
Marsel memanggil pramu saji. Dia memesan dua cangkir minuman dan dua porsi cemilan.
Pramusaji pun berlalu.
"Prili kamu itu kategori perfect, apa kamu gak merasa risih di jodohkan sama Jimmy yang tidak begitu menyukai perjodohan?", kata Marsel mulai bicara.
"Kalau aku sih its ok, tak masalah karena cinta bisa tumbuh kapan saja", jawab Prili lembut.
"Kamu pasrah saja saat di jodohkan seperti sekarang ini?", tanya Marsel.
"Maaf, kita ke sini cuma mau bahas itu saja begitu?", tanya Prili sedikit ketus.
" Hmm begini Prili, Jimmy itu tidak menerima perjodohan ini, maksud ku Jimmy jatuh cinta dengan wanita lain jauh sebelum kalian di jodohkan, jadi maksudku apa kamu mau menikah dengan orang yang tidak mencintai kamu?", umpan Marsel.
"Hei bung, asal kamu tahu ya, tidak ada lelaki mana pun yang bisa menolakku", katanya ketus.
Marsel tersenyum.
"Aku tahu sekarang kenapa Jimmy tidak menyukainya", batin Marsel.
"Katakan apa maksud kamu sebenarnya?", kata Prili yang sudah tersulut emosi.
Marsel ingin menjawab tetapi pramu saji datang dengan membawa pesanan mereka.
"Silakan mas mbak", kata pramu saji, kemudian berlalu dari hadapan Marsel dan Prili.
"Silakan di minum", kata Marsel pada Prili.
Marsel meminum minuman yang ada di hadapannya. Prili hanya diam.
"Ayo di minum", kata Marsel lagi.
"Jawab pertanyaanku tadi", kata Prili melembut.
"Yang mana?", tanya Marsel lupa.
"Jangan menguji kesabaranku bung", kata Prili sambil meneguk habis minumannya.
Marsel ingin sekali tertawa melihat cara Prili tapi sebisa mungkin di tahannya agar Prili tidak tersinggung.
"Prili kamu benar, tidak ada pria yang tidak tertarik sama kamu, kamu perfect. Dari ujung rambut sampai ujung kaki tak ada cela. Amazing!", kata Marsel sambil q nakal.
"Kamu merayuku?",tanya Prili.
"Ku rasa tidak, aku cuma bicara fakta. Sungguh kamu luar biasa", puji Marsel.
"Ku rasa kamu sudah jatuh cinta padaku, tapi maaf kamu bukan tipeku", kata Prili ketus.
"Nona, kalau soal ganteng sepertinya aku lebih ganteng dari pada Jimmy, jadi sudahlah lupakan saja perjodohan itu, aku bisa koq gantiin Jimmy", kata Marsel masang kuda-kuda.
"Dengar ya, walau pun aku gagal menikah dengan Jimmy bukan berarti aku mau sama kamu", kata Prili seraya bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan Marsel.
Marsel cepat bertindak. Dia meninggalkan uang di atas meja untuk membayar minuman dan cemilan yang belum sempat mereka makan. Marsel dengan langkah cepat mengejar Prili.
Di tempat parkir terlihat sepi. Marsel menarik tangan Prili dan mengungkung tubuh Prili dengan kedua tangannya ke sebuah mobil.
Prili tak bisa berkutik dalam kungkungan tubuh Marsel.
"Apa mau kamu?", tanya Prili tajam.
"aku mau kamu", kata Marsel tegas.
"Jangan mimpi", kata Prili mendorong tubuh Marsel.
__ADS_1
Tapi Prili kalah cepat. Tangannya di tarik Marsel kasar hingga tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Marsel. Mata keduanya saling pandang.
"Kamu cantik sekali Prili", kata Marsel.
Dan tanpa kompromi Marsel mengecup bibir merah Prili.
cuupp...
Mata Prili membulat sempurna. Prili melepaskan pelukan Marsel dan menjauh dari Marsel. Marsel tersenyum penuh kemenangan.
"Dasar edan, aku tak terima dengan perlakuan kamu",kata Prili.
"Tuntutlah biar aku bisa nikahin kamu", ledek Marsel.
"Najis", kata Prili sambil berlalu.
Prili masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari tempat tersebut.
"Aku jadi tertantang. Gadis sombong, lihat saja jangan panggil aku Marsel kalau aku tidak bisa tundukin kamu", kata Marsel bicara sendiri.
Marsel menyentuh bibirnya.
"Bibirnya ranum", kata Marsel sambil tersenyum penuh arti.
Marsel menuju mobilnya dan kembali ke kantornya.
*****
Marsel menuju ruangan Jimmy.
"Nin, Jimmy nya ada?", tanya Marsel pada Nina.
"Ada", kata Nina singkat.
"Gadis edan", kata Marsel setelah duduk di depan Jimmy.
"Lho kenapa?sukses ya?", tanya Jimmy.
"Sukses apaan, tuh cewek PD banget ya jadi orang, sombong dan ketus", celoteh Marsel.
"Tapi dia cantik dan seksi kan?", kata Jimmy sambil menaikkan alisnya.
"Cantik-cantik tapi judes", kata Marsel.
Jimmy tertawa renyah mendengar ucapan Marsel.
"Jangan terlalu ngatain orang entar kecantol baru tahu rasa", ujar Jimmy.
"Orang dianya cuma mau sama kamu koq", kata Marsel jutek.
"Kamu aja gak selera, apa lagi aku", kata Jimmy.
"Sumpah akan ku buat dia jatuh cinta", kata Marsel geram.
"Tapi jatuh cintanya sama kamu ya jangan sama aku", kata Jimmy.
"Ya iya lah, orang aku tadi di bikin mati rasa oleh dia", kata Marsel kesal.
"Maksudnya?", tanya Jimmy tak mengerti.
"Dia maunya sama kamu, najis katanya buatku, gila kan tuh cewek", kata Marsel emosi.
"Udah gak usah di pikirin, kalau kamu mau ambil aja aku gak minat", kata Jimmy berseloroh.
__ADS_1
"Nantilah, Sofi bisa ngamuk kalau tahu aku mendekati Prili", kata Marsel menengadahkan wajahnya.
"Yaaa kalau elu untuk nikah harus pilih salah satu, jangan di embat semua, bisa perang dunia ketiga", ledek Jimmy.
"Aku cuma ingin membuat tuh cewek bertekuk lutut, biar dia tahu bahwa Marsel lebih tampan dari Jimmy", kata Marsel sambil tertawa.
"Songong lu, apa bedanya elu sama dia", kata Jimmy sambil melempar gumpalan kertas kepada Marsel.
Marsel kembali tertawa terpingkal-pingkal. Jimmy menghela nafasnya.
"Aku sih juga gak minat, tampangnya aja memikat tapi hatinya zonk", kata Marsel.
"Jangan suka ngatain orang entar jatuh cinta benaran lho baru tahu rasa", kata Jimmy meledek Marsel.
"Kita lihat saja nanti", kata Marsel.
"Itu artinya ada peluang dong", kata Jimmy senyum.
"Tak akan", kata Marsel sembari bangun dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan Jimmy.
Jimmy geleng-geleng kepala di buat Marsel.
"Semoga Marsel berhasil", batin Jimmy.
Jimmy mengambil jasnya yang di belakang sandaran kursinya dan keluar dari ruangannya.
"Ikut aku", ujar Jimmy setelah berada di dekat Nina.
"Kemana?", tanya Nina tak mengerti.
"Ikut saja nanti kamu juga akan tahu", kata Jimmy tanpa menoleh kepada Nina.
Jimmy melangkahkan kakinya meninggalkan kantor di ikuti Nina yang tak mengerti maksud dan tujuan Jimmy mengajaknya pergi. Karena sepengetahuannya jadwal hari ini tak ada keluar Kantor atau bertemu dengan klien. Tapi walaupun bingung Nina masih mengikuti langkah Jimmy.
"Maaf pak kita mau kemana?", tanya Nina setelah bersejajar dengan Jimmy.
Jimmy tak menjawab Nina. Jimmy malah menyuruh Nina masuk ke dalam mobilnya.
"Masuklah", kata Jimmy pelan.
Nina menurut. Ia masuk ke dalam mobil Jimmy.
"Hari ini tidak ada pertemuan dengan klien pak, dan tidak ada...", kata Nina terputus karena kalimatnya di potong oleh Jimmy.
"Aku mau kita menikah sekarang", kata Jimmy seraya menjalankan mobilnya.
Nina seperti di sengat lebah, dia kaget tak menyangka kalau Jimmy jadi senekat ini.
"Kamu tidak sedang bercanda kan?", kata Nina setelah mobil yang membawanya keluar dari halaman kantor.
"Aku tak pernah main-main dengan ucapanku", kata Jimmy menoleh sekilas kepada Nina karena selanjutnya matanya fokus ke jalan raya
.
.
.
Bantu like, komennya dan votenya
ya readers.
Mampir juga ke karyaku yang lain:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi(tamat)