
Pernikahan Marsel dan Sofi menghiasi beranda media sosialnya Prili. Banyak postingan-postingan teman media sosialnya yang memposting acara pernikahan Marsel. Tanpa terkecuali Nina pun ambil bagian. Ia memposting tentang kekagumannya terhadap indah dan megahnya sebuah karya seni. Dengan caption;
"Serasa di surga...with my hubby",
Nina berfoto dengan bersandar di bahu Jimmy dengan background panggung yang super mewah dan megah. Terlihat wajah Nina begitu bahagia. Jimmy dengan tangan berlipat di dada di hiasi senyum mengembang di wajahnya. Menambah aroma bahagia dari keduanya.
Melihat postingan tersebut darah Prili seketika meluap. Kemarahan dan kecemburuan berbaur menjadi satu.
"Puas sekarang kalian mempermainkan hidupku, awas kau Nin. Jangan harap kebahagiaanmu akan bertahan lama", Prili berbicara sendiri.
Setelah puas mengumpat, Prili akhirnya menangis meratapi nasib cintanya yang tidak beruntung. Nasib seolah mempermainkan hidupnya. Orang yang sangat di cintainya sudah tak peduli lagi padanya. Dunia terasa gelap. Semua tidak memihak padanya. Orang tua yang selama ini menjadi panutannya pun sudah tak menganggapnya ada. Hidupnya begitu getir. Kepahitan hidup yang sekarang di rasakan Prili sangat membuatnya terasing.
Tangisan Prili berhenti di saat pintu kamarnya di buka dari luar. Mama Hanny masuk ke dalam kamar Prili. Ia mendekati Prili yang sedang menghapus air matanya.
"Tak ada yang perlu di tangisi, ibarat pepatah siapa yang menabur maka ia akan menuai. Jangan sesali. Berbuatlah kebaikan, jangan hiasi hatimu dengan marah dan benci. Hilangkan dengki yang melilit hatimu, maka kamu akan ikhlas", ujar mama Hanny.
"Mama dan papa sama saja, kalian tidak mengerti apa yang aku rasakan. Aku benci kalian", teriak Prili.
"Sayang, mama memang marah sama kamu tapi mama sadar karena kamu punya mama satu-satunya. Mama tahu ini kamu lakukan karena cintamu yang sangat besar untuk Jimmy. Tapi mama tidak mendukung apa yang kamu lakukan pada Nina dan janinnya. Itu tetap sebuah kesalahan. Mama sudah berusaha agar papa kamu tidak mengusir kamu dari rumah, mama lakukan ini karena mama sayang sama kamu. Jadi berhentilah untuk menyalahkan nasib. Ini bukan nasib nak, tapi kamu saja yang tidak menempatkan diri pada posisi yang tepat. Takdir kamu mempunyai suami yang juga milik orang lain. Ingat, Jimmy juga punya Nina jadi jangan memaksakan diri untuk memiliki Jimmy secara utuh", nasihat mama Hanny.
Tangis Prili kembali meledak. Kata-kata mamanya seakan mengena pada dirinya. Prili menutup wajahnya dengan bantal gulingnya. Hatinya begitu sakit. Semua orang menyalahkannya. Semua orang tidak mengerti dengan perasaannya. Semua membela Nina.
"Nina Nina Nina Nina saja yang di bela", batin Prili di sela tangisnya.
Mama Hanny mengelus rambut Prili yang hitam panjang tergerai. Mama Hanny berharap Prili mau mendengarkan kata-katanya. Mengerti setiap kata-kata yang diucapkannya.
"Berhentilah menangis. Tangis takkan menyelesaikan persoalan. Belajarlah dari masalah yang terjadi. Minta maaflah pada Nina dan juga Jimmy. Selesaikan masalahmu, jangan berlarut-larut. Datangi Jimmy dan Nina ke rumahnya. Mama yakin Nina akan memaafkan kamu. Berdamai dengan hati maka hidup akan terasa lebih baik ", ujar sang mama.
Prili hanya diam. Tak ada tanggapan sama sekali dari ucapan sang mama. Mama Hanny menghela nafasnya. Mama Hanny pun akhirnya keluar dari kamar Prili meninggalkan Prili yang masih menutup wajahnya dengan bantal gulingnya tersebut.
Prili membuang bantal guling yang tadi di gunakannya untuk menutup wajahnya ke lantai. Dia kesal kenapa ibunya pun tak peduli dengan perasaannya. Seolah dirinyalah yang paling berdosa . Prili turun dari tempat tidurnya. Ia menghadap ke cermin riasnya. Di pandanginya wajah yang putih pucat seakan tak ada aliran darah yang mengalir di sana.
__ADS_1
Prili tersenyum menyeringai. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Ia kemudian menuju kamar mandi. Tak lama ia pun keluar kembali. Prili memoles wajahnya sedemikian rupa hingga ia terlihat sangat berubah. Sangat cantik walau dengan polesan tangannya sendiri. Setelah merasa cukup, Prili mengganti bajunya dengan baju putih berenda dengan di padu rok hitam selutut. Prili tersenyum melihat dirinya di cermin.
"Perfect", gumamnya.
Prili mengambil tas kecilnya. Tak ketinggalan juga dompet dan ponselnya. Ia mengambil sepatunya yang tidak terlalu tinggi. Kemudian ia mengambil kunci mobilnya yang ada di laci meja riasnya. Prili kembali melihat dirinya di cermin. Senyum mengembang terukir di wajaahnya. Prili keluar dari kamar. Saat melewati ruang keluarga, Prili di tegur oleh sang mama.
"Mau kemana sore-sore gini?kamu kan belum sehat betul, penampilan kamu juga beda?jangan buat mama tambah pusing dengan kelakuan kamu", mama Hanny merasa aneh dengan penampilan anaknya.
"Tenang aja ma, Prili masih waras koq", jawab Prili enteng.
"Prili pergi dulu ya", kata Prili.
Prili berlalu dari hadapan sang mama. Mama Hanny menghela nafasnya. Ia geleng-geleng kepala melihat ulah Prili anaknya.
"Mau ngapain lagi tuh anak", gumam mama Hanny.
Pak Bowo keluar dari kamar dan melihat isterinya Hanny sedang bicara sendiri.
"Anakmu tuh pergi entah mau kemana, dandan pun tak seperti biasanya", jawab mama Hanny.
"Dandanan pun koq di bahas sih ma, biarkan dia maunya gimana. Mungkin dia sudah menyadari kesalahannya dan sekarang mungkin dia mau melupakan masalah yang dihadapinya dan berusaha memperbaiki diri ", ujar pak Bowo.
"Semoga ya pa",kata mama Hanny sambil menghela nafasnya.
Sementara itu Prili pergi ke sebuah toko pakaian bayi. Ia membeli banyak pakaian bayi dari topi sampai sepatu. Ia sengaja memilih yang netral di gunakan, bisa dipakai untuk anak laki-laki dan bisa dipakai untuk anak perempuan.
Prili membawa barang belanjaannya ke kasir. Setelah selesai membayar belanjanya, Prili membawa barang belanjaannya ke dalam mobilnya. Prili melajukan kembali mobilnya menyusuri jalan hitam nan pekat tersebut.
Prili berhenti di depan sebuah rumah yang tidak lain adalah rumahnya Jimmy dan Nina. Prili keluar dari mobilnya dan mengambil barang belanjaannya. Prili memencet bel yang ada di samping pintu rumah tersebut. Mbak Yuni yang lagi berada di belakang rumah cepat menuju ruang tamu. Mbak Yuni membuka pintu dan melihat siapa yang ada di luar.
"Tuan kamu ada?", tanya Prili langsung.
__ADS_1
Mbak Yuni sangat tidak menyukai seorang Prili. Kedatangan Prili di sambut dengan kata-kata ketus dari mbak Yuni.
"Maaf, mau ketemu sama siapa ya?", tanya mbak Yuni pura-pura tidak tahu.
"Mau ketemu suami aku, minggir!", kata Prili kesal.
"Eiitt main nyelonong aja di rumah orang", ucap mbak Yuni menghalangi Prili untuk masuk ke dalam.
"Panggil tuan kamu, cepat", kata Prili.
Mendengar ada suara ramai di depan, Nina keluar dari kamarnya.
" Ada apa mbak?", tanya Nina.
"Prili",
.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readersku sayang..
jangan lupa like, komen dan juga kasih votenya dong.
Mampir juga ya ke karyaku lainnya ya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).