Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Mengandung


__ADS_3

Adel akhirnya bisa menyelesaikan kuliahnya dengan tepat waktu. Adel bisa mencapai target sesuai dengan waktu yang di tentukannya. Empat tahun kuliah bisa di selesaikan Adek dengan baik. Adel dengan tekad yang gigih, akhirnya bisa mendapatkan nilai terbaik di fakultasnya.


"Selamat ya sayang, ibu bangga dengan kamu. Kamu telah mendapatkan predikat terbaik. Tapi ingat perjalanan kamu belum selesai sampai disini, masih butuh perjuangan", ucap sang ibu.


"Ma kasih bu, ini berkat doa ibu dan berkat mbak Na juga. Kalian berdua penyemangatku. Terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku. I love you so much my mother", kata Adel sambil memeluk sang ibunda tercinta.


"Sama-sama sayang", ucap bu Ratmi dengan tangan mengelus punggung Adel. Adel melepaskan pelukan pada ibunya dan beralih memeluk sang kakak.


"Terima kasih mbakku yang cantik jelita, baik hati dan tidak sombong", ucap Adel sambil memeluk Nina.


"Hmmm", Nina berdehem mendengar ucapan Adel.


Adel terkekeh. Nina melerai pelukannya. Tiba-tiba kepala Nina terasa pusing. Ia memegangi kepalanya.


"Mbak Na kenapa?", tanya Adel.


Nina merasakan tubuhnya terasa ringan dan seperti melayang. Dengkulnya terasa lemas. Pandangannya gelap seketika. Nina hampir ambruk ke tanah. Untung Adel dengan cepat menangkap tubuh Nina dan memeluknya.


"Mbak Na", jerit Adel histeris yang melihat Nina pingsan dalam pelukannya.


Bu Ratmi juga cepat membantu Adel. Melihat Adel menjerit, orang-orang yang masih berada di tempat tersebut membantu Adel dan bu Ratmi untuk membawa Nina ke rumah sakit.


Bu Ratmi cemas takut terjadi sesuatu pada anak sulungnya tersebut. Airmata bu Ratmi akhirnya meleleh juga.


"Ya Allah semoga Nina tidak kenapa-napa", batin bu Ratmi.


Nina di bawa ke ruang unit gawat darurat. Adel menenangkan sang ibu yang sedang menangis.


"Bu, kita berdoa saja semoga mbak Na baik-baik saja", ujar Adel walau dalam hati dia juga merasa kecemasan yang luar biasa.


"Telepon Jimmy. Beri tahu kalau mbakmu sekarang di rumah sakit", kata bu Ratmi masih sempat memberi perintah pada Adel walau dalam kekalutan. Adel menelpon Jimmy. Bu Ratmi mondar-mandir di ruang tunggu.


Sudah setengah jam berlalu tapi belum ada pemberitahuan pihak rumah sakit khususnya tenaga medis yang menangani Nina. Adel dan ibunya tambah gelisah. Tiba-tiba pintu ruangan di mana Nina berada terbuka. Dokter yang memakai baju khas unit gawat darurat itu mendatangi Adel dan ibunya.


"Keluarga bu Nina?", tanya sang dokter.


"Iya dok saya ibunya", jawab bu Ratmi.


"Mari bu ikut ke ruangan saya sebentar", ajak sang dokter.


"Baik dok", jawab bu Ratmi.


Dokter yang berperawakan seperti orang arab itu berjalan menuju ruangannya. Bu Ratmi dan Adel mengikuti langkah dokter tersebut.


"Silakan duduk", kata sang dokter pada bu Ratmi dan juga Adel setelah tiba di ruangannya.


"Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata bu Nina hanya kecapaian dan cuaca yang panasnya ekstrim seperti ini membuat ketahanan tubuhnya menurun. Dan juga sepertinya bu Nina ini belum makan dari pagi jadi tubuhnya menjadi lemas", jelas sang dokter.


Adel dan ibunya saling pandang. Mereka baru ingat kalau mereka bertiga memang tadi belum sempat makan karena Nina keburu pingsan.


"Apa kalian sudah mengetahui sebelumnya kalau anak ibu sedang mengandung?", tanya sang dokter melanjutkan kata-katanya.


"Mengandung?", tanya Bu Ratmi dan Adel serentak.

__ADS_1


"Iya bu Nina mengandung. Usia kehamilannya sekitar satu minggu", jelas sang dokter sambil tersenyum.


"Ya Allah terima kasih", kata bu Ratmi mengucap syukur.


Adel turut senang mendengar kabar baik tersebut.


"Apa mbak saya harus di rawat inap, dok?", tanya Adel mengingat kesehatan mbaknya yang belum membaik.


"Tidak perlu, beri dia makan terlebih dahulu. Setelah makan akan saya kasih obat. Tunggu lebih kurang satu jam, setelah itu boleh pulang. Nanti akan saya kasih resep obatnya, tebus di apotik ya, bu", ujar sang dokter.


"Baik dok. Terima kasih banyak dokter", ucap bu Ratmi.


"Iya bu sama-sama. Silakan melihat bu Nina, kasih makan ya bu", kata sang dokter mengingatkan.


"Baik dok, mari dok kami permisi", kata bu Ratmi.


Sang dokter mengangguk. Adel dan bu Ratmi mendatangi ruangan dimana Nina berada. Terlihat Nina terbaring lemah di tempat tidur dengan tangan di infus.


"Ibu, Adel", kata Nina berusaha untuk duduk.


"Ehh gak usah duduk, tiduran aja", kata bu Ratmi melarang Nina untuk duduk. Nina menuruti kata sang ibu.


"Bu, Adel beli makanan dulu ya", kata Adel.


"Kamu masih pakaian seperti itu, biar ibu aja yang beli. Kamu jaga mbak kamu aja", ujar bu Ratmi yang melihat Adel masih dengan pakaiannya saat wisuda tadi.


"Tapi nanti ibu gak tahu tempatnya", ujar Adel.


"Ibu bisa tanya satpam dan ibu akan beli di kantin rumah sakit aja", kata bu Ratmi lagi.


Bu Ratmi keluar dari ruangan tersebut. Adel tersenyum kepada Nina.


"Tadi pagi mbak Na gak makan ya?", tanya Adel.


"Lagi malas makan jadi minum air putih aja", jawab Nina enteng.


""Tadi juga belum sempat makan, mbak Na sudah pingsan duluan", ujar Adel dengan muka di buat cemberut.


"Kamu juga kenapa belum makan, entar kamu pingsan pula", kata Nina pada Adel.


"Nanti sama mbak dan ibu aja", ujar Adel.


"Mbak Na harus makan, kasihan kan ponakan aku yang ada di dalam perut mbak Na gak di kasih makan", celoteh Adel.


Nina menautkan kedua alisnya. Ia belum mengerti maksud ucapan Adel.


Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka. Jimmy muncul dari pintu tersebut.


"Kak Jimmy", ucap Adel.


Nina ikut menoleh ke arah pintu. Jimmy cepat menghampiri Nina.


"Sayang kamu gak apa-apa kan?", tanya Jimmy seraya memegang dahi Nina.

__ADS_1


"Seperti yang abang lihat", jawab Nina.


Pintu ruangan kembali terbuka. Bu Ratmi muncul dengan membawa beberapa bungkusan di tangannya.


"Nak Jimmy, sudah lama ya datangnya?", kata bu Ratmi seraya meletakkan bungkusan dan di tangannya di meja kecil di samping tempat tidur Nina.


"Baru tiba bu. Setelah mendapat telepon dari Adel tadi, aku langsung luncur kesini", jawab Jimmy.


"Kita makan dulu ya. Sudah siang. Ayo nak Jimmy kita makan dulu", ajak bu Ratmi.


"Kebetulan ni aku juga belum makan", jawab Jimmy enteng.


"Ibu tadi cuma beli tiga. Ini buat nak Jimmy, biar ibu sama Adel aja", kata bu Ratmi memberikan satu bungkus nasi pada Jimmy.


"Aku sama abang aja bu, takut nanti gak habis. Aku lagi gak nafsu makan", ujar Nina.


"Iya bu kami berdua aja", ucap Jimmy seraya mengambil bungkusan tersebut dari tangan ibu mertuanya.


"Iya udah deh. Yuuk kita makan", kata bu Ratmi.


Mereka mulai dengan ritual makannya. Jimmy menyuapi Nina.


"Makan yang banyak biar anak yang di dalam bisa sehat dan kamu gak pingsan lagi", ucap bu Ratmi pada Nina.


Jimmy tersedak. Adel cepat memberikan minum pada kakak iparnya tersebut. Jimmy menerima air tersebut dan langsung meminumnya.


"Makannya hati-hati bang', ujar Nina.


"Ibu ngomong apa tadi?", tanya Jimmy pada bu Ratmi.


"Yang mana?", tanya bu Ratmi tak mengerti.


"Tadi?anak yang di dalam?maksudnya siapa?anak siapa?", tanya Jimmy tak mengerti.


"Jadi kamu juga belum tahu kalau isteri kamu lagi hamil?", tanya bu Ratmi.


"Hamil?!",


.


.


.


.


.


.


Lanjut lagi bacanya ya readersku semuanya.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.

__ADS_1


Like, komen dan votenya di tunggu ya.


__ADS_2