Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Vermaks


__ADS_3

Seperti yang di janjikan Jimmy pada Nina, Jimmy mengantar Nina ke salon ternama di kota tersebut. Di sana tersedia segala jenis perawatan. Jimmy mengambil paket lengkap untuk perawatan Nina.


"Mari jeng kita mulai dengan spa dulu ya", kata yang punya salon.


Nina melirik ke arah Jimmy.


"Kamu lanjutkan perawatannya aku mau langsung ke kantor, nanti kalau udah selesai kamu telepon abang", kata Jimmy ketika melihat Nina akan di bawa ke ruang spa.


Nina mengangguk pelan. Jimmy pergi meninggalkan Nina di salon tersebut. Kalau di bilang senang ya pasti senang di manja oleh orang yang sangat di cinta, tapi di sisi hati yang lain Nina merasa ini sebuah spekulasi yang di buat oleh Jimmy untuk memuluskan jalannya.


Sebagai isteri yang baik, Nina menuruti kemauan Jimmy. Langkah demi langkah perawatan di jalani oleh Nina. Bisa seharian di salon tersebut melakukan segala perawatannya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Nina yang tak terbiasa dengan rutinitas tersebut merasa jengah.


Nina menghela nafasnya. Dadanya terasa sesak. Setelah di spa, nina lanjut perawatan kuku, lanjut lagi rambut, kemudian luluran. Terakhir perawatan wajah. Nina merasa setahun berada di sana.


Kini Nina sudah tampil cantik luar biasa. Nina melihat wajahnya di cermin.


"Waaww jeng kamu cantik banget, sungguh luar biasa. Pasti suami kamu klepek-klepek deh", puji yang punya salon.


"Ahh jeng bisa aja", ucap Nina malu-malu.


"Di jamin malam ini kamu takkan di lepaskan oleh suami kamu", goda yang punya salon.


Nina tersipu malu.


"Oh iya tadi suami kamu titip ini, katanya harus kamu pakai sekarang", kata yang punya salon.


"Apa ini?", tanya Nina seraya mengeryitkan dahinya.


Yang punya salon hanya mengangkat kedua bahunya. Nina membuka bingkisan tersebut. Nina melihat ada sebuah kalung emas berliontinkan batu permata dan juga sebuah gaun berwarna hitam selutut.


Nina memandang yang punya salon.


"Sepertinya suami kamu tipe orang yang romantis", kata yang punya salon.


Nina hanya tersenyum kecil.


"Tempat gantinya di mana jeng?", tanya Nina.


"Itu di sebelah kanan, silakan", kata yang punya salon lagi.


Nina mengangguk. Nina menuju tempat ganti tersebut. Sebelum ganti baju Nina menelpon Jimmy terlebih dahulu. Minta di jemput sekarang. Nina melihat dirinya di cermin. Dia merasa seperti orang lain.


"Ini bukan aku", batin Nina.


Nina memandangi kalung pemberian Jimmy tersebut. Sangat indah dan mewah.


"Harganya pasti mahal", gumam Nina.


Nina menggantungkan gaun hitam tersebut, ia memakai kalung pemberian Jimmy tersebut di lehernya yang jenjang. Nina mengelus kalung tersebut.


"Pasti lebih indah dan cantik kalau suasana hati ini lagi senang", batin Nina.


Lama Nina berada di sana. Pikirannya melayang jauh. Sampai Nina lupa kalau Jimmy sudah datang di salon tersebut.


Jimmy menelpon Nina yang tak kunjung keluar.


"Iya Bang", kata Nina setelah terhubung dengan Jimmy.

__ADS_1


"Kamu di mana?abang sudah di salon ini", kata Jimmy di telepon.


"Oh iya tunggulah bentar lagi aku ke sana", jawab Nina dan langsung memutus obrolan mereka.


Nina mengganti bajunya dengan gaun hitam yang di berikan oleh Jimmy. Nina melipat bajunya dan di masukkan ke dalam kantong bingkisan tadi.


Nina merapikan pakaiannya dan membetulkan letak kalungnya. Nina keluar dari ruangan ganti tersebut.


Jimmy menoleh ke arah Nina. Jimmy tak berkedip. Dia seperti terhipnotis melihat Nina yang sekarang.


"Amazing", kata itu keluar begitu saja dari mulut Jimmy.


"Bagaimana tuan hasilnya?", tanya yang punya salon.


"Is the best jeng", kata Jimmy jujur.


Jimmy langsung meraih pinggang ramping Nina.


"Ayo sayang kita pulang", ajak Jimmy.


"Happy holiday jeng", kata yang punya salon sambil mengedipkan matanya.


"Apa gak di bayar dulu?", kata Nina polos.


"Sudah jeng, lunas! nanti ke sini lagi ya di jamin vermaksnya amazing", kata yang punya salon promosi.


"Pasti", Jimmy yang jawab.


Nina hanya tersenyum. Jimmy melangkah dengan tangan masih di pinggang Nina.


"Silakan tuan putri", kata Jimmy.


"Bang kita mau kemana?", tanya Nina.


"Tempat romantis", kata Jimmy dengan mata tetap fokus ke jalan.


"Kita makan di tempat kita dulu", kata Jimmy mengajak Nina ke restoran ala Itali tersebut.


Mereka tiba di restorannya, Jimmy memarkirkan mobilnya. Jimmy turun dan membukakan pintu untuk Nina. Nina merasa tersanjung.


"Ayo bidadariku", kata Jimmy mengulurkan tangannya untuk Nina. Nina menyambutnya. Jimmy mencium tangan Nina. Darah Nina bedesir.


Serasa dunia milik berdua. Jimmy mengunci mobilnya. Tangan Jimmy kembali meraih pinggang ramping Nina. Mereka masuk ke dalam restoran tersebut. Jimmy mengambil tempat paling pojok bair terlihat lebih romantis. Pramusaji datang menghampiri mereka. Jimmy memesan makanan spesial di restoran tersebut. Tak butuh waktu lama pramusaji kembali dengan aneka masakan di tangannya.


"Silakan tuan, nyonya", kata pramusaji ramah.


Jimmy mengajak Nina untuk memulai ritual makan mereka. Mata Jimmy tak henti-hentinya memandang ke wajah Nina. D pandangi terus seperti itu Nina menjadi tak nyaman.


"Kenapa Bang?takut aku lari ya?dari tadi mandangi terus", kata Nina protes.


"Siap-siap bentar lagi kamu akan ku lahap", goda Jimmy setengah berbisik.


Wajah Nina bersemu merah. Nina semakin menggemaskan dalam pandangan Jimmy dengan wajah bersemu merah seperti itu.


Mereka selesai makannya. Jimmy meninggalkan sejumlah uang di meja sesuai jumlah tagihannya. Jimmy dan Nina keluar dari restoran tersebut.


"Pulang ya", ajak Nina.

__ADS_1


Nina sudah merasa sangat letih. Hampir seharian di salon membuatnya jenuh. Jimmy menggeleng.


"Kita istirahat di sana", kata Jimmy menunjuk sebuah hotel berbintang di depan mereka.


"Istirahat di rumah kan bisa Bang", protes Nina.


"Kita habiskan waktu kita berdua hari ini", ujar Jimmy.


Nina tak komentar lagi, dia menuruti kehendak Jimmy sekarang. Mereka menuju hotel tersebut. Jimmy memarkirkan mobilnya di tempat yang mudah di jangkau.


"Ayo sayang turun", kata Jimmy.


Nina turun dari mobil. Jimmy kembali meraih pinggang Nina. Nina melepaskan tangan Jimmy.


"Kenapa?", tanya Jimmy tak mengerti.


"Malu ahh, tuh orang pada lihatin kita", kata Nina menegur Jimmy.


"Orang-orang itu lihatin kamu, habis kamu amazing banget sayang dan aku mau mereka tahu kalau kamu itu milikku seorang, paham!", kata Jimmy kembali meraih pinggang ramping Nina.


Walau sempat membantah tapi Jimmy tak memperdulikan. Dia tetap dengan aksinya.


Jimmy memesan kamar. Dan pegawai hotel menyerahkan kunci kamar dan mengantar Jimmy dan Nina langsung ke kamar yang di tuju.


Jimmy membuka pintunya dan menggandeng tangan Nina. Jimmy mengunci kembali pintu kamar tersebut.


"Kamu suka?", tanya Jimmy setelah melihat keadaan kamar hotel super duper.


"Apa ini tidak pemborosan Bang?", kata Nina dengan prinsip ekonominya.


"Kita kesini gak tiap hari kan sayang, sekali-kali kita perlu refreshing juga dan sekarang kita happy holiday ", kata Jimmy membanting tubuhnya di kasur putih yang sangat empuk tersebut.


"Bang kamar mandinya mana?", tanya Nina pada Jimmy.


"Itu!kamu mau ngapain?",tanya Jimmy.


"Pipis, mau ikut?", tanya Nina kesal.


"Ohh kirain mau mandi, kalau mandi aku ikut", kata Jimmy berseloroh.


"Dasar!", kata Nina sambil berlalu.


Bersambung......


.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komennya ya readersku yang baik hati. Votenya juga ya jangan lupa.


Mampir juga ke karyaku lainnya:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2