
Kediaman Purnama Wijaya
"Pa Ma Jimmy berangkat dulu ya", kata Jimmy seraya mencium tangan kedua orang tuanya.
"Jangan terlalu capek, ingat", pesan sang mama.
"Siap komandan", kata Jimmy sambil mengangkat tangannya di sisi kepalanya lagaknya seorang tentara.
Sang mama tersenyum senang melihat kelakuan Jimmy.
"Anak kita ganteng ya Pa, kapan ya Jimmy membawa gadis untuk di jadikan isterinya", kata mamanya Jimmy setelah Jimmy hilang dari hadapan mereka.
"Anak Papa ya pasti ganteng, papanya aja ganteng. Soal isteri, biarkan dulu Jimmy menikmat kesendiriannya", jawab sang papa.
"Pa Jimmy itu sudah hampr 30 lho, Papa lihat saja wanita-wanita cantik banyak di sekalilingnya, masa tak satu pun dia tertarik", kata sang mama.
"Ma cari isteri itu bukan seperti beli kacang goreng, buka bungkus lalu di nikmati, butuh proses, yang pasti harus ada ikatan cinta biar mesranya terasa, seperti kita dulu. Papa dan mama kan bertemunya di rumah teman mama juga, gak langsung nikah juga kan. Saling tertarik dulu, seperti mama yang tertarik dengan wajah tampan papa, iya kan??",goda Purnama pada isterinya.
"Pede amat sih", kata mamanya beranjak mau masuk ke kamarnya.
Purnama langsung merangkul pinggang isterinya dengan cepat.
"Papa apaan sih?",kata mamanya Jimmy.
"Sudah jangan berisik", kata Purnama membawa isterinya masuk ke kamar dan mengunci pintunya.
"Papa", kata mamanya Jimmy berusaha menghindar dari kejahilan suaminya.
"Ma ayolah", kata Purnama menangkap kembali tubuh isterinya.
"Papa iih", mama Jimmy menggeliat saat Purnama mencium tengkuknya.
Purnama membawa sang isteri ketempat tidur. Terjadilah pergumulan di pagi ini.
*****
Nina masuk ke dalam ruangannya. Membuka catatannya untuk hari ini. Nina mengurus berkas-berkas yang akan di berikannya pada Jimmy.
Nina mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Pasti pak bos pikirnya.
"Eeh kak Marsel ternyata",batin Nina setelah Marsel dekat padanya
"Nin, nanti aku minta file yang kemarin ya, mau di cek ulang", kata Marsel.
"Baik pak akan saya siapkan", kata Nina.
"Saya tunggu di ruangan saya ya, gak pakai lama", kata Marsel.
"Baik pak", kata Nina.
Marsel meninggalkan Nina dan menuju ruangannya. Nina membuka laptopnya dan menyiapkan berkas-berkas yang di butuhkan Marsel. Nina keluar ruangan dengan membawa berkas di tangannya. Nina memutar tubuhnya dengan cepat ke arah belokan menuju ruangan Marsel. Nina kurang hati-hati hingga sepatu high heelsnya meletot ke samping. Di saat bersamaan Jimmy datang dan menopang tubuh Nina yang limbung.
"Aauuuwww", jerit Nina.
Dalam sekejap tubuh Nina sudah berada dalam dekapan Jimmy. Mata keduanya bertemu.
__ADS_1
Deg..
Jantung Jimmy serasa berhenti berdenyut. Mata Nina yang bulat membuatnya terpana. Nina pun merasakan hal yang sama. Tiba-tiba Nina merasakan panas di mukanya. Wajahnya merona merah. Tubuhnya yang berada dalam dekapan Jimmy telah membuatnya merasa malu. Nina tersadar. Nina cepat melepaskan tubuhnya dari dekapan Jimmy.
"M m maaf", kata Jimmy terbata.
"Terima kasih pak eh kak", kata Nina sambil memunguti berkas yang berserakan di lantai.
"Kaki kamu gak kenapa-kenapa kan?", kata Jimmy.
"Sakit dikit, tapi gak papa, aku antar ini dulu ke pak Marsel", kata Nina sambil berjalan dengan kaki agak di jinjit karena menahan sakit.
Nina menuju ruangan Marsel. Jimmy menuju ruangannya. Tak lama Nina kembali ke ruangannya.
"Kenapa bisa kepletot sih ni sepatu, sakit banget", gumam Nina sambil membuka sepatunya dan memijit kakinya yang sakit.
Tanpa di sadari Nina, Jimmy sudah berada di hadapannya.
"Ini ada freshcare, usapkan pada tempat yang sakit biar agak enakan", kata Jimmy seraya menyodorkan botol minyak tersebut pada Nina.
Nina mengambilnya. Nina berusaha memoleskan minyak tersebut pada tempat yang sakit tapi karena dia duduk di kursi dengan memakai rok jadi Nina agak kesulitan bergerak tidak leluasa.
"Sini biar ku bantu", kata Jimmy.
Jimmy mengambil minyak tersebut dari tangan Nina dan memoleskannya di tempat kaki Nina yang sakit. Jimmy menelan ludahnya melihat mulusnya kaki Nina. Jimmy sejenak terpana. Jimmy cepat menepis pikirannya yang sedikit nyeleneh. Jimmy mengurut kaki Nina yang sakit.
"Aauuww pelan kak sakit", kata Nina tanpa sadar tangan Nina memegang bahu Jimmy.
Deg...
"Iya ini pelan koq", kata Jimmy seraya menghela nafasnya.
"Bagaimana rasanya, sudah enakan?", tanya Jimmy.
Nina mengangguk dan melepaskan tangannya dari bahu Jimmy.
"Maaf kak merepotkan", kata Nina.
"Gak papa lain kali hati-hati", kata Jimmy meninggalkan Nina dan kembali ke ruangannya.
Jimmy menghempaskan pantatnya di kursi empuknya. Jimmy menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan melalui mulutnya.
"Ada apa denganku?rasa apa ini? jantungku berpacu sangat cepat", gumam Jimmy.
Jimmy menetralkan nafas dan aliran darahnya. Berkali-kali Jimmy menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Jimmy tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi. Dimana tatapan mereka beradu pandang. Ada kehangatan di sana.
Sementara itu Nina masih mengurut pelan kakinya. Nina menaikkan sebelah kakinya di atas paha kaki satunya.
"Malu-maluin aja sih kamu Nin, kak Jimmy sampai rela mijitin kaki kamu", kata Nina dalam hati.
Nina tersenyum ingat kejadian tadi. Di mana dengan sigap Jimmy menangkap tubuhnya dan mendekapnya. Nina menutup wajahnya sendiri.
"Aahh malu tahu Nin", gumam Nina.
"Kenapa juga sih sepatunya bisa gitu?jadi malu aku sama kak Jimmy", gumam Nina lagi.
__ADS_1
Nina mengelus kakinya yang masih terasa sakit. Di berinya lagi minyak yang tadi di kasih oleh Jimmy pada kakinya yang sakit. Dengan lembut Nina mengurut bagian kakinya yang terasa sakit.
"Kamu sih tidak hati-hati, begini kan akibatnya", gumam Nina lagi.
Nina terus mengurut kakinya. Tanpa ia sadari seseorang telah tegak di depannya sedari tadi.
"Sepatu sialan, lihat aja umurmu tak akan panjang, tunggu sampai besok", Nina jengkel.
Karena saking kesalnya Nina tak sengaja mengurut kakinya kuat.
"Auuww", jerit Nina. Nina memejamkan matanya menahan sakit.
"Makanya lain kali hati-hati, jangan gegabah",katanya pada Nina.
Nina kaget dan cepat memperbaiki posisi duduknya.
"Tak usah sungkan, biasa aja", katanya lagi.
"Sejak kapan berdiri di situ?", tanya Nina penasaran.
"Udah sejak tadi", katanya ringan.
"Haahh, jadi ...", kata Nina tambah kaget.
Mata Nina membulat sempurna. Justru itu menambah daya tariknya.
"Kenapa kaget?gak apa-apa aku sudah dengar semuanya", katanya santai.
"Astaga, kenapa diam-diam datang kemari?kan bisa menyapa atau gimana gitu", kata Nina.
"Aku kan jadi malu", kata Nina lagi.
"Lho kenapa?", tanyanya.
"Lah iya gara-gara sepatu sialan tuh, kakiku keseleo",
"Kamu yang salah kenapa sepatu yang jadi di salahin",katanya.
"Heelsnya yang membuat aku gini, besok umurnya tak akan lama", kata Nina menggerutu.
"Kenapa nunggu besok, sekarang aja bisa di buang, sini biar aku bantu",katanya seraya mengambil sepatu Nina dan membuangnya di keranjang sampah di samping meja Nina.
"Apa?terus aku ngantor pakai apa?", tanya Nina.
"Ini", katanya menyodorkan sandal jepit pada Nina.
"Hhaahh", kata Nina tak percaya.
@@@@
Jangan lupa vote, komen dan likenya ya...
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1