
Bu Ratmi dan Adel langsung pulang ke rumah setelah dari acara pernikahan Marsel dan Sofi. Adel baru saja ingin masuk ke rumah menyusul sang ibu, tiba-tiba ada seseorang pengendara motor moge berhenti di depan rumahnya. Adel masih tertegun di depan pintu. Ia belum bisa melihat siapa yang datang. Orang tersebut memakai jaket hitam dengan helm hitam yang menutup seluruh wajahnya. Orang tersebut melepas helmnya.
"Ahhh dia lagi", batin Adel.
Orang tersebut tersenyum pada Adel. Adel memutar tubuhnya bermaksud masuk ke dalam rumahnya. Orang tersebut cepat menghampirinya dengan berlari. Dia mendapatkan tangan Adel dan menahan Adel untuk tidak masuk dulu ke dalam rumah.
"Kan sudah ku bilang sama kamu, aku akan datang menemui kamu", katanya pada Adel.
"Adel, siapa nak?", tanya sang ibu dari dalam.
"Kevin bu", jawab Adel.
"Koq nggak di ajak masuk?", tanya sang ibu.
Adel mendengus.
"Di suruh ibu masuk tuh", kata Adel ringan.
Kevin tersenyum.
"Senyam-senyum", gumam Adel.
Adel masuk di ikuti oleh Kevin.
"Silakan duduk, aku ke dalam dulu bentar", kata Adel.
Kevin duduk di sofa ruang tamu. Dia melepas jaket hitamnya tersebut. Adel muncul kembali dengan membawa sebuah nampan kecil yang berisikan secangkir air sirup jeruk dan sepiring kecil cemilan.
"Kamu pasti hauskan, minum dulu", kata Adel seraya meletakkan air dan cemilan di hadapan Kevin.
"Koq kamu tahu aku lagi haus?", tanya Kevin tersenyum penuh arti.
"Kelihatan dari muka kamu", jawab Adel enteng.
"Tapi hausnya double lho ini", kata Kevin dengan nada sedikit di lembutkan.
"Airnya kurang dong kalau double gitu", ucap Adel.
"Iya pastilah tapi dengan sajian berbeda", kata Kevin berandai.
"Maksudnya kamu mau teh atau air putih gitu!?", Adel mencoba menebak.
"Ya ampun Adel, kamu itu lugu atau pura-pura gak ngerti sih ", batin Kevin.
"Haus akan air untuk minum dan haus kasih sayang kamu", kata Kevin langsung. Kevin meneguk habis air sirup tersebut.
__ADS_1
Wajah Adel menjadi merona akibat ucapan Kevin. Tapi ini adalah Adel. Dia bukan tipe wanita yang suka gombalan dari seorang lelaki. Adel menetralkan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus. Adel menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Kamu datang kemari hanya untuk menggombal ya, maaf kamu salah tempat", kata Adel sedikit sinis.
"Lah koq jadi sinis gitu ngomongnya. Oke kalau kamu gak suka dengan kata-kata seperti itu. Aku kemari silaturahmi dengan kamu, mumpung ada kesempatan untuk main kesini. Kalau aku boleh jujur, aku tidak bisa melupakan kamu Del. Please, beri aku kesempatan", kata Kevin seraya merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Adel tak mau mengubah keputusannya. Adel berkomitmen dia hanya akan pacaran setelah menikah. Dalam kamus hidupnya lelaki yang akan bersamanya adalah lelaki yang menjadi imamnya kelak. Tak ada kata toleransi untuk lelaki yang berusaha mendekatinya. Ia tetap dengan pendiriannya.
"Maaf aku tak bisa mengubah keputusanku Vin. Kalau memang kamu mau kita bersama, tunggu kita sama-sama sukses. Aku akan menyambutmu dengan segenap rasaku. Lupakan rasamu padaku untuk saat ini, karena rasa itu hanya akan menyiksamu. Datanglah suatu saat dengan segenap rasamu bila kamu sudah siap. Takkan lari gunung dikejar", kata Adel bak seorang pujangga.
"Unlimited edition", batin Kevin.
Berat bagi Kevin untuk menyanggupi permintaan Adel. Tapi apalah dayanya, Adel tak mau mengubah keputusannya. Kevin tertunduk. Ada perasaan marah, benci dan muak dalam hatinya. Tapi Adel juga tidak bisa di salahkan. Itu haknya sebagai seorang wanita. Sebuah pendirian yang sangat angkuh menurut Kevin. Tapi terlihat anggun dalam sebuah cinta.
Kevin menghela nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Kevin mendongakkan kepalanya.
Adel merasa kasihan melihat Kevin seperti itu. Tapi keputusannya tetap tidak bisa di ubah.
"Kevin, maaf ya", ucap Adel merasa tak enak hati.
Kevin memaksakan tersenyum walau hatinya patah.
"Nomor WhatsApp mu belum berubah kan?", tanya Kevin mengalihkan pembicaraan.
"Belum, masih nomor lama", kata Adel.
"Pasti. Jaga dirimu juga disana, hati-hati di sana banyak macan kumbang ", kata Adel berseloroh. Kevin melangkah untuk keluar dari rumah tersebut. Tapi sebelum keluar Kevin kembali membalikkan tubuhnya dan berbisik di telinga Adel.
"Akan ku pastikan jiwa raga ini utuh untuk datang kembali di tempat ini", ucap Kevin mantap.
Adel terpana mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Kevin. Kevin tersenyum. Tubuh Adel terasa bergetar. Kalimat sederhana yang di bisikkan Kevin tapi mampu mengguncang rasa di hati Adel.
"Ooh tuhan rasa apa ini?", batin Adel.
Kevin memasang jaketnya kembali dan menaikki motor besarnya tersebut. Helm pun kini bertengger di kepalanya dengan gagahnya.
"Tunggu aku. Aku akan datang dengan suasana berbeda dengan rasa yang tetap sama", kata Kevin sebelum menutup kaca helmnya.
Kevin meninggalkan Adel yang masih berdiri mematung. Adel masih terpaku melepas kepergian Kevin. Seperti ada yang hilang. Adel baru masuk setelah bunyi motor Kevin sudah tidak terdengar lagi di telinganya.
Adel menutup pintu rumahnya dan segera berlari menuju kamarnya. Entah apa yang merasuki Adel. Adel menghempaskan tubuhnya di kasurnya yang empuk. Dia akhirnya kalah dengan perasaannya sendiri. Ia menangis. Meluapkan emosi di hatinya.
Adel merasa ada sesuatu yang hilang setelah Kevin pergi. Ada rasa yang tidak biasa yang baru di rasakannya. Setelah puas menangis, hati Adel sedikit lebih tenang.
"Apa aku juga mencintainya?aahh tidak ini pasti salah", batin Adel.
__ADS_1
Adel bangun dari tempat tidurnya. Ia duduk di depan cerminnya dan memandang lekat wajahnya yang sudah kuyuh oleh air mata.
"Tak ada yang istimewa di wajah ini. Apa yang membuatnya begitu ngotot mempertahankan cintanya?tapi dia sepertinya tulus. Dia juga baik. Atau mungkin aku mulai menyukainya", gumam Adel.
"Aahh kenapa hatiku begitu sakit ketika dia pergi tadi?apa aku sudah jatuh cinta padanya?", batin Adel.
Adel memejamkan matanya. Wajah Kevin yang tadi kecewa terlintas kembali di benak Adel. Terlihat jelas Kevin sangat patah hati pada Adel.
"Ya Allah kalau memang kami berjodoh, satukanlah kelak rasa kami ini. Tapi kalau tidak berjodoh, tolong hilangkan rasa ini di hatinya dan hatiku ya robb", batin Adel.
Adel melepas aksesorisnya. Kemudian Adel menuju kamar mandi. Tak lama terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi tersebut. Adel melakukan ritual mandinya. Adel merasa tenang dan segar setelah air dingin mengguyur tubuhnya. Cukup lama Adel berada di kamar mandi sampai ada suara yang memanggilnya, barulah Adel tersadar.
"Ibu, ya ampun aku kenapa?kenapa aku jadi begini?", gumam Adel.
Adel menyudahi ritual mandinya dan buru-buru mengenakan pakaian. Handuk masih melilit di kepalanya, ia langsung mendatangi sumber suara.
"Ada apa bu?", tanya Adel.
"Cuma manggil doang, kirain kamu hilang di larikan nak Kevin", jawab sang ibu.
"Ibu ihhh", kata Adel manja.
"Sepertinya dia sangat mencintai kamu", kata sang ibu.
"Gak ngerti ahh bu", kata Adel sambil berlalu.
Adel langsung kembali ke kamarnya. Bu Ratmi cuma bisa geleng-geleng kepala.
.
.
.
.
.
Selamat baca ya readersku...
Bantu like, komen dan votenya ya readersku.
Terima kasih yang udah mampir, yang kasih like dan komennya.
Mampir juga yukk ke karyaku lainnya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).