
Seperti hari biasanya Nina bekerja kembali. Nina selalu datang pagi karena banyak pekerjaan yang sudah menantinya. Nina sangat tekun, dia bekerja dengan sepenuh hati. Dalam benaknya dia ingin membahagiakan ibu dan adiknya. Sebagai tulang punggung keluarga Nina tentu menjadi harapan terbesar keluarganya. Pagi ini penampilan Nina lebih feminim. Rambutnya yang biasanya di biarkan tergerai bebas, sekarang di naikkan dengan sedikit sasak menyanggul. Nampak elegan walau sederhana. Di tambah baju putih berenda tangan panjang dengan rok hitam selutut menambah cantik seorang Nina.
"Beres semua, apa-apa yang di butuhkan kak Jimmy sudah di siapkan semua", gumam Nina.
Nina mendengar ada langkah kaki mendekat ke arahnya.
"Pagi pak", kata Nina setelah melihat Jimmy yang datang.
Jimmy tak menjawab. Dia terpukau melihat penampilan Nina yang berubah hari ini.
"Waaww cantik sekali kamu hari ini", batin Jimmy.
Jimmy seperti kena hipnotis. Kakinya seakan lengket tak bisa di gerakkan. Melihat Jimmy yang terpaku dan tak berkedip melihatnya, membuat Nina salah tingkah. Nina mengulang kembali sapaannya.
"Selamat pagi pak, apa bapak baik-baik saja?", tanya Nina yang tak mengerti dengan sikap Jimmy.
"Pak", kata Nina lagi.
"Eeeh iya apa tadi?", kata Jimmy bertanya pada Nina.
"Orang aneh", batin Nina.
"Gak Pak Nina cuma ngucapin selamat pagi", kata Nina dengan tersenyum.
"Aduuhh Nina jantungku seperti berhenti berdenyut hari ini melihat kecantikanmu, di tambah senyummu yang menawan, ala maaakk", batin Jimmy.
"Oh gitu, pagi juga", kata Jimmy seraya menuju ke ruangannya.
"Kenapa sih dengan kak Jimmy, aneh banget. Apa aku yang aneh ya? kak Jimmy melihatku seperti itu, apa ada yang salah ya denganku hari ini?", gumam Nina tak mengerti.
Nina menghela nafasnya dan menghembuskannya secara kasar. Nina merapikan ruangannya. Telepon di mejanya berbunyi. Nina mengangkatnya.
"Baik Pak", jawab Nina. Nina meletakkan kembali telepon tersebut dan membawa beberapa berkas ke ruangan Jimmy.
Nina mengetuk pintu ruangan Jimmy.
"Masuk", suara Jimmy dari dalam.
Nina masuk dan memberikan berkas pada Jimmy.
"Ini pak berkas yang bapak minta",kata Nina sembari menyodorkan sebuah map berwarna merah.
Jimmy yang sedari tadi sibuk dengan kertas di atas mejanya. Kini pandangannya tertuju pada Nina. Mata keduanya beradu pandang. Pandangan Jimmy terasa sangat dalam bagi Nina.
Deg..
"Koq hatiku berdebar gini sih melihat tatapan kak Jimmy", batin Nina.
Lama tatapan mereka beradu pandang. Dan akhirnya Nina menundukkan kepalanya. Debaran jantungnya seakan mau meledak.
"Maaf Pak, saya permisi", kata Nina agak gugup.
Jimmy mengangguk. Jimmy tersenyum melihat Nina yang salah tingkah.
"Aahh Nina, pesonamu semakin hari semakin membuatku klepek-klepek", gumam Jimmy setelah Nina keluar dari ruangannya.
"Kamu kenapa sih Nin, jadi aneh gini", gumam Nina pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Makan siang telah tiba. Jimmy berniat mengajak Nina untuk makan siang bersama.
"Nin kamu sudah makan belum?", tanya Jimmy setelah berada di hadapan Nina.
"blBelum pak bentar lagi, lagi tanggung mau nyelesaikan ini dulu", kata Nina sembari menunjuk ke laptopnya.
"Atau mungkin kamu makan di sini biar sekalian kita pesan", kata Jimmy lagi
"Ehh gak usah pak, biar nanti aku ke kantin saja", jawab Nina yang merasakan irama jantungnya mulai tak beraturan.
"Oh iya sudah aku keluar dulu ya, jangan telat makan", kata Jimmy perhatian.
"Iya Pak siap", kata Nina cepat memalingkan wajahnya takut Jimmy memperhatikan wajahnya yang sudah mulai memerah.
"Huuhh aku kenapa ya?", batin Nina.
Jimmy masih sempat melihat ke arah Nina. Kakinya seakan berat untuk beranjak dari hadapan Nina. Tapi demi menjaga image Jimmy akhirnya meninggalkan Nina yang masih berkutat dengan laptopnya.
Nina menutup laptopnya dan segera menuju kantin. Perutnya sudah berbunyi memberi alarm untuk segera di isi.
Nina memesan makanan dan duduk di kursi yang di meja tersebut ada seorang karyawan wanita sedang menikmati makanannya.
"Permisi boleh ikutan di sini?", kata Nina pada wanita itu.
"Silahkan bu", katanya.
"Ma kasih", kata Nina seraya duduk berhadapan dengan Wanita tersebut.
Makanan yang di pesan Nina sudah datang. Nina segera menyantapnya.
"Kamu kerja di bagian apa?", tanya Nina sambil terus melahap makanannya.
"Jangan panggil ibu dong, sepertinya kita seumuran", kata Nina.
"Ibu kan sekretarisnya Pak Jimmy, gak enak lah panggil nama saja", bantah wanita tersebut.
"Koq tahu kalau aku sekretaris pak Jimmy?", tanya Nina dengan kening mengkerut.
"Iya tahu lah Bu, karena sekretaris yang lama kan lagi cuti melahirkan dan kabarnya dia akan di pindahkan ke anak cabang perusahaan ini karena di sini sudah ada ibu yang menggantikannya", jelas wanita itu.
"Kamu tahu dari mana?", tanya Nina penasaran.
"Semua sudah tahu koq Bu", katanya lagi.
" Koq aku gak tahu ya", batin Nina.
"Oh iya aku Nina, nama kamu siapa?", tanya Nina.
"Tika bu", katanya.
"Jangan panggil ibu dong, panggil nama saja ya, kita kan seumuran, gimana kalau kita temenan?aku bosan di sini gak ada teman", kata Nina polos.
"Tapi aku malu punya teman sekretaris sementara aku cuma seorang karyawan", jawab Tika.
"Kamu ngomong apa sih?sama saja aku juga karyawan di sini, sama seperti kamu", jawab Nina.
"Baiklah kalau begitu", kata Tika.
"Nah gitu dong, ngomong-ngomong kamu pulang ke mana?", tanya Nina.
__ADS_1
"Aku pulang jalan merpati tak jauh dari sini", kata Tika.
"Ohh gitu", kata Nina.
Tak terasa akhirnya mereka menyelesaikan makan siang mereka.
"Untuk salam perkenalan kita hari ini biar aku yang bayar", kata Nina sambil membayar makan mereka ke kasir.
"Ma kasih ya Nin, kamu baik banget", kata Tika.
"Sama-sama, kita kembali kerja. Eehh tunggu ka, minta nomor ponsel kamu dong, biar kita bisa saling telpon gitu", kata Nina.
"Eehh iya", kata Tika.
Mereka bertukar nomor ponsel. Setelah itu mereka kembali ke ruangan masing-masing. Nina menuju ruangannya. Di lihatnya Jimmy sudah berada di dekat meja Nina.
"Maaf pak Nina baru selesai makan", kata Nina takut kalau Jimmy akan marah melihatnya baru kembali ke ruangan.
"Ikut ke ruanganku sekarang", kata Jimmy tanpa menjawab perkataan Nina.
Nina mengikuti Jimmy ke ruangannya.
"Ada yang bisa saya kerjakan pak?", tanya Nina tanpa berani melihat ke arah Jimmy.
"Tidak ada, aku cuma mau tanya nanti malam kamu ada di rumah gak?", tanya Jimmy dengan pandangan penuh arti.
"Ada Pak, memangnya ada apa Pak?", tanya Nina memberanikan diri menatap mata Jimmy.
Jimmy tersenyum.
"Waduuhh koq senyum sih", kata Nina dalam hati.
"Nanti malam aku mau ke rumah kamu", kata Jimmy lagi.
"Mau ke rumah?memangnya salah aku apa Pak?kalau saya terlambat masuk ruangan aku minta maaf, tadi aku bertemu teman di kantin jadi agak lama Pak", jelas Nina takut.
"Jelas kesalahan kamu sangat besar hari ini, karena kamu...", Jimmy tak menyelesaikan perkataannya.
"Aah sudahlah sekarang kamu keluar, kerjakan tugas kamu", kata Jimmy berusaha menghilangkan getaran aneh di dadanya.
"Baik Pak permisi", kata Nina segera keluar dari ruangannya.
"Gawat, jangan-jangan kak Jimmy mau memecatku", gumam Nina.
Nina membuka laptopnya kembali. Membuka file yang tadi belum selesai dia kerjakan. Nina berusaha fokus. Perkataan Jimmy membuatnya menjadi tak konsentrasi lagi.
"Busyeett dah", kata Nina seraya menghentikan aktifitasnya.
.
.
.
Bantu votenya ya readers, like dankomennya juga ya. Terima kasih.
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1