
Malam adalah waktu yang tepat bagi banyak orang untuk berkumpul dan bercerita dengan keluarganya. Bersenda gurau dan bercengkrama satu sama lain membuat rasa kekeluargaan dan kebersamaan semakin erat. Bertukar pikiran dengan segala sesuatunya untuk membuat sebuah hubungan dalam rumah tangga semakin harmonis.
Nina mendekati Jimmy suaminya yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Nina duduk disebelah suaminya. Ia memperhatikan wajah suaminya yang nampak serius dengan layar laptop yang ada di depannya.
"Bang", sapa Nina.
"Hmm", jawab Jimmy tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
"Aku mau bicara", kata Nina mempertegas.
"Bicara aja, abang lagi tanggung ini. Mau ngomong apa?", tanya Jimmy yang matanya masih fokus ke laptop.
"Aku mau kerja lagi boleh ya?", tanya Nina langsung.
Jimmy sontak mengalihkan pandangannya kepada sang isteri.
"Kerja?ohh tidak tidak tidak. Tugas kamu sudah ada. Urusi anak kita. Iza masih butuh kamu. Biar abang yang cari duit. Kamu tidak usah susah-susah untuk kerja. Abang rasa duit abang lebih dari cukup untuk kamu gunakan di berbagai keperluan kita", jawab Jimmy.
"Ini lho bang, Dina kan mau nikah, kita tidak ada orang kepercayaan yang bisa di percaya seperti Dina. Jadi aku itu menggantikan Dina untuk sementara waktu. Kalau cutinya habis Dina kan masuk lagi bang", jelas Nina pada Jimmy.
"Memangnya kamu kasih cuti berapa hari si Dina nya?", tanya Jimmy sambil memegang kedua tangan Nina.
"Gak lama koq bang cuma satu bulan", jawab Nina ringan.
"Satu bulan?! yang benar saja. Iza itu masih pakai asi eksklusif, bagaimana kamu bisa meninggalkannya", protes Jimmy.
"Usaha kita itu sudah maju dan banyak pelanggan, aku hanya tidak ingin kalau nanti pelanggan kita banyak yang komplain karena pelayanan kurang baik dan lamban. Soal asi nanti bisa di atasi, abang gak usah risau", kata Nina meyakinkan suaminya.
"Atau begini saja kamu bisa bawa Iza ke toko biar asinya tetap bisa di nikmatinya", kata Jimmy.
"Abang....itu toko bukan kamar tidur kalau Iza ku bawa bagaimana aku bisa kerja", protes Nina.
"Itu usaha kita, toko kita. Tak ada larangan membawa Iza ke toko atau kamu hanya boleh pagi saja di toko, siangnya pulang", kata Jimmy pelan tapi tegas.
"Atau kamu bisa mempercayakan pada temannya yang bernama Deni itu. Deni kan juga sudah lama kerjanya. Abang yakin Deni bisa di andalkan", kata Jimmy lagi.
"Doni bang bukan Deni", bantah Nina.
__ADS_1
"Cuma beda e sama o aja sih sayang", jawab Jimmy sambil terkekeh.
Nina seperti sedang berpikir. Melihat Nina masih diam akhirnya Jimmy kembali buka suara.
"Kamu boleh kembali kerja tapi tugas kamu hanya mengontrol tidak lebih. Dan satu lagi, abang yang akan mengantarkan kamu ke toko . Tidak boleh bawa kendaraan sendiri ", jelas Jimmy.
"Tapi abang kan mau kerja, biar aku bawa sendiri aja", kata Nina halus.
"Abang akan antar jemput kamu. Kamu hanya di toko batas jam satu tidak boleh sampai sore apalagi sampai malam", kata Jimmy tegas.
Nina menghela nafasnya.
"Iya udah deh. Nanti aku akan bicara sama Doni", kata Nina seraya merebahkan tubuhnya di kasur.
"Nah gitu dong. Isteri yang baik", ucap Jimmy.
Nina karena memang tipe orang yang tidak mau ribut, jadi ia menuruti saja kemauan suaminya. Yang penting rumah tangganya aman dan damai. Jimmy membereskan pekerjaannya. Laptop, kertas dan alat tulis kantor lainnya di singkirkan. Di letakkan pada tempatnya. Setelah itu Jimmy menyusul Nina merebahkan tubuhnya di kasur mereka yang empuk. Jimmy menutupi tubuhnya dan tubuh Nina dengan selimut. Jimmy memeluk tubuh Nina. Jimmy selalu memeluk tubuh Nina yang sekarang lebih berisi, membuat Jimmy tak bosan untuk memeluknya. Nina merasa sangat senang dan damai berada dalam dekapan suaminya. Nina membalas pelukan hangat Jimmy. Dan akhirnya keduanya tertidur sambil berdekapan.
Di pertengahan malam suara tangis Iza membangunkan Nina dari tidurnya. Nina masih dalam dekapan Jimmy. Nina melerai pelukan Jimmy dan membalik tubuhnya ke arah si kecil Iza. Nina memberikan ASI nya pada si imut. Iza menengadahkan wajahnya dan menerima ASI yang diberikan sang mama. Si imut Iza dengan lahap mengisap ASI tersebut. Dengan kasih sayang Nina memberikan ASI nya sambil mengelus kepala sang buah hati. Nina melepas payudara yang satunya dan memberikan ASI nya kembali pada *********** yang lain. Iza terus menghisap ASI nya. Setelah merasa puas, Iza kembali tertidur. Nina melepaskan *********** dan membersihkan sisa air susu yang menempel di sudut bibir si kecil. Nina kembali tidur dengan memeluk Iza si imut.
Pagi-pagi sekali Nina sudah bangun dari tidurnya. Ia mandi dan mengerjakan kewajibannya sebagai umat muslim. Setelah selesai Nina mengambil pompa air susu dan beberapa botol untuk menampung ASI nya. Nina mulai memompa. Air susu Nina terbilang banyak. Ia tak perlu repot-repot untuk membeli susu formula untuk bayinya. Nina terus memompa sehingga menghasilkan tiga botol ukuran 100ml. Setelah selesai Nina memasukkan susu tersebut ke dalam kulkas.
"Sudah banyak persediaan", gumam Nina seraya memandangi botol-botol yang sudah berderet di dalam kulkas.
Nina menutup kembali kulkasnya dan mengambil pompanya untuk di cuci.
"Mbak, hari ini aku mulai masuk lagi ke toko. Tolong jaga Iza ya mbak. ASI ada di kulkas. Kalau mau di kasihkan ke Iza tolong di panaskan dulu. Cara memanaskannya cukup rendam botol ASI di dalam air hangat. Setelah itu baru bisa di konsumsi", jelas Nina sambil.mencuci pompa ASI nya.
"Baik Nya", jawab mbak Yuni.
"Mbak Yuni gak perlu semua harus dikerjakan, kerjakan yang mana bisa di kerjakan aja. Yang penting jaga Iza", kata Nina pada mbak Yuni.
"Baik Nya", kata mbak Yuni manut.
Nina meletakan pompa ASI di tempat khusus. Kemudian ia kembali ke kamar dan membangunkan suaminya Jimmy.
"Bangun bang udah siang. Sholat dulu gih", kata Nina pada Jimmy.
__ADS_1
"Emangnya jam berapa ini?", tanya Jimmy dengan mata masih terpejam.
"Jam lima tiga puluh, bangun", kata Nina lagi.
Dengan agak malas Jimmy bangun dari tidurnya. Jimmy menuju kamar mandi dengan agak bermalas-malasan.
Nina mendekati si imut Iza yang matanya masih tertutup rapat.
"Sayang bangun yuk, udah siang. Kita mandi dulu. Nanti mama mau ke toko", kata Nina bicara sendiri sambil mengusap wajah si imut Iza.
Si imut Iza hanya menggeliat. Ia sepertinya masih ingin tidur.
"Bangun yuk", kata Nina seraya mencium pipi Iza.
Iza masih tidak mau membuka matanya. Nina mengangkat tubuh mungil Iza dan membawanya keluar dari kamar. Merasa ada yang mengangkat tubuhnya, si imut Iza bangun dan mulai membuka matanya.
"Nah gitu dong anak mama, udah siang tuh. Anak gadis harus bangun pagi, gak boleh siang. Nanti rajanya di sambar burung", celoteh Nina.
"Iya benar itu Nya, kata emakku dulu kalau anak perawan itu tidak boleh bangun siang, nanti pamali, jauh dari jodoh", celetuk mbak Yuni.
"Yang pasti rejekinya di ambil orang kalau kita bangunnya siang", jawab Nina.
Mbak Yuni terkekeh mendengar jawaban majikannya.
"Mbak tolong buatkan air mandi Iza ya, kasih air panas sedikit, kami mau ambil handuk dulu", kata Nina kembali membawa Iza ke kamarnya untuk mengambil handuk.
Lanjut bacanya ya readersku terkasih...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.
LIKE, KOMEN DAN VOTENYA DI TUNGGU YA.
TERIMA KASIH.
Mampir juga yuukk ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1