
Jimmy yang sudah menyiapkan segala kemungkinannya, segera menuju ruangan sang Papa.
"Ada apa pa?", tanya Jimmy pada papanya.
"Kemana saja kamu dari kemarin menghilang?", tanya Purnama tegas.
"Gak kemana-mana pa, cuma ke apartemen ku saja", jawab Jimmy santai.
"Trus kenapa ponsel kamu gak aktif dari kemarin?",tanay Purnam penuh selidik.
"Aku juga baru tahu tadi pa kalau ponselku mati", jawab Jimmy.
"Jangan bohong kamu", kata Purnama dengan suara tinggi.
"Papa nanya sudah ku jawab jujur", kata Jimmy kesal.
" Kamu sengaja menghindar kan?", kata Sang papa.
"Aku tidak menghindar pa, aku hanya mencintai wanita lain, aku hanya ingin menikahi wanita pilihanku", jawab Jimmy sambil berlalu.
"Jimmy tunggu Jimmy...,", kata Purnama tapi sayang Jimmy telah meninggalkan ruangan tersebut.
Purnama yang kesal, langsung menggebrak meja kerjanya.
Gubrakk..
Alhasil benda-benda yang ada di atas mejanya pun berhamburan. Tiba-tiba telepon genggamnya berdering.
"Iya halo", kata Purnama tanpa memperhatikan si penelepon.
"Bagaimana Pa, Jimmy nya ada?", tanya suara di seberang sana.
"Ada di kantor, dia dari kemarin di apartemennya", kata Purnama.
"Oh ya sudah nanti mama nyusul ke kantor", kata suara di seberang sana yang tak lain adalah Liana isterinya.
"Sebaiknya gak usah ma, kalau dia gak pulang ke rumah malam ini baru mama susul ke apartemennya", perintah Purnama.
"Iya sudah kalau gitu", kata sang isteri tanpa membantah.
Obrolan pun berakhir. Purnama menarik nafasnya dalam-dalam. Dadanya terasa sesak.
Kemarahannya kepada Jimmy membuat debaran jantungnya berpacu cepat.
Sementara itu Jimmy kembali ke ruangannya. Wajah kusutnya terlihat oleh Nina saat Jimmy lewat dari ruangannya.
"Kenapa dia?", gumam Nina.
Nina bangun dari tempat duduknya. Mencoba mengintip dari pintu ruangan Jimmy yang sedikit terbuka.
Nina kaget saat Jimmy membuka pintunya.
"Kalau mau masuk ya masuk saja, gak usah malu-malu", kata Jimmy seraya menarik tangan Nina dan menutup pintunya kembali.
__ADS_1
" A a apa yang kamu lakukan?gimana kalau ada yang lihat, matilah kita", kata Nina takut.
Jimmy tak memperdulikan pertanyaan Nina. Dia malah memeluk tubuh rampingnya Nina. Tangan Jimmy meraba pantat Nina yang seksi.
"Kamu ini, ini kantor tahu", kata Nina berusaha melepaskan pelukan Jimmy.
"Aku kalau dekat kamu, maunya nempel melulu", kata Jimmy bermaksud mencium wajah Nina.
Nina tak mau ada masalah lagi, Nina mendorong tubuh Jimmy agar dia bisa terbebas dari kungkungan Jimmy.
"Dasar mesum", kata Nina seraya keluar dari ruangan Jimmy.
Jimmy hanya tertawa mendengar ucapan isterinya.
Jimmy duduk di kursi hangatnya. Dia berpikir sejenak.
"Sepertinya Nina tidak aman di apartemen, sebaiknya Nina ku belikan rumah saja biar aman", kata Jimmy membatin.
Jimmy mengambil ponselnya. Dan menelepon temannya yang punya usaha di bidang perumahan. Jimmy membeli satu buah rumah minimalis yang sangat cantik dari temannya tersebut. Transaksi pun di lakukan setelah nego selesai. Jimmy menerima alamat rumah dan gambar rumah tersebut. Setelah selesai Jimmy menemui Nina.
"Sayang coba tebak apa yang aku bawa buat kamu?", kata Jimmy pada Nina.
Nina mengernyitkan keningnya.
"Apa?", Nina balik bertanya.
"Ini", kata Jimmy memperlihatkan gambar rumah minimalis modern yang sangat cantik pada Nina di ponselnya.
"Gambar rumah, kamu mau bikin rumah seperti ini?", tanya Nina tak mengerti.
"Cantik banget Bang, serius kita akan tinggal di sana?", tanya Nina sumringah.
Jimmy mengangguk mantap. Nina hampir saja memeluk Jimmy. Tapi Nina langsung mengurungkan niatnya.
"Kenapa gak jadi meluknya?", tanya Jimmy.
"Nanti ada yang lihat, gak enak", kata Nina malu-malu.
"Berarti di rumah kita nanti jangan sungkan lagi", kata Jimmy dengan senyum nakalnya.
"Maunya, iya udah nanti siang kita ke sana", kata Nina semangat.
"Pasti", kata Jimmy sambil mencolek dagu Nina yang bak lebah bergantung tersebut. Jimmy kembali ke ruangannya.
Nina tersenyum bahagia. Jimmy sangat memanjakannya.
"Semoga cinta ini abadi dan segera mendapat restu dari orang tuanya", batin Nina.
Nina menyelesaikan tugas-tugasnya. Memeriksa beberapa file yang belum terselesaikan. Kemudian membawanya kepada Jimmy. Belum sempat mengetuk pintu ruangan Jimmy, Marsel datang terburu-buru.
"Eh kak Marsel ada apa koq kayak di kejar anjing gitu?", tanya Nina heran.
"Aku mau ketemu Jimmy, gawat",kata Marsel seraya nyelonong masuk ke dalam ruangan Jimmy. Nina mundur kembali ke mejanya. Dia tidak mau mengganggu kedua sahabat tersebut.
__ADS_1
"Marsel, ada apa?koq ngos-ngosan gitu", tanya Jimmy seraya menghentikan aktivitasnya.
"Kamu kemana aja sih?tante Liana semalam marah-marah padaku, dia bilang aku sembunyiin kamu, emangnya ada apa sih?", tanya Marsel tak mengerti.
"Tutup pintunya dulu", kata Jimmy pada Marsel.
Marsel menutup pintunya. Lalu merapatkan kursinya ke meja Jimmy.
"Sebenarnya ada apa sih?", tanya Marsel bingung.
"Dari kemarin aku tidak pulang ke rumah, aku ke apartemen ku", ujar Jimmy.
"Lah trus apa masalahnya?", tanya Marsel semakin tidak mengerti.
"Masalahnya aku pergi dari rumah karena mau di nikahkan dengan Prili itu", ujar Jimmy kesal.
Kali ini Marsel malah tertawa terpingkal-pingkal sampai air ludahnya muncrat.
"Koq ketawa sih bro bukannya bantuin, aku moh lah nikah sama gadis manja tersebut", kata Jimmy berargumen.
"Kalau aku jadi kamu, sikat aja dulu bro, gak ada ruginya nikahin dia", kata Marsel berseloroh.
"Iya kalau itu sih hobinya kamu bukan hobiku, aku kalau gak suka sama orang, lihatnya saja sudah eneg", kata Jimmy.
"Heheee kalau itu bukan hobi mas bro tapi kebutuhan", dalih Marsel tak mau kalah.
"Suka-suka kamu lah", jawab Jimmy.
"Trus apa hanya karena itu kami tidak pulang ke rumah? hubungan kamu sama Nina gimana?",tanya Marsel yang masih belum nyambung.
"Masalahnya tak segampang yang kamu pikirkan bro, ini rumit tapi tidak pelik", kata Jimmy berusaha memberi gambaran untuk Marsel. Karena dia tahu Marsel otaknya cerdas. Selalu bisa mengerti sesuatu.
"Tunggu... sepertinya aku bisa menebak arah bicaramu", kata Marsel sambil memandang lekat wajah Jimmy.
Keduanya saling pandang. Jimmy menunggu apa yang akan di katakan oleh Marsel. Marsel tersenyum. Jimmy salah tingkah.
"Apa yang kamu pikirkan?", tanya Jimmy yang melihat Marsel senyam-senyum.
"Begini kadang-kadang sesuatu yang di sembunyikan pasti akan terkuak juga, ada baiknya kalau kamu lebih baik jujur ke tante Liana, itu juga untuk kebaikan kamu. Karena kalau aku lihat dari sorot mata kamu, ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Bersikap jentle lebih membuat kamu tenang dan legowo",kata Marsel panjang lebar.
"Tumben otaknya waras", batin Jimmy.
"Jadi bersikaplah dewasa, karena ini menyangkut masa depan dan nama besar keluarga", tambah Marsel berpetuah.
"Kamu sudah seperti saudara bagiku, aku tidak mau hubungan kamu dan kedua orang tuamu rusak gara-gara seorang perempuan, ingat kita seperti ini karena ada orang tua yang sangat menyayangi kita. Mereka marah karena mereka sayang, mereka ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, bersikaplah terbuka. Mungkin mereka akan lebih mengerti", kata Marsel memberi nasehat untuk Jimmy.
.
.
Bantu like, komen dan votenya juga ya readers yang baik ...
Mampir juga ke karyaku yang lain;
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).