Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Lagu kenangan


__ADS_3

Satu hari berada di rumah sakit membuat Jimmy merasa sangat penat. Di tambah kondisi badan yang memang belum begitu stabil. Jimmy tidur di sofa setelah mama dan papa mertuanya pulang ke rumah.


Prili yang belum bisa memejamkan matanya hanya bisa merenungi nasibnya kini. Tapi apa mau di kata semua sudah menjadi kehendak yang kuasa.


Prili memejamkan matanya berusaha agar dapat tidur dengan nyenyaknya dan melupakan kejadian hari ini.


"Kamu harus kuat Prili. Perjalanan hidup kamu masih panjang. Kamu pasti bisa", batin Prili.


Karena terlalu banyak yang di pikirkan akhirnya Prili menyerah juga. Matanya akhirnya tak bisa di ajak kompromi lagi. Prili pun akhirnya tertidur juga.


Sementara itu Nina masih menunggu kalau-kalau Jimmy akan menelponnya. Tapi semua hanya penantian. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11.00 wib tapi telepon yang di tunggu tak datang juga.


"Mungkin dia sudah tidur. Pasti dia sangat kelelahan. Semoga kondisi tubuhnya sudah membaik. Sudah malam sebaiknya aku tidur saja", gumam Nina seraya melihat jam yang ada di dinding kamarnya.


Nina menarik selimutnya menutup tubuhnya sampai dada. Nina mulai memejamkan matanya dan tak butuh waktu lama akhirnya Nina pun tertidur juga. Nafasnya Nina mulai teratur menandakan yang empunya badan sudah terbang ke alam bawah sadarnya.


****


Dokter memeriksa kondisi Prili. Prili sudah terlihat segar walau masih sedikit lemah.


"Sudah bagus kondisinya. Obatnya di makan ya. Dan jangan takut bergerak. Tidak apa-apa yang penting jangan hal yang berat. Kalau mau pulang juga sudah boleh. Tetap di jaga lukanya. Nanti saya kasih vitaminnya biar lukanya lebih cepat sembuh", jelas sang dokter.


"Jadi hari ini boleh ya dok?", tanya Jimmy lagi.


"Iya boleh. Tapi tetap di jaga lukanya biar cepat sembuh. Minum obat yang teratur. Dan itu tadi jangan takut bergerak. Yang terpenting tidak membahayakan kondisi pasien",jelas sang dokter.


"Baik dok terima kasih banyak dok", kata Jimmy.


"Iya sama-sama. Mari pak bu saya tinggal dulu", ucap sang dokter.


"Iya dok", jawab Jimmy dan Prili serempak.


Dokter meninggalkan ruangan Prili.


"Syukurlah kamu sudah boleh pulang. Nanti aku akan urus administrasinya dulu, kamu tunggu di sini dulu ya. Telepon mama gak usah kesini kita mau pulang juga", kata Jimmy pada Prili.


"Iya mas", jawab Prili.


Jimmy meninggalkan Prili di ruangannya dan keluar mengurusi administrasi dan sebagainya.


Jimmy melihat ponselnya.


"Nina menelpon semalam", gumam Jimmy.

__ADS_1


Jimmy memencet nomor Nina.


"Halo sayang semalam nelpon ya, maaf udah tidur semalam", kata Jimmy setelah tersambung.


"Iya mau nanya kabar Prili, gimana keadaannya?", tanya Nina. Walau Prili rivalnya, melihat keadaan Prili waktu di bawa ke rumah sakit membuat hati Nina tersentuh.


"Sudah mulai membaik. Hari ini sudah boleh pulang, perawatannya bisa di lanjutkan di rumah saja", jawab Jimmy.


"Syukurlah kalau begitu", ujar Nina.


"Sayang udah dulu ya, abang mau urus administrasinya dulu", kata Jimmy.


"Iya bang", jawab Nina.


Panggilan pun berakhir. Jimmy menuju ruang administrasi dan mengurus segala sesuatunya. Setelah selesai Jimmy kembali ke ruangan Prili.


"Sudah, kita boleh pulang sekarang", kata Jimmy pada Prili.


"Trus aku harus jalan kaki gitu?", tanya Prili antara bingung dan takut.


"Iya nggak dong, kan ada perawatnya yang akan bawa kursi roda buat kamu kesini. Nah tuh kan datang kursi rodanya ",kata Jimmy seraya menoleh ke arah pintu.


Seorang perawat membawa kursi roda masuk kedalam ruangan Prili. Jimmy membantu perawat untuk mendudukkan Prili di kursi roda tersebut.


Prili duduk di kursi roda tersebut. Sang perawat mendorong kursi roda menuju mobil Jimmy. Jimmy membantu Prili masuk ke dalam mobilnya. Setelah Prili aman, Jimmy mendekati perawat tersebut.


"Terima kasih banyak ya sus", kata Jimmy seraya menyalami tangan sang perawat. Jimmy menyelipkan lembaran uang seratus ribu sebagai ucapan terima kasih.


"Sama-sama pak tapi maaf saya tidak bisa terima ini", kata sang perawat sopan.


"Gak papa koq cuma sebagai ucapan terima kasih", kata Jimmy.


"Tapi pak ini bukan..", kata perawat tersebut tak enak hati.


"Sudah ambil aja. Ikhlas koq", kata Jimmy sambil tersenyum ramah.


Sang perawat ingin mengembalikan uang tersebut tapi Jimmy cepat masuk ke dalam mobilnya dan memberi klakson pada perawat tersebut.


Perawat tersebut hanya mengangkat kedua bahunya dan kembali ke ruangannya.


"Koq di kasih uang segala sih mas?", kata Prili tak nyaman dengan kelakuan Jimmy.


"Iya cuma ucapan terima kasih karena dia telah mengantarkan kamu sampai mobil. Itu saja", ujar Jimmy.

__ADS_1


"Itu kan sudah menjadi tugasnya dia mas", ucap Prili.


"Aahh sudahlah nggak usah di bahas. Yang penting kamu sudah boleh pulang", jawab Jimmy.


"Mentang-mentang perawatnya cantik main kasih aja", batin Prili.


Jimmy melajukan kendaraannya. Prili melihat ke arah samping kirinya. Seperti ada yang lebih menarik perhatiannya di banding orang ada di sampingnya.


Jimmy fokus pada jalan di depannya. Dia sangat hati-hati menjalankan mobilnya. Dia tahu bahwa sekarang dia lagi membawa orang sakit bersamanya.


Lama mereka saling diam. Tak ada suara apapun. Jimmy menghidupkan lagu yang melankolis. Lagu-lagu kenangan. Menurut Jimmy lagu-lagu seperti itu sangat menyentuh hati dan bikin adem.


"Kolot banget sih mas lagunya. Lagu pop sekarang kan banyak. Grup-grup band sekarang lagunya enak-enak untuk di dengar", Prili akhirnya buka suara.


"Dengar lagu itu harus sesuai suasana hati, biar dengarnya asik dan bikin adem", jawab Jimmy tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kenapa gak dengar lagu nasyid sekalian?", kata Prili sengit.


"Boleh juga tuh. Tapi berhubung koleksi lagu di mobil ini cuma lagu kenangan jadi ya cuma lagu itu yang bisa di dengar. Nanti kita bikin koleksi lagunya ya", kata Jimmy tanpa dosa


Prili menghela nafasnya. Ada nada kesal di sana. Jimmy yang tidak peka, tak menghiraukan ucapan Prili. Prili hanya ingin Jimmy memperhatikannya. Tapi Jimmy asik dengan caranya sendiri.


"Dasar ",


Prili kira dengan jawabannya tadi Jimmy akan menghentikan lagu tersebut. Ternyata tidak. Dia malah asik bernyanyi mengikuti lagu-lagu tersebut.


Prili memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya. Ia tidak mau lihat muka Jimmy. Ia pura-pura tidak mendengar. Perdebatan kecil tersebut telah mampu merubah suasana hatinya. Jimmy terus menyanyi. Dia begitu asik mengikuti setiap baitnya. Lagu yang selalu asik di dengar sepanjang jaman. Bait demi bait seakan mewakili rasa yang ada. Setelah bait terakhir Jimmy sengaja membesarkan suaranya.


ITULAH KENANGAN YANG TERAKHIR DENGANMU....


.


.


.


.


Selamat membaca ya readersku.


Bantu dukungannya ya dengan like, komen dan votenya.


Mampir juga ke karyaku lainnya:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2