
"Kamu sudah seperti saudara bagiku, aku tidak mau hubungan kamu dan kedua orang tuamu rusak gara-gara seorang perempuan, ingat kita seperti ini karena ada orang tua yang sangat menyayangi kita. Mereka marah karena mereka sayang, mereka ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, bersikaplah terbuka. Mungkin mereka akan lebih mengerti", kata Marsel memberi nasehat untuk Jimmy.
Jimmy terdiam. Jari-jari memainkan pena yang masih di pegangnya. Marsel cukup mengerti kalau Jimmy menyimpan suatu rahasia besar.
"Apa kamu tidak percaya padaku?", kata Marsel lagi.
Jimmy menghela nafasnya.
"Sebenarnya Nina sudah ku nikahi, kemarin nikahnya", kata Jimmy pelan.
"What?", kata Marsel terkejut seakan tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.
"Iya bro aku tak mau kehilangan dia, aku pikir dengan menikahinya mama dan papa akan merestui kami, itu caraku untuk mengambil hati mereka", jelas Jimmy tenang.
"Ini bisa kacau urusan, ku pikir kamu akan melarikan Nina ehh tahunya udah nikah, main caplok aja lu", kata Marsel meledek Jimmy.
"Semua demi cinta, kami nikah dengan restu ibunya, ibunya hadir saat pernikahan itu, aku lakukan ini agar mama dan papa tahu bahwa aku bisa menentukan jalan hidupku sendiri", dalih Jimmy.
"Sebaiknya kamu bilang aja ke orang tuamu kalau kalian udah nikah, kamu diam sekarang nantinya akan ketahuan juga, trus kasihan si Nina nya kan, dia juga berhak mendapat pengakuan dari orang tua kamu sebagai menantu", Marsel dengan panjang lebar.
"Nanti sore aku akan bilang ke mereka, biar Prili tak ganggu hidupku lagi", kata Jimmy tegas.
"Gitu dong, eehh ngomong-ngomong udah MP belum?jadi penasaran", goda Marsel.
"Itu sih gak usah di tanya", jawab Jimmy enteng.
"Wiihh ekstra cepat dong, jadi pengen nikah juga", kata Marsel sambil tertawa.
"Sono ajak cepat nikah noh cewek elu, entar karatan lho, nyesel loh lambat nikah", goda Jimmy.
"Mentang-mentang sudah MP lu, iya udah aku balik ke ruanganku dulu nanti ada yang nyari, tadi Nina ingin masuk sini tapi aku langsung masuk duluan, sepertinya dia wanita yang pengertian, jaga dia bro, bikinin dia banyak anak", kata Marsel sambil terkekeh.
"Pasti, aku pengen banyak anak soalnya mama cuma punya dua anak", ucap Jimmy.
"Ganas juga elu", kata Marsel sambil berlalu.
Keduanya tertawa. Marsel keluar dari ruangan Jimmy dan menuju meja Nina.
"Hmmm gimana?", kata Marsel menggoda Nina.
"Apanya?", jawab Nina tak mengerti.
"Aku sudah tahu semuanya, gak usah main rahasia-rahasiaan denganku", kata Marsel.
"Semua di luar rencana, tapi ya gitulah ceritanya", kata Nina dalam.
__ADS_1
"Selamat ya, siapkan stamina suamimu pengen punya anak banyak", kata Marsel sambil tertawa lepas.
Nina melongo. Marsel pergi dari hadapan Nina. Suara tawanya masih terdengar. Telepon di meja Nina berdering. Itu panggilan dari Jimmy. Nina mengangkatnya.
"Ke ruanganku", kata suara Jimmy terdengar di telinga Nina.
Nina menutup teleponnya dan membawa berkas yang tadi urung di bawanya saat Marsel datang dan masuk mendahuluinya.
"Ini berkasnya Abang sayang", goda Nina.
"sepertinya sekretarisku ini sudah mulai pandai menggoda", ledek Jimmy.
"Tergantung permintaan dan suasana", tantang Nina.
"Udah ahh jadi gak konsen kerja, nanti di rumah aja akan ku beri yang spesial", goda Jimmy.
"Siapa takut", balas Nina.
"Sudah sana entar aku khilaf", kata Jimmy menyuruh Nina keluar.
Nina keluar sambil tertawa renyah. Jimmy tersenyum penuh arti.
Jam makan siang tiba.
Nina mengangguk. Nina memandang tubuh Jimmy sampai menghilang dari pandangannya. Tiba-tiba ada pesan masuk di ponselnya.
"Woii jangan kerja terus, aku tunggu di kantin", pesan dari Tika.
"Duuhh gimana dong, satu sisi aku harus pergi, satu sisi Tika udah nungguin, gimana nolaknya?", gumam Nina.
"Hhh susah juga hubungan affair gini", batin Nina.
"Ihh aku ada ide", kata Nina di sela kebingungannya.
"Tika sayang maaf ya siang ini aku ada kerjaan di luar sama bos, besok-besok deh kita makan bareng lagi, maaf ya🙏🙏", balas Nina pada pesan Tika.
"Oh gitu iya udah deh titi dj ya", balas pesan Tika.
"Oce", jawab Nina.
Nina tersenyum.
"Untung Tika percaya", kata Nina.
__ADS_1
Nina membereskan barang-barangnya. Kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Lalu meninggalkan ruangannya menuju tempat di mana mobil Jimmy terparkir.
" Koq lama?", tanya Jimmy.
" Balas pesan dari Tika dulu, dia ngajak makan bareng", kata Nina seraya membetulkan tempat duduknya.
"Ohh", kata Jimmy singkat tak banyak komentar lagi.
"Dia bisa mengerti karena ku bilang ada kerjaan luar dengan bos", kata Nina sambil melirik Jimmy.
"Kamu benar, sampai rumah kita kerja ya", goda Jimmy.
"Mulai deh", kata Nina sambil cemberut.
Jimmy tertawa dan melajukan kendaraannya.
"Kenapa mesti beli rumah Bang? apartemen kamu kan ada", tanya Nina di tengah perjalanan mereka.
"Mama dan papa sudah tahu aku di apartemen, aku tidak mau ketika mama datang melihat kamu ada di sana, pasti akan terjadi keributan", jawab Jimmy.
"Sampai kapan kamu akan menyembunyikan status kita?", selidik Nina.
"Nunggu waktu yang tepat, nanti aku akan pulang dulu ke rumah, lihat dulu situasi, kalau memungkinkan aku akan menceritakan semuanya pada mereka", jelas Jimmy.
"Terus aku di tinggal sendiri di rumah baru itu?", tanya Nina cemberut.
"Tentu tidak lama sayang, malamnya aku hanya buat kamu, aku bisa gak tahan kalau jauh dari kamu", canda Jimmy.
"Gombal", kata Nina sambil mencubit bahu Jimmy.
"Eeiit jangan bercanda saat sedang menyetir sayang bahaya, bercandanya nanti di kamar saja", goda Jimmy.
"Iishh dasar piktor", kata Nina sambil memalingkan wajahnya.
Jimmy tertawa mendengar ucapan Nina.
"Kita makan dulu ya, dah lapar banget ini, kamu lapar nggak?", tanya Jimmy.
"Lapar gak lapar lah", kata Nina.
"Pasti lapar, yuk turun, sepertinya makan di sini enak, bebek bakar geprek, shhhtt baca tulisannya aja perutku tambah lapar, pasti lezat", kata Jimmy.
Nina sebenarnya tidak terlalu menyukai daging bebek karena menurut Nina daging bebek itu kenyal tidak empuk. Tapi demi sang suami Nina mau saja saat di ajak makan di tempat tersebut. Jimmy memesan makanannya. Mereka mencari tempat duduk yang agak jauh dari keramaian.
Tak lama pesanan pun datang. Aroma khas bebek bakarnya sangat menggugah selera. Jimmy sudah tak sabar untuk menyantapnya. Ketika pramusaji pergi Jimmy langsung mengeksekusi hidangan tersebut.
__ADS_1
"Ayo sayang jangan diam saja, makan yang banyak biar bertenaga", goda Jimmy sempat-sempatnya menggoda Nina.
Nina tersenyum simpul. Nina mengikuti gerakan Jimmy. Mereka mulai mengeksekusi hidangan tersebut. Sesekali Jimmy memberikan suapannya untuk Nina. Nina menerimanya. Mereka menikmati bebek bakar tersebut. Nina yang biasanya tidak terlalu suka dengan bebek tapi kali ini Nina sangat menikmati daging bebek tersebut.