Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Polycystic Ovary Sindrome


__ADS_3

Nina menjadi semakin gelisah karena belum bisa hamil lagi. Di tambah menstruasinya yang tidak teratur membuat Nina tambah gelisah.


"Apa aku ke dokter saja ya?", batin Nina.


"Sayang koq melamun, ada apa?", tanya Jimmy melihat Nina terlihat murung.


"Bang, apa abang gak pingin punya anak lagi?", tanya Nina.


"Iya pingin dong tapi mungkin tuhan masih belum mau ngasih kita, iyaa nikmati ajalah yang ada sekarang. Kehadiran Iza sudah membuat abang bahagia", jawab Jimmy enteng.


"Sekarang kan Iza sudah besar, sudah pantas punya adek, gimana kalau kita program kehamilan ke dokter atau mungkin bayi tabung?", kata Nina bersemangat.


"Kamu mulai aneh ya sekarang. Jangan banyak pikiran, kamu jadi stres nanti. Soal mama biarkan saja. Kita tidak bisa menolak takdir tuhan. Kalau belum di kasih lagi kita harus berbuat apa. Syukuri aja apa yang ada sekarang. Abang berangkat ke kantor dulu. Soal adeknya Iza, kita akan buat terus. Yang penting kamu jaga kesehatan biar main kudanya tambah seru", kata Jimmy seraya mencolek dagu Nina.


Nina menarik nafas secara kasar. Terasa sedikit lega setelah menghempaskan nafasnya tersebut.


Jimmy berangkat menuju kantor. Lama Nina berpikir, merenung di dalam kamarnya.


"Sebaiknya aku ke dokter saja sekarang, mumpung abang ke kantor ", gumam Nina.


Nina berangkat menuju rumah sakit. Ia sengaja memilih rumah sakit yang terdekat, yang tak jauh dari rumahnya. Nina sengaja memilih dokter wanita agar lebih enak dan komunikatif. Lebih leluasa untuk bertanya.


"Silakan duduk bu, ada yang bisa saya bantu?", tanya sang dokter ramah.


"Begini dok, saya mengalami menstruasi yang tidak teratur. Apakah pengaruh dengan kehamilan saya dok? sebenarnya saya tidak terlalu peduli karena saya sudah mempunyai seorang anak perempuan tapi akhir-akhir ini mertua saya menginginkan anak laki-laki dari kami. Awalnya saya tak menggubrisnya tapi lama-kelamaan omongan mertua saya menjadi bumerang buat saya. Saya jadi kepikiran dok. Gimana dok, apa saya bisa hamil lagi?", tanya Nina kecut.


"Sejak kapan menstruasi ibu tidak teratur?", tanya sang dokter.


"Bisa dibilang sejak sudah melahirkan dok", kata Nina.


"Rambutnya apa sering rontok?",tanya sang dokter lagi.


"Ya dok kadang-kadang", jelas Nina.


"Kita periksa dulu ya. Silakan berbaring di sana", kata bu dokter tersebut seraya menunjuk pada tempat tidur yang ada didalam ruangan itu.


Nina menuruti perintah sang dokter. Ia berbaring di tempat tidur tersebut. Dokter mulai melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan pada Nina di lakukan secara teliti dan menyeluruh.


Selesai pemeriksaan, Nina kembali ke tempat duduknya semula.

__ADS_1


"Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata ibu menderita PCOS atau Polycystic Ovary Sindrome. Dimana disini ibu mengalami gangguan keseimbangan hormon yang menjadi salah satu penyebab wanita tidak bisa hamil", kata sang dokter.


"Saya tidak mandul dok, saya sudah mempunyai seorang anak dok. Apa itu artinya saya tidak bisa hamil lagi ya dok? apakah penyakit ini berbahaya dok?", tanya Nina takut.


"PCOS ini tidak berbahaya tapi bisa menyebabkan wanita tidak bisa hamil. Wanita yang sudah memiliki anak pun bisa mengalami PCOS ini, termasuk kamu. Kumpulan kista yang terbentuk karena PCOS bisa berdampak pada ovarium sehingga kadar hormon estrogen dan progesteron yang dihasilkan menjadi terganggu. Karena kedua hormon ini sangat penting bagi wanita, salah satunya mengatur siklus haid", jelas sang dokter.


"Jadi saya benar-benar tidak bisa hamil lagi ya dok?dan apa saya harus menjalani operasi dok?", tanya Nina sedih.


"Masih tetap bisa memiliki momongan tapi perlu usaha lebih keras dan perawatan ekstra untuk berhasil hamil. Seperti mengkonsumsi obat-obatan dari dokter agar siklus menstruasi teratur. Dan itu tidak memerlukan operasi", kata Bu dokter lagi.


"Apa yang jadi penyebab saya terkena PCOS ini dok?", tanya Nina penasaran.


"Penyebab pasti masih belum diketahui dan PCOS ini tidak bisa sembuh tapi gejala-gejalanya bisa dikendalikan. Jadi masih terdapat kemungkinan PCOS ini muncul di kemudian hari", jawab Bu dokter.


"Jadi apa yang harus saya lakukan sekarang dok?", tanya Nina.


"Disamping minum obat, yang terpenting jaga pola hidup sehat, makan sayur mayur dan buah-buahan, hindari stres dan perbanyak olahraga", kata dokter.


"Saya akan kasih obatnya, setelah habis obat kamu kembali kesini. Kita lihat gejala lain yang muncul. Setelah minum obat ini secara teratur mudah-mudahan siklus haid kamu kembali normal. Dan usaha untuk memiliki anak semakin besar", kata dokter memberi sugesti pada Nina.


"Baik dok", kata Nina singkat.


"Kalau begitu saya permisi dulu dok, terima kasih banyak dok. Tolong doanya semoga berhasil", kata Nina penuh harap.


"Aamiin semoga ya bu. Tetap semangat", kata sang dokter.


"Baik dok. Permisi dok", kata Nina.


"Sama-sama bu", jawab sang dokter.


Nina melangkah keluar dari ruangan dokter tersebut. Ada sesak terasa di dadanya. Dia tidak menyangka kalau ketidakteraturan menstruasinya karena ia mengidap penyakit PCOS tersebut.


"Ya Allah apa cara ini akan berhasil?kalau tidak apa aku akan di buang dari keluarga besar Purnama?", batin Nina.


Nina masuk kedalam mobilnya dan pulang. Pikiran Nina menerawang jauh. Tapi matanya terap fokus dengan suasana jalan di depannya.


****


Malam harinya Nina melihat reaksi Jimmy ingin memenuhi hasratnya. Nina yang merasa belum bisa hamil sedikit menghindar dari Jimmy. Jimmy memeluk Nina dari belakang dan meremas buah dada Nina yang membesar. Nina melepas pelukan Jimmy dan menghindar.

__ADS_1


"Kenapa sayang?apa ada yang salah?", tanya Jimmy tak mengerti.


"Apa kamu akan membuang aku jika aku tidak bisa hamil lagi?", tanya Nina tanpa basa-basi.


"Kamu ngomong apa sih sayang?aku tak mengerti", kata Jimmy sembari mendekati Nina kembali. Nina kembali menghindar.


Tiba-tiba Nina ingin menguji kesetiaan Jimmy padanya.


"Sepertinya si Nova sangat dekat dengan abang, apa abang akan menikahinya kalau suatu saat aku tidak bisa memberikan anak lagi pada abang?", tanya Nina cepat.


"Kamu jangan mau memancing emosiku. Aku dan Nova cuma sebatas partner kerja tidak lebih. Cuma teman kerja, teman tidurku hanya kamu sekarang dan selamanya ", ucap Jimmy mulai kesal.


"Ini hanya andai kata bang, karena sampai saat ini aku belum bisa hamil. Aku takut mama akan menendangku dari keluarga ini", kata Nina berusaha mengeluarkan isi hatinya.


"Kamu ngomongnya mulai ngelantur", jawab Jimmy seraya kembali mendekati Nina lagi. Jimmy mencium tengkuk Nina. Aroma sampo dari rambut Nina terendus di hidung Jimmy. Nina berkelit dan sedikit menjauh.


"Mama sangat menginginkan anak laki-laki dari kamu dan sampai sekarang aku belum bisa memberimu anak laki-laki bang. Tinggalkan saja aku dan menikahlah dengan Nova. Aku yakin abang juga suka sama dia, dia cantik, berkelas dan masih perawan lagi", kata Nina tanpa melihat ke arah Jimmy.


"Cukup!!kamu mulai gak waras rupanya", kata Jimmy dengan suara meninggi.


Jimmy keluar dari kamar dengan membanting pintu, Nina sempat terkejut karena kaget. Jimmy meninggalkan Nina sendiri di kamar.


"Lebih baik aku tidur di ruang kerja aja, bertengkar hal yang gak jelas. Pusing!", gerutu Jimmy setelah keluar dari kamar tidur mereka.


.


.


.


.


.


Lanjut bacanya ya readersku semuanya.


Jangan lupa like, komen dan votenya ya.


wassalam...

__ADS_1


__ADS_2