Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Terima kasih cintaku


__ADS_3

"Salam buat ibu ya", kata Nina.


"Iya mbak. Tante pulang dulu ya sayang", kata Adel pada Nina dan Iza.


"Iya tante", kata Iza.


Nina dan Iza mengantar Adel sampai depan. Adel masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumahnya.


"Motor siapa nih?", gumam Adel setelah melihat ada motor di depan rumahnya. Adel masuk ke dalam rumahnya.


"Kevin!",


Sontak suara Adel mengagetkan Kevin yang lagi asyik dengan ponselnya. Mata Kevin tak berkedip melihat penampilan Adel yang kini lebih menarik. Walau sederhana tapi Adel terlihat anggun dan berkelas.


"Kevin", ulang Adel


Belum sempat Kevin menjawab, bu Ratmi telah muncul dari belakang.


"Eh dah pulang, ini lho ada nak Kevin. Katanya mau bertemu sama kamu", kata bu Ratmi seraya meletakkan air teh dan sedikit cemilannya.


"Ibu ke belakang dulu ya, silakan di minum dan di cicipi cemilannya nak Kevin. Jangan sungkan", ucap bu Ratmi.


"Iya bu terima kasih", ucap Kevi.


Bu Ratmi kembali ke belakang. Adel duduk di sofa di depan Kevin.


"Tumben kemari!?kamu gak masuk kerja?", tanya Adel pada Kevin.


"Kamu gak nanya kabarku?", tanya Kevin.


"Kabar apa?setiap kamu kemari berarti kamu itu sehat. Buat apa tanya kabar", ucap Adel sambil melirik Kevin.


Kevin senyum-senyum mendengar jawaban Adel.


"Koq senyum-senyum, kamu gak kesambet kan?", tanya Adel


"Sepertinya dari dulu aku ke sambet sama kamu deh', ujar Kevin sambil menatap tepat ke bola mata Adel. Di tatap seperti itu Adel jadi salah tingkah.


"Tadi aku ke tempat usaha kamu, kamunya gak ada. Ku susul ke rumah ternyata juga gak ada. Ternyata susah ya bertemu orang sukses", ucap Kevin.


"Kamu jangan berlebihan", ucap Adel santai.


"Memang terbukti koq, susah nemui orang yang punya jadwal padat", kata Kevin kembali menatap wajah Adel.


"Kebetulan aja. Tadi aku ke rumah mbak Na bentar. Tak lama. Setelah itu langsung pulang", ujar Adel.


"Oke lupakan saja. Gimana kalau kita merayakan pertemuan kita ini dengan jalan-jalan keluar?", ucap Kevin.


"Hmm..", Adel seperti berpikir.


"Ayolah gak usah kepanjangan mikir", ucap Kevin.


"Emang mau kemana?", tanya Adel agak malas.


"Ke hatimu", ucap Kevin sambil terkekeh.


"Lebay", jawab Adel.


"Ayolah. Bentar aja", pinta Kevin.


"Tapi aku belum mandi?", dalih Adel.


"Paling cuma satu jam, gitu juga udah cantik banget. Nanti aja mandinya", ucap Kevin.

__ADS_1


"Iya udah deh, tapi kamu ijin dulu ya sama ibu", kata Adel.


"Pasti", ujar Kevin singkat.


Adel memanggil bu Ratmi. Bu Ratmi mendatangi keduanya. Kevin dengan cepat meminta ijin kepada bu Ratmi untuk keluar sebentar bersama Adel. Bu Ratmi mengijinkan tapi syaratnya tidak boleh lama-lama.


Kevin membawa Adel dengan mogenya. Adel tak keberatan. Di persimpangan jalan ada sebuah mobil yang melaju kencang. Kevin tidak mau beresiko. Kevin mengerem mogenya sehingga suara berdecit dari ban motornya terdengar jelas.


Adel yang tidak menyangka akan terjadi hal di luar dugaan tersebut, tubuhnya menempel di tubuh Kevin dengan posisi tangan memeluk tubuh Kevin. Kevin menghentikan motornya. Adel yang belum hilang rasa kagetnya masih memeluk Kevin dengan eratnya. Kevin merasakan bukit kembar Adel menempel ditubuh bagian belakangnya. Darah Kevin berdesir indah. Untuk beberapa saat Kevin menikmati sensasi indah tersebut.


"Del, kamu tidak apa-apa kan?", tanya Kevin yang melihat Adel masih memeluknya dengan erat.


Adel tersadar. Adel melepaskan pelukannya di tubuh Kevin.


"Kamu sengaja kan melakukannya?", tanya Adel setelah sadar apa yang tadi di lakukannya.


"Kamu tadi lihat sendiri ada mobil melaju sangat kencang, kalau aku gak ngerem, kita bisa terseret dengan mobil itu", ujar Kevin.


Adel terdiam.


"Kita berangkat. Pegangan", ucap Kevin mengingatkan Adel.


Adel menuruti perkataan Kevin. Ia memegang kiri kanan baju Kevin di bagian pinggang. Itu sudah cukup membuat Kevin senang.


Kevin menghentikan motornya pada sebuah warung sate.


"Kita makan dulu ya, laper nih", kata Kevin.


"Terserah kamu aja", jawab Adel.


Kevin mengajak Adel untuk makan sate terlebih dahulu. Warung sate itu terkenal enak. Jadi tidak pernah sepi pengunjungnya


Selesai makan Kevin membawa Adel ke sebuah tempat permainan.


"Gak ahh takut, main yang lain aja", jawab Adel.


"Mau main apa?", tanya Kevin.


"Main game aja deh. Kan seru juga", kata Adel.


"Okelah", jawab Kevin.


Keduanya asyik bermain. Adel terlihat sangat bahagia. Kevin sangat senang melihat Adel tertawa lepas. Setelah selesai bermain, Adel mengajak Kevin untuk pulang. Kevin menepati janjinya. Mereka menuju parkir. Dan pulang. Sebelum sampai rumah Kevin menghentikan mogenya di taman pinggir jalan dan mengajak Adel duduk sebentar di sana. Hari sudah perlahan gelap. Lampu-lampu jalan terang benderang menerangi gelapnya malam.


"Koq berhenti, ada apa?", tanya Adel.


"Turun sebentar aja, boleh ya?", tanya Kevin.


Adel mengangguk. Mereka duduk di kursi taman.


"Del, boleh aku bertanya sesuatu?", tanya Kevin.


"Boleh. Mau tanya apa?", tanya Adel.


"Ada yang marah gak kalau kita jalan gini?', tanya Kevin.


"Ada, ibu", jawab Adel sekenanya.


Ucapan Adel membuat gemas Kevin. Refleks Kevin mencubit gemas pipi Adel. Adel cemberut.


"Emang kenapa?", tanya Adel polos


"Kamu belum punya cowok atau lelaki yang dekatmu mungkin?", tanya Kevin.

__ADS_1


Adel menggeleng.


"Serius?", tanya Kevin. Adel mengangguk.


"Del, jujur semenjak kamu menolakku aku jadi takut mengenal perempuan. Sampai sekarang aku tidak dekat dengan wanita manapun. Aku hanya mengingat kata-kata saat itu 'datanglah nanti setelah kamu siap'. Kata-kata itu masih bersemayam di sanubariku", Adel hanya diam mendengarkan ucapan Kevin.


"Sekarang, apa ucapanmu itu masih berlaku? ", tanya Kevin seraya memandang dalam wajah Adel.


"Hari sudah malam, jangan bertele-tele katakan saja poinnya", kata Adel yang mulai risih dengan suasana malam yang terasa dingin menusuk tulang tersebut.


Kevinerubah posisi duduknya. Sekarang Kevin menghadap ke arah Adel.


'"Oke. Dengar Nona Adelia, dari dulu sampai sekarang hatiku terpaut padamu. Aku mencintaimu. Sekarang aku sudah siap. Maukah kau menikah denganku?!", kata Kevin langsung.


Mendengar ucapan Kevin yang tak terduga, membuat tubuh Adel seakan mati rasa.


Kevin memberanikan diri menggenggam tangan Adel. Adel merasakan darahnya mengalir sangat cepat. Keduanya slaing pandang.


"Menikahlah denganku nona", ucap Kevin setengah berbisik.


"Dengan dasar apa kau memilihku", tanya Adel untuk meyakinkan hatinya.


"Yang jelas aku mencintaimu dari dulu. Dan aku hanya ingin kamu yang mengandung anak-anakku nanti", jawab Kevin tegas.


Adel merasakn tubuhnya gemetar mendengar ucapan Kevin.


"Apa kamu bersedia menjadi isteriku?", tanya Kevin lagi.


Tenggorokan Adel seperti tercekat. Ia tak bisa bersuara. Hatinya senang bercampur haru.


Adel mengangguk. Walau pelan Ltevin bisa melihatnya dengan jelas. Karena begitu gembira, Kevin langsung memeluk Adel. Dan mengecup lembut bibir Adel yang terasa dingin. Mendapat serangan sevara mendadak seperti itu membuat Adel tak bisa berkutik.


Kevin melerai pelukannya.


"Terima kasih, akhirnya cinta yang lama terpendam tidak bertepuk sebelah tangan, terima kasih cintaku", lagi-lagi bibir Adel menjadi persinggahan Kevin.


Adel yang seumur-umur baru di sentuh lelaki, merasakan tubuhnya bergetar dan seperti di sengat aliran listrik.


"Ayo kita pulang. Malam ini juga aku akan melamarmu. Secepatnya aku ingin menghalalkanmu', kata Kevin seraya menggandeng tangan Adel untuk menaiki mogenya.


Adel menurut saja saat Kevin menarik tangan untuk memeluk pinggangnya. Kevin tersenyum bahagia. Cintanya selama ini terpendam akhirnya tercurah jua.


.


.


.


.


.


.


.


Lanjut lagi bacanya ya readersku sayang.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.


Like, komen dan votenya di tunggu ya.


Mampir juga ya ke karyaku lainnya:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2