Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Seiring waktu


__ADS_3

Dokter keluar dari ruang periksa. Sang dokter mencuci tangannya terlebih dahulu. Jimmy sudah tak sabar ingin mengetahui keadaan Nina isterinya. Sang dokter duduk di kursinya.


"Bagaimana keadaan isteri saya dok?", kata Jimmy tak sabar.


"Begini, sepertinya kandungan isteri bapak sangat lemah. Saya sarankan untuk menjaga isteri bapak untuk tidak menyebabkan kandungannya bermasalah", jelas sang dokter.


"Ada apa dengan kandungan isteri saya dok?", kata Jimmy cemas.


"Sekarang isteri bapak lagi hamil, jaga jangan sampai janinnya terganggu", jelas sang dokter lagi.


"Hamil?!", kata Jimmy.


"Iya isteri bapak sedang hamil. Ini memasuki usia dua minggu kehamilannya. Jaga kehamilannya ", kata sang dokter.


"Ini saya kasih obat biar kandungannya kuat. Dan yang terpenting jangan kecapekan",nasihat sang dokter lagi.


"Baik dok akan saya ingat", jawab Jimmy mantap.


Setelah semua selesai, Jimmy membawa Nina pulang ke rumah. Baru saja tiba di rumah, Marsel sudah datang ke rumahnya. Jimmy menemui Marsel di teras depan.


"Yang benar aja lu udah datang jam segini, aku baru pulang juga", kata Jimmy ketika melihat arlojinya baru menunjukkan pukul 6.30 WIB.


"Udah cepetan mandi sana, ganti pakaian. Aku nunggu di sini. Gak pakai lama", kata Marsel seraya duduk di kursi terasnya Jimmy.


"Masuk aja kenapa", ujar Jimmy.


"Enak di sini santai", jawab Marsel.


"Iya udah aku mandi dulu ya", ucap Jimmy.


Marsel menganggukkan kepalanya. Jimmy masuk ke dalam meninggalkan Marsel yang ada di luar.


"Marsel sudah nunggu di depan", kata Jimmy pada Nina selesai mandi.


"Pergi aja aku gak papa", kata Nina tanpa menoleh ke arah Jimmy.


"Kamu yakin gak papa?", tanya Jimmy.


"Iya aku gak papa", kata Nina meyakinkan Jimmy.


Jimmy mengambil pakaiannya di lemari. Dengan cepat Jimmy memakai pakaian tersebut. Jimmy mendekati Nina yang sedang terbaring membelakanginya. Jimmy duduk di pinggir tempat tidur. Jimmy merengkuh bahu Nina. Nina membalikkan tubuhnya.


"Kamu tahu, hari ini aku sangat bahagia. Kamu memberikan hal yang paling indah dalam hidupku. Akhirnya benihku tumbuh di disini, di perut orang yang paling aku cintai ", kata Jimmy seraya mengelus lembut perut Nina.

__ADS_1


Nina tersenyum hambar. Dia tidak tahu apa dia bahagia dengan ucapan Jimmy barusan atau tidak, yang Nina rasakan hanya kegetiran hidup.


"Aku pergi dulu, kamu makan sama mbak Yuni aja ya. Awas jangan gak makan karena kamu harus minum obat. Kami gak lama", ujar Jimmy.


"Kamu gak makan dulu?", tanya Nina ke Jimmy.


"Marsel udah nunggu, ini mau mampir beli sesuatu dulu katanya tadi. Kamu aja yang makan, jaga anak kita", kata Jimmy seraya mengecup dahi Nina lembut.


Nina terenyuh. Nina merasakan ada ketulusan yang di berikan Jimmy.


Jimmy pergi meninggalkan Nina sendirian di kamar.


"Ayo berangkat ", ajak Jimmy pada Marsel.


Marsel yang masih asik bermain ponsel, langsung menutup permainannya. Kedua sahabat tersebut menaiki mobilnya Marsel. Perlahan tapi pasti Marsel melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang melintasi jalan hitam yang panjang.


****


Sementara itu Prili uring-uringan karena Jimmy tak datang padanya.


"Awas ya kamu Nin, kamu kira kamu bisa menguasai Jimmy, kamu kira Jimmy hanya milik kamu. Kamu membangunkan singa yang lagi tidur", gumam Prili geram.


Prili menelpon Jimmy.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan", suara operator seluler bergema di telinga Prili.


Hanny sang mama yang kebetulan lewat didepan kamar Prili, langsung menyapa Prili.


"Kamu marah sama siapa? Jimmy mana?", tanya sang mama.


"Nggak tahu dia kemana", ucap Prili.


"Ooh jadi kamu tadi bicara sendiri toh", ujar sang mama.


"Iihhh mama, orang lagi kesal juga", kata Prili.


Hanny masuk ke kamar Prili dan duduk di tempat tidur di samping Prili. Hanny merengkuh bahu Prili.


"Jimmy itu seorang pebisnis, bisa jadi dia masih banyak urusan atau bisa jadi ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan. Dan juga kamu harus ingat, Jimmy itu juga punya Nina. Jadi kamu harus legowo. Dia itu suami kamu, dia orangnya bertanggung jawab, pasti dia akan datang kesini", jelas sang mama.


"Aku ini lagi ngandung anak dia Ma, seharusnya dia itu ngerti. Anak ini juga butuh dia", ujar Prili mengelus perutnya yang mulai membuncit.


"Anaknya atau mamanya yang butuh nih?", canda Hanny

__ADS_1


"Iihhh mama orang lagi serius juga", kata Prili dengan wajah sedikit bersemu merah.


"Emangnya Jimmy gak bilang dia tidak bisa kemari?", tanya sang mama.


"Tadi ku telpon katanya ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan", ujar Prili.


"Tuh benar kan, sudahlah tenangkan pikiran kamu. Ayo kita makan dulu, biar calon bayi kamu sehat dan kuat ", ucap Hanny sang mama.


"Nanti aja deh ma, mama duluan aja sama papa. Prili belum selera", ucap Prili.


"Prili, anak kamu ini perlu makan. Kasih asupan bergizi biar dia gemuk dan sehat", ucap sang mama seraya menggandeng tangan Prili.


Terpaksa dengan sedikit malas Prili mengikuti langkah sang mama. Wibowo sedang menonton televisi di ruang tengah.


"Ayo Pa kita makan dulu", panggil Hanny pada Wibowo suaminya.


Wibowo langsung menuju meja makan. Hanny menyiapkan piring untuk suaminya dan mengisinya dengan berbagai aneka masakan.


Prili mengambil untuk dirinya sendiri.


"Koq makannya cuma segitu sayang?kamu itu lagi hamil loh, harus makan yang banyak biar bayi kamu sehat", kata Hanny ketika melihat Prili cuma mengambil sedikit nasi dan lauk seadanya.


"Nanti kalau lapar makan lagi Ma", kata Prili tanpa menghiraukan ucapan sang mama.


Prili makan dengan cepat. Setelah selesai ia langsung kembali ke kamarnya. Wibowo dan Hanny isterinya hanya geleng-geleng kepala melihat ulah sang anak.


"Pa, sekali-kali papa coba yang ngomong sama Prili, mungkin dia akan nurut", ucap Hanny pada suaminya.


"Prili itu bukan anak-anak lagi Ma. Apalagi sekarang dia sudah menikah sedang mengandung anaknya. Seharusnya dia tahu dan paham. Kita jangan terlalu memanjakannya. Biarlah dia sendiri bisa koq", ucap Wibowo.


"Tapi dia juga butuh kita Pa, kita tahu Jimmy kurang memperhatikannya. Itu juga yang membuat dia terkadang uring-uringan", kata Hanny lagi.


"Kita bisa apa. Jimmy juga punya Nina. Jimmy itu seorang pebisnis iyaa pasti sibuk. Kita tidak bisa memaksa Jimmy harus begitu harus begitu. Iya jalani aja dulu. Semua itu juga salahnya sendiri kan!?", kata Wibowo.


"Papa ini gimana sih? bukannya belain anak", ujar Hanny cemberut.


"Biarkan dia dewasa dengan masalahnya. Suatu hari nanti dia akan mengerti", kata Wibowo seraya menyudahi makannya.


Hanny menghela nafasnya. Wibowo ada benarnya. Sebagai orang tua pasti ingin melihat anaknya hidup bahagia. Tapi inilah adalah pilihan. Seiring waktu semua akan membaik. Cuma waktu yang bisa menjawab semuanya.


Selamat membaca ya readersku sayang...


Jangan lupa like, komen dan votenya juga ya.

__ADS_1


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2