Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Dendam


__ADS_3

Prili masih tiduran di kamarnya. Ia malas untuk keluar dari kamarnya. Ia merenungi nasibnya yang masih terombang-ambing belum jelas arah tujuan.


Matahari sudah.mulai meninggi tapi Prili masih betah di tempat tidurnya. Prili teringat akan Nina yang lagi hamil. Prili mengelus perutnya.


"Seharusnya aku yang mengandung anak Jimmy bukan dia", gumam Prili.


Tiba-tiba pikiran jahat melintas di benak Prili. Ia tersenyum penuh arti


"Jangan panggil aku Prili kalau tidak bisa melakukan sesuatu", batin Prili.


"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?udah siang lho ini", suara Hanny mamanya Prili dari luar kamar Prili.


Prili diam. Dia lagi malas untuk apa pun, apa lagi bertatap muka dengan orang tuanya. Yang ada mereka hanya ingin membatalkan perjodohan tersebut.


Prili menuju kamar mandi. Tak lama terdengar bunyi gemericik air dari kamar mandinya. Lama Prili berada di sana. Setelah satu jam akhirnya Prili keluar dari kamar mandi tersebut.


"Aku harus melakukan sesuatu", gumam Prili di sela aktivitasnya.


Prili sudah siap untuk pergi. Dia keluar dari kamarnya.


"Sayang, mau kemana?", tanya sang mama yang melihat anak satu-satunya sudah siap untuk pergi.


"Prili pergi dulu Ma, ada urusan kecil", kata Prili setelah pamit pada mamanya. Prili langsung pergi tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Urusan kecil? urusan apa?", gumam mamanya Prili.


Mama Prili hanya menghela nafasnya. Dia geleng-geleng kepala melihat kelakuan Prili. Hanny sangat menyayangi Prili. Baginya Prili adalah nyawa baginya. Apapun akan di lakukannya untuk kebahagiaan sang anak.


Prili mampir ke tempat dokter kandungan.


"Ada keluhan apa Bu?", tanya sang dokter.


Prili memasang muka sedih.


"Begini dok, suami saya pergi meninggalkan saya. Kemarin saya cek urine ternyata saya hamil dok", Prili tertunduk.


"Apa ada masalah dengan kandungannya Bu?", tanya sang dokter lagi.


"Tidak dok hanya saja...", Prili tidak meneruskan kalimatnya.


"Kalau begitu kita periksa dulu ya, mari tiduran di situ", kata sang dokter menunjuk tempat tidur khusus untuk periksa pasien.


Prili memutar otaknya, jangan sampai sang dokter memeriksanya dengan USG.


"Gak usah dok, saya ingin menggugurkan kandungan ini dok", kata Prili cepat.


"Loh kenapa?", tanya sang dokter.


"Saya tidak mau punya anak dari orang yang tidak bertanggung jawab dok", kata Prili hati-hati.


"Maaf Bu, ini menyalahi etika kedokteran Bu", kata sang dokter tegas.


"Saya mohon dok, saya tidak mau anak ini tumbuh dalam rahim saya, saya tidak mau anak ini hidup tanpa ayahnya", kata Prili memelas.


"Tapi Bu saya tidak berani", kata sang dokter.

__ADS_1


"Saya mohon dok, saya tidak mau lelaki itu membayangi hidup saya lagi, saya mohon dok, saya akan menanggung resikonya, saya tidak akan melibatkan dokter", kata Prili memelas.


Dokter tersebut akhirnya kasihan melihat Prili yang terus memelas padanya. Dokter tersebut akhirnya memberikan resep pada Prili untuk di beli di apotek. Hati Prili sangat senang.


"Terima kasih banyak dok", kata Prili pada sang dokter.


"Iya sama-sama", kata sang dokter.


Prili memberikan jasa dokter dalam sebuah amplop. Setelah itu Prili keluar dari ruangan tersebut. Sang dokter hanya bisa geleng-geleng kepala.


Setelah mengambil obat di apotek, Prili menuju kantor Jimmy. Prili menuju ruangan Jimmy. Prili tersenyum saat melihat Nina tak ada di mejanya. Dia melihat air minum di meja Nina. Tanpa pikir panjang, Prili memberikan sesuatu di minuman Nina. Prili melihat kiri dan kanan tak ada orang. Prili dengan sigap angkat kaki dari tempat itu.


"Tinggal nunggu hasil", batin Prili setelah sampai di dalam mobilnya.


Prili melihat Nina bersama seorang teman kerjanya.


"Kamu tidak akan menikmati indahnya pernikahanmu", gumam Prili.


Prili melihat Nina dan temannya masuk ke dalam kantor. Prili tidak ingin jejaknya terlihat, dia akhirnya pergi dari tempat tersebut.


"Kita pisah di sini ya", kata Nina pada temannya yang tak lain adalah Tika.


"Oce, bye", kata Tika melambaikan tangannya pada Nina.


Nina menuju ruangannya. Baru saja Nina mendudukan pantatnya di kursi, Jimmy datang dengan membawa banyak cemilan. Ada pisang tanduk crispy yang lagi booming, tahu Sumedang yang terkenal renyahnya, ada brownies coklat yang lezat dan berbagai macam jenis kripik.


Jimmy meletakkan itu semua di atas mejanya Nina.


"Ini semua mau di bawa kemana?", tanya Nina polos.


"Tapi aku sudah makan tadi sama Tika, masih kenyang", tolak Nina halus.


"Sedikit aja, ini browniesnya enak banget lho sayang", kata Jimmy sedikit memaksa.


"Ayo buka mulutnya", kata Jimmy pada Nina.


Nina membuka sedikit mulutnya.


"Besarin dikit buka mulutnya, aku takut nantinya bukan browniesnya yang kamu makan tapi jari-jariku", Jimmy protes.


Nina membuka mulutnya sedikit lebar. Jimmy memberikan brownies di tangannya pada Nina.


Nina mengunyah kue tersebut. Dan menelannya. Tenggorokan Nina terasa sepet, brownies yang di berikan Jimmy irisannya cukup membuat mulut Nina penuh. Tanpa ragu Nina mengambil air yang ada di atas mejanya. Nina meneguk minum tersebut sampai setengahnya.


"Gimana enak kan?", tanya Jimmy meminta pendapat.


Nina hanya bisa mengangguk karena dia masih mengunyah menghabiskan brownies yang ada dalam mulutnya.


"Apa ku bilang, pilihanku selalu tepat", kata Jimmy sambil tertawa.


"Mau lagi?atau mau mencoba yang lain?", tanya Jimmy.


"Gak Bang, gak usah udah cukup", kata Nina sembari membersihkan bibirnya dengan menggunakan tissue.


"Sebaiknya kamu bawa ke ruangan kamu aja, di sini penuh oleh makanan ini. Kalau aku lapar, aku akan masuk mengambilnya", jelas Nina.

__ADS_1


"Apa kamu tidak ingin untuk mencicipi yang lainnya?", tanya Jimmy.


"Nggak Bang nanti aja", kata Nina seraya meneguk kembali minumnya.


"Iya udah ku bawa ke ruanganku aja, kalau ingin ambil aja ke ruanganku", kata Jimmy.


"Iya bos", kata Nina.


Jimmy membawa cemilan-cemilan tersebut ke ruangannya. Nina menghela nafasnya


"Sayang sih sayang tapi nggak gitu juga kali Bang", gumam Nina.


Nina merapikan mejanya yang berantakan. Menyimpan file dan dokumen yang tadi di kerjakannya di tempat yang aman. Nina merasa tugasnya telah selesai semua. Nina bermaksud membuka kembali laptopnya, tapi tiba-tiba Nina merasakan nyeri di perutnya. Nina mengurungkan niatnya untuk membuka laptopnya. Nina memegangi perutnya bagian bawah yang terasa nyeri.


Nina menelpon Jimmy agar Jimmy datang padanya. Jimmy cepat menghampiri Nina.


"Bang perutku rasanya nyeri banget",ujar Nina.


"Kena apa?", tanya Jimmy ikut panik.


"Gak tahu, tiba-tiba saja sakit", jelas Nina sambil menahan sakit di perutnya.


"Apa gara-gara makan brownies tadi kali ya?", tebak Jimmy.


"Gak tahu juga Bang, tapi aku suka koq makan brownies gak pernah sakit perut", jelas Nina.


"Sebaiknya kita ke dokter saja sekarang", kata Jimmy cemas.


"Kita tunggu dulu Bang siapa tahu nanti nyerinya hilang", kata Nina.


"Aku tidak mau ambil resiko, kita berangkat sekarang", kata Jimmy tegas.


Jimmy masuk ke dalam ruangannya sebentar, tak lama kemudian dia muncul kembali.


"Ayo kita berangkat sekarang", ajak Jimmy.


.


.


.


.


.


Selamat membaca ya readers.


Bantu like, komen dan votenya juga ya


Terima kasih yang sudah like dan komen.


Mampir juga ke karyaku lainnya ya:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2