
Jimmy menghampiri Nina yang masih berbaring. Jimmy mengumpulkan kekuatannya untuk bisa berbicara dengan isterinya.
"Sayang..", ucap Jimmy.
Jimmy menghentikan ucapannya, tenggorokannya terasa tercekat. Lidahnya seakan keluh.
"Iya ada apa?", tanya Nina menatap ke wajah Jimmy.
Jimmy menelan ludahnya.
"Apa kamu merasa lebih enakan?", tanya Jimmy.
"Iya sudah mendingan tapi perut masih terasa sedikit nyeri", ujar Nina.
"Syukurlah, aku takut banget. Abang tak mau terjadi sesuatu sama kamu. Soal janin itu lupakan saja yang penting kamu sehat dulu, kalau kamu sehat kita bisa buat lagi", kata Jimmy mengelus pipi Nina yang lembut.
"Maunya",kata Nina.
"Normal dong sayang, kalau aku lagi menginginkannya terus kamu mau dan ikhlas, itu jadi ibadah juga kan buat kamu", ucap Jimmy menghilangkan rasa kaku yang ada pada dirinya.
"Iya iya terserah kamu saja, yang pasti kamu gak dapet jatah selama empat puluh hari",jelas Nina.
"Koq lama?kamu kan keguguran bukan melahirkan", protes Jimmy.
"Sama saja Bang, bedanya kalau melahirkan ada anaknya sedangkan kalau keguguran gak ada bayinya", kata Nina menjelaskan.
"Ooohh gitu, iya udah kamu istirahat saja dulu, biar aku yang masak", ujar Jimmy.
"Emang bisa?", tanya Nina.
"Hmm bisa dong, chief Rudi aja kalah kalau sudah berlomba denganku ", kata Jimmy menghibur hatinya sendiri.
"Iya deh yakin aja", kata Nina tak mau berdebat dengan suaminya.
Jimmy meninggalkan Nina di kamar dan menuju dapur. Sedangkan Nina mulai memejamkan matanya untuk beristirahat.
Nina merasa pergi ke suatu tempat. Ia berjalan tanpa ujung. Di lihatnya jalan panjang terpampang di depannya. Nina duduk di bawah sebuah pohon. Tiba-tiba ada seorang wanita lewat di depannya dengan memakai baju yang sering di gunakan oleh Jimmy. Wanita itu tersenyum. Nina ingin menyapanya tapi wanita itu berjalan sangat cepat dan menghilang dari pandangan Nina.
Nina memanggil -manggil wanita tersebut. Wanita itu kembali tersenyum kepada Nina. Nina mengejar wanita tersebut. Nina bermaksud menanyakan kenapa baju Jimmy ada pada wanita tersebut tapi di ujung jalan ada Jimmy di sana. Jimmy hanya diam tanpa berkata satu kata pun. Nina ingin mendatangi Jimmy tapi Nina merasakan ada sebuah tangan menyentuh bahunya.
Nina terbangun. Nina membuka matanya.
"Bang", ucap Nina setelah melihat Jimmy sudah berada di dekatnya dan memegang bahunya.
"Kamu kenapa?tadi seperti orang kebingungan", tanya Jimmy.
Nina mencoba mencerna pertanyaan Jimmy. Nina menatap ke dalam bola matanya Jimmy.
__ADS_1
"Koq mandangnya gitu?", tanya Jimmy.
"Bang, boleh aku nanya sesuatu?",tanya Nina.
"Jadi serius gini, iya boleh dong sayang, mau nanya apa?",tanya Jimmy.
"Apa mimpi di siang hari itu suatu pertanda juga atau hanya bunga tidur?", tanya Nina.
"Yang namanya mimpi mau siang mau malam tetap saja itu bunga tidur. Emangnya ada apa sih nanya mimpi segala?", tanya Jimmy penasaran.
"Aku mimpi aneh, baju abang di pakai seorang wanita tapi wajahnya nggak jelas", kata Nina mencoba mengingat kejadian dalam mimpinya.
"Mungkin wanita itu nggak ada baju, makanya pinjam baju abang", jawab Jimmy sekenanya.
Nina terdiam. Nina bukan tipe orang yang suka percaya akan mimpi, tahayul atau mitos. Tapi mimpi yang tadi sempat di alaminya rasanya seperti nyata.
"Semoga hanya mimpi ", batin Nina.
"Makan yuk, tadi abang sudah siapin makannya", kata Jimmy.
"Masih kenyang, abang aja yang makan ya", Nina sedikit malas ingat akan mimpinya tadi.
Ia takut akan jadi kenyataan. Kata orang kalau mimpi baju di pakai orang maka orang yang kita sayang akan di ambil orang. Nina menepis ketakutannya. Ia memejamkan matanya.
"Mubazir dong abang masaknya kalau kamunya nggak mau makan",ujar Jimmy.
"Terserah abang aja deh", jawab Nina.
Jimmy kembali ke dapur mengambil makanan yang tadi di masaknya. Jimmy menyuapi Nina perlahan. Nina menerima suapan yang di berikan Jimmy. Walau masakannya cuma telur ceplok dengan sayur oseng tapi bagi Nina itu terasa nikmat karena menerima suapan dari tangan orang yang sangat di cintainya. Nina menghabiskan makanan di piring tersebut sampai ludes. Jimmy tersenyum puas. Setelah selesai Jimmy baru mulai dengan ritual makannya.
****
Marsel masih sibuk di kantor. Hari sudah beranjak malam. Tapi dia masih berkutat dengan laptop dan kertas. Dia kembali menghandle pekerjaan Nina. Marsel terpaksa lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Banyak pekerjaan yang harus di selesaikannya. Walau tubuh sudah menuntut untuk istirahat tapi Marsel masih sibuk dengan file-file di laptopnya.
Marsel menghela nafasnya berkali-kali. Marsel meregangkan otot-ototnya sebentar. Marsel mengangkat kedua tangannya, di gerakkan ke kanan, ke kiri dan ke depan. Melenturkan otot-otot lehernya yang terasa tegang.
"Sepertinya ini perlu mencari sekretaris baru, ribet urusan kalau semua aku yang handle", gumam Marsel.
Marsel mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Marsel menghubungi Jimmy.
"Iya bro ada apa?", tanya Jimmy setelah terhubung.
"Begini bro, Nina kan sekarang lagi sakit sepertinya kita perlu merekrut sekretaris baru, banyak pekerjaan yang numpuk ini. Takutnya pekerjaanku ikut terbengkalai juga kalau tidak ada yang bantu", jelas Marsel.
"Kalau memang di perlukan, kamu atur saja mana baiknya Cari yang berbakat, ulet, terampil dan tentunya dapat di percaya", jelas Jimmy.
"Pasti bro. Serahkan saja padaku", ujar Marsel.
__ADS_1
"Yakin... kamu kan ahlinya", ujar Jimmy.
"Baiklah. Besok akan kita buat pengumuman dan pastinya melalui seleksi ketat",kata Marsel.
"Lanjutkan ", perintah Jimmy.
"Siap", kata Marsel.
Keduanya tertawa. Marsel menutup obrolan mereka. Marsel segera membuat pengumuman. Lalu di sebar di berbagai media komunikasi. Setelah merasa cukup, Marsel menutup laptopnya dan bersiap untuk pulang.
Marsel mengecek ponselnya. Marsel sangat terkejut saat melihat ada 20 kali panggilan tak terjawab dari Sofi.
"Matilah aku", gumam Marsel.
Marsel cepat-cepat menelpon balik Sofi tapi sayang tidak di angkat. Beberapa kali Marsel menelpon tapi tetap tidak di angkat juga.
"Sofi ayo angkat sayang", gumam Marsel.
"Dia pasti marah besar padaku, duuhh kenapa juga nih ponsel tersilent",kata Marsel nyeloteh sendirian.
Marsel melihat arlojinya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Wajarlah Sofi nggak ngangkat di telepon sudah malam gini, lagian juga mungkin dia sudah bermimpi naik ke bulan sekarang", gumam Marsel.
Marsel menjinjing tas kerjanya dan memasukkan ponselnya di saku celananya.
"Sudah malam, udah ngantuk juga, sebaiknya aku pulang saja, capek banget rasanya", kata Marsel.
Marsel meninggalkan kantor dengan langkah gontai. Marsel masuk ke dalam mobilnya. Marsel menstarter mobilnya, satpam membukakan gerbang untuk Marsel. Satpam menutup kembali gerbang setelah mobil Marsel mulai menjauh.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readers...
Tolong bantu like,komen dan votenya juga ya.
Terima kasih yang sudah like dan komen.
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1