
Pintu ruangan tempat Prili di tangani pun terbuka. Sang dokter langsung di serbu oleh tiga orang tersebut.
"Bagaimana isteri saya dok?", tanya Jimmy pada sang dokter.
Sang dokter menghela nafasnya. Satu persatu wajah ketiga orang di depannya tersebut di pandanginya.
"Dengan berat hati harus saya sampaikan, kalau saudara Prili tidak bisa di selamatkan. Saya minta maaf, kami sudah melakukan yang terbaik dan mengerahkan kemampuan kami, kita hanya bisa berusaha penentuannya tetap yang di atas", jelas sang dokter.
Bruukkk..
Mama Hanny tak kuat mendengar berita yang di sampaikan oleh sang dokter. Mama Hanny ambruk ke lantai. Pak Bowo menahan dadanya yang terasa sakit. Jimmy tersentak saat melihat mama mertuanya jatuh ke lantai.
"Mama!",
Jimmy membantu mama mertuanya. Sang dokter menyuruh Jimmy untuk membawa mama Hanny ke ruang instalasi gawat darurat. Jimmy menggendong mama mertuanya menuju ruang tersebut.
"Bawa ke IGD aja", ucap sang dokter.
Pak Bowo mengikuti langkah Jimmy yang membawa isterinya ke ruang IGD. Sambil memegangi dadanya yang terasa sakit pak Bowo masih bisa untuk mengikuti Jimmy sampai ke ruangan. Air mata pak Bowo tak bisa lagi di bendungnya. Dia menangis bersandar di dinding ruangan tersebut. Kesedihan yang di rasakannya sangat menghujam perasaannya.
Pak Bowo sangat terpukul dengan kematian Prili. Kini isterinya pun harus di rawat karena kesedihan hati yang sangat mendalam. Anak satu-satunya yang sangat di sayangi kini telah pergi untuk selama-lamanya. Hidup seakan tiada arti. Dunia begitu kejam telah mengambil sesuatu yang paling dia sayangi. Pak Bowo terduduk di lantai. Tubuhnya melorot ke bawah. Dengan di sanggah oleh kedua lututnya, pak Bowo meletakkan kedua tangannya sebagai tempat untuk kepalanya bersandar. Pak Bowo menangis seraya wajahnya menelungkup ke bawah selangkangannya.
Lelaki yang terkenal keras, kuat dan sangat berwibawa ini, hari ini menjatuhkan air matanya karena kehilangan hartanya yang sangat berharga. Jimmy keluar dari ruangan setelah meletakkan mama mertuanya di dalam ruangan. Jimmy mendekati papa mertuanya. Dia tak tega melihat papa mertuanya seperti itu. Di rangkulnya papa mertuanya.
"Ikhlaskanlah pa, kita doakan saja semoga Prili mendapatkan tempat terindah", kata Jimmy sambil mengusap punggung sang papa mertua.
"Mama tidak apa-apa, bentar lagi juga siuman. Dokter masih menanganinya", kata Jimmy.
"Ayo pa kita duduk di kursi tunggunya aja", kata Jimmy menunjuk kursi yang tak jauh dari meraka.
Pak Bowo menuruti apa yang dikatakan Jimmy. Pak Bowo bangun dari duduk. Jimmy membantu papa mertuanya yang ingin berdiri tegak. Pak Bowo mengusap air matanya yang masih mengalir di pipinya. Pak Bowo selama ini memang sangat keras dengan Prili, tujuannya cuma satu dia ingin yang terbaik bagi anaknya. Dia ingin Prili menjadi pribadi yang lebih baik, walau demikian rasa sayang yang dimilikinya untuk Prili sangatlah besar. Apapun yang Prili mau selalu di nomor satukan. Dia ingin anaknya mendapat yang terbaik dalam hidupnya. Dan kini pak Bowo pun menuai hasilnya. Prili selalu ingin apa yang menjadi kehendaknya tak ada yang bisa melarangnya. Semua harus terwujud. Termasuk memiliki Jimmy secara utuh.
Nasi telah menjadi bubur. Semua telah terjadi. Dan penyesalan pun tak ada gunanya lagi.
"Pak, ibunya sudah siuman", kata sang perawat pada Jimmy.
"Baik sus. Terima kasih ya", kata Jimmy pada sang perawat.
"Iya pak sama-sama ", jawab perawat sopan.
Perawat tersebut kembali ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Pa, mama sudah siuman. Itu perawatnya sudah kasih tahu kita", kata Jimmy pada papa mertuanya.
Pak Bowo menghela nafasnya. Rasa sesak di dadanya mulai berkurang. Jimmy menuntun papa mertuanya melihat keadaan mama mertuanya.
"Mama sudah siuman. Syukurlah", ucap Jimmy pada mama Hanny.
Mama Hanny malah menangis. Ia tidak menyangka anak satu-satunya, anak yang sangat di sayanginya kini telah pergi untuk selama-lamanya. Dunianya berubah sangat kelam. Hatinya begitu hancur. Rasa sedih yang tiada tara membuatnya ambruk seketika.
"Sudahlah ma, ikhlaskan. Dia telah pergi. Kita tidak bisa mengubah takdir. Relakanlah", kata pak Bowo menutupi rasa sedihnya.
Mama Hanny bukannya diam. Tangisnya makin menjadi. Suara isak tangisnya semakin kencang. Pak Bowo membawa isterinya ke dalam pelukannya. Di elusnya bahu sang isteri berharap tangis isterinya mereda. Walau rasa sedihnya tak jauh beda dengan sang isteri tapi pak Bowo berusaha untuk tenang di hadapan sang isteri. Pak Bowo melerai pelukannya. Di hapusnya air mata isterinya.
"Sudahlah jangan menangis lagi. Prili takkan kembali lagi. Kuatkan hati mama. Kita ambil hikmahnya saja. Kita hanya bisa berdoa semoga dia tenang di alam sana", kata pak Bowo berusaha tegar.
"Iya ma, papa benar. Kita harus ikhlas. Tangisan tak akan membuat Prili kembali ma", kata Jimmy ikut sedih.
Walau Prili sudah jahat pada Nina tapi Jimmy juga merasa sedih. Walau bagaimanapun Prili adalah isterinya juga.
Takdir sangat pandai mengelolah hidup seseorang. Semua terangkum dengan sangat sempurna. Tinggal pengelolahnya saja pandai atau tidak mengelolahnya.
Mama Hanny perlahan menghentikan tangisnya. Ia menghapus sisa air matanya yang masih menggenang di pelupuk matanya. Dokter tadi dan perawatnya kembali masuk ingin mengecek keadaan mama Hanny.
"Kita cek dulu ya bu", kata sang dokter seraya mengeluarkan stetoskopnya. Setelah itu sang perawat melakukan tensi pada mama Hanny.
"Keadaan ibu sudah membaik. Yang penting jaga emosi. Jangan terlalu bersedih. Semua sudah menjadi kehendak yang kuasa. Ikhlas ya bu", kata sang dokter seraya menepuk bahu mama Hanny.
"Terima kasih dok. Oh ya dok kalau saya boleh nanya isteri saya mengalami apa dok? sehingga tidak bisa bertahan", tanya Jimmy penasaran.
"Oh iya tadi lupa kasih tahu. Isteri bapak mengalami benturan yang sangat keras pada kepala dan dadanya. Dia mengalami perdarahan pada otaknya sehingga langsung koma. Sedangkan dadanya patah sehingga organ dalamnya terhimpit sehingga paru-parunya tidak bisa bekerja dengan baik. Kami di sini turut berbelasungkawa. Semoga bapak dan keluarga mendapatkan kesabaran", kata sang dokter.
"Terima kasih banyak dok", kata Jimmy.
"Baiklah kami permisi. Ambulance sudah menunggu di depan. Ibu boleh pulang. Yang sabar ya bu", kata sang dokter kembali pada mama Hanny.
"Iya dok. Terima kasih", jawab mama Hanny.
Dokter dan perawatnya meninggalkan ruangan.
"Ayo ma, kita bawa Prili pulang", ujar pak Bowo.
Mama Hanny menghela nafasnya untuk menetralkan suasana hatinya yang kalut. Mama Hanny turun dari tempat tidur. Mereka menuju Prili yang sudah terbujur kaku di tempat tidur.
__ADS_1
"Kuatkan hati ma pa",pinta Jimmy pada mertuanya.
Jimmy meminta pada pihak medis untuk mengurus Prili karena mayat Prili mau di bawa pulang terlebih dahulu. Setelah selesai, Prili di naikkan di mobil ambulance menuju kediaman pak Bowo.
Berita kecelakaan Prili sudah masuk siaran televisi berita terkini. Marsel yang sedang menonton siaran televisi sangat terkejut akan berita tersebut. Dengan cepat Marsel langsung menelpon sahabat sekaligus bosnya tersebut.
"Halo bro katanya Prili mengalami kecelakaan, betul?",tanya Marsel setelah terhubung dengan Jimmy.
"Kamu tahu dari mana?" Jimmy balik bertanya.
"Beritanya sudah masuk televisi, gimana keadaannya sekarang?", tanya Marsel dengan segala keingin tahuannya.
"Dia meninggal, kata dokter benturan keras di kepalanya membuat perdarahan pada otaknya dan dia koma. Dan,...", Jimmy tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Suara Jimmy seperti tercekat.
" Innalillahi wa innailaihi rojiun. Semoga dia tenang di alam sana", kata Marsel di seberang sana.
Tak ada suara dari Jimmy.
"Baiklah aku akan ke rumah sakit sekarang. Rumah sakit mana?", tanya Marsel kemudian.
"Ini sudah siap-siap mau di bawa pulang. Kamu langsung aja ke rumah mertuaku", jawab Jimmy.
"Okelah kalau gitu. Sabar ya bro. Turut berduka cita. Aku dan Sofi akan segera kesana", ujar Marsel seraya memutus langsung obrolan mereka.
.
.
.
.
.
Lanjut bacanya ya readersku terkasih.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Kasih like, komen dan votenya jangan lupa dong ya.
Mampir juga yuukk ke karyaku lainnya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi (tamat).