Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Menantu yang di anggap


__ADS_3

Prili perlahan membuka matanya. Prili merasakan sakit di kepalanya. Walau masih kondisi lemah Prili berusaha menggerakkan tubuhnya. Jimmy yang melihat dari kaca, cepat masuk ke dalam ruangan.


"Panggil dokter ma, Prili sudah siuman", kata Jimmy masih sempat mengucapkan perintah pada kedua orang mamanya.


Jimmy masuk dan mendekati Prili yang masih sangat lemah. Wajah pucat. Tergambar jelas di wajahnya rasa sakit yang di deritanya sekarang.


"Syukurlah kamu sudah sadar", ucap Jimmy.


"Aku kenapa mas?", tanya Prili belum menyadari keadaannya yang sebenarnya.


"Tadi kamu jatuh di rumah terus kamu..", Jimmy tak sanggup meneruskan kalimatnya.


Prili memandang Jimmy curiga. Jimmy hanya mampu memberi tahu Prili dengan telunjuknya. Jimmy menunjuk ke arah perut Prili. Prili yang masih belum mengerti memegang perutnya. Prili kaget saat merasakan perutnya rata, tidak seperti ia sedang mengandung.


Bertepatan dengan itu dokter yang menangani Prili muncul bersama perawatnya di ikuti mama Liana dan mama Hanny.


"Dokter mana anakku?apa yang terjadi denganku?", kata Prili histeris.


"Kamu jatuh. Benturannya begitu keras sehingga kamu mengalami keguguran. Maaf kalau ini harus saya katakan", ujar sang dokter lembut.


Prili menjerit histeris. Ia meronta-ronta. Dokter yang sudah mengantisipasi kejadian itu, dokter sudah menyiapkan obat penenang untuk pasiennya. Jimmy memegangi tubuh Prili. Dengan sigap dan cepat, dokter memberikan obat penenang pada Prili. Tak perlu menunggu waktu lama, Prili akhirnya kembali tidur dan kembali tenang.


"Bu Prili sudah tidur kembali tapi bisa jadi setelah bangun nanti kejadian serupa akan terulang lagi, kalau dia keseringan meronta takutnya luka operasinya akan kembali terbuka. Buat dia setenang dan senyaman mungkin, cuma orang terdekatnya yang bisa meredakan emosinya. Beri pengertian dan support agar dia mengerti dan tidak mengalami setres. Bagaimanapun kehilangan anak sangat membuat seorang ibu merasa terpukul walaupun sang anak belum lahir secara sempurna. Jadi peran keluarga sangat dibutuhkan disini", kata dokter panjang lebar.


"Iya dok, terima kasih banyak dok", kata Jimmy.


"Iya sama-sama. Saya tinggal dulu. Kalau ada apa-apa panggil saja", kata sang dokter.


"Baik dok", jawab Jimmy.


Dokter dan perawat meninggalkan ruangan tersebut. Jimmy terduduk lemas di samping Prili. Perasaan cinta memang sampai saat ini belum Jimmy rasakan pada Prili. Tapi walau bagaimanapun Prili adalah wanita yang telah mengandung anaknya. Apalagi keadaan Prili sekarang sangat mengkhawatirkan membuat Jimmy menjadi iba dan tidak tega.


Mama Liana dan mama Hanny terlihat sangat lelah. Sebagai orang yang telah berumur, keduanya sangat gampang capek. Jimmy merasa kasihan melihat mamanya dan mama mertuanya.


"Mama pulang saja dulu, biar Jimmy saja yang di sini. Kasih tahu papa. Papa belum tahu kejadian ini", kata Jimmy sambil memegang tangan Prili.


"Iya Han. Jimmy benar, sebaiknya kita pulang saja dulu. Jimmy ada di sini bersama Prili", kata mama Liana.


"Aku mau di sini Li. Mau temani Prili. Kasihan dia, dia pasti sangat terpukul", ujar mama Hanny.


"Jimmy ada di sini Ma, sebaiknya mama pulang saja dulu", ucap Jimmy.


"Ayolah, ku lihat kamu juga sudah capek. Kita pulang saja dulu. Nanti malam ke sini lagi. Kita juga butuh istirahat lho. Jangan sampai kita menyusul masuk rumah sakit pula", kata mama Liana.


"Iya udah deh. Mama titip Prili ya", kata mama Hanny berat.

__ADS_1


"Iya ma", kata Jimmy.


Mama Liana dan mama Hanny meninggalkan ruangan tersebut. Keduanya pulang menuju rumah masing-masing.


Telepon seluler Jimmy berdering. Nina kaget.


"Kaget aku. Jadi ponselnya tadi gak di bawa", gumam Nina.


"Marsel",


Nina membaca nama si penelepon. Nina mengangkat telepon dari Marsel.


"Assalamualaikum bro, bagaimana kondisi kamu udah sehat belum?cepatan sembuh dong, pusing aku dua hari ini banyak ketemu klien", celoteh Marsel tanpa jeda.


"Wa'alaikum salam. Abang sekarang di rumah sakit kak", jawab Nina.


"What?separah itu sakitnya sampai di bawa ke rumah sakit segala?kenapa aku gak di kasih tahu?", tanya Marsel beruntun.


"Abang di rumah sakit karena Prili jatuh kak, aku juga belum tahu beritanya. Abang ponselnya tinggal di rumah", jelas Nina.


"What? bagaimana bisa?", tanya Marsel.


"Ceritanya panjang kak. Nanti aku telepon mama dulu di rumah sakit mana Prili di rawat dan bagaimana perkembangannya", kata Nina.


"Iya udah kamu telepon dulu setelah itu kabari ya", kata Marsel.


Obrolan pun berakhir. Nina menelpon mama mertuanya mama Liana. Telepon tersambung.


"Halo Ma, gimana Prili Ma?di rumah sakit mana dia di rawat?", tanya Nina langsung.


"Di rumah sakit waktu kamu di rawat. Prili mengalami keguguran Nin", kata mama Liana langsung menangis.


"Mama sabar ya. Kita sebagai manusia cuma bisa berusaha dan yang maha penentu adalah yang kuasa tuhan maha pencipta", kata Nina menenangkan hati mertuanya.


"Iya Nin. Harapan mama sekarang ada pada kamu. Jaga cucu mama ya. Mama sudah tak sabar untuk gendong cucu mama", kata mama Liana.


"Mama masih di sana ya?ponsel bang Jimmy ketinggalan ", kata Nina.


"Ini sudah di jalan mau pulang. Prili di rawat inap dulu. Kondisinya masih sangat lemah. Tadi dia sempat syok ketika tahu ia mengalami keguguran ", jelas mama Liana.


"Iya Ma pasti dia sangat merasa kehilangan. Mama sama siapa?", tanya Nina karena Nina tahu waktu pergi tadi mama Liana bersama suaminya dan Prili.


"Mama naik taksi aja, tadi di tawarin ikut tante Hanny tapi mama tidak mau merepotkan karena berbeda jalan", jelas mama Liana.


"Oh iya Ma, hati-hati aja di jalan Ma", kata Nina.

__ADS_1


"Iya sayang. Jaga cucu mama ya", kata mama Liana.


"Iya Ma pasti", jawab Nina.


Nina tersenyum. Akhirnya Nina merasa menjadi menantu yang di anggap.


Obrolan pun berakhir. Nina kembali menelpon Marsel.


"Prili di rawat di rumah sakit tempat aku di rawat waktu itu kak. Ia mengalami keguguran",jelas Nina langsung setelah terhubung.


"Busyeet dah. Ya udah aku meluncur saja ke sana sekarang", kata Marsel.


"Mampir ke rumah dulu kak. Bawakan ponsel abang biar enak menghubunginya", ujar Nina.


"Iya udah kalau gitu, siapin ponselnya biar ku ambil", kata Marsel.


Obrolan mereka pun berakhir. Nina menyiapkan makanan dan pakaian ganti Jimmy untuk di bawa ke rumah sakit. Tak lupa juga obat Jimmy.


Tak lama Marsel pun tiba.


"Ini ponselnya kak. Ini makanan dan pakaian ganti abang. Tadi siang dia belum sempat makan dan aku yakin sekarang pasti dia belum makan. Obatnya juga ada di situ", kata Nina seraya menunjuk tas yang tadi di serahkan Nina pada Marsel.


"Sebesar itu perhatian kamu pada Jimmy Nin. Semoga kebahagiaan selalu bersama kamu", batin Marsel.


"Sebenarnya pingin ikut tapi tadi siang abang nggak nyuruh aku ikut ke rumah sakit", kata Nina.


"Jangan di langgar. Kalau kamu ikut aku sekarang, malah aku yang nanti kena semprot bukan kamu", ucap Marsel.


"Maunya sih tapi dari pada buat masalah lebih baik di rumah sajalah ", ujar Nina.


"Betul. Iya udah kakak pergi dulu ya", kata Marsel.


"Iya kak. Terima kasih. Hati-hati jangan ngebut", kata Nina.


Marsel hanya menjawab dengan mengacungkan jempolnya. Nina kembali masuk ke rumahnya.


.


.


.


Selamat membaca ya readersku sayang.


Jangan lupa like, komen dan kasih votenya juga dong.

__ADS_1


Mampir juga ke karyaku lainnya ya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2