Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Tak bisa menolak


__ADS_3

Nina memegangi perutnya yang terasa kram. Nina berbaring di ranjangnya yang empuk. Nina merasakan nafasnya sesak. Nina menselonjorkan kakinya. Beberapa kali mengambil nafas untuk meredakan kram di perutnya.


"Apa aku telepon Bang Jimmy dulu ya?", gumam Nina.


Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi, tanda ada tamu yang datang. Dengan masih memegang perutnya Nina membuka pintunya.


"Bang koq pulang lagi?", tanya Nina setelah melihat siapa yang datang sambil meringis memegang perutnya yang terasa kram.


"Berkas di ruang kerja ketinggalan, kamu kenapa?", tanya Jimmy seraya menggandeng tangan Nina.


"Perutku kram Bang", kata Nina memegangi perutnya.


"Kita ke dokter aja dulu, bentar aku ambil berkasnya dulu", Jimmy setengah berlari menuju ruang kerjanya.


Jimmy kembali muncul dengan map berwarna merah di tangannya. Jimmy mengajak Nina untuk ke dokter terlebih dahulu.


"Yuk kita ke dokter dulu", ujar Jimmy.


"Tapi Abang kan mau ke kantor", sela Nina.


"Antar kamu dulu, setelah itu baru ke kantor", jawab Jimmy.


Nina tak membantah. Sambil masih memegang perutnya Nina masuk ke dalam mobil. Jimmy menutup dan mengunci pintu rumahnya terlebih dahulu lalu menyusul isterinya masuk ke dalam mobil. Jimmy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Tak butuh waktu lama, mereka pun tiba di tempat dokter yang di tuju. Jimmy mengajak Nina untuk turun dari mobil.


"Ada apa pak?",tanya sang dokter.


"Ini dok isteri saya mengalami kram pada perutnya", jelas Jimmy.


"Saya periksa dulu ya, mari Bu", kata sang dokter.


Nina mengikuti dokter menuju tempat tidur pasien. Nina berbaring sesuai perintah sang dokter. Nina di periksa vital sign nya terlebih dahulu. Dokter mengajukan berbagai macam pertanyaan. Dokter memeriksa Nina dengan sangat teliti dan penuh kehati-hatian. Setelah selesai dokter tersebut kembali ke meja kerjanya


"Maaf dengan bapak siapa?", tanya sang dokter pada Jimmy.


"Jimmy dok", jawab Jimmy.


"Begini pak Jimmy maaf sebelumnya, saya jelaskan sedikit pada bapak kalau kram yang timbul pada perut isteri bapak di karenakan isteri bapak lagi mengandung, hamil muda sering kali mengalami berbagai resiko, termasuk hubungan intim. Oleh karena ini saya sarankan untuk berhati-hati dalam berhubungan suami isteri. Apalagi ini adalah kehamilan pertama, sangat ekstra hati-hati. Jadi saya sarankan untuk satu minggu ke depan, bapaknya puasa dulu ya, tenang aja lepas dari seminggu boleh koq tapi harus pelan ya, jangan mentang-mentang pengantin baru kerjanya keras dan lembur terus. Kasihan isterinya", jelas sabg dokter panjang lebar.


Jimmy tersenyum simpul.


"Ini nanti saya kasih vitamin dan penguat kandungan, makan buah berair ya Bu, untuk sekarang istirahat saja dulu, biar tidak terjadi kontraksi", imbuh sang dokter seraya memberikan kertas kecil pada Jimmy.


Setelah selesai Jimmy mohon diri pada sang dokter. Jimmy mengantar Nina pulang ke rumah terlebih dahulu.


"Sayang kamu nggak usah ngapa-ngapain ya, istirahat saja, nanti makannya biar Abang saja yang pesan, kamu kasih tahu aja nanti mau makan apa, nanti Abang pesankan",kata Jimmy.


"Iya Bang, terserah Abang saja", kata Nina masih memegangi perutnya.


Nina menutup pintunya setelah Jimmy menghilang dari pandangannya.


*****


Di tengah perjalanan Jimmy di telepon oleh Prili.

__ADS_1


"Siapa lagi ini yang nelpon?", gumam Jimmy.


Jimmy mengambil ponselnya.


"Halo", suara Jimmy terdengar berat.


"Kita harus bicara sekarang", suara Prili terdengar memaksa.


"Aku harus ke kantor sekarang, nanti ya selesai urusan kantor saja", tolak Jimmy.


"Apa itu artinya kamu mulai menghindari aku?", tanya Peili halus.


"Kita bicara nanti, aku mau ke kantor dulu sekarang", jelas Jimmy tanpa basa-basi. Jimmy menutup teleponnya.


Prili terlihat sangat kesal. Jimmy yang sangat di harapkannya, malah menghindar.


"Awas saja kalau dia tidak menepati janji, akan ku buat dia dan keluarganya menderita seumur hidup", gumam Prili.


Baru saja Prili berniat mau menyusul Jimmy ke kantor, mamanya sudah memanggilnya.


"Sayang, kemarilah", panggil Hanny sang mama.


"Iihh mama, ganggu aja kesenangan orang", gerutu Prili seraya menutar balik tubuhnya.


"Ada apa ma?", tanya Prili.


"Ikut mama ya ke rumah tante Liana", kata Hanny sang mama.


"Serius ma?iya aku mau ma, mau banget", kata Prili langsung semangat.


"Baiklah mamaku cintaku i love you", canda Prili sambil berlalu.


Hanny geleng-geleng kepala melihat ulah Prili.


"Ayo ma", kata Prili beberapa menit kemudian.


"Waahh anak mama memang the best", kata Hanny yang melihat penampilan anaknya yang cocok untuk di tampilkan di keluarga Jimmy.


" Gimana ma?udah cocok kan?", tanya Prili sambil memutar tubuhnya.


"Banget sayang, terlihat sederhana tapi elegan, dengan begitu kamu pasti di terima di keluarga Purnama", kata Hanny bangga.


"Prili gitu lho.", kata Prili.


"Yuuk kita berangkat, mama ingin pernikahan ini cepat di laksanakan, mama udah tak sabar nimang cucu", kata Hanny bersemangat.


"Mama", kata Prili bergelayut manja di tangan sang mama.


****


Baru saja Jimmy tiba di kantor, telepon genggamnya kembali berdering.


"Siapa lagi sih, pasti si Prili lagi, malas ngangkatnya", gerutu Jimmy seraya meletakkan tas kerjanya di atas meja. Jimmy bermaksud ke ruangan Marsel, lagi-lagi ponselnya berbunyi.. Jimmy menghela nafasnya. Jimmy merogoh saku celananya dan mengambil pnselnya. Jimmy melihat layar ponselnya.


"Pasti urusan nikah lagi yang di bahas, aku akan tetap menolak, tapi bagaimana kalau Prili sudah cerita semuanya ke Mama, huuhh sial!", Jimmy kesal setelah tahu siapa yang menelpon. Jimmy mengangkat telepon dari mamanya.

__ADS_1


"Iya Ma ada apa?", tanya Jimmy tak bersemangat.


"Ke rumah sekarang, penting!", kata Liana sang mama.


"Tapi Jimmy baru saja sampai kantor Ma", protes Jimmy.


"Udah tinggalin aja dulu, nanti kan bisa balik lagi ke kantor",ujar sang Mama.


"Tapi Ma...", Jimmy baru saja mau protes tapi sang Mama sudah memutuskan teleponnya.


Walau berat, akhirnya Jimmy pulang juga ke rumah orangtuanya. Sang mama kalau sudah berkehendak pasti tak bisa di tolak.


Jimmy masuk ke dalam rumah. Jimmy kaget karena Prili dan mamanya sudah ada di situ. Jimmy melirik ke arah Prili.


Prili tersenyum penuh arti. Jimmy merasa hatinya tak karuan. Ingin lari tapi Prili punya senjata untuk mematahkannya.


"Aah sial", batin Jimmy.


Jimmy duduk berhadapan dengan Prili. Liana sang mama membuka suara.


"Seperti kita bicarakan sebelumnya, kita akan menyambung tali silaturahmi ini lebih dekat lagi. Jimmy, Prili sudah bersedia 100% untuk menjadi isteri kamu, kita akan melamar Prili minggu depan, untuk akadnya terserah Prili maunya kapan", ujar Liana tanpa berpanjang lebar.


"Kalau aku sih pengennya langsung nikah aja tante", kata Prili seraya menatap Jimmy.


"Tapi Ma, Jimmy kan...", Jimmy ingin protes tapi lagi-lagi sang mama tak memberi kesempatan pada Jimmy untuk konfirmasi.


"Mama tahu kamu juga pengennya cepat-cepat kan nikahnya", kata Liana tanpa memperdulikan perasaan Jimmy.


"Iya udah kalau sudah sepakat kami pamit dulu, kami tunggu minggu depan", kata Hanny mamanya Prili.


"Baiklah, kita nanti teleponan lagi aja", kata Liana mamanya Jimmy.


Prili dan mamanya pamitan.


"Mama ini apaan sih Ma, Mama kan tahu aku udah nikah sama Nina", kata Jimmy protes.


"Mama tidak menyuruhmu menceraikan Nina, Nina tetap isteri sah kamu yang pertama dan Prili akan menjadi isteri kedua kamu, ingat perusahaan kita perlu untuk lebih maju lagi dan kita harus bekerja sama dengan perusahaan papanya Prili, lagian apa ruginya sih menikahi Prili, dia cantik, baik, berkelas dan berpendidikan tinggi", jelas sang mama.


"Ahh terserah Mama", kata Jimmy sambil berlalu.


"Anak bodoh, di kasih daging makannya ikan", gerutu Liana seraya masuk ke dalam kamarnya.


.


.


.


Selamat membaca ya readers...


Jangan lupa komen, like dan votenya juga ya...


Mampir juga ke karyaku yang lain:


.

__ADS_1


Masih Ada Pelangi(tamat).


__ADS_2