
"Semoga tuhan memberkatimu", kata Marsel pada Nina sambil berlalu.
Nina mengernyitkan keningnya. Walau tak begitu paham maksud dari perkataan Marsel tapi Nina tetap menjawab doa Marsel.
"Aamiin semoga", jawab Nina.
Nina mencoba menebak maksud dari perkataan Marsel. Tapi Nina tak menemukan jawabannya.
"Ya Allah aku tak berharap banyak, dengan keadaan sekarang aku sudah bahagia, aku ingin satukan kami selalu dalam keadaan apapun", doa Nina dalam hati.
Nina memejamkan matanya mengharap doanya di kabulkan oleh yang maha kuasa.
"Kamu minta apa?", suara orang mengagetkan Nina.
Nina terlonjak dari tempat duduknya. Hampir saja Nina terjatuh. Untung saja kursi yang di dudukinya ada rodanya sehingga tubuhnya bergeser seirama pergerakan kursinya.
"Kamu tidak apa-apa?", tanyanya.
Nina mengurut dadanya. Ia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Nina membuka matanya perlahan.
"Bang, kamu ingin aku mati ya?", Nina berucap.
"Maafkan aku sayang, aku tadi lihat kamu memejamkan aku kira kamu sedang berdoa", kata Jimmy penuh penyesalan.
"Memang aku lagi berdoa, tapi kamu mengacaukannya", kata Nina kesal.
"Maaf", kata Jimmy seraya memeluk Nina dari belakang kursi.
"Besok kamu resmi jadi nyonya Jimmy, khalayak akan tahu kalau Jimmy sudah menikah dengan wanita idamannya", kata Jimmy sambil mencium rambut indah Nina.
"Sebenarnya aku ingin di akui sebagai menantu dalam keluarga kamu, tapi ya mungkin aku gak selevel dengan kamu jadi tidak di akui", kata Nina kecewa.
"Bukan tidak tapi belum", kata Jimmy membujuk Nina.
"Semoga", kata Nina lemas.
"Sepertinya hari ini berat buat kamu, kita pulang saja sekarang agar besok kamu lebih fresh", ajak Jimmy.
"Terserah kamu sajalah", kata Nina tak semangat.
"Bersiaplah kita pulang, aku ambil tas sama ponsel dulu", kata Jimmy sambil berlalu
"Ayo", ajak Jimmy pada Nina tak lama kemudian.
Nina mengikuti langkah Jimmy. Mereka pulang ke rumah mereka.
****
Sementara itu Adel di dalam kamarnya, memikirkan pertemuannya dengan Jimmy di mall tadi siang.
__ADS_1
"Meeting, belanja. Emangnya kalau udah meeting sempat ya belanja sebanyak itu?", gumam Adel.
"Atau kak Jimmy sengaja jalan sama tuh wanita?atau jangan-jangan itu adalah gadis yang di jodohkan dengan kak Jimmy?", gumam Adel.
"Tak bisa di biarkan ini, aku harus bicara sama mbak Na", kata Adel geram.
Adel mengambil ponselnya. Ia mencari nomor Nina dan menelponnya.
"Iya Del ada apa?", tanya Nina setelah tersambung
"Mbak, kak Jimmy sekarang di mana?", tanya Adel menyelidik.
"Ada di kamar, kenapa?", tanya Nina tanpa curiga.
"Mbak Na melihat ada yang janggal gak dari kak Jimmy? perubahan sikap atau bicara mungkin", tanya Adel.
"Hmmm sepertinya tidak tuh malahan akhir-akhir ini sikapnya bertambah baik pada mbak, memangnya ada apa?", tanya Nina penasaran.
Adel berpikir sejenak. Dia jadi sedikit ragu untuk memberitahukan tentang apa yang di lihat dan di temukannya.
"Sebenarnya Adel cuma takut terjadi apa-apa dengan mbak, Adel sayang mbak, Adel hanya punya ibu dan mbak saja di dunia ini", kata Adel mengalihkan pokok cerita.
"Ngomong apa sih Del, sudah jangan berpikiran macam-macam, oh iya ngomong-ngomong kamu mau kuliah di mana?", tanya Nina.
"Adel mau kerja dulu boleh gak?kuliah bisa sambil kerja, aku gak mau jadi bebannya mbak", kata Adel.
Adel diam. Ia merenungi kata-kata Nina.
"Sudahlah kerjanya nanti aja, kuliah aja dulu. Soal biaya jangan di pikirkan mbak akan urus semuanya", kata Nina tak mau adiknya kuliah sambil kerja seperti dirinya dulu.
Nina ingin Adel fokus belajar dulu. Setelah selesai kuliah baru boleh kerja.
"Tapi mbak..", kata Adel mau protes.
"Sudah jangan membantah", kata Nina cepat.
"Iya mbak", kata Adel tanpa protes lagi.
"Ya udah, mbak mau mandi dulu ya, salam buat ibu", kata Nina memutus obrolan mereka.
"Siapa yang menelpon?", tanya Jimmy
"Adel, dianya mau kerja sambil kuliah", kata Nina.
"Trus kamu suruh?", ujar Jimmy.
"Ya nggaklah Bang, cukup aku aja kuliah nyambi kerja", kata Nina mengambil handuknya dan menuju kamar mandi.
"Sayang..", panggil Jimmy ke Nina.
__ADS_1
Nina menghentikan langkahnya. Jimmy menatap Nina serius. Jimmy bingung bagaimana cara menyampaikannya pada wanita yang sangat di sayanginya ini. Jimmy tidak ingin Nina tersakiti dengan kata-katanya. Jimmy mencari kata-kata yang pas untuk di sampaikannya.
"Ya ada apa?", tanya Nina.
"Kalau suatu saat aku jauh dari kamu, apa kamu akan menjauh juga dariku?", tanya Jimmy berteka-teki.
"Ngomong apa sih Bang?",kata Nina seraya menghampiri Jimmy.
"Kita lahir itu atas kehendakNya, kita bertemu juga atas kehendakNya dan kita berpisah pun juga atas kehendakNya. Jadi takdir kita sudah ada yang ngaturnya. Seandainya kita harus di takdirkan tidak untuk bersama lago nantinya, itulah batas jodoh kita. Tapi aku selalu berdoa sama yang maha esa semoga cinta kita abadi adanya sampai ajal memisahkan", jelas Nina.
"Hatimu begitu putih dan tulus", batin Jimmy.
"Bang, koq jadi melamun. Memangnya ada apa sih koq nanyanya aneh", kata Nina.
"Gak kenapa-kenapa. Aku tidak mau suatu hari nanti kamu menjauh pergi dariku", kata Jimmy seraya memegang tangan Nina.
"Kamu adalah pilihanku, maka dari itu aku akan selalu ada buat kamu", kata Nina membalas genggaman tangan Jimmy.
"Terima kasih sayang, aku memang lelaki beruntung. Kamu wanita terbaik yang di pilihkan tuhan untukku. Bahagialah bersamaku cintaku", kata Jimmy.
"Aku tersanjung. Aku sekarang sudah cukup bahagia. Yang terpenting bagiku, jaga hatimu untukku. Ku ingin cintamu selalu ada untukku. Dan satu lagi, jaga senjatamu, jangan sembarang tembak. Udah ahhh aku mandi dulu ya, gerah banget rasanya", kata Nina dengan tawanya yang khas Nina bangkit dari tempat duduknya.
Jimmy merasa terpukul dengan permintaan Nina yang terakhir. Raut wajahnya seketika berubah. Jimmy cepat menyembunyikan rasanya. Dia mencoba menetralkan suasana hatinya.
""Mandi bareng ya", ajak Jimmy.
"Pasti modus lagi",ledek Nina.
"Modus untuk hal positif tidak apa-apa kan?", kata Jimmy seraya melompat dari tempat duduknya.
Nina sedikit cemberut. Jimmy tambah gemas melihat sikap Nina yang cuek dan sedikit malu-malu.
"Ayo", ajak Jimmy menarik tangan Nina menuju kamar mandi.
Keduanya menuju kamar mandi sambil bergandengan tangan. Jimmy dengan sigap menutup kamar mandi tersebut. Gemericik air mulai terdengar. Terdengar tawa canda mereka dari dalam kamar mandi. Entah apa yang mereka lakukan di sana hanya mereka berdua yang tahu.
.
.
.
Selamat membaca ya readers...
Terima kasih yang sudah kasih like dan komen.
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1