
Nina membawa si imut Iza untuk mengantar Jimmy suaminya sampai depan.
"Papa pergi dulu ya", kata Jimmy seraya mencium pipi sang putri kecil.
Si imut Iza seperti mengerti maksud perkataan sang papa. Ia tersenyum. Jimmy kembali mencium pipi si putri kecilnya. Tak lupa kecupan kecil di dahi sang isteri. Nina sangat senang dengan perlakuan suaminya.
Jimmy berangkat ke kantor. Nina kembali masuk rumah setelah mobil yang dikendarai suaminya tidak terlihat lagi di matanya.
Menjelang makan siang Nina bersiap berangkat ke kantor sang suami. Dengan membawa bekal di tangannya Nina masuk ke dalam mobilnya dan siap meluncur ke kantor Jimmy. Nina menelusuri jalan hitam nan panjang. Jalan terlihat agak lengang. Mungkin karena orang masih suasana kerja jadi jalan tidak begitu ramai oleh pengendara.
Setelah tiba di kantor, Nina langsung masuk. Satpam yang bernama Manaf menyambutnya dengan sangat ramah.
"Siang bu, bisa saya bantu bu?", sapa Manaf yang melihat Nina isteri bosnya tersebut kerepotan membawa banyak barang di tangannya.
"Boleh kalau kamu tidak keberatan", kata Nina.
"Sini bu, biar aku yang bawa", kata Manaf dan mengambil barang bawaan dari tangan Nina. Nina memberikan barang bawaannya.
"Yang ini biar saya yang bawa", kata Nina pada Manaf yang melihat tangan Manaf sudah penuh dengan barang di tangannya.
Manaf melangkah masuk membawa barang isteri bosnya itu menuju ruangan bos besarnya.
Manaf yang berjalan sangat cepat membuat Nina ketinggalan jauh di belakangnya. Manaf mengetuk pintu pak bos.
"Masuk", kata suara Jimmy dari dalam.
Manaf masuk dan meletakkan barang bawaan tersebut di meja tamu yang ada di dalam ruangan pak bos.
"Ini barang bawaan ibu, pak", kata Jimmy.
"Oohh gitu. Letakkan saja di situ. Ibu nya mana?", tanya Jimmy yang belum melihat kedatangan isterinya.
"Tadi sudah menuju kemari pak, saya permisi dulu pak", kata Manaf.
Jimmy mengangguk.
"Terima kasih ya", kata Jimmy pada Manaf.
"Iya pak sama-sama",
Manaf keluar dari ruangan sang bos. Jimmy menoleh ke arah pintu tapi Nina belum terlihat wujudnya.
Sedangkan Nina bukannya langsung ke ruangan Jimmy suaminya, ia malah menuju ruangan Tika sahabatnya terlebih dahulu. Tanpa mengetuk pintu, Nina masuk ke dalam ruangan Tika yang memang pintunya terbuka.
"Ganggu gak nih?", sapa Nina.
Tika kaget karena memang dia lagi fokus ke layar laptopnya.
"Nina. Sejak kapan kamu di situ?", kata Tika yang langsung tegak menghampiri sahabatnya sekaligus isteri sang bosnya tersebut.
"Baru saja belum lama", jawab Nina.
Tika dan Nina berpelukan. Melepaskan kerinduan yang ada. Tika melepas pelukannya.
__ADS_1
"Silakan duduk bu, entar di bilang gak sopan lagi dengan isteri sang bos", ujar Tika.
"Lebay lu ahhh. Kita ke ruangan bos kamu aja. Kita makan dulu. Aku bawa makan siang banyak lho", kata Nina pada Tika.
"Malu lah aku makan bersama sang bos. Ganggu kalian pula", ucap Tika merasa tak enak hati.
"Santai aja. Kan jarang-jarang kita bisa seperti ini. Ayo ahh aku udah lapar nih", ajak Nina pada Tika.
"Ya udah deh, gak baik juga kata orang menolak rejeki", kata Tika seraya mengambil ponsel dan tas kecilnya.
"Nah gitu dong. Yukk!", ajak Nina.
Mereka berdua berjalan berdampingan. Seperti orang kebanyakan kalau sudah ketemu dengan orang terdekat mereka, mukut tidak bisa diam. Begitu juga dengan Nina dan Tika. Sepanjang jalan menuju ruang Jimmy mereka tak henti-hentinya bercerita dan ketawa.
Tiba pada ruangan Rini. Tika berhenti. Nina yang secara badan memang belum pernah bertemu dengan Rini tapi suaminya kadang bercerita tentang keadaan kantor, termasuk sekretarisnya yang bernama Rini. Tika menyapa Rini.
"Rin", sapa Tika.
"Bu Tika", ucap Rini pada Tika. Rini bangun dari tempat duduknya.
"Mungkin kamu sudah pernah dengar dan pernah lihat fotonya tapi belum bertemu langsung dengan orangnya. Kenalin ini isteri pak bos kita", kata Tika memberitahukan Rini tentang siapa wanita yang berdiri di sampingnya.
"Ibu. Saya Rini bu", kata Rini memperkenalkan dirinya pada Nina. Dengan sedikit menunduk Rini mengulurkan tangannya pada Nina isteri dari bos besar mereka.
Nina menyambut uluran tangan Rini. Nina tersenyum ramah.
"Ternyata isteri pak bos lebih cantik aslinya dari pada fotonya", batin Rini.
"Ternyata ibu sangat cantik, lebih cantik aslinya", kata Rini jujur.
"Kamu bisa aja. Kamu sudah makan belum?", tanya Nina langsung.
Rini hanya tersenyum.
"Pasti belum", kata Tika menimpali.
"Kita makan bareng yuukk. Kebetulan tadi bawa makanannya banyak. Kita makan sama-sama", ajak Nina pada Rini.
"Tidak usah bu. Saya makan di kantin aja", kata Rini menolak. Rini merasa tidak enak makan gabung dengan mereka.
"Jangan menolak. Ini awal kita bertemu. Anggap saja ini jamuan dari kita buat kamu", kata Nina sambil tersenyum.
"Ayo tidak baik menolak rejeki", kata Tila seraya menggandeng tangan Rini.
Rini akhirnya mengikuti Nina dan Tika ke ruangan sang bos.
"Bisa kami masuk pak?", tanya Nina yang melihat ruangan pak suaminya terbuka lebar.
Jimmy menoleh dan dia tidak terkejut ketika Nina isterinya membawa rombongan ke dalam ruangannya.
"Masuk saja", kata Jimmy seraya menutup laptopnya.
Nina menyuruh Tika dan Rini membuka bungkusan yang tadi di bawa olehnya. Nina membuka plastik yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Waahh makan besar sepertinya", kata Jimmy sambil mengusap-usapkan kedua telapak tangannya. Jimmy mendekati Nina yang masih sibuk dengan barang bawaannya.
"Kita mau makan siang atau bikin arisan sih sayang?", goda Jimmy yang melihat makanan begitu banyaknya di bawa sang isteri.
"Makan bareng yang pasti", jawab Nina enteng.
Jimmy mengambil tempat duduk dan segera mengambil kue putu yang ada di tangan isterinya.
"Bang cuci tangan dulu", kata Nina.
"Bersih koq sayang tangannya", kata Jimmy langsung melahap kue tersebut secara utuh ke dalam mulutnya.
Nina meletakan kue tersebut di atas meja dan mengambil air cuci tangan di westafel.
"Ini. Cuci dulu tangannya", kata Nina pada Jimmy suaminya.
Tika dan Rini tersenyum melihat pak bos mereka di perlakukan seperti anak kecil oleh Nina.
Jimmy mencuci tangannya. Nina duduk di samping suaminya. Tika dan Rini mengambil tempat.
Mereka mulai dengan ritual makan mereka. Awalnya Rini agak malu karena walau dia bekerja cukup lama di sini tapi baru kali ini dia makan di ruangan pak bos dalam satu meja.
Mereka makan tanpa bersuara. Sesekali Jimmy memberikan suapannya kepada Nina. Nina menerimanya dengan senang hati. Jiwa kesendirian Tika meronta melihat kemesraan yang di perlihatkan oleh pak bos mereka. Rini hanya senyum-senyum.
"Jadi pingin cepat nikah", celetuk Tika sambil menikmati makanannya.
Jimmy dan Nina saling pandang. Mereka akhirnya tertawa. Rini pun ikut tertawa. Tika hanya terkekeh melihat ketiga orang itu mentertawakannya.
"Makanya cepat nikah", kata Nina seraya menyuap nasi ke dalam mulutnya.
Mereka sedang menikmati ritual makan siang mereka. Mereka di kejutkan dengan satu suara dari arah pintu.
"Waww makan besar gak ngajak-ngajak lagi",
.
.
.
.
.
Lanjut lagi bacanya ya readersku terkasih.
Maaf lama updatenya. Mohon di maklumi ya.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Di tunggu like, komen dan votenya.
Mampir juga yuukk ke karyaku yang lain:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1