Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Suasana lain


__ADS_3

Keesokan harinya Jimmy menemani Nina ke rumah Tika. Terlihat kesibukan disana sini. Tika yang berada di dalam rumah tidak tahu kalau dia kedatangan bigboss nya. Seseorang yang ada di depan rumah, masuk menemui Tika yang sibuk di dalam rumahnya.


"Sepertinya ada tamu non Tika di depan baru datang", kata seorang lelaki yang umurnya berkisar enam puluh tahunan tersebut.


"Oh iya. Terima kasih mang ujang", kata Tika kepada lelaki tua bernama Ujang tersebut.


"Iya non sama-sama", jawab mang Ujang. Mang Ujang keluar dan Tika ikut keluar untuk menyambut tamu yang di maksud oleh mang Ujang.


"Nina, pak Jimmy", kata Tika dengan senyum sumringah.


Tika menyambut tamunya dengan suka cita. Setelah menyalami Jimmy sang bigboss, Tika mendekati Nina. Mereka cipika-cipiki terlebih dahulu.


"Kirain gak datang. Masuk yukk", ajak Tika pada Jimmy dan Nina.


Tika menggandeng tangan Nina. Mereka masuk ke dalam rumah. Jimmy mengekor dari belakang.


"Silakan duduk dulu, maaf masih berantakan. Ku tinggal dulu bentar, biar aku ambil minum dulu", ujar Tika.


"Gak usah repot-repot Tik, apa yang ada keluarin buat kita", kata Nina berseloroh.


"Iya pasti dong", jawab Tika sambil terkekeh.


"Duduk bang", ajak Nina.


"Hmmm", jawab Jimmy.


Tika ke belakang sedangkan Jimmy dan Nina duduk di kursi di ruang tamu. Walau masih berantakan disana-sini tak membuat Jimmy dan Nina menjadi risih.


Tak lama Tika kembali dengan membawa dua gelas air teh beserta cemilannya.


"Silakan di minum", ucap Tika setelah meletakkan minum dan cemilan tersebut di atas meja. Tika duduk di kursi samping kiri Nina.


"Kamu itu caten gak boleh ikut kerja, nanti pas hari H nya kamu KO, jadi lebih baik istirahat saja", ujar Nina.


"Cuma bantu sedikit- sedikit nggak berat koq, lagian aku malah bingung kalau cuma berpangku tangan. Jadi ikut nimbrung aja", kata Tika.


"Kamu lihat kan Tika itu orangnya pekerja keras dan ulet. Jadi mana ada yang bisa menandinginya ", ucap Jimmy pada Nina.


"Iya tapi kan dia nanti capek bang, belum acaranya seharian, kerja ini kerja itu. Selesai acara beres-beres pula. Belum malamnya lembur juga. Pasti capek", ucap Nina membela Tika.


Tika yang belum mengerti arah pembicaraan kedua pasangan suami istri itu hanya bisa diam saja.


"Kamu bisa lihat sendiri kalau Tika orangnya kuat, iya kan Tika?", kata Jimmy pada Tika.


Tika hanya tersenyum, walau belum paham arah pembicaraan tapi Tika berusaha untuk memahami pembicaraan suami isteri tersebut.


"Saya itu sudah hidup susah dari kecil, jadi bekerja itu tidak jadi beban buatku. Ikhlas sajalah", jawab Tika.


"Begini lho mbak say, cuti kamu itu di tambah seminggu. Jadi cutinya itu dua minggu. Iya biar gak terlalu capek-capek amat gitu lho", ucap Nina.


"Benar nih pak?", tanya Tika pada Jimmy sang bigboss.

__ADS_1


Jimmy tersenyum dan mengangguk. Tika sangat bahagia bisa mendapat penambahan jadwal cutinya. Air muka Nina pun turut menggambarkan kebahagiaan. Jimmy senang membuat Nina bahagia. Hal yang sepele tapi bermanfaat untuk orang lain. Jimmy memandang wajah Nina isterinya yang sumringah.


'Semudah itu membuat dia bahagia", batin Jimmy.


"Minimal tenaga kamu tidak terkuras habis selama seminggu selesai acara. Bisa istirahat, iya kan bang?", ucap Nina sambil melirik Jimmy suaminya.


Jimmy kembali mengangguk.


"Terima banyak pak", kata Tika pada Jimmy.


"Sama-sama", jawab Jimmy.


"Ayo pak silakan di minum, ayo di minum. Cicipi kuenya", kata Tika pada Jimmy dan Nina.


"Ngomong-ngomong calon kamu orang mana?", tanya Jimmy di sela makannya.


"Orang sini-sini juga pak. Malah ternyata teman isteri bapak waktu kuliah dulu", terang Tika sambil tersenyum.


"Oh ya?siapa?", tanya Jimmy seraya memandang ke arah Nina sang isteri.


"Iya pak. Namanya Dedi. Ketemunya sih gak sengaja dan gak lama. Iya gitu deh pak", kata Tika tersenyum simpul.


"Maksudnya Dedi...", Jimmy belum menyelesaikan kalimatnya. Dia sedang berpikir sesuatu.


"Itu lho bang, Dedi yang ketemu sama abang di rumah sakit waktu itu", jawab Nina membantu mengingatkan.


"Oohh iya aku baru ingat. Syukurlah. Selamat ya kalau begitu", ucap Jimmy sambil melirik Nina.


"Iya pak ma kasih", jawab Tika.


Lain bagi Nina, ia merasa kalau suaminya sedang tidak baik-baik saja. Ia tahu Jimmy tidak menyukai Dedi. Tapi dengan Jimmy mengetahui kalau Dedi akan menikahi Tika, mudah-mudahan Jimmy akhirnya paham dan mengerti kalau Nina dan Dedi tidak mempunyai hubungan spesial selama ini.


Nina dan Tika asik bercerita. Jimmy tidak terlalu suka dengan cerita yang tidak terlalu penting. Dia lebih memilih diam dan bermain ponselnya. Setelah lama bercerita, Tika mengajak suami isteri tersebut untuk makan siang bersama.


"Kita makan dulu yuk, udah siang", ajak Tika.


"Ehmm..", Nina ingin menjawab tapi cepat di potong oleh Jimmy.


"Oh gini lho, kami sebenarnya sangat ingin tapi berhubung ada hal yang harus di selesaikan jadi kami minta pamit aja. Makan-makannya tunggu hari H nya saja ya. Kami minta maaf bukannya menolak rejeki tapi karena masih ada urusan jadi kami permisi dulu", ucap Jimmy pada Tika.


Nina bengong mendengar alasan suaminya. Tapi dia tetap menuruti kemauan sang suami.


"Kami permisi dulu ya. Salam buat bapak sama ibu", ujar Nina.


"Tidak mau ketemu sama mereka dulu?", tanya Tika pada Nina.


"Sepertinya mereka sibuk. Nanti kami ganggu lagi. Kami permisi aja ya", kata Nina sambil memeluk Tika.


"Okelah. Hati-hati ya", kata Tika.


Jimmy dan Nina masuk kedalam mobil. Jimmy melajukan kendaraannya menyusuri jalan hitam nan panjang. Tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya. Mereka diam mengikuti alur pikiran masing-masing.

__ADS_1


Jimmy menghentikan kendaraannya pada sebuah rumah makan Padang.


"Bang, kita makan fried chicken aja yuk", ajak Nina. Setelah melihat rumah makan di depan mereka.


"Disini kan lebih banyak pilihan", ucap Jimmy.


"Lagi pingin fried chicken", ucap Nina manja sambil mengelus lengan Jimmy.


"Lagi ngidam ya?", ucap Jimmy.


"Lagi pingin aja bang, masa' setiap lagi pingin di bilang ngidam", ucap Nina manja.


"Kamu koq bergelayut manja gitu?", tanya Jimmy.


"Abang gak suka?", Nina balik nanya.


"Suka sih. Tapi kamu membangunkan singa yang lagi tidur sayang", balas Jimmy seraya memegang dagu Nina yang menggantung indah.


"Abang ihh ganjen amat jadi orang", kata Nina melepaskan tangannya dari lengan Jimmy.


"Kamu juga suka kan?", kata Jimmy lagi.


"Mau makan gak nih?", tanya Nina sambil cemberut.


Melihat sikap Nina, Jimmy menjadi gemas. Di raihnya wajah Nina. Tanpa di komando, bibir Nina sudah di lahap oleh Jimmy. Nina terkejut atas perlakuan Jimmy yang sembrono. Jimmy mencium dengan sangat rakusnya. Nina seperti kehabisan nafas. Nina mendorong Jimmy sehingga Jimmy tersandar ke pintu mobil. Nina mengatur nafasnya.


"Kenapa sayang?", tanya Jimmy yang melihat penolakan Nina.


"Kita di tempat umum bang, kalau di lihat orang gimana?", kata Nina kesal. Nina mendengus.


"Baiklah sayangku. Kita makan dulu ke fried chicken tapi selesai makan kita check-in di situ ya. Jangan mau kalah sama Tika", kata Jimmy seraya menunjuk sebuah hotel di samping fried chicken tersebut.


"Kan di rumah lebih nyaman bang?", ucap Nina.


"Cari suasana lain sayang. Ayo kita makan. Abang sudah lapar lahir batin ini", ucap Jimmy sekenanya tapi tak urung membuat Nina tertawa. Nina menjadi gemas dengan ucapan suaminya.


Auuwww...


.


.


.


.


Lanjut bacanya ya readersku terkasih.


Di tunggu like, komen dan votenya ya.


Mampir juga yuukk ke karyaku lainnya:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


"


__ADS_2