
Jimmy memberitahukan berita gembira tentang kehamilan Nina pada mamanya. Jimmy menelepon sang mama. Mama Liana menerima telepon dari Jimmy putra sulungnya tersebut.
"Ma, mama pasti senang mendengar kabar gembira ini", ucap Jimmy semangat setelah tersambung dengan sang mama.
"Kabar gembira apa?", tanya sang mama penasaran.
"Mama akan mendapat cucu lagi, ma. Nina hamil ma", kata Jimmy semangat.
"Paling juga perempuan lagi", kata mama Liana menanggapi ucapan Jimmy dengan santai.
"Koq mama ngomongnya gitu, seharusnya mama itu senang mendengar berita tentang kehamilan Nina. Walau belum terlihat jenisnya, setidaknya Nina bisa hamil lagi, ma", ujar Jimmy jengah.
"Iyaaa, mama sih tetap berharap semoga cucu mama kali ini berjenis laki-laki", ucap mama Liana.
"Aamiin. Sudah dulu ya ma, beritahu papa tentang berita baik ini ya ma", kata Jimmy.
Jimmy mengakhirinya obrolannya dengan sang mama.
Sebenarnya mama Liana sangat senang mendengar berita kehamilan Nina tersebut namun karena takut nanti tidak sesuai dengan harapannya, mama Liana tidak begitu menunjukkan suasana hatinya tersebut kepada Jimmy.
"Kemarin-kemarin sangat berharap ingin mendapatkan cucu, sekarang setelah dapat malah cuek", gumam Jimmy.
"Abang ngomong apa?", tanya Nina yang tiba-tiba muncul di belakang Jimmy.
Jimmy tampak kaget. Nina mengeryitkan dahinya.
"Kamu, bikin kaget aja", ucap Jimmy.
"Kaget? perasaan aku gak ngagetin abang lho", ujar Nina.
"Sudahlah lupakan saja. Kamu mau apa?", tanya Jimmy menawarkan sesuatu.
"Aku mau abang", ucap Nina tanpa ragu dan merangkul leher Jimmy.
"Hmmm", Jimmy berdehem dan membiarkan Nina membelai wajahnya. Hasrat lelaki Jimmy muncul saat Nina mencium lehernya.
"Kita pindah tempat", ajak Jimmy pada Nina.
Nina menurut saja. Jimmy membawa Nina ke ruang kerjanya. Jimmy tak lupa mengunci pintu ruangannya tersebut.
"Sayang, kamu tidak sedang kesurupan kan?", tanya Jimmy saat tangan Nina nyasar ke bawah celana Jimmy. Adik manis Jimmy yang dari tadi sudah menegang, membuat Nina jadi gregetan. Jimmy membiarkan Nina membuka celananya. Tampaklah adik manis Jimmy yang sudah tegak seperti monas. Menjulang dengan gagahnya. Nina terpana. Di elusnya adik manis suaminya tersebut dengan lembut. Jimmy menikmati sentuhan isterinya itu. Nina berjongkok. Nina membuka mulutnya dan tanpa ragu Nina memasukkan adik manis suaminya tersebut ke dalam mulutnya. Jimmy melenguh. Jimmy memejamkan matanya. Aksi Nina membuat Jimmy serasa terbang.
__ADS_1
"Sayang oohhh..", Jimmy meracau.
Nina tak peduli. Ia seperti menikmati es krim. Jimmy seakan melayang-layang. Nina terus dengan aksinya. Jimmy tak mau kalah, di remasnya bukit kembar isterinya tersebut yang masih dalam keadaan berbungkus itu.
Jimmy menghentikan aksi Nina. Di angkatnya tubuh Nina dan Jimmy mulai melucuti pakaian Nina satu demi satu. Tanpa meminta ijin terlebih dahulu, Jimmy mengangkat tubuh Nina dan membawanya ke meja kerjanya. Nina di dudukkan Jimmy di situ. Jimmy membuka kaki Nina. Dengan leluasa Jimmy bermain di gundukan Nina. Nina menjerit kecil saat Jimmy mengisap daging kecil di dalam gundukan tersebut. Tangan Jimmy bergerilya bebas di dada Nina. Nina melenguh indah.
Jimmy menyusuri setiap inchi tubuh Nina. Tubuh Nina bergetar, Jimmy tahu kalau isterinya tersebut mulai mencampai klimaksnya. Jimmy membuka ************ Nina dan menuntun adik manisnya ke gua Nina. Dengan cepat Jimmy menusukkan senjatanya tersebut ke gua Nina. Lenguhan kecil lolos dari mulut keduanya.
Jimmy mulai dengan gerakan maju mundurnya. Tubuh Nina terguncang. Jimmy semakin bersemangat. Nina merasa kurang puas. Jimmy di suruh Nina duduk di lantai, Jimmy menuruti kemauan sang isteri. Dengan sigap Nina memasukkan adik manis suaminya keliang guanya sendiri. Bak kuda liar Nina berpacu di atas tubuh Jimmy. Tangan Jimmy meremas pantat Nina yang tambah berisi tersebut.
Jimmy tak mau kalah, di rebahkannya tubuh Nina dan kini mereka bertukar posisi. Jimmy mulai menggenjot Nina. Nina benar-benar menikmati permainan suaminya.
Sampai tiba pada klimaksnya Jimmy menekan adik manisnya lebih dalam, Nina memeluk tubuh suaminya. Mereka mencapai puncaknya bersama. Penyatuan pun selesai. Lenguhan panjang lolos dari mulut Jimmy.
"Ouwwhhh...",
Mereka berpelukan erat. Tubuh mereka seperti tidak mau terlepas. Sensasi indah masih terasa di tubuh keduanya.
Setelah beberapa menit barulah keduanya melerai pelukan mereka. Rasa puas tergambar jelas di wajah Nina.
"Terima kasih ya", kata Nina seraya mengecup pipi Jimmy.
"Sama-sama sayang", jawab Jimmy seraya mengajak Nina bangun. Keduanya kembali mengenakan pakaian mereka dan keluar dari ruangan tersebut dan menuju kamar mereka.
Nina tersenyum malu-malu.
"Nggaklah bang", jawab Nina bergelayut manja di lengan Jimmy.
"Lantas apa?gak biasanya langsung nyosor", kata Jimmy sambil tertawa.
Nina mencubit pinggang Jimmy. Jimmy menggeliat kesakitan.
"Rasain", kata Nina.
"Jadi salah abang sih, kamu kan yang tadi duluan godain abang", kata Jimmy seraya mengusap pinggangnya yang sedikit nyeri akibat cubitan Nina.
"Itu cuma reflek aja, mungkin bawaan yang di dalam", kata Nina berdalih.
"Bilang aja kalau lagi pingin", kata Jimmy sambil mencolek dagu Nina.
"Iya bang, gak ngerti juga aku. Tiba-tiba pinginnya itu sama abang", ucap Nina sambil terkekeh.
__ADS_1
"Tuh kan ngaku, tapi pinginnya cuma sama abang kan?", tanya Jimmy ke Nina dengan nada sedikit cemburu.
"Lah iya lah abang sayang, masa sama yang lain. Kamu itu cinta matiku. Jangan berpikiran yang aneh-aneh lah. Aku hanya ingin sama kamu sampai nyawa memisahkan kita", kata Nina sambil memeluk Jimmy.
"Benar nih?", tanya Jimmy melerai pelukan Nina.
Nina mengangguk sambil tersenyum manis.
"Semoga anak ini berjenis laki-laki ya bang", ujar Nina penuh harap.
"Tidak usah di pikirkan. Bagi abang, kamu bisa hamil lagi aja sudah buat abang senang luar biasa", kata Jimmy seraya mengelus perut Nina yang masih rata.
"Tapi mama sangat menginginkan cucu laki-laki dari abang, kita harus bagaimana?", tanya Nina cemas.
"Kamu tidak usah risau, berdoa saja semoga anak kita ini berjenis kelamin laki-laki. Dan yang abang bilang kemarin-kemarin jangan lupa, kita coba resep teman abang tersebut. Siapa tahu berhasil", kata Jimmy semangat.
"Kalau gagal gimana?", tanya Nina cemas.
"Iya gak papa, namanya juga usaha. Jalani aja dulu", ucap Jimmy memberi sugesti pada Nina.
*Semoga laki-laki ya bang. Semoga sang pangeran hadir di tengah-tengah kita", ucap Nina menerawang jauh.
"Aamiin", jawab Jimmy singkat.
"Pokoknya abang tidak mau terjadi sesuatu pada anak kita, santai, jangan jadi pikiran. Jaga kesehatan, makan yang banyak biar anak kita sehat", kata Jimmy lagi.
"Iya bang, semoga berhasil ya bang", kata Nina penuh harap.
Jimmy hanya mengangguk. Dia tidak berani muluk-muluk. Dalam hati Jimmy berdoa, semoga impian mereka semua bisa terpenuhi.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komentar dan votenya ya readersku sayang.
__ADS_1
Mampir juga yukk ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).