
Perpisahan sekolah telah usai. Wina sengaja menemui Adelia. Persahabatan mereka sempat merenggang semenjak Jimmy dan Nina menikah. Dengan langkah cepat Wina mendatangi Adel.
"Del tunggu!", seru Wina.
"Mau apa lagi?tidak ada yang perlu di bahas lagi kan?", tanya Adel sedikit cuek.
"Aku mau kita seperti dulu lagi, lupakan kak Jimmy dan mbak Nina. Walau ini terakhir kita di sekolah ini, aku ingin persahabatan kita tetap terjalin seperti dulu", ujar Wina.
Adel tersenyum sinis pada Wina.
"Aku minta maaf, mungkin aku salah tapi aku hanya ingin hubungan mama sama kak Jimmy kembali membaik, itu saja", jelas Wina.
"Baiklah, aku terima maaf kamu tapi aku belum bisa terima perjodohan yang di lakukan keluarga kamu terhadap kak Jimmy. Asal lho tahu ya, kami memang bukan keluarga terpandang, tapi aku tetap tak rela mbak Nina di perbudak dalam keluargamu", ucap Adel sambil berlalu.
"Del, Adel tunggu", Wina berusaha mengejar Adel tapi Adel tak kalah cepat. Ia pergi meninggalkan Wina yang masih ngos-ngosan mengejarnya.
"Adeelll", gumam Wina.
Wina memutar balik tubuhnya. Rasa kecewa dan kesal menjadi satu. Wina akhirnya pulang dengan membawa kekecewaan. Sahabatnya yang dulu sangat care padanya kini harus pergi menjauh darinya dan persahabatan mereka harus berakhir seperti ini.
Sementara itu Kevin melihat dari jauh perseteruan dua wanita yang sangat di kenalnya itu. Kevin tidak berani lagi bertatap muka dengan Adel setelah penolakan Adel terhadapnya.
"Ada masalah apa antara mereka berdua? sepertinya masalahnya serius", gumam Kevin.
Kevin hanya bisa menerka-nerka tanpa berani mendekat.
Melihat Adel dan Wina berpisah jalan, Kevin pun akhirnya memutuskan untuk pulang.
Perpisahan yang menyedihkan. Tak ada gelak tawa seperti biasanya. Mereka pulang dengan wajah yang sendu. Ketiga sahabat itu kini bermuram durja.
****
Sementara itu Nina memperhatikan perubahan sikap yang kini mulai di perlihatkan Jimmy, membuatnya Nina menjadi bingung.
"Bang, aku sepertinya sudah tidak mual muntah lagi, sudah normal kembali, aku mau kerja lagi boleh ya?", kata Nina semangat.
Jimmy diam tanpa respon.
__ADS_1
"Bang koq diam?aku bosan di rumah terus, aku mau kerja lagi ya", kata Nina mengulang kata-katanya.
"Apa uangku tidak cukup untuk kamu gunakan?", tanya Jimmy pelan tapi bagi Nina seperti sebuah meteor panas yang menyambanginya.
"Iya bukan gitu sih Bang, aku ingin kerja bukan masalah uang, aku juga ingin mencari kegiatan, bosan di rumah terus", dalih Nina.
"Kamu bisa koq mencari kegiatan di dalam rumah, banyak hal yang bisa kamu kerjakan", kata Jimmy lagi.
"Tapi Bang, aku ingin kerja seperti dulu. Di kantor, bisa lihat kamu, bisa bantu kamu urusin berkas dan lain-lain", protes Nina.
"kamu lagi hamil, aku tidak mau terjadi sesuatu dengan anakku", kata Jimmy sambil menepak meja yang ada di depannya.
Nina terkejut. Nina merasakan nafasnya seakan terhenti. Nina membiarkan saat Jimmy pergi meninggalkannya masuk ke dalam kamar.
"Salahku di mana coba?aku cuma ingin kerja, apa dia tidak tahu kalau di rumah ini aku hanya sendirian. Saat dia pergi ke kantor aku kesepian, aku bosan... ", gumam Nina.
Nina menyandarkan kepalanya di kursi tersebut. Pikirannya menerawang jauh tanpa batas. Nina mengelus perutnya yang sudah mulai menonjol.
"Sayang, jadi anak baik ya, jangan nakal. Papa kamu mungkin lagi banyak masalah tapi bentar lagi dia akan baik-baik saja, sehat terus ya nak", kata Nina terus mengelus perutnya.
Nina mengambil ponselnya. Dia menelepon ibunya. Tiba-tiba Nina sangat merindukan sosok ibunya.
"Waalikum salam nak. Ibu juga kangen sama kamu. Ibu mau ke sana tapi Adel belum ada waktu, nantilah kami main ke sana. Kandungan kamu bagaimana?", tanya sang ibu.
"Alhamdulillah baik Bu, sudah mulai bergerak", kata Nina bahagia
"Syukurlah, jaga kandungan kamu jangan banyak gerak dulu, masih rentan", pesan sang ibu.
"Iya Bu, di rumah gak kerja berat koq Bu", kata Nina.
"Iya syukurlah, pokoknya jaga cucu ibu jangan sampai dia kenapa-napa, kamu ya harus banyak makan, tidur yang cukup dan gak boleh stres", jelas sang ibu.
"Iya Bu pasti, udah dulu ya Bu. Jaga kesehatan ibu, obatnya jangan lupa di makan, salam untuk Adel. Assalamualaikum", kata Nina.
"Iya nak. Waalikum salam", jawab sang ibu.
Nina menyusul Jimmy ke dalam kamar. Di lihatnya Jimmy menghadap laptopnya. Terlihat sangat fokus. Nina mendekat.
__ADS_1
"Bang, apa gak capek kerja terus?di kantor kerja, di rumah juga kerja, istirahat aja dulu", kata Nina penuh perhatian.
"Tidurlah sana, kerjaanku masih banyak. Jangan ganggu", kata Jimmy tanpa melihat ke arah Nina.
Nina terhenyak. Kata-kata yang keluar dari mulut Jimmy sangat sakit di dengar Nina. Walau Jimmy tidak membentaknya tapi kalimat tersebut mampu membuat hati Nina ciut.
Sebagai wanita yang lagi hamil. Nina ingin bermanja. Setidaknya suaminya ngobrol bercerita di dekatnya. Dengan rasa kecewa, Nina merebahkan tubuhnya. Nina membelakangi Jimmy suaminya. Nina serasa ingin menangis. Hatinya benar-benar pilu.
Jimmy melihat ke arah Nina. Jimmy tahu apa yang di ucapkannya telah melukai hati Nina. Tapi maksud Jimmy bukan untuk menyakiti Nina tapi meluapkan kekesalan di hatinya. Dan Ninalah yang menjadi sasaran empuknya.
"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud kasar padamu", batin Jimmy.
Jimmy menutup laptopnya dan menyimpan berkas-berkasnya di laci. Jimmy merebahkan tubuhnya dan memeluk Nina daei belakang. Nina yang belum tidur, tahu apa yang di dilakukan Jimmy padanya. Nina menyingkirkan tangan Jimmy dari pinggangnya. Jimmy yang tahu Nina marah padanya, kembali memeluk erat tubuh Nina. Nina memberontak tapi tenaganya kurang kuat. Jimmy mempererat pelukannya. Nina diam. Jimmy membalikkan tubuh Nina sehingga mereka kini berhadapan muka. Mata mereka saling tatap.
"Maaf",
Cuma kata itu yang keluar dari mulut Jimmy. Nina yang terlanjur pilu, akhirnya benar-benar menangis. Jimmy memeluk Nina. Dia ingin Nina tahu bahwa dia sangat mencintainya. Jimmy mengelus punggung Nina. Berusaha menghentikan tangisnya Nina. Nina melepaskan pelukan Jimmy.
"Aku tak tahu salahku apa, tapi kalau kamu yang ada masalah... tolong jangan bawa masalahmu ke dalam rumah dan jangan aku yang di jadikan sasaran kamu", ujar Nina.
Jimmy tak mampu berkata lagi, dia hanya bisa memeluk Nina. Di ciumnya kepala Nina. Di belainya rambut Nina. Rasa bersalah pada Nina membuat Jimmy seperti kehabisan akal. Cuma elusan dan pelukan yang dapat di lakoninya sekarang. Cuma itu yang bisa di lakukannya. Dia ingin Nina tenang. Nina memejamkan matanya. Merasakan kehangatan kasih yang di berikan suaminya.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readers...
Maaf jarang update ... Tapi author akan tetap berusaha untuk tetap menulis.
Jangan lupa like, komen dan votenya ya....
Mampir juga ke karyaku lainnya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).