
"Mbak",
Serr...
Jantung Nina seakan berhenti berdenyut. Nina kaget karena Adel sudah berada di hadapannya.
"Kamu tuh ya seperti hantu saja, kapan-kapan sudah ada di sini, eehh kalau mau ngageti itu kasih tahu dulu biar mbak nggak kaget. Kalau mbak jantungan gimana?", kata Nina seraya menjentikkan telunjuknya di dahi Adel.
"Kalau ngasih tahu itu sih bukan ngagetin mbak, itu namanya berbisik. Lagian cuma gitu doang udah kaget aja. Periksa tuh jantung mbak", kata Adel.
"Iih nih anak koq jadi cerewet gini ya sekarang", kata Nina.
"Heheee iya nggak lah mbakku sayang, aku sayang koq sama mbak, eehh ngomong-ngomong siapa sih itu tadi?teman mbak ya?", tanya Adel sambil memeluk tangan mbaknya.
Nina mengajak Adel duduk di sofa.
"Duduk", kata Nina pada Adel.
"Koq jadi serius gini sih", kata Adel tak mengerti.
Adel duduk sesuai perintah Nina. Nina duduk di samping Adel.
"Itu tadi isteri Ferdy, dia..", belum selesai Nina ngomong sudah di potong Adel.
"Oohh dia cemburu gitu sama mbak?",celetuk Adel sekenanya.
"Cuma salah paham gara-gara si Ferdy masih menyimpan foto mbak di dalam dompetnya", kata Nina.
"Gila tuh orang ya, sudah punya isteri masih menyimpan foto wanita lain di dalam dompetnya", kata Adel geram.
"Resti orangnya baik tapi Ferdy tak melihat itu, kamu harus hati-hati ya karena waktu itu Ferdy pernah ke sini, kamu sudah pergi ke sekolah waktu itu. Kamu mau tahu apa yang di katakan Ferdy saat mbak menolak balikan sama dia?yang di ucapkannya adalah kalau tidak dapat mbaknya adiknya pun tak apa", jelas Nina.
"Gila tuh orang, siapa juga mau sama dia, edan", panas hati Adel mendengar kata terakhir mbaknya.
"Makanya kamu harus hati-hati, karena yang ku lihat sekarang Ferdy bukan lagi cinta sama mbak tapi dendam, dendam karena mbak sudah menolak balikan sama dia", kata Nina pada Adel.
"Kasihan juga ya mbak sama isterinya kalau kak Ferdy sikapnya seperti itu", kata Adel.
"Biarlah waktu yang akan mengubahnya, yang penting jauhi kalau kamu melihat dia, mbak takut kamu di apa-apain sama dia, dia orangnya suka nekad", jelas Nina
"Iya mbak akan ku ingat",kata Adel.
__ADS_1
"Mbak ke kamar dulu ya mau mandi, gerah rasanya",kata Nina pada Adel.
"Iya mbak", kata Adel.
Nina menuju kamarnya. Dan Adel mengambil ponselnya segera melanjutkan game nya yang tertunda.
*****
"Dari mana saja kamu?suami pulang bukannya di rumah malah kelayapan", bentak Ferdy pada Resti.
"Anu mas tadi dari rumah teman, bosan di rumah terus",elak Resti.
"Gak lama koq mas cuma bentar, tadi lama karena dia belum pulang kerja jadi nunggu dia balik kerja dulu", kata Resti berusaha jujur.
"Kamu tuh ya, sudah enakan di suruh di rumah malah kelayapan, jaga tuh perutnya, di situ ada anak aku",kata Ferdy sambil berlalu dari hadapan Resti.
"Manusia aneh, bentar baik, bentar marah, bentar tak peduli tapi aku tetap cinta kamu mas", batin Resti sambil mengelus perutnya.
"Res aku laper, masakin mie instan aja dulu ya, aku mau mandi dulu", kata Ferdy berteriak dari kejauhan.
Resti tak menjawab tapi perintah Ferdy tetap di laksanakannya. Resti menuju dapur. Dia mengambil satu bungkus mie kuah instan dan memasaknya untuk Ferdy sang suami.
Resti mengambil mangkok dan menuangkan mie yang tadi di masaknya ke dalam mangkuk tersebut dan memberikannya bumbu.
Resti meletakan mie tersebut di ruang tengah beserta teh manisnya. Ferdy keluar dari kamar mandi dan mengganti handuknya dengan celana pendek dan baju kaos tipis. Kemudian Ferdy keluar dari kamar menuju ruang tengah. Dia mendekati mie yang sudah di siapkan oleh Resti isterinya.
Ferdy melahap mie tersebut sampai tuntas. Resti hanya memandangi suaminya yang asik makan.
"Mas, boleh aku tanya sesuatu?", kata Resti setelah Ferdy menyelesaikan makan mie nya.
"Pake nanya segala lagi, tanya langsung aja kenapa", kata Ferdy sambil membersihkan bibirnya memakai tissue.
"Tapi kamu jangan marah ya?", tanya Resti.
"Nanya aja pake ribet", kata Ferdy tanpa menoleh kepada Nina.
"Apa mas masih mencintai mantan mas itu?",tanya Resti sangat hati-hati.
"Kenapa kamu tanya itu?", kata Ferdy dengan tatapan tajam ke Resti.
"Karena aku lihat kamu mulai berubah akhir-akhir ini", kata Resti sambil memainkan jari-jari tangannya.
__ADS_1
"Kamu tak usah memancing masalah Resti, sampai sekarang aku masih bersama kamu, kenapa berpikiran yang tidak-tidak, pikiran kamu sudah gak waras rupanya. Sudahlah aku malas membahas yang tak penting, moodku rusak gara-gara kamu yang cemburu gak jelas begini",suara Ferdy meninggi. Ferdy meninggalkan Resti sendiri. Ferdy masuk ke dalam kamar. Sedang Resti masih duduk di sofanya. Air mata Resti mengalir tanpa bisa di bendungnya. Hatinya terasa amat sakit.
Resti mengelus perutnya yang sudah membesar itu. Resti tambah sesunggukan. Air mata tambah deras mengalir.
"Ya allah nasibmu nak, kamu harus kuat ya, semoga ayahmu menyadari kesalahannya", gumam Resti sambil terus mengelus perutnya berusaha menenangkan bayi yang ada dalam perutnya yang bergerak-gerak terus.
Resti menghapus air matanya. Dia membersihkan bekas Ferdy makan dan mencucinya. Resti menyibukkan dirinya dengan bersih-bersih rumah. Dia ingin beban pikirannya berkurang dengan adanya kegiatan.
Resti berharap Ferdy akan berubah. Melupakan masa lalunya dan menjadi miliknya secara utuh tanpa di bayang-bayangi masa lalunya.
Setelah selesai Resti menuju kamarnya. Di lihatnya Ferdy sudah tertidur pulas.
"Kebiasaan banget hampir magrib bukannya mau sholat tapi malah tidur",batin Resti.
Resti mengambil handuknya dan segera menuju kamar mandinya. Resti segera melakukan ritual mandinya. Terasa adem. Resti membasahi kepalanya. Dia ingin otak di kepalanya mendingin tidak panas lagi.
Setelah selesai mandi Resti membangunkan Ferdy.
"Mas magrib bangun", kata Resti seraya menggoyangkan bahu Ferdy.
"Gak usah ganggu, aku masih ngantuk", jawab Ferdy sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Resti.
Resti menghela nafasnya. Resti berpakaian lengkap ala ibu hamil dan menyisir rambutnya. Di pandanginya wajahnya di cermin.
"Apa aku tak menarik lagi di mata suamiku sehingga dia ingin kembali ke masa lalunya?", batin Resti.
Resti menghela nafasnya yang terasa sangat berat menghimpit dadanya.
"berubahlah demi anak kita suamiku", batin Resti sambil memandang ke arah Ferdy yang tidur dengan pulasnya.
.
.
.
Bantu like, komen dan votenya juga ya readers...
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1