Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Anak sultan


__ADS_3

Hari itu Prili menjambangi rumah Jimmy dan Nina kembali. Tujuannya hanya satu yaitu ingin menarik perhatian Jimmy kembali. Prili memencet bel yang ada di samping pintu. Mbak Yuni datang dengan tergesa-gesa. Ia membuka pintunya.


"Eehh kecubung ijo datang lagi, mau ngapain dia kemari?", batin mbak Yuni.


"Mana tuan kamu?", tanya Prili tak ada lembutnya.


"Tuanku yang mana? yang perempuan atau yang lakinya?", tanya mbak Yuni.


"Eehh geblek kalau tuan artinya yang laki bukan yang perempuan", kata Prili kesal.


"Oohh gitu. Tuanku gak ada", kata mbak Yuni seraya ingin menutup kembali pintunya.


"Eehh",


Prili cepat mendorong pintunya sehingga mbak Yuni terpaksa kembali membuka pintunya.


"Ada apa lagi sih?Tuanku gak ada di rumah jelas!",kata mbak Yuni greget.


"Mereka lagi ada acara lamaran untuk adiknya", jelas mbak Yuni lagi.


"Lamaran?lamaran adiknya yang mana?dimana?",tanya Prili beruntun.


"Iya mana ku tahu dimana dan adiknya yang mana, yang jelas mereka hanya sekeluarga gak pakai rame", jelas mbak Yuni.


"Kenapa mereka nggak ngajak aku ya?", batin Prili.


"Maaf saya di belakang masih banyak kerjaan, permisi", kata mbak Yuni.


"Tunggu!", sergah Prili.


"Ada apa lagi nyonya?", ucap mbak Yuni penuh penekanan.


"Jam berapa mereka pulang?", tanya Prili.


"Namanya juga orang pergi ada keperluan, iya pasti gak tentu lah jam berapa pulangnya. Ohh atau gini aja nyonya bisa tunggu di dalam atau bisa bantuin saya di belakang dari pada bengong, gimana?", kata mbak Yuni dengan senyum mengembang.


Prili mendumel dalam hati.


"Enak aja emang elu siapa berani ngatur-ngatur",


Prili memandang sinis pada mbak Yuni. Tanpa kata Prili meninggalkan mbak Yuni yang masih tegak di depan pintu.


"Eehh tuh orang main pergi aja.


Gak tau sopan santun sama sekali tuh orang", mbak Yuni menggerutu.

__ADS_1


Mbak Yuni menutup kembali pintunya dan kembali ke belakang untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.


Prili tak henti-hentinya mendumel selama perjalanan.


"Pembantu sialan. Dikiranya dirinya siapa. Gak tahu sopan santun. Awas saja nanti kamu akan ku buat jadi perkedel baru tahu rasa",


Prili terus mengumpat sambil terus mengendarai mobilnya. Tiba-tiba ada seekor kucing lewat di jalan hendak menyebrang.


Prili kaget. Ia cepat mengerem kendaraannya. Suara berdecit dari ban mobil Prili sangat kencang terdengar. Mobilnya pun berhenti. Dahi Prili sampai mencium setir mobilnya.


"Auuwww",


Prili teriak karena sakit. Dahinya jadi sakit dan memar. Prili kembali mengumpat.


"Kucing sialan. Auww sakit banget. Ini gara-gara si Nina dan Jimmy",


Prili keluar dari mobilnya dan melihat bawah mobilnya.


"Mana kucing sialan tersebut ya?", ucap Prili.


Prili celangak celinguk mencari keberadaan kucing tersebut tapi tak menemukannya.


"Aahh sakit banget ini", Prili memegangi dahinya yang mulai membenjol.


"Apes banget aku hari ini. Jimmy gak ketemu, kening benjol. Sebaiknya aku pulang aja deh", kata Prili kembali naik ke mobilnya.


Prili menyetir mobilnya secara perlahan. Benjol di dahinya membuat kepalanya sedikit pusing. Sampai akhirnya Prili tiba di rumah dengan selamat.


****


Setelah selesai lamaran Jimmy mengajak Nina dan kedua orang tuanya untuk pulang. Hari dan tanggal pernikahan sudah di tentukan. Ayah Marsya dan adiknya Deni sudah menyetujui tanggal dan bulan baiknya hari penikahan tersebut.


"Syukurlah semua sudah di tentukan, tinggal menunggu hari 'H'nya saja. Kita akan adakan resepsi pernikahannya di gedung saja, biar kalian gak repot", ujar pak Purnama pada ayahnya Marsya.


"Oh iya ngomong-ngomong nama besan kita siapa nih? dari tadi ngobrol melulu tapi belum tahu nama", ujar pak Purnama pada ayahnya Marsya.


Semua tersenyum mendengar ucapan pak Purnama.


"Ehh iya sampai lupa mengenalkan diri. Nama saya Surya Hadi mas. Panggil saja Surya. Ini anak saya yang kedua adiknya Marsya namanya Deni", kata ayahnya Marsya mengenalkan diri.


"Ohh. Saya Purnama, ini isteri saya dan itu anak saya Jimmy dan isterinya. Si bungsu gak ikut dia ada tugas kuliahnya jadi gak bisa ikut kemari", kata pak Purnama mengenalkan diri.


"Marsya sudah cerita banyak tentang nak Jimmy. Terima kasih nak Jimmy sudah mempercayai Marsya untuk bekerja di kantor nak Jimmy ", ucap pak Surya.


"Soal dan lain-lain nanti kita komunikasikan sama Marsya. Untuk tempat, catering dan wedding organizer nanti semua Jimmy yang atur, gak usah kalian pikirkan", jelas pak Purnama.

__ADS_1


"Terima kasih pak, bu maaf jadi merepotkan kalian", ujar pak Surya.


"Kita gak punya waktu banyak, lihatlah mereka sudah sangat lengket sepertinya kayak prangko. Kita harus cepat menikahkan mereka", kata pak Purnama yang melihat Rinal anaknya duduk sangat dekat dengan Marsya.


Pak Surya mengangguk. Marsya menggeser duduknya saat dia mendengar Rinal dan dirinya jadi bahan obrolan.


"Rinal, ayo kita pulang. Nunggu sah dulu, sabar", canda Jimmy.


Rinal senyum-senyum mendengar candaan sang kakak. Muka Marsya bersemu merah akibat candaan bosnya sekaligus calon kakak iparnya tersebut.


Mereka akhirnya mohon pamit pulang. Marsya, ayahnya dan adiknya Deni mengantarkan calon keluarga keduanya tersebut keluar sampai masuk ke dalam mobil mereka.


Mereka baru masuk ke dalam rumah setelah mobil yang dua buah mobil tersebut menghilang dari pandangan mereka.


"Wiihh pakai ilmu apa sih kak bisa dapat calon suami tajir, anak sultan gitu. Aku jadi pengen dapat ilmunya biar dapat isteri tajir ", celetuk Deni setelah tiba di dalam rumah kembali.


"Kalau ngomong tuh jangan asal, siapa juga pakai ilmu segala. Lagian yang tajir kan ayahnya", kata Marsya.


"Iya nggak mungkinlah dia gak dapat bagian kan. Orang kaya begitu. Apalagi kak Rinal itu anak laki-laki, pasti bagiannya banyak dong ", kata Deni.


"Sudah-sudah nggak usah bahas yang tidak penting. Yang terpenting kakak kamu ini sudah ketemu sama jodohnya. Sudah ada yang akan mengambil alih tugas ayah, itu yang lebih penting", ucap pak Surya.


Deni berbisik di telinga Marsya.


"Kak, nanti Deni minta motor gede boleh ya?", bisik Deni.


"Kamu tuh ya belum apa-apa sudah ada permintaan. Nggak!", kata Marsya sambil berlalu.


"Tugas kamu itu belajar. Kalau kuliah sudah selesai, baru kerja biar bisa beli motor", ucap sang ayah.


Pak Surya pergi sambil geleng-geleng kepala. Deni mendengus.


"Ngomong aja gak di anggap, apalagi mau membelikannya. Nasib", gerutu Deni.


Deni keluar dari rumah dan pergi menemui teman-temannya. Mendengar suara motor yang tak asing lagi di telinganya, pak Surya menghela nafasnya. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


.


.


. Lanjut bacanya ya readersku...


Jangan lupa like, komen dan votenya ya.


Mampir juga yuukk ke karyaku lainnya ya:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat)..


__ADS_2