Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Butuh istirahat


__ADS_3

Sudah satu bulan berjalan. Kehamilan Nina sudah semakin besar. Hamil tua tidak membuat Nina untuk tidak beraktivitas. Ia terus bekerja mendampingi sang suami di dunia bisnisnya.


Marsel dan Sofi sudah menyelesaikan bulan madu mereka. Saat berjalan di koridor bandara Sofi bergelayut mesra di lengan Marsel.


"Beib, kita pulang naik taksi aja ya, sekalian buat kejutan dengan orang-orang di rumah", kata Marsel pada Sofi.


"Aku sih asal selalu sama suamiku yang tampan ini, jalan kaki pun aku mau", kata Sofi menggombali Marsel. Marsel tersenyum mendengar pernyataan Sofi.


"Sabar beib kamu akan dapat jatah ulang nanti. Serangan tengah malam akan berlanjut nanti di rumah, siap-siap aja", balas Jimmy menggoda Sofi.


"Nggak ahh tengah malam, nggak seru. Banyak ngantuknya", jawab Sofi manja.


"Sepertinya wanitaku ini sudah gak sabar untuk kembali berpacu", goda Marsel lagi.


" Dasar",


Sofi memberikan cubitan kecil di pinggang Marsel. Kedua insan yang lagi bahagia itu tertawa lepas. Marsel melambaikan tangannya pada taksi yang ada di depan aula tunggu. Sang sopir taksi cepat tanggap, dia langsung mendatangi tempat Marsel dan Sofi berdiri. Sofi dan Marsel naik taksi tersebut menuju rumah orang tua Sofi.


Setelah tiba di rumah, Marsel mengambil ponselnya dan menelpon temannya sekaligus bos besarnya. Marsel menelpon Jimmy.


"Di mana bro?", tanya Marsel langsung setelah terhubung.


"Masih di kantor. Bagaimana honeymoon nya bro?", tanya Jimmy.


"Aman terkendali ", kata Marsel sambil tertawa.


Sofi mendelik kepada Marsel. Marsel tersenyum pada Sofi.


"Kapan pulang?",tanya Jimmy.


"Ini sudah di rumah. Baru saja nyampai. Langsung nelpon elu", ucap Marsel.


"Iya udah, syukurlah kalau sudah sampai. Semoga benihnya cepat tumbuh", kata Jimmy sambil tertawa.


Marsel ikutan tertawa. Obrolan pun berakhir.


"Ngomong apa sih?seru banget sepertinya", selidik Sofi.


"Ini urusan para pendaki ya. Para penyedia lapak gak usah turut campur", kata Marsel seraya mencolek dagu Sofi.


"Iisshh sok rahasia-rahasiaan segala. Aku udah dengar juga", ucap Sofi.


"Kalau udah dengar ngapain nanya segala. Sepertinya kamu sedang memasang umpan ya?", Marsel memeluk pinggang Sofi dari belakang.


Sofi kaget.


"Eehh siapa yang masang umpan, otak kalian aja yang mesum, dasar piktor", ujar Sofi seraya melepaskan tangan Marsel dari pinggangnya.

__ADS_1


Marsel bukannya marah di bilang Sofi mesum. Dia malah tertawa dan membanting tubuhnya di kasur yang empuk tersebut.


"Capek beib, boleh ya aku tidur bentar?", tanya Marsel.


"Lama juga gak apa-apa, biar aku gak ada yang gangguin", kata Sofi sambil terkekeh.


"Untuk beberapa jam kamu aman, tapi tak ada jaminan untuk nanti malam ya", kata Marsel sambil tersenyum nakal.


Sofi memoncongkan bibirnya. Ia ingin protes. Tapi ya sudahlah, namanya juga pengantin baru. Sofi tersenyum sendiri. Di lihatnya Marsel tak bergerak lagi. Nafasnya sudah teratur.


"Gampang amat tidurnya. Baru aja bicara, eehh udah mendengkur", ujar Sofi.


Sofi menghela nafasnya sambil geleng-geleng kepala. Sofi membereskan koper mereka. Sofi memisahkan pakaian kotor dan pakaian bersih. Menyusun semua kembali pada tempatnya. Setelah selesai Sofi menuju kamar mandi. Ia merendam tubuhnya di bathtub dengan mencampurkan sabun aroma terapi pada air rendamannya. Wanginya yang khas sangat memanjakan hidung.


Lama Sofi merendam tubuhnya di air yang bersemu hangat tersebut. Terasa tubuhnya lebih segar dan lebih rileks.


Sofi menyiram tubuhnya dengan air bersih. Setelah merasa cukup, Sofi keluar dari kamar mandinya.


"Capek sekali sepertinya. Biarkan sajalah dia tidur, aku juga mau istirahat ", kata Sofi setelah melihat Marsel masih tidur dengan pulasnya.


Selesai mengganti handuk yang melekat di tubuhnya dengan pakaian lengkap, Sofi merebahkan tubuhnya di samping sang suami. Sofi melihat ponselnya sebentar. Setelah selesai membalas pesan dari teman-temannya, Sofi memejamkan matanya dan akhirnya ia pun ikut tertidur di sebelah Marsel suaminya.


****


Sementara itu Rinal adik nomor duanya Jimmy juga sudah menyelesaikan studinya di luar negeri. Dia kembali ke tanah air dengan gelar sarjana yang sudah di sandangnya. Senyum mengembang menghiasi wajahnya yang tampan. Pak Harto supir kesayangan keluarga mereka dengan setia telah menunggu Rinal dari sejak pagi.


"Udah lama nunggu ya pak?tadi pesawatnya delay. Yang seharusnya tiba di jam dua belas siang terpaksa ngundur jadi sore tiba di tanah air", tanya Rinal.


”What?pagi amat dari rumah


jam sembilan, jam sepuluh sudah di sini", tanya Rinal.


"Takut macet den",kata pak Harto terkekeh.


"Ini udah sore lho. Pak Harto udah makan belum?", tanya Rinal.


"Sudah den", jawab pak Harto seraya memasukkan barang-barang Rinal ke bagasi mobil.


"Iya udah yuk kita pulang, kangen banget dengan orang-orang di rumah", kata Rinal setelah pak Harto selesai memasukkan barang-barangnya ke mobil.


"Baik den",


Pak Harto masuk ke mobil di iringi oleh Rinaldy. Perlahan pak Harto melajukan mobil tersebut menyusuri jalan hitam yang panjang.


Jalanan lengang karena hari sudah sore. Sepi tak terlalu ramai memudahkan pak Harto untuk melintasinya.


Tiba di rumah, orang yang pertama menyambut kedatangan Rinaldy adalah Wina sang adik. Wina langsung menggandeng tangan sang kakak.

__ADS_1


"Kakak", seru Wina.


"Adik kakak yang bawel, apa kabarmu hari ini?mana mama sama papa?'," tanya Rinal sang kakak.


"Baik kakakku sayang. Mama ada di belakang. Papa lagi keluar. Ngomong-ngomong pesanan adikmu yang cantik ini di bawain gak?", Wina balik tanya.


"Sudah bisa di duga pasti nih anak ada maunya", gerutu Rinal.


Wina hanya tertawa mendengar ocehan sang kakak.


"Wina kakak kamu itu baru tiba lho, buat minum dulu apa buat kakakmu", ujar mama Liana pada Wina si bungsu yang baru keluar dari arah dapur.


"Suruh bik Surti aja deh ma. Wina ada tugas penting yang tak bisa di tinggalkan", jawab Wina.


"Tugas penting?tugas penting apa?", tanya sang mama bingung.


"Tugas membuka koper kakak", kata Wina sambil terkekeh.


"Kamu ini ada-ada saja", kata sang mama.


Semua tertawa mendengar jawaban Wina.


Mama Liana mengajak Rinal untuk menuju meja makan. Tapi karena masih capek, Rinal lebih memilih masuk ke kamarnya untuk beristirahat.


"Nanti aja deh ma makannya, Rinal belum lapar. Mau istirahat dulu",kata Rinal.


"Kakak istirahat aja biar Wina yang urus koper kakak ya", kata Wina dengan senyum-senyum.


"Oke tapi koper yang ini gak jadi tugas kamu ya, ada barang khusus di sini", ujar Rinal.


"Barang khusus apa?", tanya Wina.


"Ada deh. Anak kecil gak boleh tahu", jawab Rinal sekenanya.


"Iya udah deh bawa aja masuk ke kamar kakak, aku akan buka koper yang ini aja", kata Wina. Mama Liana hanya bisa memandangi adik kakak yang sibuk dengan urusan koper tersebut. Rinal melangkah menuju kamarnya dengan membawa koper kecil berwarna hitam tersebut.


"Untung dia ngerti, kalau gak bisa ketahuan ", batin Rinal.


.


.


.


Selamat membaca ya readersku semuanya.


Jangan lupa kasih like, komen dan juga votenya ya.

__ADS_1


Mampir juga yuukk ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2