
Jimmy membalas tatapan tajam mata Nina. Dia ingin mencari kekuatan di sana. Jimmy sudah tahu arah tujuan omongan Nina tapi dia tidak tahu harus di awali dari mana untuk menyampaikannya.
"Kamu tidak sedang beralibi kan?", tanya Nina lagi.
Jimmy menatap bola mata Nina sangat dalam.
"Bang!", pekik Nina.
Jimmy tersentak.
"Aku sedang bicara sama kamu, jawab aku", kata Nina. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Sayang, aku..", kata Jimmy tercekat. Suaranya tidak terdengar seperti menghilang.
"Benar kamu sudah menikah?", tanya Nina tajam.
Jimmy tak kuasa melihat wajah Nina. Dia langsung memeluk wanita yang sangat di cintainya tersebut. Nina sekuat tenaga mendorong tubuh Jimmy. Jimmy mempererat pelukannya.
"Sayang maafkan aku, semua di luar rencana. Aku tak sengaja melakukan semuanya. Hari itu aku di minta untuk menemaninya jalan, karena perjodohan tersebut gagal dia memintaku untuk menemaninya sekedar jalan-jalan. Aku juga tidak mengerti di saat makan kepala tiba-tiba pusing dan dan dan.. akhirnya kami melakukannya. Awalnya dia tidak mempermasalahkan semuanya tapi terakhir di ketahui kalau dia hamil. Orang tuanya menuntut tanggung jawabku. Akhirnya karena desakan dan terpaksa akhirnya aku menikahinya dan minggu nanti ...", Jimmy tak dapat menyelesaikan kalimatnya karena ini langsung menyeletuk.
"Minggu nanti resepsinya, begitu?", tanya Nina dengan berurai air mata.
"Iya, sayang sungguh maafkan aku", kata Jimmy mencium tangan Nina.
Nina menepiskan tangan Jimmy.
"Brengsek kamu Bang, tega kamu lakukan ini padaku. Salahku apa pada kamu?jadi wanita itu adalah Prili, begitu? akhirnya kau nikmati juga tubuhnya kan?puas kamu sekarang?", Nina bangun dari tempat tidurnya dan menuju meja riasnya. Nina nekad mengambil gunting yang ada di lacinya. Dan gerakan cepat Nina ingin menusukkan gunting tersebut di ulu hatinya. Melihat akan hal itu, Jimmy cepat melompat dan mendekap Nina.
Deezzz...
Ahrggg...
Suara jeritan Jimmy.Gunting menancap di punggung Jimmy. Nina menjerit ketakutan. Tubuhnya gemetar. Ia menjerit-jerit seperti orang kerasukan. Jimmy cepat memeluk Nina. Nina memberontak. Jimmy seraya menahan sakit di punggungnya, dia juga berusaha untuk menenangkan Nina.
Mendengar ada suara jeritan, mbak Yuni lari tunggang langgang menuju kamar tuannya. Mbak Yuni langsung membuka pintu kamar tuannya. Mbak Yuni terbelalak melihat darah menetes dari tubuh Jimmy. Mbak Yuni membantu Jimmy menenangkan Nina yang terlihat panik.
"Sayang, tenanglah. Aku gak apa-apa. Semua baik-baik saja. Ayo tenanglah",ucap Jimmy.
"Nyonya tenanglah", kata mbak Yuni.
Nina mulai melemah setelah mendengar suara mbak Yuni. Jimmy melepaskan dekapannya di tubuh Nina. Tubuhnya melorot ke lantai. Darah berceceran di lantai. Nina kembali panik.
"Darah, darah ohh ...", kata Nina duduk di samping suaminya sambil memegangi kepalanya.
"Mbak Yuni ambil kotak P3K di dapur cepat!!", perintah Jimmy pada mbak Yuni.
"Baik tuan", kata mbak Yuni sambil lari tunggang langgang.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama mbak Yuni kembali ke kamar dengan membawa kotak P3K di tangannya.
"Buka mbak ambil kassa, bethadine dan plester", kata Jimmy di sela sakitnya.
"Iiiya tuan", kata mbak Yuni tergagap.
Nina masih panik, dia menjerit histeris melihat tetesan-tetesan darah Jimmy.
Mbak Yuni mengeluarkan kassa, bethadine dan plester.
"Potong kassanya, beri bethadine dan cabut gunting ini pelan-pelan", ucap Jimmy menahan sakit.
Mbak Yuni menuruti perintah Jimmy. Jimmy mendesis menahan sakit. Jimmy melepas baju yang masih melekat di tubuhnya. Luka di punggungnya memang terasa perih dan sakit tapi luka yang di torehkannya untuk Nina lebih perih dan pedih.
"cepat tutup lukanya mbak dg kassa itu, lalu plester", kata Jimmy pada mbak Yuni.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, mbak Yuni melakukan yang di perintahkan tuannya.
"Terima kasih ya mbak, cepat ambil kain lap, lap darah yang bercecer sepertinya Nina takut melihat darah", kata Jimmy seraya memeluk tubuh Nina yang masih bergetar.
"Sudahlah tenang, semua baik-baik saja", ujar Jimmy.
Nina meringkuk dalam dekapan suaminya. Air matanya masih mengalir walaupun jeritan sudah tidak terdengar lagi.
Mbak Yuni membersihkan darah yang bercecer di lantai. Setelah bersih mbak Yuni keluar dari kamar majikannya tersebut.
"Dok, tolong ke rumah sekarang", kata Jimmy di ponselnya.
Jimmy meletakkan kembali ponselnya setelah menelpon dokter pribadinya. Dia membawa Nina ke dalam pelukannya.
"Maafkanlah aku sayang, percayalah kamu tetap di hatiku. Ini murni kecelakaan bukan atas dasar cinta, kalau kamu mau kamu akan ikut di pelaminan minggu nanti, mau ya?", tanya Jimmy hati-hati.
"Untuk apa?toh aku tetap tidak di akui sebagai menantu", kata Nina pilu.
"Papa dan mama sudah merestui pernikahan kita, mereka juga menginginkan kamu ada di pelaminan minggu nanti, percayalah pernikahanku dengan Prili hanya sebuah kecelakaan", jelas Jimmy.
Nina hanya menangis. Dia hanya diam. Air matanya sudah membasahi baju Jimmy. Jimmy menengadahkan wajah Nina. Dia menatap dalam bola mata Nina. Jimmy mengecup bibir Nina yang terasa dingin. Nina tidak bereaksi.
"Kita belum duduk di pelaminan, sekarang saatnya. Jangan menolak. Sebenarnya aku sudah berusaha untuk bicara dengan kamu akhir-akhir ini tapi aku tak kuasa. Aku tak punya keberanian untuk membicarakan semua ini pada kamu", jelas Jimmy.
Nina masih berurai air mata.
"Tak ada gunanya menangis, semua sudah di depan mata. Aku minta dengan kamu tetaplah menjadi Ninaku yang baik dan selalu ada untukku", kata Jimmy seraya mengusap air mata di pipi Nina.
Tiba-tiba pintu kamar di ketuk dari luar.
"Masuk", kata Jimmy.
__ADS_1
Mbak Yuni masuk bersama seorang dokter. Dokter tersebut langsung mendekati Jimmy. Karena dia sudah mendengar semuanya dari mbak Yuni. Nina menggeser tempat duduknya.
"Buka baju kaos kamu", perintah sang dokter.
Tanpa membantah Jimmy membuka baju yang masih tersisa di tubuhnya tersebut dan di berikan pada mbak Yuni. Darah terlihat sudah mengering di bajunya.
"Buang saja baju ini dengan kemeja tadi mbak", kata Jimmy santai. Jimmy memutar posisi duduknya. Kini lukanya sudah menghadap ke arah sang dokter.
Sang dokter membuka tas. Dia memeriksa luka di punggung Jimmy.
"Tidak berbahaya. Lukanya kecil, tapi sedikit dalam ", kata sang dokter.
Dokter membersihkan luka Jimmy di kasih obat dan di perban.
"Ini saya kasih resep, nanti beli obatnya di apotek terdekat. Minum obatnya harus teratur biar cepat sembuh", kata sang dokter.
"Baik dok, terima kasih", ucap Jimmy.
Setelah selesai sang dokter mohon diri. Fan di antar oleh mbak Yuni. Jimmy mendekat kepada isterinya. Rasa bersalahnya mengalahkan rasa sakit di punggungnya.
"Bersediakah minggu nanti?", Jimmy mengulangi pertanyaannya.
"Beri aku waktu", jawab Nina sambil tertunduk.
"Mungkin setelah ini kamu akan membuangku, karena Prili kini sedang hamil anak kamu", kata Nina kecut.
"Jangan membuatku tambah merasa bersalah, tadi sudah ku jelaskan padamu kalau ini bukan atas dasar cinta, ini murni kecelakaan. Sudahlah jangan di bahas lagi, aku pusing!", kata Jimmy seraya mengambil handuk dan menuju kamar mandi.
Nina hanya memandangi punggung Jimmy yang sudah menghilang dari pandangan. Air mata Nina kembali mengalir. Luka ini begitu pedih. Hatinya terasa di iris sembilu. Cinta yang begitu di agungkannya, tak di sangka hancur bak debu di terpa angin. Terbang jauh dari peredaran.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa kasih likenya ya readersku yang baik hati. Komen dan votenya juga di tunggu.
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1