
Sepulangnya Nina, Bu Ratmi dan Adel bercerita tentang kondisi hati Nina. Mereka membahas tentang penyakit yang di derita oleh Nina.
"Mbak Nina koq bisa ya bu terkena penyakit itu. Padahal gak ada yang perlu di pikirkan lagi. Suami baik, uang banyak, anak udah punya walau belum dapat yang laki-laki. Koq bisa gitu ya?", gumam Adel.
"Namanya juga penyakit. Siapa saja bisa mengalaminya. Kita doakan saja semoga mbakmu bisa hamil lagi dan mendapatkan bayi laki-laki seperti yang diinginkan", jelas Bu Ratmi.
"Aku jadi takut nikah", gumam Adel dengan tatapan menerawang jauh.
"Ngomong apa sih sayang!?penyakit tersebut tidak menular dan bukan penyakit turunan, kenapa mesti takut menikah. Hidup itu pilihan. Setiap manusia semua ada cobaan dan ujiannya, termasuk mbakmu. Ujian setiap orang berbeda-beda. Ada yang di uji dengan uangnya, ada yang di uji dengan keluarga, ada yang di uji dengan suami atau isteri, ada yang di uji dengan kesehatannya. Jadi kuncinya hanya sabar dan ikhlas. Karena semuanya sudah menjadi ketentuan yang maha agung. Kalau kita sabar dan ikhlas, mudah-mudahan ada jalannya. Semua akan indah pada waktunya. Bersabar kuncinya", kata sang ibu bijaksana.
"Iya juga sih. Tapi mbak Na sepertinya galau tingkat tinggi lho bu. Ia jadi murung saat di singgung masalah hamil. Kasihan mbak Na", ucap Adel sedih.
"Iya ibu tahu itu. Kita doakan semoga mbakmu cepat sembuh dan bisa hamil lagi. Ayo kamu susun buah-buah ini!Ambil keranjang, karena kulkas tak akan bisa menampung buah sebanyak ini", ucap sang ibu mengalihkan pembicaraan mereka.
Bu Ratmi sebenarnya sangat sedih melihat keadaan Nina putri sulungnya tersebut tapi semua itu tidak di tampakkannya di depan Adel.
Adel menuruti perintah sang ibu. Ia mengambil keranjang yang tidak terlalu besar dan menyusun buah-buahan tersebut dengan sangat rapi.
*****
Mama Liana dan Wina berbelanja di sebuah mall terbesar di kota tersebut. Setelah selesai belanja Wina mengajak sang mama untuk sekedar minum dan makan cemilan di tempat makan dalam mall tersebut. Tak sengaja mata Wina melihat kakaknya Jimmy sedang bercengkrama dengan dua orang yang sedang bersamanya, satu laki-laki dan satu perempuan.
"Itu sepertinya kakak deh ma?", tunjuk Wina pada sebuah meja.
Mama Liana menoleh pada meja yang di tunjuk oleh putri bungsunya tersebut.
"Iya benar itu kakak kamu, dia sama siapa ya?", kata mama Liana seperti bertanya pada dirinya sendiri.
"Sepertinya Jimmy akrab banget dengan wanita itu", batin mama Liana melihat keakraban mereka.
"Apa kita hampiri saja mereka ya ma?", tanya Wina pada sang mama.
"Gak usah. Kita disini saja. Kakakmu juga gak melihat kita", ujar sang mama.
Mereka duduk di sudut ruangan. Wina sengaja mengajak sang mama sedikit jauh dari sang kakak agar Jimmy tak melihat mereka. Pramusaji datang menghampiri mereka.
"Ini menunya bu, silahkan dipilih", ujar sang pramusaji seraya menyerahkah buku berbagai menu makanan kepada mama Liana. Mama Liana menerima buku menu tersebut dan memilih menu dan minuman yang akan mereka pesan.
"Di tunggu ya bu", kata pramusaji seraya meninggalkan mama Liana dan Wina.
Tak lama pesanan mereka tiba. Pramusaji membawa makanan dan minuman yang di pesan.
"Silahkan bu", ujar pramusaji setelah makanan dan minuman yang di pesan telah terhidang.
"Terima kasih ya", ucap mama Liana.
"Iya bu sama-sama", sang pramusaji berlalu dari hadapan mereka.
__ADS_1
Mata mama Liana tak lepas dari Jimmy putra sulungnya. Dia melihat keakraban keduanya.
"Apa mereka ada hubungan? kelihatannya akrab sekali", batin mama Liana sambil menikmati hidangan di depannya.
"Mama kenapa?", tanya Wina yang melihat sang mama sedang memperhatikan sang kakak.
"Coba telepon kakak kamu, pulang nanti suruh ke rumah", ucap sang mama.
"Panggil aja ma, kan orangnya di depan mata", ujar Wina.
"Gak enak. Mungkin itu klien atau rekan kerjanya, kamu telepon aja", kata sang mama.
Wina terpaksa menuruti kemauan sang mama. Ia pun akhirnya menelpon Jimmy.
"Ya Win ada apa?", tanya Jimmy pada Wina setelah tersambung.
"Kakak di suruh mama ke rumah setelah pulang kerja nanti", kata Wina.
"Iya nanti kakak kesana, udah dulu ya kakak lagi meeting ini", kata Jimmy.
"Oke" Wina memutuskan obrolan mereka.
Sudah satu jam mama Liana dan Wina berada di tempat itu tapi Jimmy dan kedua temannya belum beranjak dari tempat tersebut.
"Ayo ma kita pulang aja, sebelum kakak melihat kita", ucap Wina mengajak sang mama pulang.
Mama Liana dan Wina meninggalkan tempat tersebut. Tak lama kemudian Jimmy pun meninggalkan tempat tersebut dan pulang menuju rumah orang tuanya.
Jimmy masuk ke dalam rumah tersebut. Mama dan papanya sudah menunggu di ruang keluarga.
"Duduk, mama mau bicara sama kamu",kata sang mama.
"Bicara tentang apa ma?",kata Jimmy setelah duduk di sofa.
"Tadi mama lihat kamu sama seorang wanita, siapa dia?", tanya sang mama langsung.
"Nova maksudnya!? Itu rekan kerja kita ma. Dia anak pak Hadi Kusuma", jelas Jimmy.
"Hadi Kusuma pemilik Citra Lestari maksud kamu?', tanya pak Purnama langsung komentar.
"Tuh papa tahu. Sekarang Pak Hadi mempercayakan pada anaknya itu untuk setiap meeting, karena menurut beliau Nova otaknya cemerlang", jelas Jimmy lagi.
"Oh gitu. Tapi mama lihat kalian terlihat sangat akrab, apa kalian punya hubungan spesial?", tanya mama Liana tanpa basa-basi.
"Mama ngomong apa sih ma?aku dan Nova itu tidak ada hubungan spesial seperti yang mama maksud. Hubungan kami hanya sebatas rekan kerja", jawab Jimmy lantang.
"Apa dia sudah bersuami?", tanya mama Liana penuh selidik.
__ADS_1
"Belum", jawab Jimmy singkat.
"Apa kamu tidak tertarik sama Nova?mama lihat anaknya baik, cantik, berkelas dan..",mama Liana belum selesai bicara sudah di potong oleh Jimmy.
"Jadi maksud mama cuma mau membicarakan tentang Nova menyuruh aku datang kemari?", sela Jimmy.
"Mama ingin kamu memiliki anak laki-laki sebagai penerus keluarga ini. Dan mungkin itu bisa kamu dapatkan dari Nova. Nikahi Nova Jim!", kata mama Liana tegas.
"Sepertinya otak mama juga sudah tidak waras, aku pulang!", kata Jimmy seraya berlalu dari hadapan mama dan papanya.
"Anak bodoh", gerutu sang mama.
Pak Purnama yang dari tadi hanya diam saja, akhirnya memberikan hak suaranya.
"Mama ini apa-apaan sih ma, menyuruh Jimmy menikahi Nova. Mama kira Nova mau sama Jimmy yang sudah mempunyai isteri dan anak", kata pak Purnama.,
"Mama bisa lihat dari cara dan tatapan Nova pada Jimmy, sepertinya dia menyukai Jimmy", ujar mama Liana.
"Nggak usah ngarang ma, kalau itu semua di dengar pak Hadi, bisa-bisa sahamnya akan di tariknya kembali karena ulah mama", sahut pak Purnama.
"Papa ini gimana sih?papa lihat sendiri kan sampai saat ini Nina belum bisa memberikan anak lagi buat Jimmy, Jimmy berhak untuk mencari solusi biar dapat anak lagi", bantah mama Liana.
"Solusi lain masih ada ma, mungkin Nina dan Jimmy perlu ke dokter biar ada solusinya", jelas pak Purnama.
"Papa lihat sampai saat ini Nina belum hamil juga, walau ke dokter kemungkinannya sangat kecil. Jalan tercepat hanya dengan cara Jimmy menikahi Nova", kata mama Liana bertahan dengan pendapatnya.
"Pikirkan nasib rumah tangganya Jimmy jangan asal bicara", sergah pak Purnama.
"Itu jalan terbaik pa", dalih mama Liana.
"Sepertinya Jimmy benar kalau mama sudah gak waras", ujar pak Purnama sambil berlalu.
"Anak dan papa sama saja", gerutu mama Liana.
Mama Liana ngedumel seraya menuju dapur. Bik Surti hanya melihat dari kejauhan, melihat kalau nyonya besarnya sedang tidak baik-baik saja.
.
.
.
.
Lanjut bacanya ya readersku sayang. Maaf jarang update. Tapi author akan tetap hadir untuk semuanya.
Jangan kupa tinggalkan jejaknya ya..
__ADS_1
Like, komen, dan votenya di tunggu ya..