Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Isteri yang baik


__ADS_3

Pintu ruangan kembali terbuka. Bu Ratmi muncul dengan membawa beberapa bungkusan di tangannya.


"Nak Jimmy, sudah lama ya datangnya?", kata bu Ratmi seraya meletakkan bungkusan dan di tangannya di meja kecil di samping tempat tidur Nina.


"Baru tiba bu. Setelah mendapat telepon dari Adel tadi, aku langsung luncur kesini", jawab Jimmy.


"Kita makan dulu ya. Sudah siang. Ayo nak Jimmy kita makan dulu", ajak bu Ratmi.


"Kebetulan ni aku juga belum makan", jawab Jimmy enteng.


"Ibu tadi cuma beli tiga. Ini buat nak Jimmy, biar ibu sama Adel aja", kata bu Ratmi memberikan satu bungkus nasi pada Jimmy.


"Aku sama abang aja bu, takut nanti gak habis. Aku lagi gak nafsu makan", ujar Nina.


"Iya bu kami berdua aja", ucap Jimmy seraya mengambil bungkusan tersebut dari tangan ibu mertuanya.


"Iya udah deh. Yuuk kita makan", kata bu Ratmi.


Mereka mulai dengan ritual makannya. Jimmy menyuapi Nina.


"Makan yang banyak biar anak yang di dalam bisa sehat dan kamu gak pingsan lagi", ucap bu Ratmi pada Nina.


Jimmy tersedak. Adel cepat memberikan minum pada kakak iparnya tersebut. Jimmy menerima air tersebut dan langsung meminumnya.


"Makannya hati-hati bang', ujar Nina.


"Ibu ngomong apa tadi?", tanya Jimmy pada bu Ratmi.


"Yang mana?", tanya bu Ratmi tak mengerti.


"Tadi?anak yang di dalam?maksudnya siapa?anak siapa?", tanya Jimmy tak mengerti.


"Jadi kamu juga belum tahu kalau isteri kamu lagi hamil?", tanya bu Ratmi.


"Hamil?!",


Antara bingung dan bahagia, Jimmy memandang dalam wajah Nina. Nina menganggukkan kepalanya untuk lebih meyakinkan suaminya.


"Jadi benar kamu hamil?", tanya Jimmy lagi.


Nina kembali mengangguk. Jimmy meletakkan makanan yang ada di tangannya di meja di sampingnya dan langsung memeluk sang isteri. Rasa haru karena terlalu bahagia, airmata Jimmy jatuh membasahi pipi Nina. Selama menikah dengan Jimmy, baru kali ini Nina melihat suaminya menangis. Nina membalas pelukan suaminya. Ia memeluk Jimmy dengan tangan kirinya karena tangan kanannya terpasang infus. Jimmy melerai pelukannya dan menghapus airmata matanya.


"Maafkan abang, abang terlalu bahagia", ucap Jimmy sambil tersenyum.


"So sweet", celetuk Adel.


Nina dan Jimmy tersenyum.


"Jadi pingin cepat nikah", celetuk Adel lagi.


"Kemarin-kemarin ngomongnya takut menikah, sekarang mau cepat nikah", celetuk sang ibu.


"Iya itu karena mbak Na juga penyebabnya", jawab Adel tanpa melihat ke arah ibunya.


"Lha koq mbak di salahin?", tanya Nina.


"Jujur sih kemarin-kemarin saat aku lihat mbak banyak menangis, aku jadi takut nikah. Takut masalah yang muncul dalam rumah tangga nanti tak bisa aku atasi", jawab Adel.


"Mbakmu menangis, kenapa?", tanya Jimmy pada Adel seraya melihat ke arah Nina.


Adel yang ceplas-ceplos tak bisa menyembunyikan sesuatu yang dianggapnya tidak sesuai dengan akal pikirannya. Ia bicara apa adanya.


Nina memberi isyarat agar Adel tidak meneruskan kata-katanya. Tapi Adel ingin Jimmy tahu tentang keresahan hati Nina selama ini.

__ADS_1


"Mbak Na takut kehilangan kak Jimmy karena dia belum bisa memberikan anak lagi untuk kakak", jawab Adel lugas. Nina menghela nafasnya.


"Oh gitu", jawab Jimmy singkat.


Jimmy memandang Nina lagi. Nina jadi salah tingkah.


"Ternyata cintanya begitu besar padaku", batin Jimmy.


"Kenapa gak bilang kalau kamu hamil?", kata Jimmy seraya mengambil tangan Nina dan menciumnya.


"Aku juga gak tahu kalau lagi hamil", jawab Nina enteng.


"Trus, kenapa kamu nangis kata Adel tadi?apapun yang terjadi abang takkan akan ninggalin kamu", kata Jimmy kembali mencium tangan Nina.


"Hemmm", Adel berdehem melihat aksi kakak iparnya tersebut.


Jimmy hanya tersenyum. Nina menarik tangannya.


"Bang, menikah bagiku adalah hal yang sakral. Dan kalau bisa aku ingin menikah sekali seumur hidup. Aku ingin bersama suamiku sehidup semati. Tapi bukan berarti kalau kamu mati aku juga ikut, nggak!", kata Nina.


"Lha gak setia dong?", celetuk Adel.


"Maksudnya, aku ingin bersama suamiku ini sampai di akhirat kelak. Aku hanya ingin bersamanya saat nyawa sudah tidak lagi menunggu badan. Aku hanya ingin bersamanya di syurga nanti", jawab Nina sambil menatap dalam ke bola mata Jimmy.


"Semoga kalian selalu kuat dan selalu bersama dalam keadaan apapun", celetuk bu Ratmi.


"Aamiin", jawab Jimmy dan Nina serentak.


"Bu aku pingin nikah", sergah Adel.


"Baru juga lulus sudah minta nikah, emangnya sudah punya calon?", tanya sang ibu.


"Belum, masih di telusuri", jawab Adel sambil terkekeh.


"Iya kerja dulu, soal nikah gampang. Kalau sudah tiba waktunya pasti akan datang dengan sendirinya", jawab Nina.


"Udah ahh, yuk kita lanjut makannya", sergah bu Ratmi.


Mereka kembali melanjutkan ritual makan mereka.


Setelah satu jam, kesehatan Nina berangsur pulih. Jimmy mengurus administrasinya. Kemudian mereka meninggalkan rumah sakit tersebut.


Jimmy mengantar mertua dan adik iparnya dulunoulang ke rumah mereka. Setelah itu Jimmy membawa Nina isterinya pulang ke rumah mereka.


"Gak usah jalan, biar abang gendong", kata Jimmy setelah Nina turun dari mobil.


"Gak usah bang, malu. Biar aku jalan sendiri", jawab Nina.


"Kamu sedang mengandung, abang tidak mau terjadi sesuatu sama kamu", jawab Jimmy.


Nina tersenyum mendengar jawaban suaminya yang menurutnya sedikit lebay tersebut. Tanpa meminta persetujuan, Jimmy langsung menggendong Nina. Mbak Yuni membukakan pintu untuk majikannya tersebut. Iza yang melihat ibunya di gendong jadi penasaran.


"Pa, mama kenapa di gendong?", tanya Iza.


"Mama kecapaian jadi papa gendong", jawab Jimmy sekenanya.


"Ohh", kata Iza polos.


Jimmy membawa Nina ke kamar mereka. Iza mengiringi langkah papanya dari belakang.


"Mama capek ya, sini Iza pijit", kata Iza dengan suara lembutnya. Ia mendekati Nina sang mama berbaring di tempat tidur.


"Emang Iza bisa pijitnya?", tanya Nina.

__ADS_1


"Bisa. Iza kan sering lihat mama pijitin papa", kata Iza seraya mulai memijat kaki sang mama.


"Waahh enak pijatannya sayang", ujar Nina walau hanya merasa seperti di elus bukan di pijat.


"Iza kan pintar ma, iya kan pa?", tanya Iza.


"Iya pintar. Anak siapa dulu, anak papa gitu lho", kata Jimmy.


Nina tersenyum mendengar gurauan suami dan anaknya tersebut. Jimmy mendekati Iza.


"Sayang, kalau kamu punya adek, kamu pingin adek laki atau perempuan?", tanya Jimmy pada Iza.


"Iza mau adek laki-laki aja pa, kalau perempuan nanti mainan Iza di ambilnya semua", mendengar jawaban Iza kontan Jimmy dan Nina menjadi tertawa.


"Trus kamu minta di panggil kakak atau mbak sama adek nanti?", tanya Jimmy lagi.


"Mbak aja, sama seperti mama", jawab Iza sambil memeluk sang mama.


"Anak pintar, sekarang mbak keluar dulu ya. Adeknya mau istirahat dulu", kata Jimmy pelan.


"Adeknya dimana pa?", tanya Iza polos.


"Tuh dalam perut mama, dia mau bobo dulu. Mbak bobo dulu ya sama bude", kata Jimmy setelah melihat kehadiran mbak Yuni di dekat pintu.


"Iya pa. Bilang sama adek jangan nakal ya pa", kata Iza seraya turun dari tempat tidur.


"Iya sayang", jawab Jimmy.


Mbak Yuni membawa Iza keluar dari.kamar dan menutup pintu kamar majikannya.


"Akhirnya kerja keras kita membuahkan hasil", kata Jimmy seraya mencium perut Nina yang masih berlapiskan baju tersebut. Nina hanya tersenyum.


"Kamu jangan makan sayur dulu ya, makan daging-dagingan aja dulu selama lima bulan ke depan", kata Jimmy.


"Emang kenapa bang?", tanya Nina tak mengerti.


"Teman abang ada yang bilang, kalau mau anak laki-laki harus banyak makan daging-dagingan. Setelah enam bulan baru makan segalanya. Tidak ada salahnya kita coba dulu kan siapa tahu kita beruntung", kata Jimmy semangat.


"Iya bang, aku nurut aja", jawab Nina.


"Isteri yang baik. Kamu istirahat dulu. Abang mau beli susu sama buah dulu buat kamu", kata Jimmy semangat.


"Abang kan juga capek, nanti aja", kata Nina.


"Capek abang hilang", kata Jimmy seraya mengecup kening Nina dan berlalu.


Nina hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah suaminya.


"Alhamdulillah, terima kasih ya robb", gumam Nina.


.


.


.


.


.


Lanjut lagi bacanya ya readersku. Jangan lupa like dan komentarnya ya.


Mampir juga yuk ke karyaku lainnya:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2