
Nina mengajak para karyawan-karyawannya makan bersama. Nina memesan makanan secara online. Doni, Desi dan Desti bergantian makannya biar tetap bisa melayani para pembeli.
Nina rebahan di ruang khusus yang dalam ruangannya ada dinding penyekat yang sengaja di pasang untuk ruang tempat beristirahat. Nina mengambil ponselnya untuk menelpon mbak Yuni. Nina mendial nomor mbak Yuni.
"Iya halo Nya", kata mbak Yuni setelah tersambung.
"Gimana dengan Iza mbak?rewel gak?", tanya Nina langsung.
"Tadi nangis juga tapi gak lama setelah di kasih susu langsung diam. Sekarang sudah bobo lagi. Nyonya jam berapa pulangnya?", kata mbak Yuni.
"Ooh syukurlah kalau tidak rewel. Mudah-mudahan jam 2 sudah ada di rumah. Mbak Yuni sudah makan belum?", tanya Nina perhatian.
"Sudah Nya", jawab mbak Yuni singkat.
"Syukurlah. Udah dulu ya mbak. Assalamualaikum", ucap Nina.
"Wa'alaikum salam", jawab mbak Yuni.
Obrolan pun berakhir. Nina masih merebahkan tubuhnya. Matanya terasa berat. Kantuk mulai menyerangnya. Rasa lelah dan efek perut sudah kenyang membuat mata Nina lebih cepat bereaksi. Nina akhirnya memejamkan matanya. Rasa kantuk yang menderanya tak kuasa untuk menahannya. Nina tertidur dengan tangan masih memegang ponselnya.
Jimmy datang menjemput Nina. Tanpa sepengetahuan Nina, Jimmy masuk kedalam ruangan tersebut.
"Eehh tidur. Katanya mau kerja eh malah tidur", gumam Jimmy.
Jimmy mendekati Nina. Jimmy mengambil ponsel yang masih berada di tangan Nina. Jimmy memandangi wajah isterinya.
"Lelah sekali sepertinya", batin Jimmy.
Tapi karena hari sudah jam dua siang, Jimmy terpaksa membangunkan Nina dari tidurnya.
"Sayang", kata Jimmy seraya mengelus kepala Nina.
Nina yang merasa ada orang di dekatnya menjadi kaget dan terjaga. Dengan cepat Nina beringsut ke sudut tempat tidur. Nyawanya belum terkumpul sempurna. Setelah membuka matanya lebar-lebar barulah Nina menghela nafasnya.
"Abang bikin kaget aja", kata Nina seraya membenahi rambut dan pakaiannya.
"Makanya kalau mau tidur itu pintunya di kunci biar aman", ucap Jimmy.
"Orang tadi cuma pingin rebahan doang, eeh malah ketiduran", jawab Nina.
Nina turun dari tempat tidur.
"Jam berapa sekarang?", tanya Nina.
"Sudah jam dua", jawab Jimmy.
"Iya udah yuk kita pulang", kata Nina seraya mengambil tas tangannya dan ponselnya.
"Kan baru bangun tidur, apa tidak sebaiknya tunggu beberapa menit dulu", ujar Jimmy.
"Nggak usah bang kasihan Iza udah lama ditinggal. Ayo", ajak Nina.
"Iya udah deh yukk", ajak Jimmy.
Nina duluan keluar diiringi oleh Jimmy.
"Pulang dulu ya, tutupnya sore aja jangan sampai malam", kata Nina pada tiga 'D'.
"Iya bu", jawab Doni, Desi dan Desti serempak.
__ADS_1
Nina dan Jimmy keluar dari dalam toko.
"Pak bos kita tambah ganteng ya tapi sayang kurang senyum", celetuk Desi.
"Huss jangan ngerumpi, kerja sana. Tuh ada pembeli yang datang", sergah Doni.
Desi dan Desti menyambut pembeli yang datang dengan sangat ramah.
Sedangkan diluar, Jimmy dan Nina melihat ada sesuatu yang menarik perhatian mereka.
"Itu Ferdy kan?", tanya Jimmy pada Nina seraya menunjuk orang yang sedang mendorong sepeda motornya yang mengarah ke arah mereka.
"Iya betul. Itu isterinya", kata Nina ketika Ferdy diiringi oleh seorang wanita yang tidak lain adalah isterinya.
"Masuk ke mobil", perintah Jimmy pada Nina.
"Tapi kasihan melihat mereka bang, setidaknya tanya dulu kenapa dengan motor mereka ", ucap Nina.
Belum sempat Jimmy menjawab ucapan Nina, Ferdy dan isterinya sudah berada di dekat mereka.
"Jimmy, Nina", sapa Ferdy dengan nafas masih ngos-ngosan. Jimmy menghela nafasnya. Nina tahu kalau suaminya sangat tidak menyukai Ferdy.
"Ada apa dengan motornya Res?", tanya Nina pada Resti isteri Ferdy.
"Pecah ban. Dari tadi nyari bengkel tapi belum ketemu juga", kata Resti.
"Itu disana ada bengkel, lurus belok kanan. Tidak jauh koq", ucap Nina yang hanya berkomunikasi dengan isteri Ferdy.
"Oohh iya makasih ya Nin", kata Resti isteri Ferdy.
"Iya sama-sama", kata Nina seraya menggandeng tangan Jimmy.
"Mari", kata Ferdy pada Nina dan Jimmy.
Nina hanya tersenyum. Sedangkan Jimmy membuang mukanya.
"Bang jangan gitu ahh, mereka kan perlu bantuan. Lagian gak susah kan buat kita, hanya menunjukkan tempat bengkel doang. Senyum dong, kalau gak senyum hilang tuh gantengnya", bujuk Nina.
"Masuk ke mobil. Kita pulang", perintah Jimmy sedikit keras.
Nina bukannya sedih tapi ia malah senyum-senyum melihat tingkah suaminya yang terkadang masih kekanak-kanakan itu. Nina masuk kedalam mobil. Selama dalam perjalanan tak ada suara. Nina tahu suaminya masih marah. Jadi lebih baik diam dari pada nantinya malah ribut.
Mereka sampai di rumah.
"Iza mana mbak?", tanya Nina pada mbak Yuni yang membukakan pintu buat mereka.
"Masih tidur Nya di kamarnya", kata mbak Yuni.
"Ooh ya udah, biarkan saja kalau masih tidur. Aku mau mandi dulu", kata Nina.
Nina menuju kamarnya. Jimmy yang baru selesai memasukkan mobil ke garasi segera menyusul Nina ke kamar mereka.
Mbak Yuni menutup pintu dan kembali menuju dimana Iza si imut berada.
Nina bermaksud menuju kamar mandi tapi tangannya cepat di tarik oleh Jimmy.
"Abang bikin kaget aja", kata Nina kaget.
Jimmy mengunci pintu kamar mereka.
__ADS_1
"Bang ada apa? aku mau mandi lho ini, mumpung Iza masih tidur", kata Nina yang tak mengerti kenapa Jimmy menghentikannya.
Jimmy tak menjawab. Ia malah melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuh isterinya Nina. Nina memberontak.
"Bang, abang kenapa sih?", tanya Nina yang melihat Jimmy semakin brutal.
Jimmy membungkam mulut Nina dengan mulutnya. Jimmy mencium Nina dengan sangat kasar. Tangannya juga sudah bergerilya. Meraih bukit kembat Nina dengan sangat kasar. Nina memejamkan matanya. Ia tak lagi memberontak agar suaminya tidak kasar lagi dalam menyentuhnya. Benar saja, permainan Jimmy selanjutnya lebih halus dan lembut. Nina tahu ada amarah dalam permainan Jimmy. Biar amarah Jimmy mereda, Nina ikut aktif bermain. Nina tak mau kalah. Ia pun mengikuti permainan Jimmy.
Jimmy melenguh beberapa kali. Dia seperti sangat menikmati permainan Nina. Jimmy sampai tak tahan. Ia membawa Nina ke tempat tidur dan merebahkan Nina disana. Tanpa basa-basi lagi Jimmy langsung menghujamkan tonggak besarnya ke goa milik Nina. Nina melenguh panjang. Jimmy langsung berpacu tanpa memberi kesempatan pada Nina untuk membalas. Bak kuda liar Jimmy berpacu dengan sangat cepat. Hentakan-hentakannya membuat Nina berteriak kecil. Jimmy membungkam mulut Nina dengan mulutnya agar mbak Yuni tak mendengar suara yang keluar dari mulut Nina.
Ritme semakin di percepat. Tubuh Nina bergoyang mengikuti gerakan yang dilakukan oleh Jimmy. Nina mencengkram lengan Jimmy. Nina seperti terbang. Hentakan Jimmy membuatnya melayang.
"Bang ouwhhh", gumam Nina.
Aarrggghhh....
Jimmy dan Nina melakukan pelepasan bersama. Nina dan Jimmy berpelukan erat. Dan akhirnya kedua insan tersebut terkulai di tempat tidur.
Permainan singkat yang sangat memicu adrenalin.
"Makanya jangan belagu, dapat hukuman kan", celetuk Jimmy sambil memeluk Nina.
"Suka hukumannya bang", balas Nina sambil terkekeh.
"Ayo katanya tadi mau mandi", kata Jimmy mengangkat tubuh Nina menuju kamar mandi.
"Lah koq di angkat sih bang, aku sendiri kan bisa", kata Nina.
Jimmy tak menggubris, dia membawa Nina ke kamar mandi. Suara gemericik air terdengar. Tawa kecil keduanya terdengar dari kamar mandi. Entah apa yang dilakukan keduanya.
Suara gemericik air masih terdengar. Tak ada lagi suara. Hanya jeritan kecil Nina yang sesekali terdengar. Cukup lama mereka berada di dalam.
Setelah selesai mereka keluar bersama.
"Segar ya udah mandi", ujar Jimmy.
"Modus, bilang aja mau nambah, gak usah ngajak mandi bareng", sergah Nina.
"Tapi kamu suka kan", kata Jimmy seraya mencolek pinggang Nina.
"Suka banget", kata Nina sambil tertawa.
"Husss nanti di dengar mbak Yuni", kata Jimmy menutup mulut Nina dengan telapak tangannya.
Mereka berdua tersenyum. Nina senang karena amarah Jimmy sudah hilang.
"Mudah ternyata membalikkan mood suami", batin Nina sambil tersenyum.
.
.
.
.
Lanjut bacanya ya readersku sayang.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.
__ADS_1
Salam hangat untuk semuanya......