Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Luluh


__ADS_3

"Kamu tuh ya main serobot aja, lihat ulah kamu, kamu telah menghamili anak orang, bikin malu", kata Liana sang mama.


"Ini gara-gara mama juga kan", celetuk sang


suami.


"Anak kamu nih yang bodoh, kalau saja dia nurut waktu itu semua ini takkan terjadi, lagian kenapa juga bisa menghamili Prili. Kalian memalukan sekali", jawab Liana kesal.


"Gugurkan kandungan Prili Ma", kata Jimmy mantap.


"Apa?!", kata Mamanya, Papanya dan juga Wina.


Jimmy dengan muka merah padam mengepalkan tangannya dan meninjukan ke telapak tangan satunya. Giginya gemeretak berbunyi karena amarah yang tertahan.


"Iya aku ingin anak itu di gugurkan, aku tidak mau menikahi Prili, titik!", kata Jimmy kesal.


"Kakak tidak bisa begitu, kakak harus tanggung jawab, bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Prili, urusannya tambah panjang, kami tidak mau kakak berurusan dengan pihak berwajib, nikahi saja Prili nya, apa susahnya sih", ucap Wina.


"Ini urusan orang dewasa, anak kecil tidak usah turut campur ", bentak Jimmy.


Wina melotot tajam ke arah Jimmy. Wina maju mendekat kepada Jimmy.


"Makanya jadi laki-laki harus tegas, kalau tidak mau sama dia, gak usah di dekati, ngerti!!", kata Wina menonjok dada kakaknya,Jimmy. Wina berlalu, masuk ke dalam kamarnya dengan langkah gontai.


Jimmy melongok.


"Adik kamu benar, itu resiko kamu, kamu harus tanggung jawab, nikahi Prili secepatnya", kata Purnama seraya bangun dari tempat duduknya dan berlalu.


Jimmy dan mama saling pandang.


"Mama tidak memaksa kamu tapi tolong pikirkan nama baik keluarga kita, kalau kamu tidak ingin nama kamu tercemar, nikahi Prili", kata sang mama seraya pergi meninggalkan Jimmy sendiri dalam diamnya.


Jimmy mengusap wajahnya yang terasa panas. Beberapa kali Jimmy menghela nafasnya. Jimmy merebahkan tubuhnya di sofa empuk tersebut.


"Apa yang sedang terjadi pada diriku?apa yang harus aku lakukan?", gumam Jimmy sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Aku harus telepon Prili", katanya seraya merogoh saku celananya. Jimmy mengambil ponselnya dan menghubungi Prili.


"Kita harus bicara, aku tunggu di tempat biasa", kata Jimmy setelah terhubung dengan Prili.


Jimmy menutup ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku celananya. Jimmy pergi menemui Prili di tempat sesuai kesepakatan.


"Halo sayang aku kangen banget", kata Prili menghambur kepelukan Jimmy.


Jimmy mencekal lengan Prili dengan kasar.

__ADS_1


"Sakit sayang, kalau mau jangan di sini", canda Prili.


"Aku mau kamu gugurkan kandungan kamu", kata Jimmy tanpa basa-basi.


Prili menepis cekalan tangan Jimmy.


"Kamu ingin membunuhku?ini anakku dan juga anak kamu, aku takkan menggugurkannya", kata Prili pelan.


"Ingat, aku melakukannya tanpa sadar. Perlu kamu tahu, aku sudah tahu kalau saat itu aku dalam pengaruh obat, kenapa semua itu kamu lakukan?kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku, pokoknya gugurkan anak itu",gertak Jimmy.


"Aku sangat mencintaimu Jimmy, semua ku lakukan karena cinta, bisakah kau hargai sedikit saja pengorbananku?", kata Prili lirih.


"Kamu tahu kan aku sudah punya isteri?",tanya Jimmy.


"Iya, sangat tahu. Tapi seharusnya aku yang ada di posisi tersebut bukan Nina, kalau kamu tidak mau bertanggung jawab tak masalah. Aku akan tetap melahirkan anak ini", ancam Prili.


"Kamu sudah gila Prili", kata Jimmy kesal.


"Iya aku sudah gila gara-gara kamu, pergilah. Aku tak akan memaksamu menikahiku. Aku tidak mau mengemis. Tapi bila suatu saat anak ini datang padamu, tolong akui dia sebagai anakmu", kata Prili sambil menangis.


Jimmy serba salah. Hatinya terenyuh melihat Prili menangis.


"Sudah jangan menangis, nanti ada yang lihat, gak enak", kata Jimmy membujuk Prili.


Tiba-tiba Prili memegangi kepalanya. Prili limbung. Jimmy dengan cekatan menangkap tubuh Prili dan di bawanya ke dalam mobilnya.


Prili membuka matanya.


"Syukurlah kamu tidak apa-apa ", ujar Jimmy tanpa sadar.


"Jangan pergi dariku, aku tidak bisa hidup tanpamu", kata Prili seraya memegang tangan Jimmy.


Jimmy terdiam. Dia mempunyai pilihan sulit. Jimmy menatap dalam mata Prili.


"Ini anak kita, aku rela melakukan semuanya demi mendapatkan cinta kamu, ku mohon mengertilah", kata Prili memelas.


"Aku tak tahu harus bagaimana, aku tidak mungkin menikahimu karena aku sudah punya Nina", jelas Jimmy.


"Soal Nina itu urusan kamu, soal kita...buat aku resmi jadi milikmu, karena anak ini butuh ayah. Apa kamu mau anak ini tumbuh tanpa ayah sementara kamu tahu kalau ini adalah anak kamu?", kata Prili dengan tatapan tajam.


Jimmy terdiam. Tatapan tajam mata Prili mampu meluluhkan hatinya yang tadi sempat berontak.


"Aku akan bicara sama Nina, tolong beri aku waktu", kata Jimmy kemudian.


"Tentu sayang, aku hanya butuh pengakuan dan tanggung jawabmu", kata Prili.

__ADS_1


"Pulanglah, aku mau ke rumah sakit. Nina keguguran ", kata Jimmy pada Prili.


"Baiklah, nanti kita bicarakan lagi", kata Prili seraya memeluk Jimmy.


Jimmy tak membalas pelukan Prili. Prili melepaskan pelukannya. Dan keluar dari mobil Jimmy.


Prili menuju mobilnya dan meninggalkan Jimmy yang masih termenung.


Jimmy memandangi mobil Prili yang mulai menjauh. Jimmy menghembuskan nafasnya secara kasar. Jimmy mulai menstarter mobilnya dan berangsur meninggalkan tempat tersebut.


"Mana ibu dan Adel?", tanya Jimmy pada Nina.


"Sudah ku suruh pulang, tapi mungkin mereka baru sampai depan, apa kamu tidak ketemu sama mereka?", tanya Nina.


"Tidak, oohh mungkin mereka jalan depan, aku tadi juga beli ini dulu di kantin jadi wajar sajalah tidak ketemu", ucap Jimmy seraya meletakkan barang belanjaannya berupa roti dan buah di atas lemari pasien.


"Kata dokter sudah boleh pulang hari ini, ini ada resep obat di kasih dokter, beli di apotek aja nanti", kata Nina.


"Serius?", tanya Jimmy ragu melihat kondisi Nina yang masih lemas.


"Iya. Kata dokter tidak apa-apa lagi, minum aja obatnya rutin, minggu depan di suruh kontrol.


"Oh ya sudah kita pulang sekarang, aku bebenah dulu ya", kata Jimmy berusaha menutupi suasana hatinya.


Jimmy mulai berbenah. Semua barang-barang yang tadi di bawanya di masukkan lagi ke dalam satu wadah.


Mereka meninggalkan rumah sakit tersebut. Sepanjang perjalanan Jimmy tak banyak bersuara. Dia ingin mencari sela untuk bicara sama Nina. Nina yang memang lagi lemas tidak mau buka suara. Ia lebih banyak diam.


Keduanya mengikuti alur pikiran masing-masing. Sampai tiba di rumah Jimmy tidak mengeluarkan suaranya. Jimmy belum sanggup untuk menyampaikan cerita kepada Nina.


Nina merebahkan tubuhnya di tempat tidur di kamarnya. Ia ingin menangis mengingat akan kandungannya.


Jimmy mengambil handuknya dan menuju kamar mandi. Jimmy mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Terasa sejuk. Lama Jimmy berada di kamar mandi. Setelah merasa cukup barulah Jimmy keluar dari makar mandi.


.


.


..


Selamat membaca ya readers yang baik,


Jangan lupa beri like, komen dan votenya juga ya.


Jangan lupa mampir juga ke karyaku yg lainnya ya,,,,

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2