina.


"Sebaiknya biarkan saja dia tidur, biar dia istirahat",gumam Jimmy.


Jimmy mengambil ponselnya dan mengambil tas kerja dan kunci mobilnya. Jimmy meminum teh yang sudah di siapkan oleh mbak Yuni.


"Mbak, nanti kalau Nina bangun bilang obatnya jangan lupa di minum", ujar Jimmy.


"Baik tuan. Tuan langsung ke kantor ya, apa ndak sarapan dulu?", kata mbak Yuni.


"Iyaa ini langsung ke kantor. Minum teh sajalah udah siang ini", kata Jimmy seraya melihat arlojinya.


"Baik tuan", ucap mbak Yuni.


Jimmy pergi ke kantor. Hari ini dia ada rapat penting bersama orang-orang penting di perusahaannya.


"Biar aja mereka nunggu, bos telat gak soal", batin Jimmy.


Sementara itu Nina terbangun dari tidurnya. Nina menggeliat. Nina duduk dan mencoba mengingat sesuatu.


"Semalam dia pulang, koq sekarang ngilang lagi ", gumam Nina.


Nina meraba perutnya. Antara sedih dan gembira dengan kehamilannya sekarang ini. Sedih karena harus berbagi semuanya dengan Prili. Gembira karena masih di percaya tuhan untuk bisa mengandung lagi.


Nina menuju kamar mandi. Tak lama terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi tersebut. Nina langsung melakukan ritual mandinya.


Selesai mandi Nina menuju dapur. Di sana ada mbak Yuni yang lagi beres-beres.


Nina ingin mengambil gelas yang ada di rak piring. Tiba-tiba Nina mengurungkan niatnya.


Nina mundur.


"Nyonya kenapa?", tanya Mbak Yuni tak mengerti melihat majikannya mundur beberapa langkah.


"Mbak uap nasi itu...oeeekkk", kata Nina seraya menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Nina mual dan ingin muntah karena mencium uap nasi tersebut.


"Biar ku ambilin minyak dulu Nya", kata mbak Yuni buru-buru masuk ke kamarnya untuk mengambil minyak kayu putih miliknya.

__ADS_1


"Ini Nya di polesi di leher sama perut... ehh tapi jangan di perut nyonya kan lagi hamil, di leher saja takutnya nanti calon bayinya kepanasan", kata mbak Yuni cepat.


Nina mengambil minyak kayu putih tersebut. Tapi belum sempat memoleskan minyak tersebut, kembali mual menyerang Nina. Nina buru-buru ke kamar mandi.


"Kasihan nyonya, hamilnya gitu amat yak", batin mbak Yuni.


Uoeeekkk....


Terdengar suara dari kamar mandi. mbak Yuni langsung masuk ke kamar mandi untuk membantu majikannya.


"Sini minyaknya Nya biar di pijitin punggungnya", ujar mbak Yuni.


Nina memberikan minyak tersebut pada mbak Yuni. Mbak Yuni dengan sigap membantu majikannya untuk mengurangi rasa mual yang timbul.


"Sudah mbak ,udah mendingan", kata Nina.


Mbak Yuni menghentikan pijatannya di punggung Nina. Kedua wanita itu keluar dari kamar mandi tersebut.


"Sebaiknya nyonya sarapan dulu, mungkin juga mual karena nyonya belum makan", kata mbak Yuni.


Nina mengangguk.


"Mbak Yuni masak apa?", tanya Nina.


"Masak nasi goreng kesukaan nyonya", ucap mbak Yuni bersemangat.


Nina duduk di kursi makan. Ia mengambil teh hangat dan meminumnya. Nina mengambil beberapa centong nasi goreng. Nina mulai menyuap nasi goreng tersebut. Tapi belum sampai ke dalam mulut, bau nasi tersebut kembali membuat mual perut Nina. Nina buru-buru kembali ke kamar mandi.


Uoeeekkk....


"Apa ada yang salah ya dengan masakanku hari ini?", gumam mbak Yuni bingung.


Uoeeekkk..


.


.


.


.


.


Selamat membaca readers setiaku.


Jangan lupa like ya, komen yang banyak.

__ADS_1


Jangan lupa juga mampir ke karyaku lainnya ya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2