
Pagi-pagi Nina dan Adel sudah siap untuk berangkat. Sang ibu sudah menyiapkan sarapan untuk kedua gadisnya.
"Ayo sarapan dulu, biar belajar dan kerjanya konsen", kata sang ibu bijak pada kedua gadisnya.
Nina dan Adel duduk bersebelahan sedangkan sang ibu duduk di ujung meja. Mereka menikmati sarapan buatan sang ibu.
"Mbak aku nebeng ya", pinta Adel pada Nina sambil terus makan.
"Lah kan arahnya beda", kata Nina protes.
"Iya tahu, mbak kan bisa anterin Adel dulu", kata Adel enteng.
"Mbak banyak kerjaan hari ini adikku sayang", kata Nina dengan mencolek dagu Adel.
"Pelit amat sih mbak, anterin bentar juga", kata Adel mulai ngambek.
Sang ibu melihat ke arah Nina dan Nina juga melihat ke arah sang ibu. Ibunya memberi isyarat dengan anggukan. Mau tak mau Nina menyetujui permintaan Adel atas perintah sang ibu.
"Iya deh, ayo", kata Nina sambil menarik tangan Adel setelah meneguk habis teh yang ada di gelasnya.
"E e ehh main tarik aja, salim dulu dengan ibu", kata Adel.
"Oh iya lupa", kata Nina.
Mereka mengambil tangan sang ibu dan mencium punggung tangannya secara bergantian.
"Ayo nanti mbak telat nih", kata Nina sambil melihat arlojinya.
"Bentar teh aku belum habis", kata Adel sambil mengambil gelasnya dan meneguk habis isinya.
"Ayo mbak, bu kami pergi dulu ya, assalamualaikum", kata Adel sambil menyambar tas sekolahnya.
"Waalaikum salam hati-hati ya", kata sang ibu.
"Iya bu", Nina yang jawab.
Nina mengambil motornya dan menstarternya. Adel nangkring di belakang Nina. Nina pun melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Sang ibu masuk kembali ke dalam rumah setelah kedua gadisnya menghilang dari pandangannya.
Tiba pada sebuah jalan, suasana sangat ramai. Jalan menjadi macet total. Nina menanyakan prihal tersebut pada seorang pria paruh baya yang kebetulan lewat di dekat mereka.
"Maaf pak mau tanya, ini ramai sekali ada apa ya?", tanya Nina penasaran.
Iitu neng, ada yang bunuh diri di tabrak oleh mobil sedan tapi si pengendara sudah melarikan diri", jelas sang bapak.
"Itu sih bukan bunuh diri pak tapi tabrak lari namanya", celetuk Adel dari belakang.
__ADS_1
"Gak neng, ada saksi yang melihat kejadian, itu laki-laki yang tertabrak sengaja berdiri di tengah jalan dengan merentangkan kedua tangannya, saksi tersebut ingin menyelamatkan laki-laki tersebut tapi keburu datang mobil dari depan dan naas kecelakaan tak bisa terelakkan lagi dan penabraknya langsung kabur begitu saja", jelas sang bapak secara detail.
"Orang aneh picik amat sih, laki-laki koq bunuh diri, lembek amat jadi laki-laki", gerutu Adel.
"Oh gitu, oke pak ma oasih infomasinya", kata Nina pada sang bapak.
"Iya neng, mari", kata sang bapak seraya berlalu dari hadapan Nina dan Adel.
"Udah mbak kita putar arah saja", kata Adel pada Nina.
"Emang ada jalan lain ke sekolah kamu?", kata Nina bingung.
"Ada, jalan tikus", jawab Adel sambil tertawa.
"Jalan tikus gimana?kita pakai motor loh bukan jalan kaki",kata Nina protes.
"Udah ikut aja, nanti Adel tunjukin jalannya", kata Adel.
"Iya udah kita putar arah saja, awas loh kalo nyasar, tak jitak kepala kamu",kata Nina.
"Tenang aja adikmu ini profesional dalam menempuh jalan-jalan tersembunyi", kata Adel sambil terkekeh.
"Baiklah, pegangan", kata Nina pada Adel.
"Siap",kata Adel sambil memeluk mbaknya.
"Lain kali naik ojek saja ya, biar mbak ganti uangnya saja dari pada begini", kata Nina pada Adel.
Adel terkekeh.
"Iya udah mbak pergi dulu", kata Nina.
Nina menjalankan kembali kendaraan bermotornya. Adel masuk ke dalam sekolahnya menuju kelasnya.
****
Nina tiba di kantornya. Sudah ada juga karyawan yang datang walau belum begitu ramai.
"Hai Nin", kata Tika yang tiba-tiba sudah berada di hadapan Nina.
"Hai, tumben udah nyampe?!", tanya Nina
"Jangan gitu dong, aku kan datang pagi terus cuma kadangkala ada-ada saja gangguan yang bikin telat", jelas Tika.
"Iya iya gak perlu di ambil hati aku cuma bercanda koq",kata Nina seraya menggandeng tangan Tika untuk masuk ke dalam gedung.
__ADS_1
"Pulang nanti jalan yuk", ajak Tika pada Nina.
"Emangnya mau ke mana?", tanya Nina.
"Iya terserah ikuti kata hati aja, cuma sekedar cari angin, bosan gini-gini terus", kata Tika.
"Angin koq di cari sih, ini juga banyak anginnya", kata Nina ketika merasakan hembusan angin di wajahnya.
Tika terkekeh. Mereka terus melangkah.
"Mau gak nih?", kata Tika mengulang pertanyaannya saat mereka hendak berpisah jalan.
"Iya deh, nanti kita telponan aja", kata Nina.
"Oke sip", kata Tika.
Keduanya berpisah jalan. Nina menuju ruangannya dan Tika menuju ruangannya. Nina sampai di ruangannya. Nina meletakkan tasnya dan mengambil sebuah tissue. Nina membersihkan sepatunya yang terkena becek gara - gara mengantar Adel melewati jalan tikus tadi.
"Gara-gara si Adel ini", kata Nina seraya membersihkan sepatunya dengan berjongkok.
Nina mengambil tissu beberapa kali agar sepatu benar-benar terlihat bersih. Nina tanpa sadar kalau Jimmy sudah ada di depannya. Mata Jimmy tak sengaja melihat ke arah baju Nina. Nina tak menyadari kalau leher bajunya yang sedikit lebar memperlihatkan bukit kembarnya yang menyembul. Jimmy menelan ludahnya. Sesaat Jimmy terpana. Sebagai laki-laki normal Jimmy merasa aliran darahnya mengalir begitu cepat. Tubuhnya terasa panas. Jimmy menghela nafasnya. Dia cepat menyapa Nina biar Nina tahu keberadaannya.
"Kamu lagi ngapain?", tanya Jimmy kepada Nina.
"Eeh pak itu anu aku lagi bersihin sepatu, tadi terkena becek", jawab Nina sedikit latah. Dan langsung berdiri tegak ketika tahu Jimmy sudah berada di hadapannya.
"Koq bisa kena becek?perasaan jalan rumah kamu menuju kantor ini tidak ada jalan yang rusak", kata Jimmy.
"Oohh itu tadi nganter Adel ke sekolah nya jadi gini deh", kata Nina sambil memunguti tissue bekas dan di buangnya ke kotak sampah.
"Ooh gitu, ya sudah aku ke ruangan dulu, tolong bajunya di betulkan", kata Jimmy sambil tersenyum. Nina melongo. Nina melihat ke arah bajunya. Nina memegang leher baju.
"Jangan katakan kalau tadi kamu melihatnya kak Jimmy", batin Nina seraya memegang dadanya.
"Bodoh bodoh bodoh", kata Nina dengan tangan mengepal memukul kepalanya.
"Ya Allah gimana ini?aku malu", kata Nina seraya menangkupkan kedua tangannya di atas meja dan menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya.
"Kamu kenapa lagi?", tanya Jimmy yang tiba-tiba sudah ada di depan Nina kembali.
"Kau!", kata Nina kaget bukan alang kepalang.
.
.
__ADS_1
.
...Tolong bantu Vote,like dan komennya ya readers. Terima kasih......