Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Jodoh sudah di tentukan


__ADS_3

Prili di makamkan di makam keluarga. Makam keluarga besar Suhendar, orang tuanya pak Wibowo kakeknya Prili. Makamnya tersusun sangat rapi. Banyak yang mengantar Prili ke sana. Ibu Ratmi ibunya Nina pun hadir di sana. Nina yang masih berada di sakit meminta pada suaminya Jimmy untuk ikut ke sana. Wanita dengan hati lembut serta pemaaf tersebut ingin ikut mengantar Prili ke tempat persinggahan terakhirnya.


Namun Jimmy tidak mengijinkan dengan alasan kesehatan Nina belum sehat betul. Nina hanya bisa mendoakan semoga Prili tenang di alam sana.


"Kasihan Prili. Di umurnya yang masih muda, ia harus meninggalkan dunia fana ini untuk selama-lamanya",gumam Nina.


Adel yang duduk di samping Nina mendengus seketika.


"Setidaknya mbak Na sekarang sudah tidak ada gangguan lagi. Aman damai sentosa. Mbak, jadi orang itu jangan baik amat. Kalau kelewat baik, yang ada kita malah di manfaati orang. Tapi perkedel itu sudah menerima ganjaran dari kelakuannya. Iyaa semoga bumi menerima kedatangannya", celoteh Adel sambil mengupas buah apel di tangannya.


"Hussh kamu itu ngomong apa sih dek, nggak baik ngomongi orang yang sudah meninggal seperti itu. Kalau bumi tidak menerima kedatangannya entar kamu yang di datanginya. Nah lho, gimana itu?", seloroh Nina.


"Dia kan gak suka sama mbak Na, iya pasti mbak Na lah yang di datanginya", jawab Adel sekenanya sambil tertawa.


Nina geleng-geleng kepala mendengar jawaban sang adik. Adel memberikan Apel yang sudah di potongnya kecil-kecil tersebut kepada Nina. Nina menerimanya dan mengunyahnya sampai habis.


"Mbak, kalau cari suami itu enaknya pacaran dulu atau langsung nikah sih?", tanya Adel di sela aktifitasnya memotong buah apel.


"Kalau ingin lebih mengenal calon kita, sebaiknya ada pendekatan atau pengenalan diri terlebih dahulu biar tahu kelebihan dan kekuranganya. Biar tiba waktu nikah nggak kaget lagi dengan sikap, sifat dan caranya", jelas Nina.


"Ooh gitu. Jadi kalau ingin langsung nikah juga gak apa-apa ya", kata Adel seraya mengunyah apel hasil kupasannya.


"Kamu nanya gitu emangnya kamu mau nikah?", tanya Nina penasaran.


"Iya nggak lah orang cuma nanya aja. Pantang nikah sebelum sukses", jawab Adel sambil terkekeh.


"Yang penting selesaikan dulu kuliahnya. Soal nikah kalau sudah tiba waktunya, jodohnya akan datang dengan sendirinya", kata Nina.


"Mana ada jodoh datang sendiri mbak", jawab Adel.


"Maksudnya kalau sudah waktunya, pasti akan di pertemukan. Setiap manusia itu di ciptakan berpasang-pasangan. Kalau nggak bertemu di dunia iya di akhirat ketemunya ", jelas Nina.


"Iihh seram amat. Masa' ketemunya di akhirat sih mbak", ujar Adel.


"Lah iya karena pertemuannya tidak di takdirkan di dunia tapi di akhirat. Macam-macam cara Allah mempertemukan mereka. Termasuk kamu, jodohmu sudah di tentukan oleh Allah tapi belum di pertemukan. Semua akan indah pada waktunya", jelas Nina.


"Karena Allah tahu kalau aku belum mau nikah", jawab Adel sambil terkekeh.


Tiba-tiba seorang dokter masuk dengan seorang perawatnya. Sang dokter menyapa Nina dengan ramah.


"Halo bu Nina, apa kabarnya hari ini?", tanya sang dokter.


"Alhamdulillah sudah lebih baik dok",jawab Nina.

__ADS_1


"Syukurlah. Kita periksa dulu ya bu",kata sang dokter.


Nina mengangguk tanda setuju. Sang dokter memeriksa keadaan Nina.


"Kondisi ibu sudah membaik. Ibu boleh pulang. Tapi bayinya belum bisa di bawa pulang ke rumah. Kalau kondisinya sudah membaik, bayinya baru boleh di bawa pulang", ujar sang dokter.


"Boleh di tungguin gak dok bayinya?", tanya Nina.


"Terserah ibu, nggak di tunggui juga nggak apa-apa. Tenang aja rumah sakit kita ini aman koq", kata sang dokter.


"Kalau saya mau di sini saja sambil nungguin bayi saya boleh gak dok?", tanya Nina.


"Boleh. Tapi takutnya ibu akan bosan di sini. Ibu bisa koq datang tiap hari ke sini tanpa menginap",ucap sang dokter.


Nina diam. Ia seperti menimbang-nimbang ucapan sang dokter.


"Bagaimana?", tanya sang dokter lagi.


"Saya nunggu suami saya datang aja dulu dok", ucap Nina.


"Baiklah. Kalau begitu kami permisi dulu",ujar sang dokter.


"Iya dok. Terima kasih banyak dok", kata Nina.


Sang dokter keluar dari ruangan tersebut. Adel mendekat kearah Nina.


"Dokternya ganteng ya mbak", kata Adel menyeringai.


"Kamu suka?", tebak Nina.


"Suka kan gak apa-apa juga kali mbak. Tapi benar lho dokternya ganteng", ujar Adel sambil senyum-senyum.


"Suka sih gak apa-apa. Tapi lihat-lihat juga dong, dia sudah ada yang punya apa belum", kata Nina.


"Suka diam-diam kan gak apa-apa ", jawab Adel.


"Terserah kamu aja deh", kata Nina sembari membetulkan posisi berbaring nya.


"Mbak siang ini ada jadwal kuliah, mbak sendiri gak papa ya!?", kata Adel.


"Iya gak papa. Ibu bentar lagi kan juga datang. Bang Jimmy mungkin sore baru kemari. Walau sudah selesai memakamkan, tapi gak enak kalau langsung pulang", ujar Nina.


"Pastilah mbak, walau bagaimanapun mbak Prili adalah isterinya kak Jimmy juga. Yang pasti, g huak enak di lihat orang kalau kak Jimmy tak ada disana ", kata Adel.

__ADS_1


Adel pergi untuk kuliah meninggalkan Nina sendiri di rumah sakit.


Nina turun dari tempat tidurnya. Ia keluar dari ruangannya. Ia menuju ruangan bayi berada.


Nina melihat seorang perawat keluar dari ruangan tersebut.


"maaf sus ruang bayinya yang mana ya?;tanya Nina kepada seorang perawat.


"Ini bu di sebelah tapi maaf bu gak boleh masuk. Tapi ibu bisa lihat dari luar saja. Dari jendela itu", tunjuk perawat tersebut pada sebuah jendela kaca yang tertutup.


"Baik sus. Bisa tunjukkan bayi saya yang mana susu", ujar Nina pada sang perawat.


"Atas nama ibu siapa bu?", tanya sang perawat.


"Nina sus, ibu Nina", kata Nina memperjelas.


"Ibu langsung ke sana biar saya tunjukkan dari dalam ruangan",kata sang perawat.


Nina mengangguk. Nina menuju jendela kaca yang di tunjuk oleh sang perawat. Sang perawat masuk kembali ke dalam ruangan. Ia melihat Nina menuju jendela kaca. Sang perawat menunjuk pada sebuah kotak kaca yang di dalamnya ada bayi Nina yang mungil, lucu dan cantik. Nina memegang jendela kaca tersebut. Ia seolah-olah sedang mengelus sang buah hatinya.


Bayi mungil tersebut tertidur dengan sangat pulasnya. Mata Nina berlinang melihat bayinya tersebut. Anak yang telah di lahirkannya tapi belum sedikitpun di sentuhnya.


"Cepat sehat sayang, mama menunggumu, mama merindukanmu. I love you my baby", batin Nina.


Nina menghapus air matanya yang menggenang di kelopak matanya. Rasa haru, pilu dan bahagia bercampur menjadi satu. Lama Nina berdiri disana tanpa dia sadari ada seseorang yang memperhatikannya tak jauh dari dia berdiri.


Orang tersebut mendekati Nina yang masih memandangi bayi mungilnya.


"Nin", sapa orang tersebut.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen dan votenya ya readersku.


Baca juga yuk 'Masih Ada Pelangi '(tamat).

__ADS_1


__ADS_2