
Pagi-pagi sekali Nina sudah bangun dari tidurnya. Dengan sedikit malas-malasan Nina menuju menuju jendela kamarnya, Nina merasakan cuacanya sangat dingin menusuk tulang.
"Dingin banget ya, perasaan semalam gak hujan", gumam Nina.
Nina mengintip keluar jendela. Terlihat basah di luar sana.
"Koq aku gak tahu ya kalau semalam hujan, masih gerimis ternyata wajarlah cuaca dingin banget", gumam Nina seraya menutup kembali gorden kamarnya.
Nina menunaikan ibadahnya. Setelah selesai Nina membangunkan Jimmy suaminya.
"Bang, bangun sholat dulu", kata Nina sambil menggoyangkan tubuh Jimmy.
Hmmm...
Jimmy menggeliat.
"Bangun Bang entar keburu siang lho", kata Nina berusaha melupakan masalah yang ada dalam rumah tangganya.
"Aahh sudahlah itu urusanku sama tuhan", jawab Jimmy merasa kesal karena Nina terus membangunkannya.
Nina tercekat. Nina menelan ludahnya. Dengan rasa kecewa Nina meninggalkan Jimmy yang masih ingin tidur. Nina menuju dapur, membuat sarapan dan menyelesaikan pekerjaan dapur lainnya.
Setiap ada masalah atau merasa kecewa, Nina selalu menyibukkan dirinya. Ada-ada saja pekerjaan yang dilakukannya. Entah itu membuat makanan, bersihkan halaman, urus rumah, atau berkebun di belakang rumahnya. Dengan begitu Nina bisa melupakan masalah yang ada dalam rumah tangganya.
"Bang, bangun udah siang mau kerja", kata Nina seraya membuka gorden kamarnya.
Jimmy membuka matanya.
"Jam berapa sekarang?", tanya Jimmy.
"Tujuh lewat", jawab Nina menarik selimut yang masih menutupi tubuh Jimmy.
Jimmy bangun dari tidurnya, mengambil handuk dan menuju kamar mandi.
Nina merapikan tempat tidur mereka. Kemudian kembali ke dapur, menyiapkan sarapan untuk sang suami tercinta.
Tak lama Jimmy sudah selesai dengan ritual mandinya. Jimmy dengan berpakaian ala kantoran menuju meja makan. Mereka sarapan tanpa ada yang bersuara.
"Apa kamu tetap ingin bekerja?", tanya Jimmy memecah keheningan.
Nina diam. Nina tidak tertarik lagi untuk membahasnya.
"Bersiaplah, aku tunggu di depan", kata Jimmy menyudahi sarapannya.
Jimmy menenteng tas kerjanya dan menuju ke ruang depan. Nina masih diam. Nina mengikuti langkah Jimmy dengan sudut matanya.
"Orang aneh, bentar tidak bentar iya", gerutu Nina sambil membereskan meja makannya.
Nina menuju kamarnya. Dengan serba ekspres Nina selesai dalam sepuluh menit. Dari berpakaian sampai make up di kerjakan dengan cepat.
"Lumayan", gumam Nina.
Nina merasakan roknya mulai sempit.
"Gawat, gimana kalau orang di kantor melihat perubahan pada perutku?pasti timbul gosip lagi", batin Nina.
__ADS_1
"Sayang,, cepatan dong", seru Jimmy.
"Iya bentar", jawab Nina.
Nina dengan sigap mengambil segala keperluannya. Kini Nina sudah berada di dekat Jimmy.
Jimmy memandangi Nina dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Ehmm sekarang tambah berisi", batin Jimmy melihat dada dan pantat Nina yang seksi.
"Kenapa?", tanya Nina.
"Sepertinya pakaian itu tidak cocok lagi buat kamu, kelihatan sudah sempit. Kasihan yang ada di dalam", jawab Jimmy sekenanya.
"Apa tidak ada yang lebih longgar?", tanya Jimmy.
"Ada sih tapi ...", Nina belum selesai bicara Jimmy menarik tangan Nina kembali ke kamar.
"Sini ku bantu", kata Jimmy seraya melepaskan kancing baju Nina.
Nina terpaku. Jimmy menghentikan aktivitasnya. Jimmy memandang lekat ke bola mata Nina. Entah apa yang merasuki Jimmy. Jimmy malah menggendong Nina dan membawa Nina ke tempat tidur.
"Bang, kamu mau apa?kita mau ke kantor", ucap Nina.
Nina bermaksud menghentikan aksi Jimmy yang sedang bergerilya di tubuhnya.
"Sekarang kamu tambah menggairahkan", ujar Jimmy sambil menyentuh dada Nina.
Nina melenguh.
"Bang, nanti saja kita mau kerja", tolak Nina.
Nina tak bisa menolak lagi. Permainan yang di ciptakan Jimmy membuat Nina hanya bisa melenguh dan menggelinjang.
Tubuh Nina yang semakin indah menambah gairahnya Jimmy.
Sejenak Jimmy melupakan masalah yang di hadapinya.
Ekstra cepat Jimmy menyelesaikan tugas akhirnya. Mereka bermandi peluh di pagi yang masih dingin tersebut.
Mereka berdua kembali mandi. Jimmy mengajak Nina untuk mandi berdua. Alasanya biar menghemat waktu.
"Dasar modus", batin Nina saat Jimmy kembali menginginkan nya.
"Udah aahh, kita udah kesiangan", tolak Nina.
"Aku ini bosnya, mau kesiangan, mau tidak masuk juga tak masalah", kata Jimmy seraya meremas bokong Nina yang berisi indah.
Nina membiarkan Jimmy yang kembali beraksi. Hanya lenguhan dan ******* nafas yang masih terdengar.
****
Sementara itu di rumah Prili sibuk menyiapkan segala keperluan untuk lamarannya nanti.
"Ma, lamarannya rame-rame gak?", tanya Prili semangat.
__ADS_1
"Nggak sayang, cuma keluarga saja", jawab Hanny mamanya Prili.
"Koq nggak rame-rame Ma?", tanya Prili kecewa.
"Kamu kan mau cepat nikahnya, kalau lamarannya mau rame-rame, entar repot lagi. Belum mau nyiapin untuk acara lamaran nya, trus acara nikahnya juga. Jadi seserahannya kita gabung pas hari 'H' nya saja, biar gak ribet", jelas sang mama.
"Terserah mama deh, aku nurut aja", kata Prili.
Prili masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia menelpon Jimmy. Beberapa kali Prili menelpon tapi tak di angkat.
"Kemana sih tuh orang?awas saja kalau dia mau menghindari aku", gerutu Prili.
Sementara itu Jimmy dan Nina baru selesai mandi. Mereka segera berpakaian. Nina mengganti pakaiannya dengan yang lebih longgar. Jimmy dengan cepat kembali berpakaian kantornya. Setelah selesai, dengan senyum selalu menghias wajah, mereka pergi menuju kantor.
"Hei lihat tuh, Nina koq datangnya berbarengan dengan pak bos", kata salah satu karyawan kantor.
"Apa kamu belum dengar?kabar yang beredar Nina menikah secara diam-diam dengan pak bos", kata karyawan yang satunya lagi.
"Gila, nekad tuh sih Nina. Tapi gak papa lah menikahnya dengan orang tajir juga", kata karyawan satunya lagi.
"Huss diam mereka lewat", kata karyawan pertama.
Mereka bertiga memberi hormat saat Jimmy dan Nina lewat di depan mereka.
Jimmy hanya tersenyum. Nina mengekor di belakang Jimmy. Nina menuju meja kerjanya yang sudah lama tak di sentuhnya. Sedangkan Jimmy menuju ruang kerjanya.
"Akhirnya aku kembali kerja, rasanya senang banget bisa kembali menghirup udara di luar rumah", gumam Nina.
Nina meletakkan tasnya. Nina membersihkan meja, kursi dan benda lainnya. Nina meletakkan laptopnya di atas meja kerjanya.
Telepon di atas mejanya berdering. Nina mengangkatnya.
"Kemarilah", kata suara yang tak lain adalah Jimmy.
Nina meletakkan telepon tersebut dan menuju ruangan sang suami.
"Hari ini ada rapat penting di hotel XX tapi aku tak bisa hadir, aku ada urusan. Nanti kamu temani Marsel ke sana", terang Jimmy.
"Tapi aku kan tidak tahu apa yang akan di bahas", Nina protes.
"Tugas kamu itu hanya nemani Marsel, karena aku tak bisa hadir, ingat kamu itu isteriku, kamu harus siap menggantikan aku kalau aku berhalangan", jelas Jimmy.
"Baiklah. Emangnya Abang ada urusan apa?", tanya Nina penasaran.
"Mau ketemu teman, masalah saham", jelas Jimmy singkat.
"Oohh gitu, baiklah", kata Nina seraya berlalu dari ruangan Jimmy.
.
.
.
.
__ADS_1
Pembaca yang baik, selamat membaca ya...
Jangan lupa like, komen dan votenya juga ya readers...