
Pagi itu isterinya Ferdy telah bangun duluan dari tidurnya. Ia membuat sarapan untuk suaminya. Dalam keadaan berbadan dua, ia sering mual bila sudah berhadapan dengan yang namanya bawang. Dia berusaha untuk menahan rasa isi perutnya yang sudah mulai bergejolak ingin keluar. Sampai selesai akhirnya bawang tersebut telah berhasil di irisnya.
Dia mulai dengan ritual masaknya. Wajah Ferdy terbayang di pelupuk matanya. Akhir-akhir ini sikap Ferdy berubah. Tapi sebagai isteri dia tetap mengurus suaminya, memasak, mencuci dan melayani Ferdy suaminya di tempat tidur. Tak terasa air matanya sudah mengalir di pipinya.
Setelah selesai masak, ia membangunkan Ferdy dari tidurnya.
"Mas bangun sudah siang", katanya.
"Resti kenapa sih tidak bisa untuk tidak menggangguku", bentak Ferdy pada isterinya.
"Hari sudah siang mas, sudah jam tujuh", kata isterinya Ferdy yang bernama Resti tersebut.
"Apa?kenapa gak bilang kalau udah jam tujuh sih", kata Ferdy sambil melompat dari tempat tidurnya. Dan menuju kamar mandi.
Resti merapikan tempat tidur mereka. Dia menarik bantal yang tadi di pakai oleh suaminya.
Bukkk
Sebuah dompet jatuh dengan posisi terbuka.
"Dompet?!foto siapa nih?cantik dan wajahnya imut",kata Resti.
Ferdy keluar dari kamar mandi.
"Hei berani sekali membuka dompetku, sini!!", kata Ferdy merampas dompetnya dari tangan Resti.
"Foto siapa itu mas?kenapa kamu simpan dalam dompetmu?",kata Resti dengan tenang.
"Dia cinta pertamaku", kata Ferdy cuek. Dia tak melihat muka Resti sudah berubah merah padam.
"Kita sudah menikah mas, kenapa masih menyimpan foto mantan kamu di dompetmu", kata Resti dengan air mata sudah meleleh.
"Itu cuma foto Resti, jujur dia orangnya lembut, baik dan cantik, kenapa juga mempermasalahkan cuma sebuah foto", kata Ferdy sambil berpakaian.
"Buang foto itu mas, aku tak suka mas menyimpannya", kata Resti penuh penekanan.
"Koq cerewet sih, udah aku pergi kerja dulu, udah telat", kata Ferdy.
"Sarapan dulu mas", kata Resti.
"Gak usah, udah telat", kata Ferdy singkat.
Resti duduk di tempat tidurnya. Ia menangis meratapi nasibnya. Ferdy sudah benar-benar berubah sekarang. Sikapnya kasar, cuek dan pergi pun tak pamit lagi.
Resti mengelus perutnya. Hatinya sangat sakit melihat kenyataan hidupnya. Dia sangat mencintai Ferdy. Tapi perubahan yang di tunjukkan Ferdy sangat melukai hatinya. Apa lagi sekarang dia lagi hamil begini. Dunia seakan mau runtuh. Dadanya terasa sesak.
Resti menuju dapur dan menutup kembali apa yang sudah terhidang di meja makan. Selera makannya pun sudah hilang. Kemudian dia kembali menuju kamarnya.
__ADS_1
"Aku harus selidiki siapa wanita itu", kata Resti.
Resti menuju kamar mandi dan mulai ritual mandinya. Setelah selesai mandi, Resti berpakaian lengkap dan sedikit memoles wajahnya. Setelah itu dia pergi menyusul Ferdy ke tempat kerjanya.
"Aku harus tahu siapa wanita itu, aku akan mengikuti mas Ferdy",kata batin Resti.
Resti sudah sampai di tempat Ferdy bekerja. Resti melihat motor Ferdy sudah terparkir di sana.
"Berarti dia tidak kemana-mana benar-benar kerja, sebaiknya aku melihat dari kejahuan saja, gak usah masuk ke dalam", kata Resti.
"Loh koq keluar sih?", kata Resti ketika melihat Ferdy keluar dari tempat kerjanya. Di lihatnya Ferdy mengambil motornya dan mulai menghidupkan motornya.
"Ojek mas", kata Resti yang melihat ada ojek tak jauh dari dia berdiri.
"Kemana mbak?", tanya tukang ojek.
"Ikuti motor itu tapi jangan terlalu dekat", kata Resti. Resti memakai maskernya biar Ferdy tidak terlalu melihat wajahnya.
"Oke mbak", kata mas ojeknya.
Mereka mengikuti motor Ferdy dari kejauhan. Mas ojek menjaga jarak motornya biar tidak teridentifikasi oleh targetnya.
"Mas stop mas, jangan terlalu dekat", kata Resti melihat Ferdy menghentikan motornya di sebuah tempat. Terlihat Ferdy berbincang dengan seorang satpam. Kemudian Ferdy meninggalkan tempat tersebut. Resti tidak mau kehilangan jejak. Resti cepat-cepat kembali mengikuti arah kemana Ferdy pergi.
"Cepatan mas, jangan sampai kehilangan jejak", kata Resti pada mamas ojeknya.
Resti terus mengikuti Ferdy. Sampai tiba pada sebuah rumah. Ferdy turun dari motornya. Ferdy mengetuk pintu rumah tersebut. Pintu pun terbuka.
"Nak Ferdy?!apa ibu gak salah lihat ini", kata ibunya Nina tak percaya.
"Iya bu ini benaran Ferdy. Apa kabar bu?apa Ninanya ada?", tanya Ferdy.
"Alhamdulillah baik nak, kemana saja baru muncul?",tanya ibunya Nina.
"Biasalah bu banyak urusan", kata Ferdy.
"Siapa Bu?", tanya Nina dari dalam.
"Ini ada nak Ferdy mau ketemu sama kamu", jawab sang ibu.
Nina muncul dengan pakaian kantornya. Siap untuk berangkat kerja.
"Itu wanita yang ada di foto itu, jadi Ferdy masih berhubungan dengan wanita itu", gumam Resti.
"Tega kamu Fer", kata Resti dan pergi meninggalkan tempat itu dengan hati terluka.
"Antarkan saya ke jalan kota baru mas", kata Resti sambil menangis.
__ADS_1
Mamas ojek walau sempat bingung saat melihat penumpangnya menangis, tapi tetap melajukan sepeda motornya menuju alamat yang di minta penumpangnya.
Sementara itu Nina mulai mendamprat Ferdy saat ibunya sudah meninggalkan mereka.
"Mau kamu apa sih Fer?sudah aku bilangkan lupakan semuanya, itu hanya masa lalu. Sekarang kamu sudah punya isteri dan tak lama lagi akan punya anak, pergilah jangan ganggu aku lagi", kata Nina ketus.
Tujuannya supaya Ferdy membencinya dan tak akan muncul lagi di hadapannya. Tapi Nina salah besar. Dia lupa kalau Ferdy orangnya suka nekad.
"Aku tak akan berhenti untuk mencintai kamu. Baiklah kalau kamu tidak mau berdamai denganku.kamu terlalu sombong Nina aku akan membuatmu gak enak makan, gak enak tidur, aku akan usik hidupmu sampai kamu berlutut di kakiku", kata Ferdy panas mendengar kata-kata Nina tadi.
Ferdy melangkahkan kakinya dari hadapan Nina. Tapi baru beberapa langkah, Ferdy kembali membalikkan tubuhnya dan berkata pada Nina.
"Oh iya asal kamu tahu, gak dapat mbaknya adiknya pun jadilah", kata Ferdy mengancam Nina.
"Dasar wong edan, dia benar-benar udah gak waras", kata Nina dan kembali masuk untuk pamitan sama ibunya.
"Nina berangkat kerja dulu ya bu", kata Nina sambil mencium punggung tangan ibunya.
"Yakin mau kerja?kaki kamu gimana?", kata sang ibu.
"Gak apa-apa Bu, biasa aja, gak enak sama bos Nina, cuma sakit segini udah gak masuk kerja", kata Nina memberi alasan.
"Trus nak Ferdy nya mana?", tanya ibunya seraya mendongak keluar.
"Udah pergi Bu, gak usah di pikirin, dia orangnya gak waras", kata Nina sebel.
"Husss koq gitu ngomongnya, gak baik",kata sang ibu.
"Iya ibu sayang, Nina pergi dulu ya bu, assalamualaikum",kata Nina.
"Waalaikum salam, hati-hati ya", kata sang ibu.
"Iya Bu", jawab Nina.
Nina berlalu dari hadapan sang ibu. Dan berangkat menuju kantornya.
.
.
.
.
Jangan lupa beri like, komen dan votenya juga ya readers...
Mampir juga ke karyaku lainnya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).