
Pagi-pagi sekali Nina sudah bangun dari tidurnya. Ia membuka ponselnya ada beberapa pesan di whatsappnya. Nina membuka salah satu pesan yaitu pesan dari Tika sahabatnya di kantor suaminya.
"Pasti nyonya besar sudah tidur ya, cuma kangen sama kamu. Besok kita ketemuan yuk. Ada yang mau aku omongi. Jam makan siang ya. Jangan tidak lho. Penting!",
Nina coba perpikir keras hal penting apa yang akan Tika sampaikan padanya.
"Aku telpon dulu aja deh", kata Nina. Nina melirik ke tempat tidur. Suami dan si imut Iza masih tertidur dengan pulas. Nina keluar dari kamar dan menutup kembali pintu kamarnya. Nina mendial nomor Tika. Telepon tersambung.
"Halo sayangku apa kabar?sejak punya bayi gak pernah menghubungi. Sibuk amat sepertinya ya", suara Tika dari seberang sana.
"Alhamdulillah baik say. Kamu mau ngomong tentang apa sih? penasaran banget tahu. Bilang sekarang aja. Jangan biarkan otakku berpikir keras", canda Nina.
"Kejutan dong. Kalau kamu di kasih tahu sekarang itu namanya bukan kejutan lagi. Udah aku tunggu nanti di kantor ya", kata Tika.
"Iya tapi kan setidaknya kasih tahu pokoknya saja dulu", jawab Nina.
"Nantilah. Jam makan siang ya. Lagian aku udah kangen dengan nyonya besar ini", canda Tika.
"Bilang aja mau minta traktir", kata Nina.
"Lah koq tahu sih", kata Tika sambil tertawa.
"Dasar soplak. Iya udah jam makan siang ya. Aku urus babyku dulu", ucap Nina.
"Sip!bye..", kata Tika.
"Bye", jawab Nina.
Obrolan Nina dan Tika berakhir. Nina tersenyum sendiri mengingat candaannya dengan sahabatnya tersebut. Nina menuju dapur. Disana sudah ada mbak Yuni yang sudah bersibuk ria di dapur.
"Mbak nanti masak untuk makan siang agak banyakin ya. Mau bawa ke kantor", ucap Nina.
"Baik Nya", kata mbak Yuni.
Nina ingin membantu mbak Yuni menyiapkan sarapan pagi mereka.
"Eehh gak usah Nya biar saya aja. Nanti Iza bangun. Sebaiknya nyonya bersama Iza aja. Biar semuanya saya yang kerjakan", ujar mbak Yuni.
"Iya gak papa mbak, lagian Iza masih tidur koq", jawab Nina.
"Iya nanti kalau Iza bangun gimana?biar saya aja yang kerjakan. Lagian gak lama lagi selesai ini", ujar mbak Yuni.
__ADS_1
"Iya udah deh", kata Nina.
Nina kembali ke kamarnya. Dan mendekati si kecilnya. Di lihatnya si imut Iza sedang menggeliat. Sedangkan Jimmy sang suami tercinta masih mendengkur di tempat tidurnya.
"Bang bangun udah siang", kata Nina seraya menepuk-nepuk bahu Jimmy.
" hmmm", Jimmy membalas dengan membalikkan tubuhnya ke arah si imut Iza.
"Bang awas kena Iza", kata Nina cepat.
Jimmy kaget. Dia cepat bangun dari tidurnya. Dia takut nanti tubuhnya yang besar menindih putri kecilnya itu.
"Kamu bikin aja", kata Jimmy seraya kembali merebahkan tubuhnya.
"Laahh koq tiduran lagi, bangun dong bang", kata Nina seraya menarik tangan Jimmy agar Jimmy bangun dari tidurnya.
"Abang masih ngantuk", jawab Jimmy bermalas-malasan.
"Banguunn", kata Nina seraya menggandeng tangan Jimmy menuju kamar mandi.
"Gak bisa lihat suami senang dikit sih sayang", kata Jimmy dengan jalan tertatih-tatih.
Nina tak menggubris ucapan Jimmy. Ia kembali ke tempat tidur setelah Jimmy sudah berada di kamar mandi.
Iza menggeliat saat terasa ada yang menyentuhnya. Kulitnya yang putih, berubah warna kemerahan saat dia menggeliat. Nina jadi gemas. Di ciumnya si kecil Iza dengan kasih sayang.
Iza membuka matanya. Matanya yang bulat terlihat sangat indah saat ia sedang menatap sang mama tercinta.
Tiba-tiba si imut menangis.
"Kenapa sayang?", tanya Nina sembari mengangkat tubuh kecil putrinya.
"Ohh kamu pipis ya. Gak apa-apa pipis aja, nanti mama ganti popoknya", kata Nina seraya merebahkan kembali putri kecilnya. Nina mengambil popok dan cawat si kecil. Nina memang tidak menggunakan popok diapers comport bayi. Ia hanya menggunakannya saat bepergian saja. Ia tidak mau si imut Iza nanti terkena ruam.
Dengan sangat telaten Nina membersihkan dan mengganti pakaian si kecil. Iza tidak menangis lagi. Dia kelihatan sudah nyaman, tidak risih lagi.
Jimmy keluar dari kamar mandi. Jimmy mengerjakan kewajibannya sebagai umat muslim. Sejak menikah dengan Nina, Jimmy rajin mengerjakan ibadahnya.
"Bang hari ini aku ke kantor ya", ucap Nina pada Jimmy suaminya setelah Jimmy selesai ibadah. Nina bicara tanpa mengalihkan pandangannya dari si Iza.
"Mau ngapain? trus Iza gimana?", tanya Jimmy seraya duduk di samping Nina.
__ADS_1
"Koq nanyanya gitu. Memangnya gak boleh ya aku ke kantor?", kata Nina balik nanya.
"Iya gak bermaksud apa-apa sih. Boleh. Silakan tidak ada larangan. Karena sudah lama juga kamu tidak ke kantor. Tapi bingung aja ada apa dan kenapa tiba-tiba mau ke kantor", kata Jimmy seraya bangun dari tempat duduknya, dia membuka lemari pakaian dan mengambil pakaian untuk ke kantor.
"Kangen sama Tika. Tadi pagi dia nelpon. Dia ngajak ketemu. Katanya ada yang mau di sampaikannya", kata Nina seraya membawa si Iza ke pangkuannya. Nina mulai memberikan ASI nya pada si kecil Iza. Iza dengan lahapnya menerima ASI yang diberikan sang mama.
"Trus Iza gimana?", tanya Jimmy.
"Aku kan perginya ketika menjelang makan siang. Jadi gak lama ninggalin Iza di rumah. Iza aman koq di tangan mbak Yuni. Abang nanti aku bawain makanan dari rumah ya", ujar Nina.
"Boleh juga tuh. Gak repot lagi cari makan. Lagian makan sama isteri lebih nikmat. Apalagi cuma berdua. Romantis abis", ucap Jimmy.
"Bertiga bang, ada Tika juga nanti", sergah Nina.
"Iya deh", kata Jimmy pasrah.
Selesai berpakaian, Jimmy mengajak Nina untuk sarapan. Nina menyudahi pemberian ASI nya pada si kecil. Si imut Iza tak ketinggalan. Iza ikut bersama dengan orang tuanya. Iza sudah tenang berada didalam kereta dorong bayi. Jimmy membawa putrinya menuju meja makan.
Mereka sarapan. Mereka mulai dengan ritual makan mereka. Tidak ada suara. Jimmy dan Nina menikmati sarapan mereka. Selesai makan Jimmy berpamitan untuk pergi ke kantor.
"Abang tunggu ya di kantor. Masak yang enak", ucap Jimmy setelah Nina mencium punggung tangan nya.
"Yang spesial pokoknya", sahut Nina.
Nina membawa si imut Iza untuk mengantar Jimmy suaminya sampai depan.
"Papa pergi dulu ya", kata Jimmy seraya mencium pipi sang putri kecil.
Si imut Iza seperti mengerti maksud perkataan sang papa. Ia tersenyum. Jimmy kembali mencium pipi si putri kecilnya. Tak lupa kecupan kecil di dahi sang isteri. Nina sangat senang dengan perlakuan suaminya.
Jimmy berangkat ke kantor. Nina kembali masuk rumah setelah mobil yang dikendarai suaminya tidak terlihat lagi di matanya.
.
.
.
Lanjut bacanya ya readersku semuanya.
Bantu like, komen dan juga votenya ya.
__ADS_1
Salam........