Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Mabuk asmara


__ADS_3

Nina melepaskan genggaman tangan Jimmy.


"Kenapa?", tanya Jimmy.


"gak kenapa-kenapa",kata Nina.


"Ijin sama ibu ya kita keluar sebentar", kata Jimmy pada Nina.


"Mau kemana?", tanya Nina malas.


"Cari angin saja, pikiranku lagi suntuk", kata Jimmy.


"Baiklah aku ganti baju dulu ya bentar", kata Nina.


Jimmy mengangguk.


Tak butuh waktu lama, Nina kembali ke depan Jimmy. Mereka berdua pergi setelah mengantongi ijin dari ibunya Nina.


"Kamu kenapa?dari tadi ku perhatikan lebih banyak diamnya", ujar Nina setelah mereka dalam perjalanan.


Jimmy hanya menghela nafasnya. Nina tahu pasti Jimmy lagi ada masalah.


"Kita mau kemana nih?dari tadi muter-muter doang, gak jelas", protes Nina pada Jimmy.


Jimmy menghentikan mobilnya di sebuah jembatan besar. Dia menghentikan mobilnya di sana. Nina melihat ke depan dan belakang. Jalanan itu masih di lalu kendaraan walau sudah agak sepi.


"Jak, di sini sepi banget, apa kamu gak merasa takut?", kata Nina melihat keluar mobil.


"Kita cari tempat lain saja yuk ngobrolnya, kita ke taman kota saja, di sana rame, di sini koq aku merinding ya", kata Nina lagi seraya memegang tengkuknya.


"Baiklah kalau begitu, kamu jadi orang penakut banget ternyata",kata Jimmy seraya melajukan kembali kendaraannya.


"Ini malam sayang, aku bukan penakut tapi ini juga bukan adu nyali, kita mau rileks. Kalau aku takut nanti kita bukannya cari angin tapi nyari kunti, iihhh takut", kata Nina setelah Jimmy meninggalkan tempat tersebut.


"Iya juga sih tapi kan mobil masih banyak yang lewat,itu artinya tempat itu masih aman", Jimmy memberi alasan.


"Hehee yang penting kita udah jauh dari tempat tadi", kata Nina sambil terkekeh.


Jimmy tersenyum. Jimmy menghentikan mobilnya. Matanya menjelajah tempat tersebut.


Masih ramai. Banyak muda-mudi yang masih nongkrong di sana.


"Mau turun?", tanya Jimmy ke Nina.

__ADS_1


"Nanti dulu, kita bicara di sini saja, malas keluar cuacanya dingin", kata Nina sambil memeluk kedua tangannya.


"Baiklah", kata Jimmy seraya merebahkan kursinya sedikit. Jimmy menyadarkan tubuhnya di kursi tersebut.


"Aku tahu kamu lagi menyimpan masalah di hati kamu, bicaralah", kata Nina mengubah posisi duduknya menghadap ke Jimmy.


"Mama pengen nimang cucu", kata Jimmy sambil matanya melirik Nina.


"Kamu tahu kan itu artinya mama pengen aku cepat-cepat nikah, tapi masalahnya tak semudah itu", kata Jimmy berkeluh kesah.


"Apa susahnya tinggal kamunya aja kan?", kata Nina yang sudah mengerti arah omongan Jimmy.


"Iya tinggal aku nya saja, aku ingin kita nikah", kata Jimmy seraya bangkit dari rebahannya.


"Kamu tidak sedang ngigau kan?",tanya Nina.


"Mama ingin aku menikahi Prili, aku tidak mau, aku hanya ingin menikah denganmu, menikahlah denganku Nina, aku sangat mencintaimu", kata Jimmy seraya menggenggam tangan Nina.


Nina terdiam. Di pandanginya mata Jimmy. Ia ingin mencari kejujuran di sana.


"Maukah menikah denganku?", ulang Jimmy lagi.


"Tapi mamamu tidak setuju dengan hubungan kita, mama kamu benar, Prili lebih dari segalanya, mempunyai segalanya, aku tidak ada apa-apanya di banding Prili", kata Nina menahan gejolak di dadanya. Ingin rasanya ia menangis dalam pelukan Jimmy. Tapi Nina berusaha untuk tegar.


"Tapi aku takut di tolak, aku lihat mama kamu sangat mengagumi sosok Prili, apa sebaiknya kita sudahi saja hubungan ini? aku tidak mau nama besarmu rusak gara-gara mencintai aku, aku merasa sangat kecil di hadapan Prili, aku bukan tandingannya", kata Nina puitis.


"Kamu menyerah?", tanya Jimmy walau dalam hati kecilnya juga ada sedikit ketakutan, takut kalau mamanya tidak menyetujui hubungan asmaranya dengan Nina.


"Entahlah, yang pasti aku merasa tidak cocok untuk kamu", kata Nina sambil menunduk.


"Aku akan berjuang untuk cinta kita, percayalah, aku sangat mencintaimu sayang", kata Jimmy seraya mengangkat dagu Nina.


Perlahan Jimmy mendekatkan wajahnya ke wajah Nina. Nina menjauhkan wajahnya dari wajah Jimmy. Jimmy tidak mau hati Nina cemas dengan kemauan mamanya. Jimmy merengkuh Nina ke dalam pelukannya.


Nina membalas pelukan Jimmy. Air mata Nina tak dapat di bendungnya lagi. Ada sakit yang di rasakan Nina di hatinya. Akankah kisah cintanya kandas begitu saja? Nina juga sangat mencintai Jimmy. Ia juga ingin bertahan tapi bisakah?.


Jimmy menengadahkan wajah Nina. Di pandanginya wajah putih bersih tersebut. Di elusnya pipi mulus Nina.


"Aku sangat mencintaimu Nin", kata Jimmy.


"Aku juga, aku takut tidak dapat bersanding denganmu", kata Nina menatap dalam wajah Jimmy.


"Percayalah padaku, aku hanya milikmu", kata Jimmy perlahan mengecup bibir Nina yang terasa dingin. Nina memejamkan matanya.

__ADS_1


Jimmy mulai memainkan bibir Nina. Di kecupnya. Lidah Jimmy mulai menyapu lembut bibir Nina. Nina hanya diam. Jimmy ******* bibir Nina. Bergantian bibir atas dan bawah. Nina terpancing. Gairahnya mulai bangkit.


Kedua orang yang mabuk asmara ini bergelut. Malam gelap dan sunyi menjadi saksi pergumulan kedua insan ini.


Sampai pada puncaknya Nina ingin mengakhiri pergulatan seru itu.


"Kak jangan", kata Nina lirih. Antara nafsu dan rasa takut.


"Ayolah sayang, percayalah aku akan tanggung jawab, cuma dengan cara ini mama tak bisa memisahkan kita", kata Jimmy yang birahinya sudah di ubun-ubun.


Jimmy tak bisa mengontrol hasratnya. Jimmy merebahkan tempat duduk Nina. Dia memeluk erat tubuh Nina. Nina antara sadar dan tidak karena birahi juga sudah menguasainya.


Jimmy benar-benar lupa. Jimmy menjalari setiap inchi tubuh Nina. Jimmy tidak mau Nina lepas dari tangannya. Jimmy ingin memiliki Nina seutuhnya Dia akhirnya Jimmy tak dapat menghindarinya, merenggut barang yang paling berharga milik Nina.


Nina mencengkram rambut Jimmy sangat kuat saat Jimmy berusaha menembus pertahanan Nina. Nina mengeluarkan air matanya. Jimmy berhasil menjebol pertahanannya.


Jimmy terduduk lunglai setelah aktifitasnya bersama Nina. Jimmy menghapus air mata Nina.


"Sudahlah tak usah menangis, aku bukan tipe pengecut, aku akan tanggung jawab, benahi pakaianmu kita pulang", kata Jimmy sambil mendudukkan Nina.


"Kenapa kamu lakukan ini padaku kak?", kata Nina air matanya kembali mengalir. Tapi air mata tak akan mengembalikan kehormatannya.


"Aku sudah bilang kan, aku sangat mencintai kamu, kamu hanya milikku, sudahlah aku akan menikahimu secepatnya", kata Jimmy setelah merapikan pakaiannya.


Nina membenahi pakaiannya, ada nyeri di pangkal pahanya.


Nina membetulkan sandaran kursinya ke posisi awal.


Jimmy menggenggam tangan Nina kembali.


"Tenangkan hatimu, kita pulang, aku akan bicara sama mama, kita akan menikah secepatnya", kata Jimmy sambil mengecup kening Nina.


Nina menghapus air matanya. Nina menarik nafasnya dan menghembuskannya. Nina senyum walau terasa hambar.


"Gitu dong, senang lihatnya", kata Jimmy seraya melajukan kendaraannya.


Mereka pulang. Jimmy mengantarkan Nina setelah itu langsung pulang ke rumahnya.


Bantu like, vote dan komennya ya readers...


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2