
Hari sudah larut malam. Orang-orang sudah terlelap dalam mimpi masing-masing. Tak terkecuali Nina dan Jimmy. Cuaca dingin menambah nyenyaknya tidur.
Hari sudah menjelang pagi. Dengan agak malas Nina bangun dari tidurnya. Tak sengaja tangan Nina menyentuh kulit tangan Jimmy.
"Panas, demam kali ya atau karena AC gak di hidupkan", batin Nina.
Nina menyentuh dahi Jimmy dengan punggung tangannya. Terdengar erangan Jimmy. Seperti menggigil.
"Dia demam", batin Nina.
Nina menyelimuti tubuh Jimmy. Nina memijat tubuh Jimmy sebisanya. Jimmy membuka matanya.
"Abang demam, kemarin abang kena hujan ya?", tanya Nina.
Jimmy menggelengkan kepalanya.
"Mungkin abang cuma kecapekan", jawab Jimmy.
"Mau di kerokin gak?", tanya Nina.
"Gak usah, gak terbiasa di kerok", jawab Jimmy.
"Oh ya sudah. Coba abang telungkup biar belakang abang di kasih minyak dulu", kata Nina.
"Jangan yang panas ya. Minyak kayu putih aja", pinta Jimmy.
Nina menuruti kemauan Jimmy. Nina memoles minyak di belakang Jimmy dan Nina mulai memijat tubuh Jimmy bagian belakang. Jimmy yang memang tubuhnya merasa letih, ketika mendapat pijatan dari Nina terasa enak dan membuat Jimmy kembali memejamkan matanya.
Nina melihat wajah Jimmy. Di lihatnya mata Jimmy sudah tertutup rapat.
"Tidur lagi ternyata. Biarkan sajalah dia butuh istirahat", batin Nina.
Nina turun dari tempat tidurnya. Seperti biasa Nina menjalankan ibadahnya terlebih dahulu. Kemudian menuju dapur. Walau sudah ada mbak Yuni, Nina tetap bangun pagi.
"Mbak Yuni masak apa?", tanya Nina setelah tiba di dapur.
"Burjo Nya", jawab mbak Yuni.
"Ohh, nanti ayamnya di semur aja ya. Sepertinya Bang Jimmy demam, nanti mau minum obat tapi harus makan dulu", ujar Nina.
"Baik Nya", jawab mbak Yuni.
Nina kembali ke kamar. Di lihatnya Jimmy tidur meringkuk. Nina duduk di tepi tempat tidur. Di pandanginya wajah Jimmy.
"Sebaiknya hari ini dia libur saja gak usah masuk kantor", batin Nina.
Nina bangun dari tempat duduknya. Nina mengambil ponselnya. Ia menghubungi Dina karyawannya kalau hari ini Nina tidak bisa ke toko.
"Din, hari ini ibu gak ke toko ya. Kamu handle semuanya. Doni sama Desi bisa bantuin kamu. Suami ibu lagi demam jadi gak bisa masuk", ucap Nina.
"Baik Bu. Nanti kalau ada apa-apa saya akan telepon ibu", ucap Dina.
"Tutupnya jangan terlalu malam, kalau memang sepi sore tutup gak papa", kata Nina lagi.
"Baik Bu ", sahut Dina.
Obrolan pun berakhir. Nina sangat mempercayai Dina. Selain jujur, Dina juga baik dan sedikit polos. Dia terampil dan juga sangat cekatan.
__ADS_1
Nina sarapan tanpa suaminya Jimmy. Jimmy terbaring di kasur. Dia tidur sangat nyenyak. Sejenak dia melupakan urusan duniawinya.
Sementara itu Prili masih bermalas-malasan di tempat tidur. Semakin besar perutnya semakin perasaan malas menderanya. Tapi bila waktu tiba Jimmy akan datang, Prili selalu siap sedia.
"Nanti aja bangunnya. Jimmy juga datangnya siang terkadang sore juga baru datang", batin Prili.
Prili menarik selimutnya kembali. Tapi tiba-tiba sang mama masuk ke dalam kamarnya.
"Prili, bangun sayang udah siang ini. Pamali lho orang hamil bangun siang. Ayo bangun", kata sang mama membuang selimut dari tubuh Prili.
"Duh mama masih ngantuk Ma, lagian ini masih pagi baru juga jam tujuh juga",kata Prili manja.
"Kamu itu hamil lho, gak boleh malas. Harus banyak gerak",ucap mama Hanny.
"Iya nanti juga pasti bangun Ma", kata Prili masih dengan memeluk gulingnya.
"Eehh ni anak di bilangin juga masih gak nurut, kalau kamu banyak gerak waktu lahiran nanti lebih mudah. Kalau kamu malas yang di dalam juga turut malas. Ayo bangun ", kata sang mama.
"Iya iya", kata Prili bermalas-malasan.
Melihat Prili sudah bangun, sang mama pun akhirnya keluar dari kamar Prili. Prili bangun seraya mengelus perutnya.
"Masih enak tidur ini Ma", gerutu Prili.
Prili keluar dari kamarnya dan menuju meja makan. Prili melihat banyak makanan di situ.
"Gak ada yang selera", gumam Prili.
Prili masuk ke kamarnya kembali dan menuju kamar mandi. Prili melakukan ritual mandinya. Tak lama Prili berada di sana. Setelah selesai Prili mengganti pakaiannya dan memakai make up seadanya.
"Mau kemana udah cantik gitu?", tanya sang mama.
"Pa Ma Prili pergi dulu ya. Cari makan di luar aja", kata Prili tak mengindahkan pertanyaan sang mama.
"Laahh ini kan banyak", kata sang mama menunjuk makanan di atas meja.
"Gak selera Ma", kata Prili.
"Da Pa Ma", kata Prili melambaikan tangannya pada papa dan mamanya. Lalu pergi.
Papa dan mamanya cuma bisa saling pandang.
"Punya anak satu seperti ngurus anak sepuluh", gumam Wibowo.
"Papa juga dulunya suka manjain dia, sekarang dia berbuat semaunya dia", kata Hanny pada Wibowo suaminya.
"Sebenarnya bukan manjain sih Ma, cuma pengen anak kita bisa menikmati apa yang kita punya", dalih Wibowo.
"Iya tapi kan gak semua kemauannya di turuti. Sekarang malah ribet sendiri", ujar Hanny.
"Yang didik dia kan banyak mama di rumah sedangkan waktu papa banyak di luar. Seandainya papa memberikan apa yang di maunya, itu karena papa pengen anak kita bahagia. Tak ada maksud untuk membuat dia seperti sekarang ini. Tapi sudahlah, sekarang dia sudah dewasa. Dia bisa menentukan mana yang baik mana yang tidak. Apalagi sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu. Dia pasti bisa berpikir mana yang pantas mana yang tidak. Jadi kita arahkan saja. Jimmy juga sebagai suami pasti mendidik dia kan!?", kata Wibowo panjang lebar.
"Semoga", kata Hanny singkat.
Hanny menikmati sarapannya. Wibowo juga melanjutkan makannya. Tak ada lagi cerita. Keduanya khusyuk dengan makanan masing-masing.
Sementara itu Prili pergi ke sebuah warung penjual gado-gado. Dengan santai Prili masuk ke warung tersebut.
__ADS_1
"Bu pesan gado-gadonya ya dua porsi yang pedas ya Bu", kata Prili.
"Tapi nunggu ya Non, sayurnya baru selesai di iris", kata penjual gado-gado.
"Iya gak papalah", kata Prili.
"Silakan duduk Non", kata penjual gado-gado.
Prili duduk di kursi yang ada di warung tersebut. Hampir setengah jam Prili menunggu pesanannya. Setelah selesai Prili langsung menuju kantor Jimmy.
"Pak Jimmy mana?", tanya Prili pada Marsya.
"Maaf Bu bapak belum datang", kata Marsya sopan.
"Iya sudah aku tunggu di ruangannya aja", kata Prili.
Prili dengan langkah gontai masuk ke dalam ruangan Jimmy. Marsya mengurut dadanya.
Prili merasa perutnya sudah mulai lapar tapi yang di tunggu belum juga menampakkan diri.
"Kemana sih tuh orang?yaah sudahlah aku makan saja dulu. Sepertinya yang di dalam juga sudah gak sabar", gumam Prili.
Prili membuka gado-gado tersebut. Ia mulai memakannya. Selesai memakan satu porsi tapi Jimmy belum juga datang. Prili mengambil ponselnya dan menelpon Jimmy.
"Gak aktif. Kemana tuh orang ya?", gumam Prili.
Perut Prili masih terasa lapar. Masih minta di isi.
"Masih lapar ya sayang atau kamu suka gado-gadonya. Enak ya gado-gadonya?!", gumam Prili seraya mengelus perutnya.
Prili membuka lagi gado-gado yang satunya. Ia kembali melahap gado-gado tersebut. Gado-gado yang seharusnya di peruntukkan buat Jimmy suaminya itu, kini masuk semua ke dalam perutnya.
"Biarin aja lah, yang di tunggu juga belum datang-datang", batin Prili sambil melahap gado-gado tersebut sampai tuntas.
"Ini yang di namakan makan besar, dua porsi masuk semua ke perut. Kenyang..", gumam Prili.
Prili kembali mencoba menghubungi Jimmy kembali tapi tetap ponsel Jimmy tidak bisa di hubungi.
"Apa aku ke rumahnya aja ya?tapi gimana kalau dianya gak ada di rumah?yang ada malah ribut dengan Nina nantinya. Pulang aja deh, nanti dia juga akan ke rumah", gumam Prili.
Prili membuang sampah dan meninggalkan ruangan Jimmy. Pulang.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readersku.
Jangan lupa like, komen dan votenya juga ya.
Mampir juga ke karyaku lainnya ya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1