Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Bukan sekedar penawaran


__ADS_3

Kemacetan di lampu merah bukan pemandangan yang aneh lagi. Pemandangan yang terjadi di setiap hari. Apalagi di saat jam akan masuk kantor, pasti terjadi kemacetan. Ferdy yang pergi lebih awal berharap tidak terkena macet tapi akhirnya terkena macet juga.


"Selalu dan selalu. Sudah pergi pagi-pagi dari rumah masih juga kena macet", gumam Ferdy.


Mata Ferdy melanglang buana. Matanya tertuju pada ojol yang ada tak jauh darinya.


"Itu kan Nina sepupu aku, dah lama gak ketemu. Sepertinya dia kerja disini sekarang", gumam Ferdy.


Ferdy bermaksud ingin memanggil si Nina tapi lampu hijau keburu menyala. Ferdy melajukan motornya. Dia penasaran akan adik sepupunya tadi yang baru saja di lihatnya.


"Sepertinya itu ojolnya, ku ikuti saja dulu", gumam Ferdy.


Ferdy mengikuti ojol yang membawa adik sepupunya tersebut. Ferdy terus mengikuti ojol tersebut. Hingga tiba pada satu tempat, ojol tersebut menghentikan motornya. Ferdy dengan motornya cepat menghampiri ojol itu. Nina terkejut karena ada motor besar yang menghampirinya. Mamang ojol dan Nina saling pandang. Ferdy membuka helmnya. Tampaklah wajahnya oleh si Nina.


"Kak Ferdy", kata Nina tak percaya.


Mamang ojol meninggalkan Nina karena merasa tugasnya telah selesai. Ferdy meletakkan helmnya dan turun dari motor besar tersebut.


"Kapan kamu pulang?terus kamu kenapa kesini?", tanya Ferdy beruntun.


"Sebenarnya aku sih sudah satu bulan disini tapi gak kemana-mana di rumah aja, dan aku kesini karena kerja di perusahaan ini", jawab Nina.


Ferdy tiba-tiba tersenyum.


"Kamu bekerja di tempat yang tepat", ujar Ferdy.


Nina mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti maksud perkataan kakak sepupunya tersebut.


"Aku tak paham apa maksud kakak", kata Nina ingin kejelasan maksud kata-kata Ferdy.


Ferdy mengajak Nina untuk menepi. Ferdy mendekati Nina. Dia berbicara pada Nina dengan suara di perkecil.


"Direktur perusahaan ini suami dari mantan pacar kakak, bagaimana kalau kita join?", ucap Ferdy dengan senyum menyeringai.


"Join?maksudnya?aku tak mengerti", tanya Nina bingung.


"Begini, isteri direktur kamu itu mantan pacar kakak. Nama kalian sama. Namanya juga Nina, kakak tidak rela dia bersama suaminya, kakak ingin merebutnya kembali. Kakak ingin kamu menggaet suaminya direktur kamu itu. Kamu bisa hidup enak dengan mempunyai suami tajir melintir seperti dia. Kamu mau kan bantu kakak?", tanya Ferdy pada adik sepupunya Nina.


"Nggak mau ahh kak, aku baru beberapa hari kerja disini. Lagian pak Jimmy orangnya baik, aku tidak mungkin merusak semuanya",kata Nina menolak ide dari kakak sepupunya.


"Ini bukan sekedar penawaran lho tapi masa depan cemerlang menantimu", bujuk Ferdy.


"Nggak mau ahh kak, aku mau kerja dulu. Permisi", kata Nina setengah berlari meninggalkan Ferdy yang berusaha mengejarnya.

__ADS_1


Banyak mata yang melihat Nina dan Ferdy. Ferdy mengumpat.


"Bodoh!di suruh hidup enak tidak mau. Padahal tugasnya cuma menggaet hati bosnya. Itu kan bukan tugas berat", kata Ferdy dalam hati. Ferdy terlihat kesal.


Ferdy kembali ke motornya. Dia memasang helmnya. Karena kesal, Ferdy cepat memutar motornya. Bersamaan dengan itu ada mobil Jimmy yang datang dari arah belakang. Melihat ada motor yang menuju ke arahnya Jimmy cepat mengerem mobilnya. Ferdy yang kaget cepat mengendalikan motornya. Motornya oleng dan terjatuh ke samping kiri. Walau tidak ada yang terluka tapi cukup membuat lecet motor Ferdy. Ferdy bukannya ingin menegakkan motornya yang terjatuh, dia malah mendekati mobil Jimmy dan menggedor pintu mobil Jimmy secara kasar.


"Hei bung keluar lu", teriaknya.


Jimmy menghela nafasnya. Jimmy keluar dari mobilnya.


"Kamu!", kata Jimmy dan Ferdy bersamaan.


"Ngapain kamu berada disini?", tanya Jimmy setelah berhadapan.


"Bukan urusan elu brengsek", kata Ferdy seraya melayangkan bogemnya ke arah Jimmy. Jimmy yang sudah siap dengan segala kemungkinan berhasil menghindari bogem Ferdy.


"Elu yang brengsek, ini jalan bukan punya nenek elu seenaknya saja berkendaraan", jawab Jimmy sengit.


"Eehh jangan mentang-mentang ini area elu, elu seenaknya bicara. Asal elu tahu ya urusan lama kita belum selesai", ucap Ferdy seraya menunjuk wajah Jimmy.


Para karyawan yang melihat kejadian cepat melapor kepada satpam. Satpam cepat menuju lokasi menghampiri bos mereka. Satpam ingin menjadi tameng Jimmy sang bosnya tapi Jimmy menyuruh si satpam untuk menyingkir.


"Menyingkir Naf, orang ini harus di beri pelajaran", kata Jimmy sambil memasang kuda-kuda.


"Baguslah ternyata kamu punya nyali juga", kata Ferdy.


Ferdy maju lebih dulu. Dia menyerang Jimmy dengan tendangan mematikan. Dia menyerang ulu hati Jimmy. Jimmy melihat itu langsung mengelak dengan cepat. Tendangan Ferdy meleset. Jimmy membalas serangan dengan menendang paha nya Ferdy. Ferdy hampir tersungkur kalau saja keseimbangannya tidak terjaga.


"Bagus juga gerakan kamu", ledek Ferdy sinis.


"Jangan banyak ngoceh, serang aku kalau bisa", tantang Jimmy.


Merasa tertantang, Ferdy melayangkan bogemnya ke muka Jimmy. Jimmy meringis kesakitan. Ferdy tegak dengan wajah mengejek. Disaat Ferdy lengah, Jimmy melayangkan bogemnya ke wajah Ferdy tepat mengenai hidungnya. Kurang puas, Jimmy menendang perut Ferdy hingga Ferdy tersurut beberapa langkah ke belakang. Darah segar mengalir dari hidungnya Ferdy. Ferdy meringis menahan sakit.


"Gimana apa masih mau adu jotos?", tanya Jimmy.


Ferdy merasa di remehkan oleh Jimmy. Dia kembali menyerang Jimmy kembali. Jimmy yang sudah siap dengan segala sesuatunya berhasil mengelak dari terjangan yang di lakukan oleh Ferdy.


Sementara itu Nina yang berada didalam mendengar ada keributan di depan, Nina akhirnqya melihat apa yang sedang terjadi.


Betapa terkejutnya Nina ketika tahu bos besarnya sedang berkelahi dengan kakak sepupunya. Nina cepat maju dan melerai perkelahian tersebut.


"Kak, hentikan!", teriak Nina pada Ferdy.

__ADS_1


"Kakak!?", batin Jimmy. Jimmy mengernyitkan dahinya.


Nina menghalau keduanya. Nina berusaha untuk menarik Ferdy untuk mundur.


"Apa yang kakak lakukan?beliau ini bos aku kak", kata Nina yang tidak mengerti masalah sesungguhnya.


"Pak Jimmy saya minta maaf atas semuanya pak", kata Nina memohon.


Jimmy mendengus. Nafasnya pun terasa panas. Emosinya perlahan mereda. Jimmy masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan Ferdy dan Nina di tempat itu. Untung kejadian tersebut berada di area kantor sehingga orang umum tidak melihat kejadian tersebut. Karyawan dan satpam pun kembali ke tempat kerja mereka masing-masing.


Nina tampak kesal. Kelakuan Ferdy membuatnya tidak habis pikir.


"Kak Ferdy ngapain sih membuat masalah dengan bos aku? aku bisa di pecat gara-gara ini kak. Masalah pribadi jangan di bawa ke tempat ini, jangan membuat keributan. Kakak lihat sendiri kan, kita jadi tontonan banyak orang disini. Masih untung tidak ada orang luar yang yang melihat", kata Nina.


"Kamu tidak akan di pecat. Bos kamu itu suka sama cewek-cewek cantik seperti kamu. Sudahlah kita join aja, kamu rebut hati bos kamu, aku rebut isterinya. Setuju?", kata Ferdy seraya mengacungkan jempolnya pada Nina.


"Nggak! sebaiknya kakak pergi saja dari sini. Aku tidak ada waktu", kata Nina seraya melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Ferdy di tempat itu.


"Nina tunggu!",teriak Ferdy.


Ferdy mengejar Nina sampai pintu masuk. Satpam yang bernama Manaf menghentikan langkah Ferdy.


"Silakan angkat kaki dari sini kalau tidak mau berurusan dengan yang berwajib", kata Manaf.


Melihat Nina tak menoleh sedikitpun padanya, Ferdy akhirnya memilih pergi dari tempat itu. Manaf menutup gerbangnya setelah Ferdy keluar.


.


.


.


.


.


Lanjut bacanya ya readersku terkasih.


Jangan lupa bantu like, komen dan juga votenya ya. Terima kasih yang sudah like dan komen.


Mampir juga yuk ke karyaku yang lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2