
Jimmy mengambil nasi beserta lauk pauknya tapi tidak banyak seperti biasanya. Dia hanya mengambil sedikit saja. Untuk menghargai sang mama yang sudah bersusah payah memasak untuk mereka. Wajahnya Jimmy fokus pada makanannya. Dia tak menggubris pertanyaan Wina.
"Jimmy nanti selesai makan papa mau ngomong sama kamu", kata Purnama tanpa melihat ke arah Jimmy. Purnama fokus ke makanan yang ada di piringnya.
Suasana hening. Hanya bunyi dentingan sendok dan garfu yang terdengar. Tak ada yang bicara sampai makan selesai.
Purnama menuju ruang keluarga diikuti yang lainnya. Belum ada yang buka suara. Wina mengambil remote televisi bermaksud ingin menonton sinetron kesayangannya. Tapi gerakannya di halangi oleh sang mama. Wina ingin protes, tapi sang mama hanya memberi bahasa isyarat dengan menggelengkan kepalanya. Wina duduk kembali di tempatnya semula.
"Jimmy", kata sang papa mulai buka suara.
"Iya pa", sahut Jimmy.
"Begini, kamu di keluarga ini harapan satu-satunya, penerus papa. Papa ingin kamu bisa membawa keluarga ini ke suatu tempat yang di sebut dengan kebaikan. Kamu tahu nama papa tidak di anggap sepele di dunia usaha. Papa ingin kamu menjaga dan membawa usaha ini lebih pesat lagi, paling minimal menjaganya tetap berjaya. Di sini papa dan mama ingin kamu menikah dengan Prili karena Prili anak dari pengusaha besar di daerah sebrang. Papa ingin kamu menyatukan usaha ini menjadi lebih kompeten lagi, jadi jangan merasa kami memaksakan kehendak padamu, kami hanya ingin yang terbaik padamu dan pada usaha kita, itu saja", kata Purnama panjang lebar.
"Trus juga Prili itu gak ada kurangnya menurut mama, dia itu paket komplit lho", sela sang mama.
"Pa Ma Jimmy bukan menolak atau bikin mama dan papa malu dengan membatalkan pernikahan itu, Jimmy hanya ingin menikah dengan wanita pilihan Jimmy. Soal kerjasama bisa Jimmy handle Pa, Jimmy akan cari jalan dan kesempatan untuk bisa menggaet perusahaan orang tuanya Prili untuk bergabung dengan kita", Jimmy berdalih.
"Kamu tidak paham bagaimana menyatukan semua dengan pendekatan itu tidak semudah yang kamu bayangkan, papa ingin dengan kamu menikahi Prili itu akan lebih mudah dan tentunya kamu bisa melakukan pendekatan lebih rileks", ujar sang papa.
"Maaf pa ma, sebenarnya...", Jimmy menggantung kalimatnya.
Semua mata tertuju pada Jimmy. Mereka menunggu apa yang akan di katakan oleh Jimmy. Jimmy menunduk mencari kekuatan untuk bisa mengatakan dengan jujur apa yang sebenarnya terjadi. Jimmy menghela nafasnya.
"Jimmy sudah menikah ma pa", kata Jimmy lugas. Sang mama seperti di sambar petir mendengar pernyataan Jimmy. Wina terbelalak seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Apa maksud kamu?", bentak Purnama.
"Iya pa, Jimmy sudah menikah dengan gadis pilihan Jimmy, dia bukan orang kaya, bukan anak pejabat, dia hanya gadis biasa", jelas Jimmy.
"Kamu..!", kata sang papa sambil memegang dadanya yang terasa sakit.
"Papa!", seru Liana saat melihat suaminya memegangi dadanya.
"Apa yang telah kakak lakukan?menikah tanpa sepengetahuan kami, benar-benar memalukan", kata Wina seraya mendekati papanya yang lagi mengelus dadanya.
__ADS_1
"Apa yang kamu perbuat Jimmy?kami hanya ingin memberi yang terbaik untuk kamu, kamu menghancurkan segalanya", kata sang mama sambil menangis.
"Maafkan Jimmy ma, Jimmy sangat mencintai nya, Jimmy tidak mau kehilangan dia, dari dia Jimmy banyak belajar, aku mohon ma pa restui kami, aku akan melakukan apa saja asal kami tidak di pisahkan", kata Jimmy dengan suara bergetar.
"Ceraikan dia", kata sang papa tegas.
"Cerai?!apa maksud papa?dia bukan makanan pa, kalau tidak suka bisa di buang. Dia punya hati, punya rasa. Aku tidak akan menceraikannya, aku sangat mencintai dia pa", Jimmy memelas.
"Siapa gadis itu?", tanya sang mama dengan suara parau.
"Gadis itu adalah Nina Ma", jawab Jimmy lantang.
"Hhaahh!!", kata mereka bertiga seakan tidak percaya.
"Iya ma dia adalah Nina, tolong mengertilah ma, Jimmy sudah besar, sudah dewasa, Jimmy bisa menentukan pilihan Jimmy sendiri.
"Jimmy", sang mama menangis meraung-raung.
Dia sangat kecewa atas apa yang telah di lakukan Jimmy. Anak yang begitu di banggakan dan di harapkan telah menghancurkan angan-angannya dalam sekejap.
Wajah Jimmy berubah merah padam. Dia ingin marah, tapi untuk apa. Toh semua itu tak akan merubah keadaan. Tanpa kata Jimmy dengan langkah gontai keluar dari rumah megah tersebut.
"Kakak", seru Wina.
"Biarkan dia pergi", kata sang papa menahan langkah Wina.
"Kalau terjadi sesuatu gimana Pa?", tanya Wina
"Tidak akan, ", kata Purnama singkat.
Wina dan mamanya membawa sang papa masuk ke dalam kamar untuk istirahat. Liana sang mama sudah tidak menangis lagi. Dia kini sangat merasa malu dengan apa yang janjikannya buat Prili dan keluarganya. Liana bingung harus berkata apa pada Hanny temannya itu. Liana berusaha memutar otaknya untuk mencari solusi dari masalah tersebut.
"Kita harus bagaimana Pa?",tanya Liana pada suaminya Purnama setelah Wina keluar dari kamar mereka.
"Batalkan saja Ma, Jimmy sudah menikah, kita tidak bisa berbuat banyak lagi, Papa mau istirahat dulu", kata Purnama tak begitu berminat lagi.
__ADS_1
"Tidak Pa, mama sudah terlanjur janji dengan keluarga Hanny, mama akan bicara lagi dengan Jimmy", kata sang isteri.
"Terserah mama sajalah", kata Purnama seraya memejamkan matanya.
Melihat sang suami tidak ada komentar lagi, Liana pun diam dan ikut berbaring di samping suaminya.
****
Jimmy sudah sampai di rumahnya. Nina melihat perubahan di wajah suaminya. Jimmy tak bicara sepatah kata pun. Tapi Nina tahu Jimmy sedang ada masalah. Nina duduk di samping Jimmy suaminya.
"Bagaimana?", tanya Nina hati-hati.
"Mereka ingin aku menikah dengan Prili", jawab Jimmy berat.
Nina terhenyak. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Air matanya jatuh seketika. Hatinya terasa hancur. Ucapan Jimmy telah meluluhlantakkan segenap jiwa raganya. Jimmy memeluk Nina. Jimmy tahu pasti Nina hancur mendengar ucapannya tadi. Tapi apa boleh buat Jimmy harus jujur dengan Nina walaupun pahit.
Nina sesunggukan dalam pelukan Jimmy. Jimmy mempererat pelukannya. Hatinya juga tak karuan bentuk sekarang. Jimmy juga kacau. Dia tidak tahu harus bagaimana. Untuk sekarang yang bisa dia lakukan adalah hanya menenangkan Nina. Bagaimanapun Nina adalah isterinya yang sah dan wanita yang sangat di cintainya.
Hening tak ada suara. Suara tangisan Nina sudah reda. Jimmy tak mau suasana itu tambah kacau lagi. Jimmy mencium kening Nina. Nina menatap dalam wajah suaminya.
"Apa kamu akan meninggalkan aku?", tanya Nina dengan suara parau.
"Tidak akan sayang, aku akan menjaga cinta kita sampai akhir hayat, percayalah", kata Jimmy seraya mengangkat dagu Nina. Jimmy mengecup bibir Nina yang terasa dingin. Nina menatap tajam mata suaminya.
"Apa ada yang membuatmu risau?", tanya Jimmy sambil tangannya sudah bergerilya di tubuh Nina.
"Entahlah, aku takut kamu akan pergi meninggalkanku", ucap Nina.
"Tidak akan sayang", kata Jimmy seraya mengecup leher jenjang Nina.
Nina menggelinjang. Jimmy kini melupakan sejenak masalah yang ada. Dia ingin menciptakan suasana kembali normal.
Entah siapa yang memulai, kini keduanya sudah tidak mengenakan pakaian lagi.
Hanya *******-******* lembut yang terdengar. Mereka melupakan kemelut yang ada dalam rumah tangga mereka. Mereka terhanyut dalam asmara cinta yang mereka ciptakan. Malam yang panjang menjadi saksi bisu bagi kedua insan yang sedang di buai asmara tersebut.
__ADS_1