Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Terbongkar


__ADS_3

Jimmy mengambil kertas kecil yang ada di dalam dompetnya. Jimmy menyerahkan kertas tersebut pada sang perawat.


"Di tunggu ya pak, segera kita panggil", ujar sang perawat.


Jimmy hanya mengangguk. Jimmy mengajak Prili duduk di kursi tunggu.


"Ibu Prili", panggil sang perawat.


Jimmy bangun dari tempat duduknya di iringi Prili. Mereka masuk dalam ruangan dokter tersebut. Prili salah tingkah.


"Dokter",


Prili yang mengenali dokter tersebut berharap dokter tersebut tidak mengingat dirinya.


"Silakan duduk", kata sang dokter.


Dokter tersebut memandangi Prili. Dokter tersebut merasa pernah melihat Prili. Dokter tersebut berusaha mengingat.


"Sepertinya saya pernah bertemu dengan wanita ini tapi dimana ya?", batin sang dokter.


Jimmy dan Prili duduk di kursi yang ada di depan meja sang dokter. Dokter tersebut akhirnya ingat siapa wanita yang ada di hadapannya sekarang ini.


"Ini ibu Prili yang pernah berobat ke saya kan?", tanya sang dokter.


Prili jadi gugup. Takut rahasianya akan terbongkar.


"Salah orang kali dokter", jawab Prili.


"Ahh gak mungkin, saya selalu mengingat wajah-wajah pasien saya. Tapi betul kan ini ibu Prili yang nangis-nangis minta obat tersebut waktu itu?", tanya dokter tersebut meyakinkan.


Prili makin tak menentu, takut karena Jimmy ada bersamanya.


"Obat? untuk siapa?maaf dokter obat apa ya? isteri saya tidak pernah cerita sebelumnya ", Jimmy menyeletuk.


Dokter tersebut menjadi ragu untuk menceritakannya kepada Jimmy ketika melihat wajah Prili berubah sedikit pucat.


Jimmy memalingkan wajahnya kekiri. Memandang wajah Prili yang sudah sangat gelisah.


"Hmm dok nanti saja bahasnya, tolong periksa isteri saya dulu", kata Jimmy berusaha untuk mengeyampingkan soal cerita sang dokter tersebut.


"Oh iya sampai lupa. Mari bu, silakan berbaring di sana", kata sang dokter.


Dokter memeriksa kondisi dan luka operasi Prili. Setelah selesai dokter tersebut kembali ke kursinya.


Prili turun dari tempat tidur tersebut dan kembali ke tempat duduknya.


"Lukanya sudah nyatuh. Tapi nanti ada kemungkinan akan timbul rasa gatal karena reaksi kulit yang baru menyatu. Ini saya kasih obat, nanti di minum ya bu. Makan yang berprotein biar cepat membantu proses penyembuhannya", pesan sang dokter.


Prili mengangguk.


"Terima kasih banyak ya dok, kami permisi", kata Jimmy.


Jimmy dan Prili meninggalkan ruangan dokter tersebut. Setelah beberapa langkah Jimmy menghentikan langkahnya.


"Ada apa?", tanya Prili.

__ADS_1


"Kebelet mau pipis. Kamu duduk di sini aja dulu ya, aku ke toilet sebentar", kata Jimmy pada Prili.


"Baiklah jangan lama-lama ya", ujar Prili.


Jimmy menuju toilet tapi setelah tiba di belokkan Jimmy malah menuju ke ruangan dokter tadi.


"Maaf sus, boleh saya bertemu dengan dokter bentar, ada yang mau saya tanyakan ", kata Jimmy.


"Silakan pak tapi jangan lama-lama ya pasien sudah banyak yang nunggu", kata sang perawat.


"Baik sus terima kasih ", ucap Jimmy.


"Dok maaf datang lagi. Boleh saya tahu ceritanya waktu isteri saya datang ke dokter?", ucap Jimmy hati-hati.


Dokter tersebut sedikit ragu. Jimmy mengerti.


"Tenang aja saya tak akan melibatkan dokter", kata Jimmy mayakinkan sang dokter.


"Baiklah. Waktu itu isteri bapak nangis-nangis datang ke saya. Dia meminta obat untuk mengugurkan kandungannya. Waktu akan saya periksa ia menolak. Ia hanya ingin menggugurkan kandungan tersebut karena dia tak mengharapkan bayi dari lelaki yang tak bertanggungjawab pada kehamilannya. Jadi karena dia memelas dan memohon sambil nangis-nangis akhirnya saya kasih dengan alasan perikemanusiaan. Saya tidak berani juga sebenarnya karena obat tersebut ada hak patennya", kata sang dokter menjelaskan.


"Kapan itu dok?", tanya Jimmy penuh selidik.


"Kira-kira sekitar lima atau enam bulan yang lalu lah", jawab sang dokter.


"Berarti kami sudah menikah dan Prili tidak menggugurkan kandungannya. Lantas obat tersebut untuk siapa?", Jimmy perang batin.


"Oke dok terima kasih infonya. Maaf sudah mengganggu dokter", kata Jimmy seraya menjabat tangan sang dokter.


Jimmy kembali keluar dari ruangan dokter tersebut. Dan kembali menemui Prili di tempat di mana Jimmy meninggalkan Prili.


"Koq lama?", tanya Prili setelah Jimmy tiba di dekatnya.


"Ya udah yuk kita pulang tapi sebelumnya kita ke apotek dulu beli obatnya ", ujar Jimmy lagi.


Jimmy dan Prili meninggalkan rumah sakit tersebut.


Tiba di rumah Jimmy mengajak Prili masuk ke dalam kamar.


"Duduk", perintah Jimmy pada Prili.


Prili menurut. Prili duduk di pinggir tempat tidur. Jimmy mengambil kursi yang biasa di gunakan Prili untuk berhias.


"Coba katakan apa maksud perkataan dokter tadi?", kata Jimmy mulai mengintrogasi.


"Yang mana?", tanya Prili pura-pura tidak paham.


"Jangan pura-pura bego. Obat apa yang kamu minta pada dokter tersebut dan untuk siapa?", tanya Jimmy masih pelan.


"Salah orang dokter itu, aku gak pernah datang ke dokter itu", kata Prili ngeles.


"Jawab yang jujur", bentak Jimmy.


Prili kaget. Tubuhnya gemetar. Selama ini Jimmy belum pernah membentaknya seperti sekarang ini.


"Ayo jawab", kata Jimmy lagi.

__ADS_1


Prili menangis karena ketakutan.


"Kamu memaksa dokter tersebut untuk meminta obat untuk menggugurkan kandunganmu dengan alasan lelaki yang menghamilimu tidak bertanggungjawab, iya kan?dan saat kamu meminta obat tersebut kita telah menikah. Tidak ada alasan untuk kamu untuk menggugurkan kandungan tersebut. Lantas untuk apa kamu obat itu?", tanya Jimmy dengan suara tinggi.


"Mas maafkan aku. Maafkan aku mas", kata Prili seraya meringkuk di kaki Jimmy.


"Apa yang kamu lakukan hah? jawab pertanyaanku tadi", tanya Jimmy sengit.


Prili menangis semakin kencang.


"Jangan-jangan keguguran Nina waktu itu ada sangkut pautnya dengan kamu?", kata Jimmy mencoba menebak.


"Mas..", kata Prili tak mampu untuk bicara.


"Jadi benar kamu yang melakukannya?", tanya Jimmy seraya bangun dari tempat duduknya.


"Aku tidak mau Nina mempunyai keturunan dari mas. Mas ku mohon maafkan aku mas", kata Prili memelas. Tangisnya semakin kencang.


Jimmy meninju kaca rias Prili hingga kaca tersebut hancur berkeping-keping. Darah mengalir dari tangan Jimmy tapi tak di rasakannya. Keributan di kamar Prili mengundang seisi rumah untuk datang melihat.


"Ada apa ini?", tanya mama Hanny yang melihat kekacauan di kamar anaknya tersebut.


"Tanya sendiri dengan anak mama", kata Jimmy seraya keluar dari kamar tersebut dan pergi.


"Mas tunggu mas, ku mohon jangan pergi mas. Jangan tinggalkan aku", kata Prili tanpa malu seraya berusaha mengejar Jimmy. Tapi mama Hanny cepat menangkap tangan Prili sehingga Prili tidak dapat mengejar Jimmy.


"Sayang hentikan. Ada apa ini?", tanya mama Hanny sambil memeluk anak semata wayangnya.


Prili menangis sejadi-jadinya dalam pelukan sang mama. Air mata Prili sudah membasahi baju mama Hanny. Sang asisten rumah tangga yang masih terbengong di depan pintu kamar Prili hanya terpaku tanpa bisa berbuat apa-apa.


Mama Hanny mengelus punggung sang anak berharap Prili dapat tenang. Benar saja, tak lama Prili akhirnya menghentikan tangisnya. Mama Hanny mulai berbicara padanya.


"Ada apa?tak biasanya Jimmy semarah itu sama kamu", kata sang mama.


"Dia marah karena tahu aku pernah memberi obat untuk Nina agar anak yang di kandung Nina bisa gugur", kata Prili pelan tapi yang mendengarnya seperti sambaran petir.


Mama Hanny dan bik Ina yang mendengar terbelalak, mendengar pengakuan dari Prili.


"Apa?",


.


.


.


.


.


.


Selamat membaca ya readersku terkasih...


Jangan lupa like, komen dan juga votenya ya.

__ADS_1


Yuukk baca juga karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2