Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Diam tanpa kata


__ADS_3

"Tugas kamu itu melayani, apa pun yang aku butuh, kamu harus bisa dan mau melakukan yang aku suruh, tidak ada kata bantahan, ingat aku ini seorang direktur perusahaan", kata Jimmy dengan nada tinggi.


Nina tersentak. Ucapan Jimmy sangat menusuknya.


Jimmy terlihat kesal. Dia meninggalkan ponselnya di kasur dan mengambil celana pendeknya dan melempar handuk tersebut ke tempat tidur. Jimmy keluar dari kamar meninggalkan Nina yang masih bengong.


"Kenapa dia jadi egois gitu?apa aku salah bicara ya?apa kalau di rumah direktur perusahaan di bawa-bawa? perasaan aku tidak membantah, cuma kasih penjelasan doang", gumam Nina.


Nina duduk di meja riasnya. Ia memandangi wajahnya yang lusuh. Tubuhnya terasa letih. Belum lagi sampai rumah harus cekcok dengan Jimmy suaminya.


"Salahku di mana coba!?aku cuma terlambat pulang dan itupun baru hari ini, koq di besar-besarkan gini sih ", Nina tenggelam dalam pikirannya.


Nina terlihat kuyuh. Capeknya double. Kerja dan pikiran telah menguras tenaganya. Ia bangun dari duduknya. Nina menuju kamar mandi. Tak lama terdengar bunyi gemericik air. Nina mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Terasa badannya kembali bugar.


Nina selesai dengan ritual mandinya. Ia menggunakan baju tidur daster. Sejak menikah Nina suka menggunakan daster, karena daster lebih praktis tentunya.


Nina mencari keberadaan Jimmy suaminya.


"Kemana dia?", batin Nina.


Nina mencari ke dapur tapi Jimmy tak di temukannya. Nina mencoba mencari ke kamar depan. Benar saja Jimmy ada di sana. Terlihat Jimmy sudah tidur dengan nyenyaknya.


"Bangunkan gak ya? takut nanti dia marah, tapi kalau gak di bangunin takutnya aku salah lagi", Nina jadi serba salah.


"Biarain ajalah, aku juga harus istirahat sekarang", gumam Nina.


Nina menutup pintu kamar secara perlahan. Takut nanti mengganggu Jimmy yang sudah terlelap. Nina kembali ke kamarnya ia pun naik ke tempat tidur. Nina menarik selimutnya. Tak butuh waktu lama Nina pun akhirnya tertidur juga. Capek badan capek pikiran sehingga sangat mudah bagi Nina untuk memejamkan matanya.


Acara makan malam pun gagal total. Baru kali pertama keduanya tidur terpisah. Jimmy tak mau ngalah dan Nina keletihan membuat keduanya harus rela berpisah ranjang di malam yang dingin seperti ini.


Jimmy terbangun di sepertiga malam. Tubuhnya terasa sangat dingin. Jimmy baru sadar kalau dia tidak memakai baju dan tidak berselimut. Tiba-tiba Jimmy merasakan perutnya sangat lapar. Jimmy menggosok-gosok perutnya dengan telapak tangannya.


"Jam berapa ini?Nina pada kemana koq aku bisa ketiduran di sini",gumam Jimmy.


Jimmy turun dari tempat tidurnya. Dia keluar dari kamar dan menuju meja makan.


"Masih utuh?apa Nina juga belum makan?", batin Jimmy ketika membuka hidangan di atas meja masih utuh.


Jimmy masuk ke kamar mereka. Di lihatnya Nina tertidur dengan sangat pulasnya.

__ADS_1


Jimmy bermaksud membangunkan Nina dari tidurnya. Tapi niat itu di batalkannya.


"Biarkan saja dia tidur. Mungkin lagi mimpi indah", gumam Jimmy sambil membuka lemari dan mengambil satu bajunya untuk di pakainya.


Jimmy menuju dapur. Jimmy mencari sesuatu yang bisa di makan, karena untuk makan nasi sudah tidak ada selera lagi. Jimmy mengambil satu buah apel. Jimmy mencucinya sebentar. Lalu mulai dengan menyantap apel tersebut.


Jimmy menghabiskan tiga apel. Jimmy memegang perutnya.


"Lumayan kenyang juga", gumam Jimmy.


Jimmy kembali ke kamar dan berbaring di samping Nina. Nina terbangun ketika merasakan ada pergerakan di sampingnya.


Nina menggeliat. Melihat itu Jimmy cepat membalikkan badannya membelakangi Nina. Nina menghela nafasnya. Karena memang masih mengantuk akhirnya Nina kembali memejamkan matanya dan tertidur kembali.


Merasa tak ada pergerakan lagi, Jimmy membalikkan badannya ke arah Nina. Di lihatnya Nina sudah tertidur kembali.


"Sepertinya dia sangat letih", batin Jimmy.


Jimmy menyesali perbuatannya semalam yang memarahi Nina seperti anak kecil. Tapi Jimmy tetaplah Jimmy, walau salah dia tak mau mengakui pada Nina kalau itu salah. Tepatnya Jimmy terlalu gengsi untuk meminta maaf.


Lama-lama Jimmy pun akhirnya bisa juga memejamkan matanya.


Seperti biasa Nina selalu terbangun lebih dahulu.


Nina menjalankan ibadahnya seperti biasa. Ia mencoba membangunkan Jimmy walau ada rasa takut kalau-kalau nanti Jimmy akan marah padanya.


"Bang bangun udah subuh", ujar Nina.


Jimmy cuma menggeliat.


"Bang bangun", ucap Nina lagi.


"Jangan berisik aku masih ngantuk ini", ucap Jimmy.


Nina menghela nafasnya. Dia tidak berani lagi mengganggu tidur Jimmy. Nina pun keluar dari kamar membantu mbak Yuni di dapur.


Setelah selesai Nina kembali ke kamarnya. Ia menuju kamar mandi, Nina mulai dengan ritual mandinya. Nina selesai mandinya tapi Jimmy masih belum bangun juga.


"Bang, masuk kantor nggak nih?udah siang loh", ujar Nina.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari Jimmy. Jimmy masih dalam selimutnya. Nina terpaksa menarik selimut Jimmy. Tujuannya agar Jimmy segera bangun dan mandi.


"Bangun Bang, dah siang ini", seru Nina.


Dengan mata masih berat, Jimmy akhirnya bangun dari tidurnya. Dia mengucek matanya.


"Emang sekarang jam berapa?", tanya Jimmy malas.


"Udah jam tujuh", kata Nina.


"Masih pagi", jawab Jimmy seraya merebahkan kembali tubuhnya.


"Iya udah kalau nggak mau bangun, aku mau ke toko", kata Nina.


Nina mengganti bajunya, ia memakai bedak dan lipstick ala kadarnya. Karena Nina memang selalu berpenampilan sederhana saja.


Jimmy yang tadi malas untuk bangun, langsung duduk mendengar ucapan Nina.


"Mau ngapain ke toko?", tanya Jimmy.


"Semalam kan sudah di bilang, kemarin banyak barang baru datang, makanya pulangnya malam, nah karena semalam belum selesai di urus jadi pagi ini aku mau ke toko untuk ngecek tuh barang. Biar pulangnya juga lebih cepat nanti ", jelas Nina.


"Kalau gitu pecat aja tuh karyawannya, gak ada fungsi", jawab Jimmy.


"Kamu kenapa sih Bang?dari semalam bawaannya jutek amat", protes Nina.


Jimmy tidak menjawab, dia malah menuju kamar mandi dan melakukan ritual mandinya.


Nina menghela nafasnya. Ada perasaan ngilu di hatinya. Perubahan yang di perlihatkan Jimmy membuat Nina merasa sangat sedih.


"Aku harus bagaimana coba?", gerutu Nina.


Nina mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Nina bangun dari tempat duduknya. Ia menyiapkan pakaian Jimmy untuk ke kantor. Merapikan tempat tidur dan mengambil tas kecilnya dan juga ponselnya.


Jimmy selesai dengan ritual mandinya. Dia memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh Nina. Nina cuma memandangi semua pergerakan Jimmy.


"Sarapan yuk", ajak Nina setelah melihat Jimmy selesai memakai pakaiannya.


Jimmy tak menjawab, dia keluar dari kamar, Nina mengikuti Jimmy dari belakang. Mereka menuju meja makan.

__ADS_1


Nina mengambil sarapan untuk Jimmy. Selanjutnya Nina mengambil untuk dirinya sendiri. Mereka menikmati makanannya tanpa suara. Keduanya fokus dengan piring masing-masing.


Setelah selesai mereka pun berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Tak ada basa-basi dari Jimmy. Semuanya di anggap biasa seperti tak ada orang di sampingnya. Diam tanpa kata.


__ADS_2