
Jimmy mengangkat tubuh Prili. Prili tidak mau melewatkan kesempatan itu. Di tariknya tangan Jimmy sehingga Jimmy jatuh menindih tubuhnya. Prili cepat melingkarkan kedua tangannya di leher Jimmy. Mata keduanya saling tatap. Darah Jimmy berdesir saat buah kenyal Prili yang lumayan besar menempel di dadanya. Sejenak Jimmy terpana. Namun beberapa detik kemudian dia tersadar. Jimmy ingin melepaskan diri. Tapi kaki Prili sudah melingkari pinggangnya.
"Jangan menolakku suamiku, aku sangat merindukanmu", kata Prili lirih.
Sebagai laki-laki normal, Jimmy merasakan desiran-desiran aneh di tubuhnya. Jimmy terbuai oleh bisikan-bisikan cinta yang di ucapkan Prili di telinga Jimmy. Prili memberikan sensasi di tubuhnya Jimmy. Gerakan-gerakan Prili yang bergesekan dengan tubuhnya perlahan membangkitkan gairah kelelakiannya.
Jimmy memejamkan matanya menahan gejolak yang melanda tubuhnya. Prili sekarang lebih berani. Prili membalikkan tubuh Jimmy sehingga mereka berubah posisi. Jimmy sekarang berada di bawah sedangkan Prili sekarang berada di atas tubuh Jimmy.
"Jangan di tahan nanti bikin pusing", bisik Prili di telinga Jimmy.
Prili lebih agresif. Tangannya sudah berpindah ke sela kaki Jimmy. Jimmy kaget.
"Tidak usah kaget gitu, aku kan udah jadi isteri kamu, ayolah jangan seperti itu", bujuk Prili.
Prili kembali beraksi. Jimmy melenguh. Jimmy akhirnya tak kuasa menolak. Sentuhan-sentuhan yang di lakukan Prili membuatnya luluh. Prili tak tanggung-tanggung. Jimmy menggelepar. Prili memanjakannya.
Jimmy tidak ingin Prili bermain sendiri. Jimmy membalas setiap serangan yang di lakukan Prili. Keduanya saling memagut, saling *******, saling serang. Keduanya bak singa kelaparan. Saling terkam. Saling hisap.
Pergulatan panjang tak mampu menghentikan keduanya. Jimmy menyerang Prili dengan jurus terakhirnya. Jeritan kecil lolos dari mulut mungil Prili. Jimmy berpacu bak kuda liar. Jimmy semakin mempercepat pacuannya. Prili menikmati gerakan-gerakan yang di ciptakan Jimmy. Mulut Prili meroceh tak jelas. Jimmy mengunci mulut Prili dengan mulutnya. Sambil berpacu Jimmy tak luput menggerakkan bibir dan tangannya. Prili bak cacing kepanasan. Tubuhnya mengikuti hentakan yang diciptakan Jimmy. Tubuh Prili meliuk-liuk. Jimmy semakin bersemangat.
Keringat sudah membanjiri tubuh keduanya. Jimmy belum terlihat lelah. Prili tak mau kalah. Prili mengimbangi hentakan dan gerakan yang Jimmy berikan.
Prili bukan tipe yang mau diam saja. Dia mengambil alih posisi. Bak kuda betina yang liar, Prili menggoyangkan tubuhnya di atas tubuh Jimmy. Jimmy membantu Prili untuk mempercepat gerakannya. Mereka benar-benar menikmati permainan mereka.
Tiba akhirnya Jimmy tak tahan lagi menahan gejolak laharnya. Jimmy mengubah posisi menindih Prili. Gerakan Jimmy semakin dahsyat. Semakin menekan. Dan akhirnya keduanya berpelukan erat. Merasakan kenikmatan yang tiada taranya.
Keduanya terkulai setelah bertempur cukup panjang dan melelahkan.
"Akhirnya aku merasakan ketulusan cintamu suamiku", kata Prili sambil mengelus pipi Jimmy.
Jimmy hanya tersenyum.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi antara aku dan Nina", jawab Jimmy sambil pandangannya jauh ke atas melihat plafon berwarna putih tersebut.
"Jangan sebut dia saat kamu bersamaku", ketus Prili.
Jimmy memejamkan matanya. Dia tak menggubris ucapan Prili. Tulang-tulangnya terasa mau lepas semua dari engselnya. Pertarungan yang maha dahsyat. Jimmy terlihat sangat letih. Jimmy akhirnya tertidur dengan pulasnya.
Siang itu jadi saksi bisu pertarungan sengit kedua insan yang lagi haus **** tersebut. Jimmy yang sudah lama tidak menyentuh isterinya Nina, sementara Prili sudah lama tak menikmati indahnya cinta Jimmy. Pergulatan yang tercipta bukan karena cinta tapi karena kebutuhan semata.
Perkawinan yang di lakukan telah mengikat keduanya. Walau cinta belum tumbuh di hati Jimmy untuk Prili. Tapi mau tidak mau, suka tidak suka kini Prili sudah menjadi isterinya, sudah menjadi bagian hidupnya.
Prili tersenyum penuh kemenangan. Prili membenahi tempat tidurnya yang berantakan akibat pergulatan yang mereka lakukan. Prili membiarkan Jimmy yang sedang tertidur. Prili menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Prili menuju meja makan. Di sana hanya ada pembantunya yang lagi beres-beres di meja makan.
"Mama sama papa mana bik?", tanya Prili pada asisten rumah tangganya.
__ADS_1
"Di ruang tamu Non sama mertua Non", kata sang asisten.
"Oh ya sudah, aku makan dulu aja", kata Prili yang merasa lapar sekali.
Prili menikmati makannya dengan lahap. Seolah-olah sudah tiga hari tidak makan. Sang asisten hanya senyum-senyum melihat cara Prili makan.
"Koq bibik senyum-senyum gitu?", tanya Prili di sela makannya.
"Bibi jadi ingat waktu jadi pengantin baru dulu, bawaannya laper kalau udah...", kata sang asisten tak meneruskan kalimatnya.
"Kalau udah apa?", tanya Prili tanpa melihat muka sang asisten.
"Iihh si Non pura-pura gak ngerti aja", kata sang bibi sambil senyum malu-malu.
"Udah ahh entar aku keselek nih makannya", ujar Prili pada sang asisten.
"😁😁iya Non maaf", kata sang bibi sambil berlalu.
Prili makan dengan nikmatnya. Setelah merasa cukup Prili akhirnya menyudahi ritual makannya.
Prili menuju ruang tamu. Di lihatnya cuma ada mamanya di sana.
"Om Purnama dan tante Liananya mana ma?" tanya Prili.
"Om tante, mereka itu sudah menjadi mertua kamu, panggil seperti Jimmy memanggil kedua orang di tuanya", kata Hanny sang mama.
"Mereka sama papa kemana Ma?", tanya Prili.
"Mereka sudah pulang, papa kamu sudah kembali ke kantor", kata sang mama.
"Oohh", kata Prili singkat.
"Kamu juga gak lihat situasi, main serobot aja", ledek sang mama.
"Iih mama kayak gak pernah muda aja", jawab Prili dengan wajah memerah menahan malu.
"Jimmy kamu kemanain?", tanya Hanny sang mama.
"Ada di kamar, tidur", kata Prili santai seraya menghenyakkan pantatnya di sofa yang empuk tersebut.
"Mainnya jangan terlalu ganas, kamu lagi hamil muda, masih rentan", kata Hanny lagi tanpa basa-basi.
"Gak koq ma", kata Prili berdalih.
"Nggak gimana, leher penuh tanda gitu", kata Hanny mengingatkan Prili.
Prili baru tersadar. Dengan wajah bersemu merah, Prili lari menuju kamarnya. Sang mama hanya geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Prili melihat wajahnya di cermin. Di lihatnya lehernya banyak tanda di tinggalkan Jimmy di sana.
"Iihh jahat banget si nih orang bikin tanda segala, eehh tapi gak papalah berarti dia suka dengan permainanku", gumam Prili di depan cermin.
Prili menuju tempat tidurnya. Jimmy masih tertidur dengan pulasnya. Seperti ular yang sudah makan besar.
Prili merebahkan tubuhnya di samping Jimmy yang kini sudah menjadi suaminya. Pelan sekali Prili melakukan gerakannya. Dia tidak mau mengganggu tidurnya Jimmy.
Jimmy menggeliat. Tangannya menyentuh sesuatu. Jimmy membuka matanya. Dia baru tersadar kalau salah satu tangannya sudah berada di atas dadanya Prili. Jimmy menarik kembali tangannya.
Prili memberikan senyuman termanisnya.
"Capek ya?", tanya Prili.
"Lumayan", kata Jimmy seraya menghadap ke arah Prili.
"Aku akan berusaha memberikan yang terbaik buat kamu", kata Prili sambil mengelus pipi Jimmy.
"Boleh aku minta sesuatu?", tanya Jimmy.
"Jangan bilang kalau kamu mau lagi", kata Prili sambil merapatkan tubuhnya ke Jimmy.
"Aku laper nih", kata Jimmy.
"Kirain", kata Prili seraya bangun dari tempat tidurnya.
"Ya udah mandi sana, aku akan siapin makannya dulu. Nanti kalau udah selesai langsung ke meja makan aja ya", kata Prili.
Jimmy hanya mengangguk seraya memandang pinggul Prili yang meliuk-liuk saat berjalan.
Jimmy tersenyum sendiri. Jimmy menuju kamar mandi dan membersihkan diri di sana. Selagi di kamar mandi ponsel Jimmy berbunyi. Nina menelponnya.
Jimmy tak mendengar karena bunyi air shower yang bergemericik.
.
.
.
.
Jangan lupa bantu like, komen dan votenya juga ya readers sayang...
Jangan lupa mampir juga ke karyaku lainnya ya ...
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1