
Nina meletakkan bayinya di boks bayi yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Putri kecil nan imut itu tertidur dalam pelukan ibunya. Nina tersenyum mengelus pipi sang buah hati. Nina mengambil ponselnya. Ia menelpon ibunya dan mama mertuanya untuk memberitahu kalau bayinya kini sudah ada di rumah.
Setelah selesai menelpon Nina bermaksud untuk mandi terlebih dahulu. Jimmy masuk ke dalam kamar. Jimmy bermaksud ingin mengambil anaknya, dia ingin sekali menggendong bayinya yang imut tersebut.
"Eiitt jangan bang, dia masih tidur. Biarkan dia tidur dulu. Sebaiknya abang mandi dulu baru gendong dia. Biar kuman-kuman yang menempel di abang tidak berpindah ke putri kita", tegur Nina
"Iya bu dokter", kata Jimmy manut seraya menuju kamar mandi. Nina tersenyum mendengar ucapan Jimmy seraya geleng-geleng kepala.
Nina terpaksa mengurungkan niatnya untuk mandi. Ia mendahulukan suaminya Jimmy terlebih dahulu untuk mandi. Nina keluar dari kamar. Ia menuju dapur. Di sana ada mbak Yuni yang lagi sibuk menyiapkan hidangan makan siang untuk majikannya.
"Mbak, mama dan ibu juga bentar lagi datang sekalian ya siapin juga untuk mereka", ujar Nina pada mbak Yuni.
"Baik Nya", jawab mbak Yuni.
Nina kembali ke kamarnya. Di lihatnya putri kecilnya tersenyum walau matanya sedang terpejam. Nina pun ikut tersenyum. Nina memandangi wajah putrinya dengan penuh kasih. Lama Nina berdiri dekat boks bayi tersebut. Ia tak menyadari kalau Jimmy sudah selesai mandinya.
"Udah gak usah di pandangi terus, entar luntur imutnya", sergah Jimmy.
Nina terkejut mendengar ada suara di sampingnya.
"Kalau mau ngagetin tuh kasih tahu bang", ucap Nina cemberut. Ia menghela nafasnya menetralkan detak jantungnya yang bergerak cepat karena kaget.
"Siapa juga yang ngageti. Kamunya aja yang melamun", ujar Jimmy.
Nina menuju kamar mandi. Giliran Jimmy tegak di samping boks tersebut.
"Kamu imut banget sayang, wajahmu imut seperti papa", gumam Jimmy sambil terkekeh.
"Papa sudah menyiapkan nama yang cantik untuk putri papa yang cantik ini", kata Jimmy bicara sendiri.
Jimmy memandangi wajah bayinya yang menurutnya wajah putrinya mirip dengannya tersebut. Sang bayi tersenyum walau masih sedang tidur.
"Kamu senyum, itu artinya kamu setuju dengan ucapan papa. Kamu memang mirip papa", kata Jimmy bangga.
"Karena kamu masih tidur, papa juga mau tidur dulu. Nanti kita baru main, oke!?oke deh", Jimmy bicara sendiri.
Jimmy merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tubuhnya terasa penat. Dia ingin memejamkan matanya barang sebentar. Jimmy siap terbang ke alam mimpi. Tapi tiba-tiba ada tangan dingin mengusap wajahnya. Dia paham betul pemilik tangan tersebut. Jimmy mendelik.
"Jangan tidur dulu, kita makan dulu yuk. Bentar lagi mama sama ibu datang lho", ujar Nina.
"Ehh iya ya kita belum makan. Lupa saking senangnya hari ini", ucap Jimmy seraya bangun dari tidurannya.
Nina menyisir rambutnya yang basah. Melihat Nina yang berambut basah dengan baju tidur selutut, menampakkan betisnya yang putih mulus nan jenjang. Nina sedikit menunduk menghadap cermin sehingga pantatnya yang sekarang lebih berisi terpapar jelas di mata Jimmy. Jimmy mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Nina sudah selesai menyisir rambutnya. Ia heran ketika melihat Jimmy menghela nafasnya berulangkali.
"Abang kenapa?abang sakit?", tanya Nina polos.
__ADS_1
Jimmy menarik Nina untuk duduk di pangkuannya. Nina menurut saja. Di rangkulnya leher sang suami biar tidak terjatuh.
"Ada apa?", tanya Nina lagi.
"Abang cuma ingin peluk isteri abang yang wangi ini", kata Jimmy seraya membawa Nina ke dalam pelukannya.
"Abang", kata Nina manja seraya membalas pelukan hangat suaminya.
Dada Nina yang sekarang lebih berisi terasa sangat mengganjal di dada Jimmy. Jimmy melerai pelukannya.
"Ini koq jadi besar gini sayang", ucap Jimmy sambil menunjuk dada Nina.
"Kan pengaruh ASI bang", ucap Nina.
Entah apa yang ada dalam pikiran Jimmy. Dia mengangkat baju Nina. Terpampang dengan jelas, payudara Nina hampir keluar dari wadahnya.
"Sepertinya wadahnya udah gak muat lagi sayang", ucap Jimmy membuat wajah Nina bersemu merah.
"Abang ahh, malu!", ucap Nina seraya ingin menutup kembali bajunya.
"Malu sama siapa?masa sama suami sendiri malu", kata Jimmy yang kini bergerak lebih leluasa. Tangan Jimmy membuka kait bra Nina. Tangannya memegang salah satu payudara Nina dan dengan cepat mulutnya menyambar daging kenyal tersebut. Nina kaget.
"Bang jangan! kan belum bisa bang", ucap Nina seraya menjauhkan wajah Jimmy dan menutup kembali bajunya. Dan tegak menjauh dari Jimmy suaminya.
"Kan cuma mainin itu doang", ucap Jimmy lemas.
Jimmy merebahkan kembali tubuhnya. Dia mengatur nafasnya yang sempat bergejolak. Nina sekarang tambah menggoda. Badannya yang sintal membuat Jimmy gelagapan. Hasratnya kadang tak terkendali melihat tubuh isterinya tersebut.
Pintu kamar mereka di ketuk dari luar.
"Tuan nyonya, ibu dan mama sudah datang", kata mbak Yuni dari luar.
Nina membuka pintu kamarnya. Mbak Yuni kembali ke belakang. Nina menuju ruang tengah, di situ sudah ada mama mertuanya dan ibunya tercinta.
"Mana cucu mama, mama ingin menggendongnya", ucap mama Liana.
"Ibu juga ingin lihat, dimana cucu ibu?", tanya bu Ratmi.
"Ada di kamar. Sebaiknya kita makan aja dulu ma, bu", kata Nina pada ibu dan mama mertuanya.
"Nanti aja", jawab bu Ratmi dan mama Liana kompak.
Kedua nenek itu menuju kamar Nina. Mereka setengah berlari menuju kamar tersebut. Nina mengiring dari belakang. Jimmy yang mau keluar dari kamar hampir tertabrak oleh kedua nenek tersebut.
"Mama, ibu", kata Jimmy yang tak mengerti.
"Minggir Jim kami ingin lihat cucu kami", ujar mama Liana.
__ADS_1
"Oohhh", ucap Jimmy baru paham.
Jimmy hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Mama Liana dan ibu Ratmi masuk ke dalam kamar. Mereka melihat cucu mereka. Nina dan Jimmy saling pandang.
"Cucu oma masih tidur rupanya", kata mama Liana.
"Sini biar aku yang gendong", ucap bu Ratmi.
"Kan aku dulu yang sampai sini, aku dulu ya yang gendong", ucap mama Liana.
Kedua nenek itu berebut ingin menggendong cucu mereka. Melihat itu Jimmy maju dan menengahi.
"Mama, ibu, biarkan dia tidur dulu ya setelah ia bangun baru di gendong. Sekarang kita makan dulu", ucap Jimmy pada ibu mertuanya dan mamanya.
Kedua nenek tersebut cemberut. Mereka sangat ingin bermain dengan cucu mereka. Tanpa mereka sadari bayi mungil tersebut membuka matanya mendengar ada keributan di dekatnya.
Nina yang melihat bayinya sudah bangun, segera mengambil bayinya.
"Sini biar mama yang gendong, kamu sama Jimmy makan aja dulu", kata mama Liana seraya mengambil bayi tersebut dari tangan Nina.
Nina memberikan bayinya kepada mama mertuanya. Nina memberikan isyarat pada Jimmy untuk keluar dari kamar. Jimmy mengerti. Nina dan Jimmy menuju meja makan. Mereka mulai menyantap makanan yang sudah di hidangkan oleh mbak Yuni.
"Lucu ya bang melihat mereka rebutan gitu", ucap Nina di sela makan mereka.
"Mungkin kita juga begitu nanti dengan cucu kita", jawab Jimmy.
"Ini aja baru merojol, sudah ngomong cucu kita", ujar Nina.
"Iya minta sama yang di atas, minta di panjangkan umur biar bisa gendong cucu kita nantinya", ucap Jimmy.
"Aamiin", jawab Nina.
.
.
.
.
.
Lanjut lagi bacanya ya readersku.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.
__ADS_1
Like, komen dan juga votenya di tunggu ya.