Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Magnit


__ADS_3

Jimmy pulang dengan di antar Marsel. Marsel tak henti-hentinya jadi bulan-bulanan Jimmy. Marsel tak ambil pusing. Yang penting baginya dapat menikahi Sofi secepatnya.


"Terima kasih ya udah nemenin aku. Sumpah aku gugup banget tadi", ucap Marsel.


"Iya sama-sama. Yang terpenting siapkan mental dan stamina", ujar Jimmy sembari mengangkat kedua alisnya.


"Aah elu mentang-mentang punya dua lesung, ngomongnya stamina melulu", ledek Marsel.


"Eeiiitt ini bukan masalah lesung tapi masalah ronde. Setelah ronde pertama maka akan ada ronde-ronde selanjutnya ",ujar Jimmy gemas dengan Marsel.


"Pusing dengarkan ocehan orang yang sudah berpengalaman. Bisa-bisa mati rasa elu buat", ujar Marsel.


"Setidaknya elu bisa tahu bahwa untuk urusan itu bukan sepele. Karena lawan kita juga harus...", kata-kata Jimmy cepat di potong oleh Marsel.


"Udah sampai ini, mau turun nggak nih?", tanya Marsel.


"Iya turun dong, entar dingin kalau gak turun", canda Jimmy.


"Ahh udah sana, turun", kata Marsel kesal.


Jimmy tertawa renyah. Hatinya sangat senang bisa menggoda Marsel sahabatnya itu.


"Hati-hati ya jangan ngebut, malam pertama masih lama", goda Jimmy.


"Dodol lu", umpat Marsel.


Marsel memutar balik mobilnya dan pulang. Jimmy memencet bel. Pintu terbuka. Mbak Yuni muncul di balik pintu.


"Kunci pintunya mbak", ujar Jimmy sembari melangkahkan kakinya masuk menuju kamarnya.


Jimmy masuk ke kamar. Nina sudah tidur meringkuk seperti orang kedinginan. Jimmy menyelimuti Nina dengan pelan takut nanti Nina terbangun. Mungkin efek


Jimmy pergi ke kamar mandi. Setelah itu dia ikut berbaring di samping Nina. Jimmy terlihat sangat letih. Dengan gampangnya matanya terpejam. Dia pun terlelap di samping Nina isterinya.


Pagi-pagi sekali Nina terbangun dari tidurnya. Di lihatnya suaminya Jimmy masih tertidur dengan pulasnya. Nina memandangi wajah suaminya sangat dalam. Refleks tangan Nina mengelus perutnya.


"Janinmu tumbuh di rahimku, aku takut tak bisa menjaganya. Entahlah kenapa aku jadi begitu takut dengan kehamilan ini. Beda dengan yang terdahulu yang sangat di harapkan dan di nantikan. Apa karena aku sekarang meragukan ketulusanmu atau karena sakit hati yang selalu menderaku?", batin Nina.


"Sanggupkah aku bertahan dengan keadaan seperti ini? perlahan tapi pasti janin ini akan tumbuh dan berkembang seiring waktu. Prili juga lagi hamil sekarang. Sanggupkah aku menjalani perkawinan ini sampai finish", batin Nina.


Tak terasa buliran bening mengalir membasahi pipinya. Nina seolah kehilangan pegangan hidup. Rasa percaya diri yang selama ini di milikinya hilang seketika. Jimmy benar-benar telah mengubah kehidupannya.


Jimmy menggeliat. Nina menghapus buliran bening tersebut. Tangan Jimmy mencari sesuatu. Karena merasa tidak menemukannya, Jimmy membuka matanya.


"Sayang, kamu sudah bngun rupanya. Pantesan abang tak menemukanmu di sini", kata Jimmy menepuk kasur di sampingnya.

__ADS_1


Nina hanya diam. Jimmy menggeser tubuhnya mendekati Nina yang di duduk di pinggir tempat tidur.


"Kalau marah jangan berkepanjangan, lihat tuh muka cemberut mulu. Apalagi sekarang kamu lagi hamil, tidak baik untuk anak kita. Sini berbaringlah. Nanti saja bangunnya",kata Jimmy seraya merengkuh Nina untuk kembali berbaring di sampingnya.


Nina ingin tegak tapi tangan Jimmy lebih cepat meraih pinggangnya yang ramping.


"Jangan membantah, kasihan yang di dalam perut. Nanti dia kesakitan akibat ulah kamu", dalih Jimmy.


"Tenang aja aku takkan berbuat lebih", kata Jimmy seperti bisa membaca pikiran Nina.


Sebagai lelaki normal Jimmy sebenarnya ingin meminta jatah. Tapi karena kata dokter Nina masih perlu istirahat jadi Jimmy harus mendahulukan kesehatan Nina dan calon bayinya ketimbang menuruti hasratnya.


Nina akhirnya menuruti kemauan Jimmy. Ia kembali berbaring di samping suaminya.


"Nah gitu dong, kan enak tanpa harus tarik-tarikan", kata Jimmy sembari tangannya meraih tubuh Nina di bawa ke dalam pelukannya.


"Kamu kan mau kerja jangan tidur lagi", ujar Nina.


"Masih gelap juga", kata Jimmy sembari meraih gunung kembar Nina.


"Bang jangan", sergah Nina.


"Pelit amat sih, cuma pegang doang", kilah Jimmy.


"Nanti abang kebablasan, kata dokter kan jangan dulu", protes Nina.


Jimmy akhirnya kembali tertidur. Nina dengan hati-hati memindahkan tangan Jimmy. Nina mengambil guling dan mengganti pelukan Jimmy dengan guling tersebut.


****


Repotnya punya dua isteri, itulah yang di rasakan Jimmy. Pulang kerja harus ke rumah isteri satunya. Belum hilang capek harus pulang ke isteri satunya lagi.


"Apa boleh buat semua harus di jalani", gumam Jimmy.


Jimmy pulang ke rumah Prili. Prili menyambutnya dengan suka cita. Prili terliha sangat seksi. Tubuhnya yang sintal di tambah perutnya yang sudah membuncit menambah kesan seksi di mata Jimmy.


"Perut kamu kan sudah buncit, koq pakai baju ngepas gitu", kata Jimmy.


"Iya gak papa juga kan, yang penting tak mengganggu yang di dalam", kata Prili sembari bergelayut manja di lengan Jimmy.


Jimmy merasakan tubuhnya panas dingin saat gunung kembar Prili yang cukup besar menghimpit lengannya.


"Kamu mau makan apa?", tanya Prili masih dengan manjanya.


"Gak koq masih kenyang ", kata Jimmy.

__ADS_1


"Ohh iya udah kalau masih kenyang", kata Prili.


"Sayang, suami baru tiba juga bukannya di suruh istirahat ", kata mama Hanny yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Oh iya, ayo sayang kita ke kamar aja", kata Prili sembari menuntun Jimmy ke kamarnya.


Jimmy yang memang merasa capek pingin merebahkan tubuhnya di kasur. Jimmy mengikuti langkah Prili. Prili tak lupa mengunci pintu kamarnya.


Jimmy meletakkan ponselnya di meja kecil samping tempat tidur. Prili membantu Jimmy melepaskan kemejanya. Wajah mereka sangat dekat. Belum lagi dada Prili menempel di tubuh Jimmy. Aliran darah Jimmy mengalir cepat.


"Prili...", panggil Jimmy.


Prili menengadahkan wajahnya saat Jimmy memanggilnya. Mata keduanya bertemu. Mata Jimmy tertuju ke bibir Prili yang sedikit tebal tersebut. Seperti ada magnit, Jimmy mendekatkan wajahnya ke wajah Prili. Jimmy langsung melahap bibir kenyal milik Prili. Prili melingkarkan tangannya di leher Jimmy. Mereka saling memburu, saling belit, Jimmy gemas. Jimmy menggigit kecil bibir Prili. Prili melenguh. Kini ciuman Jimmy turun ke leher dan terus ke bawah. Jimmy menghentikan aktivitasnya.


Prili yang haus akan sentuhan, tubuhnya menuntut lebih.


"Sayang", katanya sembari menuntun Jimmy ke tempat tidur.


Jimmy membuka pakaian yang melekat di tubuh Prili dan melepaskna jug yang melekat di tubuhnya. Kini Jimmy bebas menjelajahi setiap inchi tubuh Prili. ******* yang keluar dari mulut Prili menambah gairah Jimmy.


Prili tidak mau Jimmy main sendiri sendiri, Prili kini mengambil alih. Jimmy melenguh panjang saat Prili bermain di tonggak kebesarannya. Prili tersenyum puas saat Jimmy menikmati sentuhannya.


Jimmy tak mau kalah di rebahkannya tubuh Prili dengan hati-hati. Jimmy membuka lebar kaki Prili. Dengan sekali gerakan Jimmy langsung menerobos gawang Prili. Kini giliran Prili melenguh panjang. Tonggak besar dan panjang milik Jimmy masuk sempurna ke miliknya. Belum hilang rasa hangat yang mengalir di tubuhnya. Jimmy sudah berpacu dengan gagahnya di atas tubuh Prili. Prili mengikuti irama permainan Jimmy. Tubuhnya mengiringi irama hentakan Jimmy. Jimmy terus berpacu. Tangannya tak tinggal diam. Melihat gunung kembar Prili yang bergoyang-goyang membuat gemas mata Jimmy. Tangan Jimmy meremas. Sesekali mulutnya menghisap. Prili benar-benar mabuk kepayang. Prili seakan terbang.


Sampai akhirnya keduanya mencapai puncak klimaksnya.


Aarrghhhh...


Mereka berpelukan erat. Jimmy menekan tonggaknya lebih dalam. Sensasi kenikmatan duniawi yang tiada tara.


Keduanya lunglai di kasur....


.


.


.


.


.


Selamat membaca ya readersku semuanya.


Jangan lupa like, komen dan juga votenya ya.

__ADS_1


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2